Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 58


__ADS_3

“Apa cita-cita yang ingin kau capai saat ini?”


Ray melirik wajah Farah. Bola mata Farah mengisyaratkan ada keinginan yang belum tergapai.


“Aku ingin berkuliah Ray. Pasti cita-citamu saat ini ingin memajukan perusahaamu ‘kan?


Ray tersenyum.


Aku ingin mempersuntingmu.


Ray melihat arloji yang melingar di pergelangan tangannya. Sudah pukul tujuh lebih. Bukankah seharusnya Farah bekerja. Tapi sekarang dia masih berada di halte itu bersama Ray.


“Apakah kamu tidak takut dipecat oleh managermu? Ini sudah terlambat.” Ray cemas jika Farah mendapatkan masalah gara-gara terlambat bekerja.


“Kak Akmal tidak mungkin berani memecatku. Dia tidak punya kuasa penuh untuk itu.”


Ray berusaha mencerna kalimat yang baru saja diucapkan oleh Farah.


Mengapa Farah berani mengatakan hal itu? Apakah dia memiliki kuasa sedemikian rupa?


Ray masih merenungi kalimat itu, ia berusaha mencari alasan atas penalarannya. Bagi Ray, Farah hanya karyawati biasa di kedai itu. Namun pernyataan Farah terkesan berani dan bukan omong kosong belakang. Ray masih menyakinin Farah adalah anak asisten rumah tangga di rumah Ilham.


“Aku bukan karyawati tetap di sana. Aku hanya karyawati pengganti, yang bekerja enam hari dari jam tujuh pagi hingga sembilan malam. Aku juga mendapat hari libur. Bisa dibilang aku ini karyawati khusus.” Farah menjelaskan mengapa ia tidak khawatir terhadap kemarahan Akmal. Farah tahu jika airmuka Ray menujukkan kebingungan atas pernyataannya tadi.


Siapa perempuaan ini? Apakah dia juga menanam modal di kedai itu? Lalu mengapa dia juga ikut bekerja? Lalu apakah benar dia anak pembantu di rumah Ilham?


Ray masih berusaha menalar semua ini. Ada ketakutan yang menyebar di hati dan pikirannya saat ini. Ia takut menyakini hal yang mungkin benar baginya, namun bukan kebenaran.


“Bagaimana kamu bisa tinggal di komplek perumahan itu?” Sepasang mata Ray menatap tajam ke arah gadis yang sedang duduk di halte itu. Ia meminta jawaban dengan segera.


Farah terkejut mendengar pertanyaan yang diberikan Ray. “Mas Ilham yang membawaku ke rumah itu.”


Ray tahu persis itu memang rumah Ilham, sahabatnya. Kebingungan hatinya, mengapa gadis ini berkata seperti ini. Bahkan Ray pernah menalar bahwa Farah memiliki hubungan yang sangat intim dengan Ilham. Dan ia tidak ingin penalarannya adalah suatu yang bertolak belakang dengan keyakinannya.


“Ada hubungan apa kamu dengan Ilham?” tanya Ray.

__ADS_1


“Mengapa kau menanyakan hal ini Ray?” Farah semakin tidak mengerti arah pembicaraan saat ini.


“Jawab saja!” Ray sedikit menegaskan kembali pertanyaaannya.


“Aku adalah istri dari mas Ilham, dia pemilik kedai yang biasa kamu datangi.”


Ray tertegun dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Farah.


Katakan! Katakan jika ini hanya lelucon. Jangan pernah bercanda denganku!


“Apakah kau mengenal mas Ilham, Ray?” tanya Farah dengan penuh pengharapan.


Ray menunduk, ia masih bergeming. Masih tak percaya dengan semua hal yang ia alami pagi ini. Baru saja ia merayakan bayangan yang menyatu sekarang ia harus merayakan sakit hati.


“Sudah lima hari ini aku tidak mendapatkan kabar dari mas Ilham, di mana dia sekarang? Kapan dia pulang?” Farah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghapus air mata yang hendak keluar.


“Kemarin aku mencarinya di Kota Numa. Namun dia tidak di sana.”


Ray mendengarkan penuturan dari Farah. Ia sekarang tahu penyebab mengapa perempuan ini sering dirasukin kesedihan, yang merenggut binar keceriaannya. Ray langsung memandang perempuan yang sedang duduk di halte itu.


“Kau pembohong! Ilham belum menikah, aku kenal dia. Ilham itu sahabatku!”


Untuk kesekian kalinya Ray mencoba menolak kebenaran yang sedang terjadi. Ia menganggap ini hanya lelucon yang sangat tidak ingin ia dengar dari Farah.


Farah menatap lekat wajah Ray. Ia tahu bahwa pernikahannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ia mengambil ponselnya dan mencari foto pernikahannya.


“Aku tidak berbohong Ray. Aku sudah menikah dengan mas Ilham tiga bulan yang lalu di kotaku. Ini buktinya.” Farah menunjukkan layar ponselnya yang sudah menampilkan foto dirinya bersama Ilham mengenakan pakaian pernikahan dengan warna serba putih.


Tepat saat itu jatung Ray merasa seperti tertikam pisau. Ia merasakan kesakitan yang luar biasa. Ray merasa Farah membawa bara api untukknya. Secara perlahan membakar semua harapan yang Ray buat untuk masa depannya.


Ray mencoba merekatakan hatinya kembali. Ia pernah merasakan kesakitan ini ketika melihat Anneline yang lebih memilih Ilham. Dan untuk ‘kedua kalinya’ ia merasakan lagi perayaan sakit hati ini. Dengan pria yang sama yang telah mengambil dua perempuan dalam hidupnya sekaligus.


Airmuka Ray berubah menjadi wajah yang sangat berbeda. Ia menarik lengkungan senyumnya. Sorot matanya tajam. Rahangnya mengencang. Bahkan tangannya menempal. Ia seperti ingin kembali ke Ray yang dulu.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan halte itu. Terlihat seorang laki-laki berseragam sopir keluar dari mobil mewah itu.

__ADS_1


“Maaf Tuan Ray, Anda harus segara berangkat ke kantor. Akan ada meeting dari klien hari ini,” ucap sopir itu sopan.


Farah mengerti, sudah saatnya ia juga kembali bekerja. Hari ini pikirannya sedikit menemukan kelegaan. Ia menemukan pendengar yang baik seperti Ray.


“Ray sudah saatnya kau bekerja, aku juga akan bekerja. Terima kasih telah menjadi pendengar keresahannku. Aku senang memiliki teman sepertimu.” Farah tersenyum kepada Ray.


Untuk pertama kalinya Ray tidak menyukai senyuman wanita itu. Tidak menyukai. Ia masih menatap datar sosok perempuan yang berada di hadapannya.


“Jika kamu tahu keberadaan Ilham, segera beri tahu aku. Katakan kepadanya aku sangat merindunya.” Farah berlalu pergi meninggalkan halte itu.


Ray masih bergeming.


***


Ilham mencari jejak Anneline di Kota Zen bagian selatan. Ia sekarang mampir di kedai untuk mengistirahatkan raga dan pikirannya. Siang sangat terik di kota ini. Ilham memesan es kopi dan french toast.


Pesanannya di antar oleh pramusaji. Ilham gagal fokus ia melihat pramusaji itu berhijam sama seperti Farah. kerinduannya menguar dalam pikirannya.


Aku kira Farah.


Ilham menggerutu kecewa, indra penglihatannya menipu.


Hati, nanti kita pulang ya, aku sudah tidak kuat membendung rindu sang pemilik kita.


Tidak Logika! Anneline harus ditemukan dulu. Aku tidak ingin kembali ke Milepolis.


Dengarkan aku Hati! Ingat sang pemilik kita sudah memiliki istri. Intuisiku bilang ada akan ada hal yang buruk yang menimpa Farah!


Tiba-tiba sengatan itu muncul lagi, tepat di jamtumg Ilham. ia refleks memegang dada kirinya. Ada perasaan yang tidak baik.


Mengapa ini selalu terjadi?


Ilham merasakan hal buruk yang akan terjadi. Ia lalu mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Ia mulai membuka semua pesan dan panggilan yang selama ini ia abaikan.


Hingga tertuju pada pesan milik Akmal. Pesan itu berisi ada ancaman yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2