
Episode 193: Pertemuan Rahasia
“Assalamu’alaiku warahmatullah wabarakatu,” Ilham mengucapkan salam sebelum masuk rumah. Seperti biasa, Farah akan menyambutnya dan menjawab salam darinya. Tak hanya itu, Farah juga akan mencium punggung tanganya.
Sedari tadi Ilham selalu mengembuskan napasnya. Ada rasa gugup yang merangkulnya dari pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah. Ia sudah menyiapkan skenario kebohongannya lagi.
Farah tersenyum, tapi ada yang mengganjal di benaknya. “Mas kenapa bajunya sudah ganti? Kemejanya kemana? Dan kenapa leher itu ada plester?” tanyanya polos.
Ilham sudah tahu bahwa ia akan diinterogasi seperti ini. Ditambah plester yang menempel sangat mencolok sekali. “Aku jawab yang mana dulu? Banyak sekali pertanyaannya, Sayang.” Ilham mengelus puncak kepala Farah.
“Jawab saja, Mas.” Farah kian menuntut. Ini di luar kebiasaan suaminya, ia harus menanyakan soal ini.
“Tadi aku jatuh, leherku memar dan kemejaku sedikit robek. Jadi aku memutuskan membeli kaus ini.” Ilham tersenyum. Ia harus menyembunyikan kegugupannya. Selain itu, ia harus menambah daftar kebohongannya kepada sang istri.
“Ya ampun, kenapa Mas? Kok bisa?” Farah mendadak menjadi khawatir. Ia hendak menyentuh bagian leher suaminya yang tertempel plester, namun segera ditepis oleh Ilham.
“Aku enggak apa-apa. Aku mandi dulu ya.” Ilham segera berlalu pergi meninggalkan istrinya dengan segudang pertanyaan yang masih ingin diajukan.
Maaf, Farah. Aku berbohong lagi.
***
Anneline sudah bersiap dengan dandan yang rapi. Ia memoleskan sedikit bedak dan lipstik wana peach yang lembut. “Hari ini adalah hari yang kutunggu.” Anneline tersenyum pada pantulan cermin.
Dering ponselnya lagi-lagi merusak khayalannya yang menari-nari di kepalanya. Ia mendengus kesal dan ingin menyumpahi siapa yang menciptakan benda kotak itu. Bahkan dalam beberapa menit ini ponselnya masih meraung keras. Dengan hati yang setengah terpaksa, Anneline menyentuh benda kotak yang terus meraung.
Anneline sempat terkejut jika yang menelpon kali ini adalah Kinanti, bukan suaminya. Ia buru-buru menjawab telepon tersebut.
“Halo, Kinan,” ucapnya diselingi batuk yang ia buat-buat sendiri.
“Apakah Kakak baik-baik saja? Sepertinya Anda kurang sehat.” Kinanti memastikan.
__ADS_1
“Aku hanya ingin istirahat saja, Kinan. Aku sudah makan dan minum obat, kau tak perlu mencemaskanku.” Anneline berdalih. Ia tak ingin Kinanti datang.
“Saya akan menemani Kakak.”
“Tak perlu, mungkin aku hanya butuh sedikit istirahat. Aku ingin keadaan rumah yang sunyi. Besok, pasti sudah sembuh,” kilah Anneline.
Akhirnya Kinanti mengiyakan permintaan majikannya. Ia tahu, nyonya besar itu tak mungkin mengalah. Jika sudah berkata A maka rencanannya harus A dan itu tidak dapat diganggu gugat.
***
“Mas mau kemana?” Farah memergoki Ilham yang sudah berhias rapi dengan parfum kesukaannya.
Ilham menelan salivanya. Ia tahu istrinya akan bertanya seperti ini. Ilham sudah menyiapkan jawaban yang tepat. “Aku ingin mengobrol sebentar dengan Frans di kedai kopinya. Boleh, kan?”
Farah hanya menggangguk. Tak biasanya Mas Ilham keluar malam. Apalagi pakai baju yang santai sekali.
Seketika Farah menepis kemungkinan buruk. Ia meneguhkan hati, dan berusaha mempercayai suaminya dalam keadaan apapun. Toh, Farah yakin jika suaminya pasti hanya berkumpul dengan temannya. Tak mungkin untuk menolak, bagi Farah kebebasan untuk berkumpul maih jadi hal yang wajar.
“Mas, nanti pulangnya jangan malam-malam, ya.”
Ilham mengangguk. Dadanya terasa panas, ada rada bersalah yang terdalam. “Iya, nanti aku akan pulang setelah semua urusan selesai.”
Setelah berpamitan dengan istrinya, Ilham melajukan mobilnya untuk sampai di halte dekat penginapan Anneline yang tak jauh dari jarak rumahnya. Ia merasa semuanya harus selesai malam ini. Bahkan untuk memenuhi semuanya, ia juga meminta syarat agar Anneline tidak terlalu seperti pertemuanya di waktu siang tadi.
Anneline sedang duduk di bangku halte. Sedari tadi matanya awas melihat mobil yang berlalu lalang di jalan. Malam ini, ia meminta sebuah permintaan kencan yang tertunda enam tahun yang lalu. Anneline juga berjanji jika dia tidak akan berbuat kasar. Ia hanya ingin kencan yang dijanjikan semasa dulu terwujud.
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya. Anneline yakin itu adalah pangeran es yang ia tunggu-tunggu.
Benar dugaannya. Ilham keluar dari mobil dan menyambut Anneline dengan wajah yang masam karena ia melakukannya dengan setengah hati. Ilham membukakan pintu untuk Anneline.
Anneline yang semula berbahagia, kini menarik senyumnya tatkala Ilham membukakan pintu mobil bagian penumpang di belakang untuknya.
__ADS_1
“Mengapa aku harus duduk di belakang?” Anneline protes. “Aku mau duduk di samping kemudi!”
Ilham mengembuskan napas panjang. “Duduk atau tidak sama sekali.”
Dengan perasaan kesal, akhirnya Anneline menurut. Ia duduk di kursi penumpang belakang dan menjadikan Ilham sebagai sopir. Tapi ia membesarkan hatinya, yang penting malam ini dirinya bisa jalan-jalan bersama Ilham.
Ilham kembali ke kemudinya. Malam ini, Anneline memintanya untuk menemani jalan-jalan. Semula Ilham menolak, tapi ancaman Anneline tidak main-main. Ia pun memberi sebuah persyaratan jika bertemu, tidak ada kegiatan bergandeng tangan atapun kontak fisik. Anneline pun menyetujuinya.
Mobil berjalan membelah malam yang tidak begitu bagus karena bulan tidak terlihat. Anneline sedari tadi hanya tersenyum melihat tampilan wajah tampan milik Ilham yang terpantul oleh kaca depan berbentuk persegi panjang.
Anneline memperhatikan setiap lekuk wajah Ilham. Ia teringat bagaimana Ilham selalu mencurahkan kasih sayangnya dengan caranya sendiri. Membuat masakan yang super lezat, kue dengan warna-warni dan cinta. Pandangan Anneline lalu tertuju kepada leher Ilham yang ditempel oleh plester.
“Aku yakin istrimu pasti bertanya soal luka yang kau tutupi dengan plester itu.” Anneline tertawa lirih.
“Dia sudah bertanya, dan tolong jangan seperti itu lagi.” Suara Ilham menegaskan perempuan yang duduk di kursi penumpang di bagian belakang.
“Ternyata kau lupa ya! Kau yang mengajarku untuk menandai seperti itu. Aku bahkan sampai takut jika orang tuaku tahu jejak yang pernah kau tinggalkan sewaktu SMA.” Anneline membalas dengan kejadian indah yang pernah ia dan Ilham rasakan. Ciuman dan jejak bibir sudah pernah dirasai sebelumnya. Hanya saja Ilham tak mau berbuat lebih jauh. Ia dan Ilham tak jauh beda seperti remaja yang ingin mencoba sesuatu yang menurut mereka baru.
Ilham mendesah. Ia tak ingin mengingat dosa semasa SMA dulu. Ia begitu jijik dengan dirinya yang dulu, mencumbu lawan jenis yang bukan mahramnya.
“Hei Ilham, apakah kau tak ingin menandai aku lagi?”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa