Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 185


__ADS_3

Episode 185: Dia, Perempuan yang Merebut Cintaku


“Kinanti,” suara seorang pria sedang memanggil dua perempuan yang berjalan beiringan.


Sang pemilik nama menoleh disusul Anneline yang otomatis menoleh siapa yang memanggil patner perjalanannya.


“Ayah!” Kinanti berseru. Ia langsung mencium tangan ayahnya yang berseragam satpam.


Anneline hanya terpaku melihat Kinanti yang mencium tangan ayahnya. Pemandangan itu membuat wajahnya panas. Ia pernah melakukan kegiatan itu sebelum ayahnya berubah menjadi orang jahat yang menjual anaknya sendiri.


“Kenalkan Ayah, ini Nyonya Fernando. Dia majikanku,” ucap Kinanti.


Pak Budi sedikit kikuk antara mengulurkan tangan atau tidak. Akhirnya ia hanya tersenyum.


Anneline membalas senyuman itu. Ini bukan sandirwara, ia masih bisa tersenyum dengan tulus pada orang lain. “Saya mohon izin untuk mengajak jalan-jalan Kinanti, Pak.”


Setelah perkenalan singkat itu, giliran Anneline menarik tangan Kinanti untuk segera masuk ke cafe. Ia ingin menemui Ilham, kekasihnya yang sudah ia nantikan. Ia memilih untuk mengunjungi lantai empat.


Setelah menemukan tempat duduk yang tepat, Anneline memesan makanan kesukaannya tak ketinggalan es krim rasa vanila. Di sela penantiannya akan makanan-makanan itu, ia ingin mencari Ilham.


“Kinan, aku ke toilet dulu ya.” Itu adalah sebuah alasan yang dipergunakan Anneline untuk melancarkan aksinya.


Kinanti mengangguk. Ia kembali membaca buku menu.


Anneline menuju meja kasir. Sesekali ia melihat Kinanti agar tidak terlalu curiga. “Apakah Ilhamnya ada?”


Dua karyawati itu saling bersitatap. “Sebentar saya panggilkan.” Salah satu karyawati itu menyampaikan pesan melalui via telepon.


“Baik, Pak. Saya akan menyampaikanya,” ucap karyawati itu sambil menutup telepon.


“Mbak bisa langsung ke kantor yang berada di sana.” Karyawati itu menunjukkan ruangan yang pintunya tertutup.


“Terima kasih,” balas Anneline.


Dengan langkah cepat, debaran jantung yang melonjak hebat. Keinginannya untuk bertemu dengan Ilham sebentar lagi terjadi. Ketika dirinya sudah berada di depan pintu ruangan, ia segera membukannya dan masuk ke dalam.


Terlihat pria yang sedang berdiri membelakanginya. Pria itu masih bergeming.


“Ilham!” Anneline merasakan ada kerinduan yang harus dikeluarkan sekarang juga.

__ADS_1


Pria itu membalikan badannya. “Maaf, nama saya Akmal.”


Seketika ada batu yang menghantam dada Anneline, terasa sesak dan keinginannya lagi-lagi harus tertunda.


“Bisakah saya bertemu dengan Ilham?” tanya Anneline.


“Pak Ilham sedang mengurusi event di dekat balai kota. Saya manager store di sini. Apakah Mbak sedang ada masalah tentang pelayanan kami?” Akmal tersenyum.


Anneline menggeleng. Setelah basa-basi singkat akhirnya ia kembali ke meja bersama Kinanti. Semangatnya tiba-tiba habis tak seperti sebelumnya. Ia duduk dan menyendok sedikit es krim vanila ke mulutnya.


“Apakah ada masalah, Kak?” Kinanti berhenti mengunyah makananya ketika melihat Anneline sedang murung.


“Tidak,” jawab Anneline singkat. “Aku boleh tanya sesuatu, Kinan?”


“Boleh.” Kinanti menjawab singkat.


“Apakah kau benar-benar bersedia menjadi pasangan Kak Naresh?” Anneline ingin menyampaikan sesuatu yang sebenarnya terjadi keluarga Fernando. Menurutnya, Kinanti harus mengetahui syarat terberat yang akan ia rasakan.


Pertanyaan yang dari Anneline membuatnya sedikit ada perasaan tidak nyaman. Ia menatap perempuan di hadapannya itu dengan lekat. “Maksudnya?”


“Sepertinya Kak Naresh belum bicara tentang hal ini padamu.” Anneline menyendokkan es krim vanilanya ke mulut.


“Peraturan yang mengikat bagi perempuan yang menjadi istri keluarga kami, dia harus menyerahkan seluruh hidupnya untuk tinggal di tempat rumah kami.”


Kinanti terdiam mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Anneline. “Apakah aku tak boleh pergi sekedar mengunjungi keluargaku?”


“Entahlah, tapi kebijakan itu yang harus dipatuhi. Jadi, apa kau yakin ingin hidup dengan Kak Naresh?” Anneline menatap lekat wajah Kinanti yang terlihat kebingungan.


Apakah selama ini Nyonya juga terikat? Bahkan sampai sekarang aku tak tahu di mana keluarganya berada.


“Maaf, apakah Tuan Fernando juga melarang Kak Anne untuk bertemu dengan orangtua Anda?”


Anneline meletakkan sendok es krimnya. Ia tak jadi memasukan makanan manis itu ke mulutnya. Tak kusangka kau akan bertanya seperti ini, Kinan.


“Keluargaku telah tiada. Jadi hanya Nando yang menjadi keluargaku saat ini. Hanya dia,” ucapnya sambil tersenyum manis.


Dan aku harus merasakan sengsara selama ini, hidup bersama pria yang tak pernah mengajakku untuk berdansa atau jalan-jalan di taman. Kau beruntung, mendapatkan Kakak Ipar.


***

__ADS_1


Setelah menikmati makanan di cafe itu, Anneline dan Kinanti melanjutkan perjalanan merak menuju balai kota. Sekarang bus adalah transportasi kesukaan Anneline, bahkan ia tak segan berdiri memegang handle grip.


Kinanti masih terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sibuk karena memikirkan ucapan Anneline saat di cafe tadi. Apakah Kak Naresh akan berlaku seperti itu? Apa dia akan membatasiku dengan keluargaku, mengingat status sosialku dengannya bagai bumi dan langit.


Bus berjalan lambat di jalurnya. Beberapa kali kendaraan ini harus berhenti di halte-halte untuk menurunkan penumpang ataupun membawa penumpang baru. Setelah melewati beberapa halte, barulah Anneline dan Kinanti mendapat tempat duduk di dekat pintu.


Tiga puluh menit setelah menempuh perjalanan bus yang super lambat, Anneline dan Kinanti akhirnya sampai di halte yang berdekatan dengan balai kota. Mereka pun turun dan harus berjalan sejauh lima puluh meter untuk sampai ke tempat yang dituju.


Anneline menajamkan penglihatannya. Ia menjadi sangat awas mengidentifikasi wajah-wajah yang ditemuinya. Aku yakin Ilham ada di sini dan aku akan bertemu dengannya.


“Kita mau berkeliling kemana dulu, Kak?” tanya Kinanti membuyarkan pengawasan Anneline.


“Eh!” Anneline gelagapan ketika Kinanti mulai bertanya.


“Bagaimana kalau ke tempat temanku?” tawa Kinanti.


“Boleh.” Anneline menurut. Ia tak peduli mau kemana atau harus kemana yang jelas tujuannya sekarang ini adalah menemukan Ilham.


Setelah melewati beberapa kerumuan orang dan beberapa stan, mereka akhirnya berhenti di stan yang lumayan ramai. Terlihat Kinanti sedang mencari-cari seseorang. Anneline hanya melihat saja.


“Farah!” Kinanti berteriak sambil melambaikan tangan.


Farah?


Anneline langung mengedarkan pandangannya kepada perempuan yang membalas lambaian tangan Kinanti. Matanya menangkap sosok yang membuatnya ingat akan sesuatu. Perempuan itu mengenakan gamis berwarna merah jambu dengan motif bunga kecil yang indah.


Dia adalah istri Ilham. Perempuan yang merebut pria yang sangat aku cintai!


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa

__ADS_1


__ADS_2