
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Naresh dalam kekhawatiran yang mendalam, sedari tadi Kinanti belum juga sadar. Meski begitu, luka-lukanya sudah terobati dan hanya menyisakan bekas lebam membiru. Tidak ada tulang yang patah atau retak, semua organ dalam baik-baik saja itu yang dikatakan dokter pagi tadi. Naresh tidak mau pergi keluar dari rumah ini. Ia tetap setia untuk menunggu sadarnya Kinanti.
“Aku sudah tidak bisa menangis, tapi hatiku berdarah Kinan melihatmu seperti ini. Lekaslah sembuh agar aku dapat bercerita lagi, agar kita bisa melihat bintang lagi.” Naresh mengelus lembut kepala Kinanti berharap sentuhannya dapat membangkitkan senyum gadis itu.
***
Pagi merajai awal hari tak henti menebar sebuah misteri hari ini. Pergantian empat waktu yang indah dari alam semesta, pagi, salah satu diantaranya. Naresh masih setia berada di samping Kinanti.
Suara ketukan pintu terasa sampai telinga Naresh. Ia membukankan pintu dan ada seorang maid yang menyampaikan pesan untuk dirinya.
“Tuan Feranando meminta Anda untuk masuk bekerja hari ini. Mohon segera bersiap Tuan Yori,” ucap maid itu.
Naresh memicingkan matanya. Hatinya sedang tidak baik hari ini, ditambah Kinanti belum sadar. Apakah dia tidak tahu aku sedang bersusah hati?
“Bilang pada Fernando kalau aku tidak akan bekerja sampai Kinanti benar-benar sadar!” Naresh membanting pintu rumahnya.
Di sisi lain, tubuh Kinanti memang seperti tidur, tapi jiwanya sedang berkelana di dunia yang semua serba putih. Ada satu titik yang terlihat hitam, Kinanti berusaha mengejar titik itu. Iya yakin sekali itu adalah jalan untuk keluar dari tempat tanpa makna ini.
Kinanti terus berlari, semakin mendekat titik itu semakin membesar. Benar dugaannya, titik itu seperti mulut gua, ia mempercepat larinya hingga ada batu yang membuat ia tersandung dan tersungkur jatuh.
“Aduuuh! Kenapa bisa jatuh seperti ini.” Kinanti membuka mata, ia terlentang di antara rerumputan tebal yang sedang bergoyang diterpa angin. Matahari bersinar, langit cerah membiru. Pemandangan yang membuat takjub.
Angin sepoi membuat ketenangan. Kinanti menyulam senyuman merasakan kenyamanan ini. Ia ingin menikmati lebih dalam lagi, ia menutup kelopak matanya membiarkan pori-pori kulit merasakan kesejukan ini.
Tak berselang lama ada bayangan menutupi sinar matahari yang menerpa wajah Kinanti. Ia membuka mata, ada tangan yang sengaja menutupi. Siapa dia?
__ADS_1
“Apakah kamu akan di situ terus menerus?” tanya sosok berambut hitam yang hampir memudar.
Kinanti bangun dari tempat rebahnya. Ia baru menyadari ada manusi selain dirinya yang berada ditempat ini. Siapa dia?
“Sayang, apakah kau masih mengingatku?”
Mata Kinanti membulat, beberapa kali tanganya mengucek mata memastikan apakah ia tidak salah lihat. “Ibu ....” Kinanti tidak kuasa menahan tangisnya, ia langsung bangkit dan memeluk ibunya.
“Anak ibu sudah besar ya?” sang ibu mengelus lembut kepala Kinanti. Tinggi Kinanti hampir sama dengan tinggi ibunya.
Pertemuan yang mengharukan. Kesempatan yang langka untuk orang yang sedang dipilih oleh Tuhan. Pertemuan yang selalu diingkan oleh Kinanti.
“Mengapa kamu ada di sini Sayang? Bukankah kamu harusnya bersama ayah dan Reno?”
“Aku lebih suka bersama ibu.” Kinanti merajuk, ia menumpahkan segala rindunya.
Ibunya menjangkau pipi Kinanti, ia tersenyum tulus. “Tempatmu bukan di sini, Sayang.”
“Kenapa tidak?! Aku rindu pada ibu, ada banyak cerita yang harus aku ceritakan. Reno sudah mengenyam pendidikan di sekolah dasar ....” Belum sampai Kinanti selesai berbicara, ibunya menggeleng.
“Dengar Kinan, tetaplah mengejar impianmu. Lindungi semua orang yang kau sayang dari mahabahaya. Mereka sedang menunggumu di gerbang itu.” sang ibu menunjuk gerbang yang berada di sisi kanan Kinanti dengan jari telunjuknya.
Kinanti melihat ada empat orang yang sedang menunggunya.
Reno ....
Farah ....
Kak Naresh ....
“Mereka orang yang kau sayang. Terutama lelaki itu, kalian harus membuat cerita yang indah,” ujar ibu, “Perempuan itu sudah baik terhadapmu, jaga dia dengan baik-baik ya, Kinan.”
Angin bertiup kencang menerbangkan memainkan rambut Kinanti. Kelopak bunga merah berguguran ikut melayang ke angkasa. Sang Ibu hilang dalam buaian angin.
“Ibu ...?” Kinanti memeriksa sekelilingnya mencari orang terkasih. “Ibu!”
Sebelum Kinanti meninggalkan tempat yang ia pijak, tangan Naresh menariknya agar segera menjauh dari tempat itu. “Kau harus kembali Kinan!”
Kau harus kembali Kinan ....
***
__ADS_1
Sepasang kelopak mata terbuka, yang dilihat pertama kali adalah langit kayu.
Di mana aku?
Tubuhnya tak kuasa bergerak, rasanya remuk dan nyeri. Ia mengangkat tanganya untuk menyentuh pipinya. “Auuww,” lirihnya.
Di mana aku?
Sepasang matanya melihat perempuan dengan baju hitam putih sedang tersenyum lebar. Seperti mendapat kejutan yang indah, perempuan itu berseru. “Tuan! Dia sudah sadar! Dia sudah sadar!”
Di mana aku?
Ia melihat sekitar, selimut putih mendekapnya. Permukannya halus sekali, kasur yang empuk menampung mayitnya. Jendela tampak silau dari sinar matahari yang masuk tanpa permisi. Suara langkah kaki cepat terdengar sampai telinganya.
Di mana aku?
Sepasang matanya menangkat lelaki dengan kemeja warna putih. Tangan lelaki itu menyentuh tanganya dan menciumnya. “Kau sudah sadar?” tanyanya.
Di mana aku?
“Aku menunggu saat ini Kinan. Kau akhirnya membuka mata setelah dua hari tidak sadarkan diri,” ucap lelaki itu
Aku tidak sadarkan diri? Apakah tadi yang aku lihat mimpi?
“Sepertinya kau perlu memulihkan diri. Kau masih ingat aku ‘kan? Sebaiknya beristirahatlah dulu, jangan paksakan dirimu untuk mengingat sesuatu, Kinan,” Lelaki itu mengelus kepala dan mencium keningnya.
Kinanti tidak bisa mengulas senyuman. Tulang pipinya terlalu sakit untuk mengerakan sedikit lengkungan manisnya. Kerongkongannya terasa kering, bibirnya bercak putih dan pecah di tambah sudut bibir yang yang masih nyeri dan lebam.
“Tak perlu dipaksakan. Aku tahu kamu ingin tersenyum, tapi untuk saat ini pulihkan dulu tenagamu.” Lelaki itu tersenyum.
Kak Naresh ....
Kinanti memastikan matanya tidak salah lihat.
“Aku akan selalu menungguimu di sini,” ucap Naresh.
Dia lelaki yang baik walaupun wajahnya terlihat galak.
Naresh berbahagia pagi ini. Bunganya hidup kembali dari ancaman ‘tidak kembali’. Dia perlahan memulihkan diri membuat kuncup baru yang siap mekar lebih cantik dari sebelumnya.
“A ... ku ha ... us,” Kinanti berucap lirih.
__ADS_1
Naresh yang mengetahui maksud Kinanti langsung mengambil air mineral. Ia memberikan air itu dengan cara menyendok sedikit demi sedikit. Kinanti meneria suapan-suapan kecil air yang mengalir untuk membasahi kerongkongan. Segar sekali rasanya, seperti hujan gerimis di musim kering. Tiba-tiba ia teringat perkataan Naresh tadi.
Apakah aku benar tidak sadarkan diri selama dua hari ini?