Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 37


__ADS_3

Ilham mengemasi barang-barang yang akan ia bawa saat ke kota Zen. Hari masih sangat pagi. Ia sudah bersiap untuk pergi. Farah yang baru saja bangun terkejut melihat suaminya sudah bersiap entah akan kemana.


“Mas pagi-pagi ini mau pergi kemana? Ini masih jam tiga pagi,” tanya Farah.


“Aku mau ke kedai baru. Aku harus membeli semua peralatan untuk bagian dapur dan mesin untuk membuat kopi,” jawab Ilham bohong. Ia tidak ingin Farah tahu kalau tujuan ia pergi sepagi ini untuk mencari Ann di kota Zen.


“Tak bisakah nanti, setelah subuh?” Farah yang berusaha mencegah suaminya.


Ilham menghampiri Farah yang masih berdiri di bingkai pintu kamarnya. Ia mengelus puncak kepala Farah yang tidak memakai hijab itu.


“Aku hanya pergi sebentar, tidak lama hanya beberapa hari saja. Kamu minta apa akan aku belikan.” Ilham menyentuh kepala Farah, ia yakin sentuhan ini akan membuat Farah menuruti semua yang dikatakan oleh Ilham. Dan ia melakukan ini agar Farah tidak curiga.


Farah bergidik merasakan tangan Ilham mengelus puncak kepalanya. Farah merasa bahwa Ilham telah menerimanya.


Farah tidak menjawab, ia menunduk untuk menyembunyikan pipi kemerahannya.


Ilham tersenyum, siasatnya berhasil. Ia sekarang bisa ke kota Zen tanpa membuat Farah curiga. Ilham hanya ingin mencari Ann untuk menanyakan alasan mengapa dia menghilang 6 tahun ini.


Ilham berangkat, ia sebenarnya sudah mengajak sahabat baiknya, namun dia tak bisa hadir karena ada urusan yang sangat penting untuknya.


***


Ponsel Ray berbunyi. Ia merasa terganggu oleh suara ponselnya yang berdering di waktu yang sangat pagi. Ia sangat malas untuk menjawab, hingga tiga kali panggilan baru ia mau menjawab panggilan itu.


“Hallo! Ray, aku akan ke kota Zen hari ini, apakah kamu bisa ikut denganku?” tanya seseorang di seberang sana.


“Ini masih gelap Ilham, tak bisakan nanti menelpon lagi?” jawab Ray.


“Ray, aku akan berangkat ke Kota Zen mencari Ann, aku harap kamu juga ikut membantuku!”


Demi mendengar kata Ann, Ray langsung bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


“Haruskah hari ini?” tanya Ray.


“Iya,”


Ray berfikir sebelum membantu Ilham untuk menemukan Ann. Ia masih tak sanggup untuk ini. Luka yang tergores lama masih terasa sakitnya walaupun wujud luka itu sudah berubah.


“Maaf Ilham, aku tidak bisa. Aku masih ada urusan yang sangat mendesak,” jawab Ray untuk menolak ajakan Ilham.


Ray mengakhiri panggilannya. Ia tak percaya bahwa Ilham masih menginginkan Ann setelah sekian lama.


Ia harus melupakan rasa yang telah tertananam ini. Rasa ini harus segera musnah tak bersisa. Dan harus digantikan dengan rasa yang baru.


Ray turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Hari masih pagi sekali. Sekarang Ray tidak bisa tidur, ia melangkah menuju sofa lantai satu.


Pak Sudiro pelayan setia Ray yang berumur setengah abad tak menyangka bahwa tuan mudanya sudah bangun lebih awal dari biasanya.


“Tuan Muda?” kata Pak Sudiro yang berjalan menuju tuannya lalu membungkukan badannya.


“Apakah Tuan Muda membutuhkan sesuatu? Biar saya antarkan ke kamar. Tuan bisa menunggu di sana,” ucap Pak Sudiro.


“Bagaimana caraku menemukanmu? Alamat rumahmu pun aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya tempat kerjamu, dan setiap hari kau menumpang di bus koridor 2A. Jalur yang sangat panjang,” guman Ray.


Pak Sudiro mendengar semua yang katakan oleh tuan mudanya. Ia merasa bahwa jiwa tuan mudanya telah hidup kembali. Bukan seperti yang lalu, Ray menjadi jiwa robot yang hanya tahu bekerja tanpa menikmati perasaan jatuh cinta. Walaupun Ray sering berkencan dengan banyak wanita, tetapi tidak pernah sorot matanya mengatakan jatuh cinta.


“Apakah Tuan sedang jatuh cinta?” tanya Pak Sudiro.


Ray bergeming tidak menjawab. Sebenarnya ia membenarkan semua ucapan dari pelayan setianya.


Ray mengembuskan nafas beratnya. “Apakah kau tahu cara menemukan alamat rumahnya?” pertanyaan yang Ray tunjukan pada Pak Sudiro.


“Mengapa Tuan tidak mengikuti jalur bus koridor 2A?” tanya Pak Sudiro.

__ADS_1


“Sudah. Aku sudah mengikuti semua jalur bus koridor 2A, tapi aku tidak menemukan rumahnya.” Ray mendengus kesal.


“Kalau begitu mengapa Tuan tidak mencobanya sekali lagi? Jalur bus koridor 2A memang panjang, tapi pernahkah Tuan terbesit menemukan rumah gadis itu dengan Tuan ikut ke dalam bus, tidak menggunakan mobil?” Pelayan yang bernama Sudiro telah memberika solusi yang mungkin bisa Ray pertimbangkan.


“Naik bus?” Ray bertanya sekali lagi memastikan.


“Benar Tuan. Semua koridor bus di kota ini bisa dipastikan kedatangannya. Setiap bus memiliki selisih waktu 15-20 menit dalam keberangkatannya. Jika Tuan beruntung, Tuan akan mengetahui dia naik di halte mana, dan dapat dipastikan tempat tinggalnya berada di kawasan itu. Dan jalur bus koridor 2A hanya beroperasi dari terminal hingga Rumah Sakit Medika Center, begitu pula sebaliknya,” jawab Pak Sudiro.


Ray mendengarkan jawaban dari Pak Sudiro.


Lokasi cafe tempat Farah bekerja adalah sebelum terminal, jika tempat awal perjalanan bus dari Rumah Sakit Medika Center. Farah pulang dari kedai juga naik bus koridor 2A arah menuju terminal. Itu berarti jika Farah berangkat bekerja akan menaiki bus koridor 2A yang datangnya dari arah terminal. Dapat dipastikan Farah tinggal diantara terminal hingga cafe tempatnya bekerja.


Ia bisa menggunakan cara ini, cara yang sangat menarik untuknya. Ray melirik arah jam, sudah hampir jam empat pagi.


“Benar sekali Pak Sudiro, aku bisa mencoba saranmu,” jawab Ray yang kini semangatnya telah mengalahkan rasa kantuknya.


Tidak percuma ia bangun lebih pagi dari biasanya. Ray bersiap membersihkan diri, ia akan berangkat menuju terminal.


***


Ilham sudah sampai di kedainya. Ia ingin mengambil sesuatu di dalam laci yang berada di ruanganya. Ia memilik dua kunci kedai. Yang satu untuk dirinya, dan lainnya untuk Akmal.


Kedai masih dalam keadaan tertutup dan gelap. Akmal mengetahui jika bosnya sudah datang lebih awal karena suara mobil Ilham yang sudah berada di depan kedai. Akmal memang sudah tinggal di kedai ini. Ia memilih untuk tinggal disini karena memang ia hidup sendiri dan ia juga masih bujang.


“Pak Ilham? Bapak ada apa pagi-pagi sudah di cafe?” tanya Akmal yang merasa aneh dengan bosnya.


“Aku hanya mengambil daftar barang yang harus dibeli untuk kedai yang baru,” jawab Ilham bohong.


Akmal mengangguk. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju toilet.


Ilham mengambil selembar foto Ann dan kerajinan keramik angsa yang berada di lacinya. Ia memasukkan kedua benda itu kedalam tas. Lalu Ia melanjutkan perjalanannya ke Kota Zen.

__ADS_1


Ia sudah bertekad akan mencari keberadaan Ann beberapa hari ini. Ilham melajukan mobil keluar dari batas kotanya.


Ia masih ingat dengan detil pertemuannya dengan Ann. Hingga pada suatu hari Ilham melihat bahwa rumah Ann sudah di kosongkan tanpa adanya pesan selamat tinggal untuknya. Bagi Ilham Ann masih berharga, dan ia harus menemukannya.


__ADS_2