Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 145


__ADS_3

SIRENA YANG PATUH


Selamat Berimajinasi


__________


“Anda sangat menggiurkan, Tuan.


Sirena menyentuh lembut pipi tegas Naresh yang sedang tertidur. Ia terpukau dengan pesona maskulin yang menguar dari diri pria itu. Sedikit demi sedikit ia membuka pakaian Naresh dari mulai jas, sepatu hingga kaus kaki. Ia juga menanggalkan kemeja yang digunakan oleh pria itu.


“Kau sangat tampan, Tuan Yori.” Sirena tak henti-hentinya memandang Naresh. Ia sangat tidak sabar untuk menghabisi malam ini dengannya.


Tanpa dikomando dua kali, Sirena telah naikdi tubuh Naresh. Sekarang ia mengedus-endus bau khas yang menguar dari tubuh pria yang ditindihnya saat ini. Gincu merah yang melekat di bibirnya mengangsur ke lekukan dada bidang Naresh. Ia mengecupnya lembut dan meninggalkan jejak kemerahan kecil sebagai penanda, begitu liar dan mengagumkan.


“Izinkan aku bersatu denganmu malam ini, Tuan Yori.”


Belum sampai Sirena melepas celana Naresh, sebuah ketukan pintu terdengar. Hal ini membuat Sirena menjadi geram. Saat ia berusaha mengabaikan ketukan itu, yang terdengar sekarang adalah suara teriakan seorang wanita.


“Mengapa kau kunci pintu rumah ini!”


Mata Sirena terbelalak. Ia sangat mengetahui pemilik suara wanita ini. Dengan segera ia mengambil kemejanya dan memakainya tanpa mengaitkan kancing-kancingnya. Ia harus segera membukakan pintu itu atau sesuatu yang buruk akan terjadi.


Sirena berlari lalu membuka kunci pintu. Seketika sebuah tamparan melayang di pipinya. Tentu saja tangan yang menamparnya adalah milik seorang perempuan bertubuh besar dengan baju bermotif totol macan.


“Mengapa Madam menamparku? Apa salahku?” Sirena berlutut di depan perempuan gemuk yang ia sebut Madam itu.


Madam tentu datang tidak sendirian. Ia bersama dua pria kekar berkepala plontos dan berwajah garang. Madam memberi isyarat dengan dagunya menunjuk ke arah Sirene yang berlutut di hadapannya.


Salah satu pria itu mengerti dan menjambak rambut Sirena, lalu menyeretnya agar menjauh dari pandangan Madam.


“Sakit!” Sirena hanya bisa meringis kesakitan karena tangan pria itu menarik rambutnya dengan kasar. Ia sudah tidak bisa menghitung sudah keberapa dirinya diperlakukan seperti ini.


“Mengapa kau mengunci pintumu, Siren?” Suara Madam menggelegar seisi ruangan.


“Aku kira Madam tidak akan datang di jam seperti ini.”


Pria itu belum melepaskan rambut panjang Sirena. Ia malah menjambaknya dengan kuat agar Sirena merintih kesakitan.


“Ampun, tolong lepaskan! Rasanya sakit!” Sirena memohon agar Madam memerintahkan pria berkepala plontos ini untuk melepaskan jeratannya.

__ADS_1


“Lepaskan Dia!” Madam berseru, pria berkepala botak itu melepaskan rambut Sirena dengan kasar.


Sirena masih merasa kesakitan, ia memegang kepalanya. Dalam hidupnya yang dua puluh tahun ini, tak hanya sekali atau dua kali ia diperlakukan seperti ini. Mungkin sepanjang malam yang pernah ia lalui. Megenaskan memang, tak ada tempat untuk mengadu. Tidak ada tempat untuk berlindung, dan semua Sirena yang menelan semua kesakitan itu.


“Di mana Tuan Muda itu?” tanya Madam.


“Dia ada di kamar saya.”


Tanpa menunggu persetujuan dari Sirena, Madam menerobos masuk ke dalam kamar dan melihat pria sedang terlentang di ranjang tanpa pakaian atas dan celana yang sedikit terbuka di bagian pengaitnya. Dada pria itu juga ditemukan penanda merah yang sangat ketara sekali.


“Apa yang sedang kau lakukan dengan Tuan Muda itu, Sirena?” Perempuan muncikari itu berbicara dengan berteriak seakan pendengaran Sirena mengalami ketulian, jadi harus ekstra kencang. Pantas saja ia merasa Sirena sangat lama membukaan pintu.


“Pria itu sangat tampan dan aku ingin menikmatinya.” Sirena tersenyum. Di kepalanya ia berfantasi liar, ia membayangkan bahwa dirinya ingin disusupi rasa oleh pria yang bernama Yori itu. “Bukankah Nyonya Fernando yang kaya raya itu memintaku untuk memisahkan dia dengan kekasihnya.”


Suara dering ponsel Madam mengambil alih situasi. Dengan mengusap layar ponselnya, tampak seorang yang ingin menghubunginya melalui panggilan via video. Tanpa pikir dua kali, Madam menjawab panggilan itu dan terlihat sesosok perempuan berambut panjang tertangkap di layar ponsel itu.


“Selamat malam, Nyonya.” Mendadak suara Madam melembut seperti manusia pada umumnya.


Terdengar suara dari ponsel itu meminta agar di perlihatkan pria yang menjadi targetnya. Madam mengangguk dan memperlihatkan Naresh dengan ponselnya.


Tentu saja yang menelpon via video suara itu adalah Nyonya Fernando. Ia memang khawatir dengan kondisi kakak iparnya. Ia masih punya hati, walaupun hanya ingin menjalankan rencananya, ia tebang pilih untuk mengasihi. Dalam hidupnya, Naresh tidak pernah jahat padanya, tak ada alasan mengapa pria itu tidak masuk daftar orang yang harus dilenyapkan. Ia menganggap Naresh seperti kakaknya sendiri. Anneline hanya ingin pria itu tidak mencampuri urusannya di Kota Milepolis kelak. Ia hanya akan melibatkan Kinanti sebagai perantara.


Itu bukan tanda yang diciptakan oleh Kinanti! Bukan! Lalu siapa yang membuatnya seperti itu? jangan-jangan ....


“Bisa kau perlihatkan Sirena sekarang?” pinta Anneline melalui panggilan video itu.


Madam memenuhi permintaannya. Sekarang ia menyoroti perempuan yang sedang berdiri dengan kemeja yang tidak dikancingkan hingga tubuh Sirena terlihat sedikit.


“Madam, sebaiknya kau harus mengajari Sirena agar tidak terlalu bernafsu untuk mencoba pria dengan status sosial yang tinggi. Ingatkan anak manis itu untuk tahu batasannya! Dia ingatkan jika dia bukan perempuan terhormat!” Suara Anneline terdengar memekik dari ponsel yang dipegang oleh Madam.


“Tampar perempuan nista itu!”


Seperti binatang peliharaan yang bergantung pada majikan yang baru—Madam, menampar Sirena begitu keras hingga hidungnya mengeluarkan cairan merah yang hangat. Sirena tersungkur di lantai.


Sebuah tamparan yang membuat Sirena harus meringkuk lagi di kaki Madam untuk meminta ampunan. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia sepertinya sudah kebal dengan tamparan dan pukulan. Namun ia tidak bisa menerima kata-kata yang baru saja dilayangkan untuk dirinya.


Perempuan tidak terhormat.


Apa arti terhormat itu jika dirinya bukan miliknya sendiri. Apa artinya perempuan terhormat itu? Seperti apa perempuan terhormat itu? Beritahu aku! Beritahu aku!

__ADS_1


Sirena masih bersimpuh menciumi kaki besar Madam yang hanya memakai sandal kayu dengan hak tidak terlalu kecil. Ia harus melakukan hal ini agar perempuan muncikari itu mau memaafkannya dan masih menjadikan dia anak.


“Maafkan aku Madam! Maafkan aku.” Ia menangis. “Ampuni aku! Jangan sakiti aku lagi, Madam.”


Menyedihkan sekali hidupku yang harus merangkak, mencium kaki orang yang menjadi naunganku. Sampai kapan ini berakhir? Sampai kapan? Tolong beritahu aku agar aku bisa bertahan lebih lama lagi.


“Aku hanya ingin perempuan itu tidur bersebelahan dengannya dan ambil gambarnya. Itu kesepakatan yang harus kalian ikuti! Jangan pernah membuat pria itu menjadi tempat bermain-mu, Siren!” Anneline masih memekik dalam ponsel.


Madam mengiyakan perintah itu. Ia mengakhiri panggilan video itu dan menyuruh Sirena untuk berdiri. Ia akan mengelus puncak kepala Sirena dan meminta agara perempuan itu menuruti perintahnya.


Sirena yang semula menangis kini menjadi lebih tenang. Ia siap menerima perintah Madam, tentu setelah semua permintaan perempuan muncikari itu terpenuhi ia akan mendapat hadiah. Sirena berpose amat nakal di atas tubuh Naresh yang hanya terbaring. Madam mengambil beberapa gambar dan lalu mengirimkannya kepada Anneline, pekerjaannya telah selesai.


“Jangan sentuh pria itu Sirena. Kau hanya boleh memakaikannya baju seperti semula. Biarkan dia tidur. Jangan jadikan Tuan Muda itu tempat bermain-mu. Ingat kami mengawasimu sepanjang waktu.”


Sirena tidak menjawab, bakal mengerikan jika menyahut perintah dari Madam. Badannya sudah kesakitan untuk waktu ini saja, ia tidak ingin menambah kesakitan baru lagi atau luka lebam lagi. Itu sudah lebih dari cukup.


“Hari ini kau tidak perlu melayani Tuan Pranoto. Beristirahatlah, nikmati hari liburmu.”


Setelah mengatakan hal itu, Madam dan dua pria plontos itu pergi dari rumah kecil ini. seperti an.jing yang selalu menurut pada tuannya, Sirena melakukan sesuai perintah Madam. Setelah selesai memakaikan baju Naresh, ia tidak ingin tertidur. Ia hanya ingin memandangi pria yang masih tidak sadarkan diri ini sambil sesekali tangannya meraih kepala pria itu dan mengelusnya pelan.


“Sepertinya kau pria yang baik, Tuan Yori.”


Yuk bantu Author untuk :


- Like/love setelah baca cerita ini


-Tinggalkan jejak di kolom komentar


-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar atau DM di instagram saya @Ilamyharsa


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2