
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Naresh telah masuk ke mobil. Ia memang suka menyetir kendaraan itu sendiri tanpa bantuan sopir. Bahkan tak jarang dibilang sopir karena mengendarai mobil sendiri ditambah dengan Fernando yang sering duduk di kursi belakang. Namun Naresh memiliki alasan tersendiri mengapa ia berlaku seperti ini.
Fernando Bersaudara, sebutan bagi mereka yang menjalankan perusahaan produsen elektronik terbesar. Berpusat di kota Zen, perusahaan ini berdiri sudah sejak lama. Sematan Fernando Bersaudara menjadi keunikan tersendiri. Pasalnya ada dua orang kakak beradik yang memimpin satu perusahaan yang besar. Kecakapan mereka terkenal seantero negeri karena sangat jarang sekali ada hal seperti ini.
Mobil melaju setengah perjalanann dan tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Naresh ia merasakan sesuatu yang tak biasa. Salah satu pergelanga tanganya merasakan gentaran dari gelang tali-temali yang ia pakai. Dering ponselnya juga menambah kekhawatiran ketika ia melihat isi pesan peringatan yang muncul pada layarnya.
“Aku harus kembali!” desak Naresh.
“Apakah ada berkas yang tertinggal?” Fernando mastikan.
“Iya! Aku harus segera pulang sekarang!” Tanpa pikir panjang, Naresh memutar arah dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikiran dan hatinya tidak tenang saat ini.
Mengapa Kak Naresh bisa seteledor ini. Aku rasa bukan karena suatu berkas, tapi hal lain. Mengingat ia jarang mengebut seperti ini. Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ada sesuatu yang membuatnya gusar?
Fernando hanya merasakan ketidak-nyamanan saat Kakaknya sedang mengebut. Ia merasa sedikit terguncang dan berharap-harap cemas karena mengemudi kendaraan dengan laju yang sangat cepat. Ia berdoa agar jalanan yang dilalui tidak begitu hingga tidak menimbulkan permasalahan baru lagi.
__ADS_1
***
Kinanti yang semula terkejut tidak menemukan Nyonya Fernando di kamarnya, kini tengah diberitahu salah satu maid bahwa dia berada di ruang senjata. Kinanti akhirnya mengikuti ke mana maid itu menunjukkan ruangannya. Ketika Kinanti memasukin ruang itu, ia menemukan Nyonya Fernando yang tengah berdiri di arena bertarung.
Kinanti melihat beberapa botol sisa sampanye yang berserakan. Bau minuman keras juga tercium. Apakah Nyonya yang menghabiskan semua ini?
“Selamat pagi, Nyonya.” Kinanti membungkuk memberikan salam. Seperkian detik ia baru menyadari ada yang sesuatu yang berbeda dengan penampilan majikannya.
Mengapa penampilan Nyonya Fernando tidak seperti biasanya? Dia tampak kusut dengan rambut yang berantakan tidak mengenal benda bernama sisir. Ditambah bau menyengar yang khas tercium dari tubuhnya. Kemejanya warna putih yang dikenakan pun banyak terbentuk bercak kekuningan, mungkin tumpahan dari sampanye.
Kinanti memperhatikan setiap detil keanehan yang baru terjadi dalam diri Nyonya Fernando. Beliau yang biasa tampil cantik kini berubah 180 derajat seperti bunga yang layu terhempas di pinggir jalan. Tidak ada aura keindahaan yang menguar seperti biasanya. Hanya satu pertanyaan yang sekarang bersarang di benak Kinanti.
Ada angin apa yang membuat Nyonya Fernando seperti ini?
“Kinan, apakah kau pernah berkelahi?” tanya Nyonya Fernando dengan nada yang dingin.
Mengapa dia menanyakan hal ini?
“Dengan siapa kau berkelahi?” Nyonya Fernando ingin mengetahui seberapa tangguh pendampingnya. Ia berjalan melewati Kinanti untuk mengunci pintu ruangan ini.
“Preman pasar, Nyonya.” Kinanti pernah bekelahi dengan preman yang sering memalak uang kepada pedagang kecil, tak jarang itu menjadi momok dalam kisah klasik kehidupan pasar. Dalam perkelahiannya Kinanti selalu pulang dengan wajah memar dan berdarah. Ayahnya pun tak habis pikir dengan anak gadisnya.
“Kalau begitu, aku ingin berkelahi denganmu sekarang!” Nyonya Fernando tanpa ragu menantang Kinanti.
“Maaf Nyonya, apakah Anda sedang mabuk? Saya rasa, saya tidak mampu untuk memenuhi tantangan , Nyonya.” Kinanti tidak melakukan hal konyol ini. Ia yakin bawah majikannya sedang mabuk, kesadarannya pasti menurun. Pikiranya tidak bisa membedakan apakah tindakannya sudah benar atau tidak.
“Baik, kau yang tak patuh! Tanpa pesetujuanmu akan aku mulai pertarungan ini!”
Dengan gerakan cepat Nyonya Fernando melayangkan kepalan tangan ke arah Kinanti. Beruntung Kinanti bisa menghindar.
“Mengapa menghindar? Bukankah aku memintau untuk bertarung denganku!” Nyonya Fernando berteriak, ia ingin agar Kinanti membalas pukulannya.
__ADS_1
Kinanti harus berpikir untuk menghindari serangan yang dilancarkan oleh Nyonya Fernando. Ia harus mengakhiri kegilaan ini! Cara yang tepat adalah menghindar dan segera mengunci tubuh perempuan itu. Nyonya Fernando masih saja membuat serangan mendadak membuat Kinanti ekstra waspada. Ia harus memikirikan bagaimana mengakhiri perkelahian ini tanpa ada terluka.
Celah!
Kinanti terlalu banyak berpikir, banyak celah yang terbuka hingga Nyony Fernando mampu mendaratkan pukulnya ke wajah Kinanti. Seketika gadis itu tersungkur, sudut bibirnya mengalir darah segar.
Nyonya Fernando memanfaatkan kesempatan ini, ia menghajar Kinanti bertubi-tubi tanpa ampun membuat Kinanti hanya mengerang. Ia menumpahkah kekesalan pada pendampingnya. Ia kecewa dengan takdir yang mengikatnya. Ia ingin melapiasakan kemarahan ini.
Kinanti tak bisa bertahan lebih lama, Nyonya Fernando terlalu kuat mengunci dirinya. Dia diliputi amarah yang tak bisa padam. Tubuhnya remuk, pipi dan pelipisnya lebam berdarah. Ia sudah kalah telak.
Nyonya Fernando menjauh, ia mengambil cambuk yang tergantung manis di tembok. “Aku benci semua orang termasuk kamu!” Ia berteriak kalap.
Kinanti sudah tidak berdaya, ia merangkak pergi dengan tubuh penuh kesakitan dan luka. Para maid yang mendengar jeritan histeris hanya bisa diam tidak dapat berbuat banyak, karena pintu terkunci dari dalam.
“Bagaimana nasib Kinan?! Kita harus mendobrak pintu ini! Nyonya bisa lepas kendali!” seru salah satu maid yang terlihat sangat bingung dan ketakutan. Ia pernah melihat majikannya seperti ini dulu, menyiksa pendampingnya hingga dilarikan ke rumah sakit. Sejak saat itu kabar yang beredar bahwa kediaman keluarga Fernando melakukan kekerasan terhadap maid.
Nyonya Fernando menatap tanpa ada keraguan dia sudah tidak peduli dengan apapun asal amarahnya bisa dikeluarkan. Tepat saat Kinanti menuju pintu, sebuah cambukkan mengenai punggung.
“Aaaaa! Ampun Nyonya, hentikan!” Kinanti memohon, ia masih bisa berteriak. Tangannya masih bisa meraih walaupun tidak ada benda yang bisa jangkau olehnya. Ia merasakan kesakitan yang teramat sangat.
Nyonya Fernando enggan melepaskan permainannya. Ia terus saja mencambuk badan Kinanti yang sudah tidak berdaya. Kekerasan yang dilakukannya sudah di luar akal sehat.
Sudah tidak dapat terhitung lagi kesakitan yang dirasakan Kinanti akibat cambukan itu. Rasa sakitnya sudah tidak dapat ditolerir oleh tubuhnya. Pandangan Kinanti sudah kabur, ia tidak dapat melihat dengan jelas keadaan sekitar. Bibirnya perih, ada rasa aneh yang ia rasakan mungkin itu darah segar yang mengalir dari luka yang akibat hantaman.
Perih! Aku mohon hentikan. Badanku sakit. Aku sudah tidak dapat melihat, semuanya buram. Apakah hidupku akan berakhir sampai sini? Aku mohon jangan, aku masih ingin melihat Reno menggapai mimpinya. Ayah ... Reno ... Farah ... Kak Naresh ....
Kinanti hanya bisa melihat seberkas cahaya yang menampilkan wajah-wajah orang yang ia sebut dalam hati.
Nyonya Fernando sejenak menghentikan kegiatannya. Ia menatap jerih tubuh Kinanti yang tergolek tak berdaya di lantai yang penuh dengan bercak darah. Dalam pikiran Nyonya Fernando, ia menganggap bahwa Kinanti adalah istri Ilham yang harus ia singkirkan. Wanita yang sudah merebut cintanya. Selama enam tahun ini, ia mencoba untuk mencari keberadaan Ilham secara sembunyi-sembunyi.
Aku ingin melakukan cambukkan sekali lagi, agar pikiranku jadi lebih tenang. Maaf Kinanti kau korbanku selanjutnya.
__ADS_1
Nyonya Fernando mengangkat cambukknya, sekali kilatan maka ini akan selesai.