Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 162


__ADS_3

Episode 162: Dua Pasangan yang Serasi


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar sana, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Farah harus berjalan sejauh 200 meter dari halte menuju rumahnya. Ia senang hari ini bisa bertemu dengan Ray. Farah sangat berharap gara hubungan persahabatan Ilham dan Ray daapt terbangun kembali.


Farah telah sampai di pagar rumahnya. Ia terkejut melihat mobil suaminya sudah beada di garasi. Ia buru-buru berlari untuk memastika bahwa Ilham sudah pulang. “Assalamualaikum!” Ia tergesa-gesa menuju kamar.


“Kemana Mas Ilham?” Farah meletakkan tasnya sembarang ke kasur. Farah kembali mencari suaminya ke ruangan lain.


Ia berlari hingga melihat Ilham meletakkan sepiring masakannya di meja makan. “Mas Ilham!” Farah langsung memeluk suaminya yang masih memakai celemek.


Ilham terkejut. Ia membiarkan istri kecilnya memeluk tubuhnya. “Sudah pulang ternyata.”


Farah melepaskan pelukannya. “Kenapa Mas enggak bilang kalau sudah pulang!” Farah hampir saja menangis. Ia masih ketakutan jika Ilham pergi tanpa ada kabar.


“Aku sudah pulang sedari tadi, Sayang.” Ilham mencubit gemas pipi istrinya.


“Tapi kan ....”


Ilham meletakkan jari telunjuknya ke bibir Farah, guna untuk mengunci agar tidak berbicara lagi. “Sekarang aku sudah di rumah. Aku juga sudah memasak makanan kesukaanmu, Sayang. Masih mau menangis ...ehm?”


Farah menggeleng menghapus air mata yang hendak keluar. “Aku cuma takut, kalau Mas ....”


“Aku janji sejauh mana aku pergi, aku tetap akan kembali kepadamu. Aku janji akan selalu memberi kabar. Soal tadi, ponselku sedang di isi ulang baterainya, jadi aku matikan. Sekarang kita makan yuk!” Ilham tersenyum dan melepaskan celemek yang dipakainya.


“Wah bistik saus barbeque!” Farah terlihat senang seakan lupa tadi ia hampir saja menangis. “Aku jadi lapar,” imbuhnya.

__ADS_1


“Mari kita makan.”


Farah selalu suka dengan kejutan kecil dari Ilham. Entah itu masakan ataupun pemberian hadiah kecil. Ia juga tak pernah kecewa dengan suaminya yang terkadang salah membelikan apa yang ia sukai.


Ilham memotong kecil bagian bistik ayam dan sedikit melumurinya dengan saus barbeque. Ia menyodorkan potongan itu kepada Farah. “Sayang, buka mulutmu. Aaaa ....”


Farah menerima potongan bistik itu walaupun suapan dari Ilham sedikit melenceng, membuat mulutnya sedikit belepotan. “Lezat, Mas!” Farah tersenyum hingga pipinya sedikit mengembang.


“Siapa dulu dong yang masak!”


“Chef Ilham.” Farah tertawa.


****


Di Kota Zen


Kinanti sudah berhias diri dan menunggu di ruang tamu. Ia sedang menunggu Naresh yang sudah berjanji akan menjemput Sirena sore ini. Ia sudah membayangkan memiliki teman perempuan yang bisa diajaknya kemana pun.


Naresh pulang sesuai janjinya. Ia merasa bahagia jika dalam rumahnya sudah tidak halangan seperti kemarin. Sejujurnya ia ingin mengetahui siapa yang melakukan hal ini. Setidaknya jika Sirena tinggal di rumah ini, perempuan akan merasa berhutang budi dan akan membongkar siapa yang menjadi dalang retaknya hubungan ini.


Setelah membasuh tubuhnya, Naresh memakai baju yang tidak terlalu formal Naresh melaksanakan janjinya. “Ayo kita berangkat, Nona Mesum-ku!” Naresh tertawa kecil.


Naresh suka sekali menggoda kekasihnya. Melihat bibir Kinanti yang maju beberapa senti. “Kau cantik jika seperti itu, Kinan!” Naresh tertawa.


“Jangan memanggiku Nona Mesum!” suara Kinanti sedikit meninggi. Ia berkacak pinggang dan melotot pada Naresh yang masih tertawa.


“Hey, Nona! Apakah kamu lupa? Tadi pagi, kamu yang mengecup bibirku terlebih dahulu. Aku mau seperti itu lagi, tapi di sini.” Naresh menunjuk pipi kanannya dengan jari terlunjuk.


Kinanti masih bersemu malu. Ia juga masih terngiang kegilaannya tadi pagi. Harusnya aku tak melakukannya tadi pagi!


“Hey! Jangan buatku menunggu, ayo cepat! Di sini bagian sini,” ucap Naresh.


Kinanti mendekat pada Naresh bukan untuk mencumbunya. Ia mencubit gemas pipi kanan Naresh. “Kakak lebih mesum dariku!”


“Aduuuh! Sakit, Kinanti!” Naresh yang sudah membayangkan akan dicium malah merasakan nyeri karena jempol dan telunjuk mencubit pipinya.


Kinanti melepaskan cubitannya. Ia tertawa melihat Naresh menggosok-gosok pipinya. “Terlalu keras ya?”

__ADS_1


“Sakit!” Naresh mendengus kesal.


Kinanti mengelus pipi Naresh. Ia sedikkt merasa bersalah karena telah mencubitnya terlalu keras. “Maaf, Kak.”


Naresh hanya terdiam, merasakan tangan tangan Kinanti yang lembut. “Ini bisa sembuh jika dicium olehmu.” Ia masih menggoda Kinanti.


“Terserah!” Kinanti berjalan lebih dulu meninggalkan rumah. Tujuannya hanya menjemput Sirena di rumah bordil.


Naresh hanya tertawa kecil. Ia buru-buru menjajari langkah Kinanti dan menggamit tanganya. “Seorang putri tidak boleh berjalan sendirian tanpa pangerannya.”


Kinanti menatap pria yang menggandeng tanganya itu. Ia merasa beruntung, dicintai oleh pria yang sangat perhatian dan bisa menerima apa adanya, terkadang mengesalkan, walaupun sedikit mesum. “Semoga seperti ini terus ya.”


Naresh menoleh dan menyernyitkan dahinya. “Maksudmu selalu bergandengan tangan setiap waktu?”


“Bukan seperti itu!” Kinanti mencubit perut Naresh hingga dia mengaduh kesakitan lagi.


“Cubitanmu sakit, Kinanti!”


Mereka berdua menaiki mobil yang biasa dipakai Naresh. Hari ini Naresh ingin mengemudikan sendiri mobilnya. Mereka berangkat menuju rumah kecil Sirena yang berada di Kota Zen bagia utara.


Perjalanan itu hanya memakaan waktu 20 menit karena jalan cukup lancar, tidak terlalu macet. Naresh dan Kinanti terpaksa harus melanjukan perjalanannya dengan jalan kaki untuk sampai di rumah Sirena. Sesekali Kinanti sedikit ketakutan melihat perempuan berbaju kurang bahan yang berdiri di setiap jalan kecil itu.


Tepat saat Naresh dan Kinanti sampai di rumah kecil Sirena, seorang ibu berbadan gemuk keluar dari tempat itu. Dia tampak ketakutan melihat Naresh dan Kinanti yang sudah ada di teras.


“Maaf, apakah Sirena ada?” Naresh bertanya sopan.


“Dia sudah tidak ada di sini. Silakan pergi, Tuan.” Jawab Madam.


“Tapi saya sudah berjanji akan membelinya lebih dari orang-orang itu!” Naresh tak percaya. Sirena selalu menunggu hari pembebasan ini.


“Dia sudah dibawa pulang oleh ayahnya. Permisi,” ucap Madam. Ia buru-buru pergi dari tempat itu untuk menghindari pertanyaan dari Naresh.


“Tunggu!”


_______________________


Hay, terima kasih kepada kalian yang pernah membaca Novel saya yang berjudul The Last Romeo. Mungkin sebagia dari kalian merasa kecewa karean novel itu sudah saya hapus. Hehhehe, novelnya sudah tamat dan masih tersimpan rapi di tempat yang aman. Mungkin nanti saya akan menpublishnya lagi di tempat yang baik.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2