
Episode 169: Jangan Pernah Melanggar Batas
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Selamat Berimajinasi
____________
Satu jam lebih dua puluh lima menit, empat puluh detik film itu akhinya menyentuh kata selesai. Semua penonton berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Banyak sekali yang bilang Film Rosewald sangat rekomendasi untuk ditonton. Selain itu masih ada penonton yang mengeluh kekecewaan karena ada beberapa yang tidak sama seperti di novelnya.
Karin menatap dua sahabat Farah yang sedang gelisah sedari tadi. Semoga lekas pergi.
Farah merasa ada yang tidak beres dengan Balqis dan Jihan. Mereka sama-sama memegang perut dan sedikit meringis kesakitan.
“Farah, aku ingin ke toilet sebentar,” Balqis sedikit merasa nyeri di bagian perutnya. Seperti ada yang tidak bisa ditahan lagi.
“Iya, aku tunggu di sana.” Farah menunjuk kursi tunggu yang berada di lobi.
“Aku juga merasa sedikit sakit. Aku ikut kamu, Qis!” Jihan langsung menyusul Balqis yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Farah terdiam dan bingung melihat dua sahabatnya yang berbarengan masuk toilet. Apakah mereka salah makan?
“Farah!” Karin menyentuh lengan perempuan itu agar tersadar dari lamunannya.
“Iya Kak Sasmita.”
“Bisakah kamu menemaniku untuk mencari buku?” tanya Karin.
Farah tak langsung menjawab. Sepasang matanya memandang Ray seakan memberi isyarat, apakah tidak apa-apa? kan kalian sedang berkencan.
Menyadari tatapan itu, Karin menoleh ke arah Ray. “Sayang, boleh ya aku mengajak Farah untuk membeli buku? Boleh ya, Sayang!” Karin menggoyang-goyangkan lengan Ray.
“Iya, Sayang.” Ray hanya tersenyum tipis.
“Yeay!” lagi-lagi Karin bersorak kegirangan.
“Tapi ....” Tepat ketika Farah belum menuntaskan Balqis dan Jihan datang dengan memegang perutnya masing-masing. Ia menghampiri kedua sahabatnya itu. “Kalian baik-baik saja, kan?”
“Sepertinya aku ingin pulang terlebih dahulu,” ucap Balqis. Bingkai wajahnya berkeringat dingin.
Farah melihat Jihan yang keadaaannya sama seperti Balqis. “Sepertinya kalian sakit. Kita ke rumah sakit sekarang ya?”
Skenario Karin harus tetap berjalan walaupun sedikit di luar kendalinya. “Bagaimana jika kita mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat?”
__ADS_1
Farah setuju dengan usul tersebut. Ia memapah Jihan sedangkan Karin ikut untuk memapah Balqis. Ray langsung menelepon supirnya agar segera bersiap.
***
“Mereka hanya salah minum obat saja dan sudah kami ditangani dengan baik. Mereka hanya butuh istirahat sebentar dan diberikan cairan,” ucap dokter itu kepada Farah.
Dokter itu memberikan resep lalu berpamitan. Ia berpesan kalau obat itu segera ditebus. Farah mengerti, ia berjalan menuju apotek yang berada di samping gedung rumah sakit ini. Setelah menunggu cukup lama, ia akhirnya menebus obat itu dan segera keluar dari apotek.
“Farah!” seseorang tengah memanggil namanya.
Sang pemilik nama menoleh. Farah melihat Karin melambaikan tangannya. “Iya Kak Sasmita?”
“Bisa kita bicara sebentar? Di situ! Di taman itu.” Karin menunjuk sebuah taman yang tidak seberapa luas yang masih berada di kawasan rumah sakit.
“Tapi ....”
“Sebentar saja Farah.” Karin menarik tangan Farah agar mau mengikutin.
Farah hanya pasrah saat tangannya sudah dicengkeram oleh perempuan ini. Ia harus berjalan cepat mengikuti langkah kaki Karin yang sedikit berlari. Tak berapa lama kemudian Farah diharuskan duduk di kuris taman itu.
“Kak Sasmita ingin bicara tentang apa?”
Karin ikut duduk di samping Farah, ia tersenyum. “Bagaimana cara menerima masa lalu pasangan kita?”
Farah tesentak ketika pertanyaann itu keluar dari mulut Karin. Ia merasa ketakutan jika perempuan yang berada disampingnya ini tahu bagaimana pekernalan dirinya dan Ray. “Maksudnya, Kak?”
Karin menutup matanya dan mengembuskan napas kasarnya. “Bagaimana jika kekasihmu masih menanti seseorang dari masa lalunya, misalnya masih mencintai kekasihnya yang dulu?”
“Apa tanggapanmu? Bagaimana kamu menyikapinya jika hal ini terjadi pada pasangamu?”
Pertanyaan Karin kian menuntut Farah. Ia hanya ingin memberikan sedikit bocoran rencana Ray dengan pertanyaan ‘jika ini terjadi kepada pasangamu’. Ia yakin Farah akan senantiasa memikirkan pertanyaan sederhana ini, atau mungkin dapat memicu percikan pesrselisihan terhadap suatu hubungan.
Farah masih belum menjawab. Ia berpikir bagaimana seandainya ini terjadi kepada suaminya. Bagaimana jika masih ada perempuan lain yang dipikirkan oleh Ilham. Pikiran itu terngiang-ngiang di kepalanya.
“Farah?” Karin memanggilnya lagi karena si pemilik nama sedang melamamun.
Farah tersadar, ia sadar dari lamunannya. “Iya, Kak. Maaf aku jadi melamun.”
“Bagaimana jawabanmu?” Dalan diri Karin terselip tawa yang mengerikan. Ia berhasil menjebak Farah dalam kemelut pikirannya sendiri.
“Sepertinya aku belum bisa menjawab. Mas Ilham tidak pernah membicarakan soal masa lalunya.” Farah menjawab apa adanya. Tapi pertanyaan tadi sungguh memicu untuk dipikirakan lagi, lagi dan lagi.
“Rupanya kalian ada di sini.” Ray datang entah belakang. Dua perempuan yang terlarut dalam topik pembicaraan yang berat menoleh ke arah belakang.
“Sayang! Maaf, aku meninggalkanmu.” Karin merajuk.
Ray mendekatinya dan mengacak rambut milik Karin. “Tidak apa-apa, Sayang.”
Karin menarik tangan Ray agar mau duduk di sebelahnya. Sekarang dia yang menjadi pembatas antara Ray dan Farah. Ia memang sedang merencanakan hal ini agar keduanya memiliki ruang yang lebih dekat.
Angin menjadi iringan kedektakan mereka yang menjadi canggung. Karin merasa gemas dengan dua orang di samping kanan-kirinya. Tak ada percakapan yang terbentuk. Ray sibuk dengan ponselnya, sedangkan Farah sedang memandang jauh dalam kebisuan.
__ADS_1
Tiba-tiba ide liar muncul di kepala Karin. Ia harus membuat mereka berbincang bebas seperti keinginan bosnya. “Sayang!”
Ray menoleh seakan merasa terpanggil dengan panggilan kesayangan itu. “Apa?”
“Aku ingin jus mangga, boleh enggak jika aku beli dulu di sana!” Karin menunjuk pujasera yang berada tak jauh dari lokasi taman ini. Karin mengedipkan matanya lagi tanda jika ia harus pergi beberapa waktu. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya.
Ray menerima tanda itu dan mengangguk. “Boleh, Sayang. Hati-hati ya.”
Karin melambaikan tangannya. Ia berlari menjauh dari taman itu agar Bos dan Farah bisa saling berbicara. “Tak akan lama, kok!” serunya.
Ray tersenyum, ia sudah lama menantikan saat ini. Berbicara dengan perempuan yang ia sukai sejak lama. Jika diperbolehkan ia ingin sekali menghentikan waktu agar ia bisa lebih lama menatap bunga mawarnya.
“Sepertiya aku harus pergi. Maaf bisa sampaikan salamku untuk Kak Sasmita?” Farah buru-buru bangkit. Ia harus seger pergi dari sini.
Ray menarik tas selempang yang dikenakan Farah untuk menahan kepergiaan bunganya itu. “Kamu mau kemana?”
“Aku harus melihat kondisi Balqis dan Jihan,” jawan Farah.
Ray tahu jika itu adalah sebuah alasan agar bisa menghindar. “Mereka baik-baik saja.”
“Sebaiknya kita tak perlu berdua seperti ini Ray. Apa kata Kak Sasmita jika tahu semuanya. Bukankah itu menyakitkan untuknya?”
“Tak perlu memikirkan tentangnya. Aku mohon berilah waktu beberapa menit untuk kita berbincang. Setelah itu pulanglah.” Ray terpaksa menarik tas yang dikenakan Farah hingga dia terduduk di tempatnya lagi.
“Ray ....”
“Bagaimana keadaanmu? Apakah soalnya tadi sulit?” tanya Ray.
Farah menggeleng. “Ray, aku mohon jangan ganggu aku lagi. Jangan biarkan Kak Sasmita tahu tentang kedekatan kita dulu.”
Rah mengembuskan napas kasarnya. “Aku hanya ingin berbincang denganmu, itu saja. Aku juga tidak akan macam-macam denganmu.”
Farah hanya menunduk. Ia tak sanggup menatap lawan bicaranya.
“Apakah kamu masih ingat toko buku yang berada di Kota Numa?” tanya Ray.
Farah menggangguk. Ia masih mengingat bagaimana ia terjebak dalam badai di Kota Numa saat mencari Ilham. Hal itu tak mungkin terlupakan.
***
Ilham berjalan menuju rumah sakit karena ia mendapat telepon dari Balqis. Dia bilang bahwa Farah juga ikut dan bersama Ray dan kekasihnya. Hal ini justru membuat Ilham seperti kebakaran jenggot. Ia yakin ini hanya akal-akalan dari Ray agar bisa bertemu dengan Farah.
Beberapa kali Ilham menghubungi nomor telepon istrinya ternyata tidak aktif. Ia menjadi curiga jika terjadi hal yang tidak ia inginkan.
Tepat saat memasuki komplek rumah sakit. Mata Ilham tertuju kepada perempuan yang perisis seperti Farah dan sedang bercengkerama dengan seorang laki-laki! Kecurigaan itu semakin menjadi ketika Ilham menghampiri mereka.
Sepasang matanya menangkap hal yang sangat menyakitkan. Ia melihat sendiri bagaimana Farah tertawa lepas bersama seorang laki-laki lain! Apakah itu Ray?
Dengan hawa panas, seketika ia mendekat dan sudah tidak dapat ditoleransi lagi kemurkaan seorang suami. “Farah!”
Seketika Farah menoleh. Ia kaget dengan kehadiran Ilham. “Mas, ini tidak seperti apa yang kamu lihat.”
__ADS_1