Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 29


__ADS_3

Pagi ini Ilham telah berangkat menuju kedai. Ia ingin melihat kondisi kedai. Saat berada di ruangnya Akmal mengetuk pintu meminta izin untuk melaporkan keadaan kedai saat di tinggal oleh Ilham.


“Hari ini aku yang mengawasi kedai. Aku akan memberimu tugas,” perintah Ilham pada Akmal.


“Tugas apa Pak?” tanya Akmal.


“Hari ini antarkan istri saya kemanapun dia pergi.”


Apa?! Apa Aku tidak salah dengar? Pak Ilham memberikan tugas konyol ini lagi? Kenapa tidak dirinya sendiri saja?


“Maaf, apakah Bapak yakin?” suara Akmal meragukan.


“Daripada dia naik kendaraan umum lalu tiba-tiba pingsan bagaimana? Aku lebih lega jika kamu yang mengantarkan.”


Tak ada jawaban dari Akmal, itu membuat Ilham memicingkan matanya.


“Oh tidak mau? Atau kau ingin turun jabatan atau turun gaji. Pilih yang mana?” tanya Ilham tegas.


“Saya memilih mengerjakan tugas dari Pak Ilham,” jawab Akmal secepat kilat.


Ilham tersenyum licik.“Bagus. Ini pakai mobilku saja!”


Ilham melemparkan kunci mobilnya, dan Akmal menangkapnya.


“Dan satu lagi, jika aku menelponmu dalam satu kali panggilan harus segera di jawab,” perintah Ilham lagi.


“Baik Pak, saya permisi.” Akmal keluar dari ruangan Ilham. Ia menuju mobil milik Ilham yang terparkir di depan kedai.


“Aku heran mengapa si bos selalu menyuruhku melakukan hal konyol ini. Istrinya mau pergi, ya harusnya dia yang mengantar bukan aku. Sebenarnya apa sih yang ada di pikirannya bosku,” gerutu Akmal saat sudah di dalam mobil.


Tiba-tiba ponsel Akmal berdering. Panggilan dari Ilham. Akmal buru-buru menjawabnya.


“Iya Pak, ada yang bisa saya kerjakan?” tanya Akmal memulai percakapan.


“Tidak, saya hanya mengetes kecepatan kamu menjawab panggilan saya, tolong segera berangkat. Hati-hati di jalan,” ujar Ilham.


Apa!? Pak Ilham kenapa hari ini aneh sekali. Bikin kesal saja!


Akmal mengumpat kesal dengan kelakuan bosnya hari ini.


“Baik Pak, terima kasih,” jawab Akmal sopan.


Akmal melajukan mobil itu menuju rumah Ilham. Sekali lagi Akmal menggerutu mengapa dia yang harus terjebak dengan kisah labirin antara Ilham dan Farah.


“Maaf Akmal, aku hanya ingin menjaga istriku melalui dirimu,” guman Ilham.


Sebenarnya Ilham ingin sekali mengantarkan Farah namun Ia tidak suka dengan wanita yang bernama Rahma. Jadilah Akmal yang disuruh Ilham untuk mengantarkan.


***


Bu Tin melihat sekilas kalau mobil tuannya kembali lagi ke rumah. Ia buru-buru menuju kamar Farah.


“Non,tuan sudah kembali. Mungkin tuan yang akan mengantar Nona,” sahut Bu Tin.


Farah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh bu Tin. Ia sudah bersiap-siap untuk pergi. Tapi mendengar mobil Ilham kembali ke rumah rasanya aneh.


“Mungkin, mas Ilham kelupaan sesuatu jadi harus kembali Bu Tin,” jawab Farah.


Ternyata dugaan bu Tin salah besar. Bukan Ilham yang datang tapi Akmal.


“Lho Mas Akmal. Ada apa kesini? tuan mana?” tanya Bu Tin.


“Pak Ilham di cafe Bu, saya kesini karena disuruh oleh pak Ilham untuk mengantarkan Mbak Farah,” jawab Akmal sopan.

__ADS_1


Farah keluar dari kamarnya. Ia baru saja menyadari bahwa yang datang bukan Ilham melainkan Akmal.


“Kak Akmal? Kakak ngapain kesini?” tanya Farah.


“Saya di tugaskan untuk mengantar Mbak Farah kemanapun,” jawab Akmal.


Tiba – tiba ponsel milik Farah berbunyi, ia masih tak percaya panggilan telpon itu dari Ilham. Farah menjawab telpon itu.


“Assalamu’alaikum, Mas? ada apa?”


“Wa’alaikumussalam. Hari ini biar Akmal yang mengantarkan kamu. Jangan naik kendaraan umum atau taksi online, cukup Akmal saja yang jadi sopirmu hari ini. Jangan menolak, segeralah berangkat.”


Sebelum Farah menjawab, Ilham sudah lebih dulu menutup panggilannya.


“Halo ... Halo mas?” panggil Farah.


“Iya mas Ilham menyuruhku untuk ikut dengan Kak Akmal.”


“Oke, ayo Mbak Farah segera masuk ke mobil. Bu Tin kami izin berangkat dulu ya,” kata Akmal sambil mencium tangan bu Tin, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” salam dari Akmal.


“Kalau begitu, saya berangkat dulu ya Bu Tin, mohon jangan lupa pesan saya. Assalamu’alaikum warahmatulla wabarakatuh,” ucap Farah yang juga mencium tangan Bu Tin.


Farah mengikuti Akmal keluar dari rumah dan menuju mobil. Akmal menganjurkan agar Farah tidak duduk di samping kursi pengemudi. Hari ini Akmal menjadi sopir tidak resmi untuk Farah.


Akmal melajukan mobil milik Ilham keluar dari perumahan menuju jalan raya.


“Mbak Farah ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan ya? Sudah berapa bulan Mbak?” Akmal mencoba memecah keheningan dan kecanggungan di antara dirinya dan Farah.


“Bukan saya yang hamil,” jawab Farah.


“Lalu siapa yang yang hamil Mbak? Bukankah Mbak Farah beberapa kali mengajukan cuti karena sudah ada janji dengan dokter kandungan?”


“Nanti Kak Akmal akan tahu sendiri.”


“Ke arah barat di Jalan Merdeka nomor 17.”


“Baik Mbak.”


Akmal sedikit terkejut ketika Farah menyebutkan tempat pertama yang dituju. Rasanya Akmal mengingat alamat itu.


***


Setibanya dialamat yang dituju, dugaan Akmal benar. Akmal pernah kemari beberapa waktu yang lalu. Farah meminta menghentikan mobil di gang kontrakan milik Rahma.


“Kak Akmal tunggu di mobil saja, saya akan memanggil sahabat saya dulu,” pinta Farah, lalu turun dari mobil dan berjalan di gang sempit yang diapit oleh dua gedung tinggi menjulang. Siapa sangka kalau dibalik kokohnya gedung-gedung ini masih ada banyak kontrakan-kontrakan kecil di bawahnya.


Mata Akmal tertuju pada perempuan hamil yang berada di samping Farah. Ia melihat perempuan itu dengan takjub.


Apa itu Rahma? Sekarang dia berpakaian seperti muslimah yang seharusnya.


Akmal saat melihat Farah dan Rahma yang berjalan beiringan.


Rahma tahu kalau Akmal memandanginya sedari tadi. Rahma hanya menunduk tidak ingin menatap balik.


“Sekarang kita berangkat ke rumah sakit Kak Akmal,” pinta Farah.


Akmal melajukan mobil sesuai dengan tujuan Farah ya itu Rumah Sakit Medika Center.


***


Setelah menjalanni pemerikasaan, dokter mengatakan bahwa kandungan Rahma sehat. Sekarang Rahma sedikit lebih gemuk dari sebelumnya. Hari perkiraan lahir Rahma adalah 35 hari. Rahma merasa senang kalau sebentar lagi ia akan memiliki bayi.


Farah memberikan amplop coklat untuk Rahma. Amplop itu berisi uang gaji selama Farah bekerja menggantikan Rahma ditambah dengan uang tabungan milik Farah. Ia ingin agar Rahma membeli perlengkapan untuk bayinya.

__ADS_1


Rahma menerimnya, ia terharu karena Farah sudah baik sekali padanya. Akhirnya mereka meminta Akmal untuk ke mall yang berada di kawasan dekat dengan rumah sakit. Akmal pun mengiyakan permintaan Farah dan Rahma.


Tidak sampai 30 menit mereka sampai ke tempat tujuan. Farah sudah tidak sabar berbelanja perlengakapan bayi dengan Rahma. Raut air muka mereka cerah sekali.


Akmal mengekor pada kedua perempuan itu, sesuai dengan perintah Ilham yang harus mengawasi Farah kemanapun.


Tiba-tiba ponsel Akmal bergetar. Ia langsung menjawab panggilan itu.


“Hallo, Pak Ilham?” Akmal memulai percakapan.


“Sekarang ada di mana Kamu?” tanya Ilham.


“Sekarang saya sedang berada di mall tepatnya di tempat perlengkapan bayi, Mbak Farah mengajak Rahma untuk membeli pakaian bayi.”


“Kalau begitu kita videocall sekarang.”


“Maksud Pak Ilham?” Akmal mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti.


“Iya saya mau videocall denganmu tapi pakai kamera belakang saja. Nanti ponsel di taruh saku dada,” jelas Ilham.


Ilham lalu mengakhiri panggilan telepon itu menggantinya dengan layanan videocall. Ponsel Akmal berbunyi lagi. Ia menjawab panggilan videocall itu.


Ilham melihat jelas wajah Akmal memenuhi layar ponselnya.


“Cepat setting ke kamera belakang. Saya tak ingin melihat wajahmu yang seperti koala itu. Saya mau melihat Farah berbelanja. Cepat ganti kamera belakang!” perintah Ilham.


Akhirnya Akmal menyetting ke kamera bekalang. Sekarang di layar ponsel milik Ilham terlihat jelas suasana mall, lalu berganti melihat dua perempuan yang memilih pakaian bayi.


Akmal memasukan ponselnya ke saku dadanya, dengan posisi tegak agar bosnya bisa melihat Farah dari videocall itu. Ia juga sebal dengan kelakuan Ilham dan menyebutnya dengan wajah koala.


Kenapa harus videocall aku sih bukanya Mbak Farah, kan dia istrinya. Dan pak Ilham bilang wajahku seperti koala. Mengapa kelakuan bosku akhir ini semakin aneh-aneh saja!


“Hey Akmal! Majulah sedikit, biar aku bisa melihat jelas istriku berbelanja, atau gajimu bulan ini aku potong!” ancam Ilham.


Dengan berat hati Akmal menuruti sesuai dengan perintah Ilham. Akmal heran mengapa bosnya bisa memaksanya melakukan hal konyol dan sedikit memalukan ini.


“Dasar bucin!” gerutu Akmal tanpa sadar terdengar oleh bosnya. Ia lupa kalau sekarang sedang bervideocall meskipun kameranya tidak mengarah ke wajahnya.


“Apa? Kamu ngomong apa barusan?” tanya Ilham yang mendengar suara Akmal yang sedang menggerutu.


“Maksud saya, saya ingin bersin! Haaaciuuhh,” ucap Akmal berbohong. Dan suara bersin tadi juga bohong.


Ilham melanjutkan melihat istrinya yang memilih pakaian bayi lalu di tempelkan ke perut buncit Rahma. Ilham tersadar akan sesuatu. Saat melihat layar ponselnya.


Apa mataku menipu? Apakah perempuan yang memakai gamis dan jilbab itu Rahma?


Ilham melihat ponselnya sedikit lebih dekat. “Benar itu Rahma,” gumannya.


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk oleh salah satu karyawannya.


“Masuk!” Ilham mengizinkan karyawan itu memasuki ruangannya.


“Maaf Pak Ilham, ini ada titipan dari adik Bapak. Tadi ojek online yang mengantar ke sini,” ujar karyawan itu meletakkan bekal makanan di meja Ilham.


“Terima kasih,” jawab Ilham.


Kemudian karyawan itu pergi meninggalkan Ilham di ruangan itu.


Ilham melihat kotak bekal makan siang, disitu ada secarik kertas yang bertuliskan ‘Selamat menikmati dari Adikmu Nona F’ Ilham membaca kalimat itu. Ia tersenyum.


“Ini pasti Farah.”


Ilham membuka kotak makan itu dan memakannya sambil melihat layar ponsel yang masih menunjukan Farah memilih perlengkapan bayi.

__ADS_1


__ADS_2