
Episode 194: Es Krim Sundae dan Cerita Enam Tahun yang Lalu
“Hei Ilham, apakah kau tak ingin menandai aku lagi?” Anneline tersenyum menggoda.
“Bisakan aku mengemudi dengan tenang? Berbicara dengan orang yang sedang mengemudi itu berbahaya,” jawab Ilham ketus. Ia tak ingin mengulangi kesalahan buruk yang pernah terjadi enam tahun lalu. Ia bahkan tak ingin mengenal dirinya semasa sekolah.
Anneline hanya tertawa mendengar jawaban pangeran es-nya. “Boleh kita mampir kedai es krim? Hari ini aku ingin makan es krim rasa cokelat.”
Ilham tidak menjawab. Ia melajukan mobilnya ke kedai es krim yang berada di pinggiran kota. Ia memilih tempat yang jauh untuk menghindari keramaian. Sesekali Ilham mencuri pandang kepada Anneline lewat kaca persegi panjang. Ia masih mengingat bagaimana perempuan di belakang kemudinya itu adalah perempuan yang paling ia sayangi. Memori masa lalunya berputar sendiri menemukan sesuatu yang pernah ia kenang. Ia pernah tanpa sengaja mencium Anneline ketika di perpustakaan sekolah. Anneline tidak berteriak ataupun menangis. Sejak hari itu, Ilham rasa penasaran dan detak jatungnya lebih kencang saat berada di dekat perempuan itu.
Mobil berhenti di kedai es krim tujuan Ilham. Ilham melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobilnya. Sementara Anneline sudah keluar terlebih dahulu. Ia terlihat tak sabar ingin mencicipi makanan yang dingin dan gampang meleleh itu.
Anneline dan Ilham memasuki kedai es krim. Anneline sudah berlari menuju tempat duduk yang dekat dengan jendela. Ilham tercengang, ternyata di dalam kedai es krim ini banyak pasangan muda-mudi. Ia sedikit tidak nyaman karena pengunjung yang agak tua hanya dia dan Anneline. Akhirnya, Ilham ikut duduk berseberangan dengan Anneline yang masih asik membuka buku menu memilih es krim mana yang ia suka.
Seorang pelayan datang menghampiri Anneline dan Ilham yang masih berstatus pengunjung yang baru datang beberapa menit yang lalu.
“Anda ingin pesan apa?” tanya pelayan perempuan itu.
Anneline menoleh, ia menujuk sebuah gambar es krim yang terlihat lezat. “Aku mau ini.” Ia mengangkat tangannya membentuk jumlah dua dengan dua jari. “Aku pesan dua mangkok ukuran jumbo. Kau pesan sendiri ya, Ilham.”
Ilham tercenung. “Aku pesan yang sama dengan dia ukuran biasa.”
“Baik, dua es krim sundae dengan saus cokelat ukuran jumbo dan satu ukuran sedang. Ditunggu sebentar,” ucap pelayan itu lalu pergi mengantar pesanan Ilham dan Anneline.
“Kamu yakin akan menghabiskan dua mangkuk besar es krim itu?” tanya Ilham dengan nada tak percaya.
Anneline hanya tertawa. “Aku sanggup menghabiskannya. Aku sudah lama tidak pernah ke kedai es krim.”
“Apakah di Kota Zen tidak ada kedai es krim?” Ilham menyelidik. Ia tak percaya dengan pekataan Anneline. Ia menganggap itu hal yang mustahil karena Anneline diperistri oleh pria yang kaya.
__ADS_1
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Ilham membuatnya tersenyum kecut penuh ironi. “Kedai di Kota Zen jumlahnya mungkin ratusan. Tapi, aku tak pernah makan dengan suasana seperti ini. Maksudku, suasana tanpa adanya penjaga.”
Mata Ilham menyipit. “Suasana tanpa penjaga?”
“Ah aku belum cerita padamu ya? Kau pasti tahu, jika aku adalah istri dari salah satu Fernando bersaudara yang memiliki perusahaan besar. Jadi, kemana pun aku pergi, selalu ada yang menjaga. Itu membuatku tak leluasa,” jawab Anneline.
Seorang pelayan membawa nampan berisi tiga es krim sundae yang sangat lezat. Ia menaruh satu mangkuk ukuran sedang untuk Ilham dan dua mangkuk ukuran jumbo untuk Anneline. “Silakan dinikmati,” ucapnya sebelum meninggalkan mereka berdua.
Anneline mulai menyantap dari mangkuk jumbo yang pertama. Es krim sundae yang diberi saus cokelat lezat bertabur butiran coklat membuat makanan ini menggoda iman Anneline. Tanpa banyak basa-basi, Anneline langsung menyendok makanan manis nan dingin itu ke mulutnya.
Ilham hanya menatap penuh kebingungan melihat mulut Anneline yang hampir penuh dan sedikit belepotan karena es saus cokelat. Ia mengambil tissu dan memberikan kepada Anneline. “Bisa enggak, makan yang sedikit halus. Tuh, mulutmu belepotan saus cokelat.”
Anneline berhenti menyendok. Mangkuk pertamanya hampir habis, sisa satu per empat bagian saja. Ia menyukai es krim ini hingga tak sadar sekitar bibirnya belepotan. “Tolong lap ini,” pinta Anneline menunjuk ke bibirnya.
Ilham menggeleng. Ia malah mengambil satu kotak tissue kepada Anneline. “Bersihkan sendiri.” Ia lalu melanjutkan makan.
Ilham merasa ada yang aneh dengan Anneline. Pagi tadi, Anneline bersikap sangat menyeramkan, sekarang dia seperti perempuan pada umumnya walaupun sedikit rakus. Apa yang terjadi selama enam tahun ini? Pertanyaan itu terngiang di dalam kepala Ilham. Ia mengambil ponselnya dan mencari tahu siapa Fernando Bersaudara itu. Ia yakin, Anneline pasti bisa merasakan es kirim di setiap jengkal Kota Zen.
Ilham mengetik “Fernando Bersaudara” di kolom pencarian ponselnya. Dalam seperkian detik, layar ponselnya menampilkan satu wajah pria yang amat tampan dan tertera bahwa itu adalah pemiliknya sekarang. Apakah pria ini adalah suaminya Ann?
Karena penasaran yang akut, Ilham akhirnya menyodorkan ponselnya kepada Annline yang mulai menghabiskan mangkok es krimnya yang kedua.
“Apakah dia suamimu?”
Anneline berhenti sejenak untuk menyantap es krim sundae-nya. Ia tertawa. “Kau cemburu ya? Sampai-sampai ingin melihat wajah suamiku?”
Ilham mengernyitkan keningnya. “Seharusnya aku tidak bertanya hal ini.” Ia sedikit menyesal memperlihatkan ponselnya.
“Itu Naresh Yori Alvarendra. Dia adalah kak iparku. Meskipun kau mencari Fernando Bersaudara, yang tertampil hanyalah wajah Kak Naresh.” Anneline tersenyum. Ia menunduk seperti ada yang disembunyikan.
__ADS_1
“Kenapa? Bukankah perusahaan itu dipimpin oleh dua orang?” tanya Ilham menyelidik.
“Apakah pertanyaanmu itu hanyalah kedok dari rasa penasaranmu akan keberadaanku yang menghilang enam tahun lalu?” Anneline menyendok es krimnya dengan perlahan.
Ilham merasa tebakan Anneline adalah suatu kebenaran. Selama ini ia mencari perempuan itu hanya untuk menyakan kemana dia selama ini. Enam tahun yang penuh abu-abu.
“Aku ingin mendengar penuturanmu selama enam tahun ini, Ann.”
“Aku sudah tahu, kau pasti akan menanyakan hal ini.” Anneline tersenyum. Itu berarti dia harus mengorek luka lama yang sampai sekarang belum sembuh. Ia mengambil sebuah ponsel dan sedang mencari sebuah foto.Tak berapa lama, Anneline menyodorkannya kepada Ilham.
“Dia adalah suamiku, Tuan Fernando. Dia pemilik perusahaan elektronik di Kota Zen. Kak Naresh yang menjalankannya. Dia yang selalu tampil di depan publik.”
Ilham tercengang. Ia melihat foto pernikahan Anneline dan Fernando. Ada yang menarik matanya, yaitu sang pengantin pria yang duduk di kursi roda.
Anneline bisa menangkap eksrepsi ketidakpercayaan pada Ilham. “Kau kaget ya? Suamiku memang selalu duduk kursi roda. Sebelum kau bertanya, mengapa aku sudi menikahinya, aku akan menjawabnya terlebih dahulu.”
Anneline menyeka matanya yang sedikit berair sebelum sempat buliran air matanya jatuh. Ia tak suka kesedihan ini terus menggerayang di hatinya dan membuat sekumpulan air mata yang bisa membuatnya lemah.
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1