
Kehadiran malaikat kecil Argian Candra Hengkara di tengah keluarga Ilham memang sangat menyenangkan terutama istrinya. Farah sangat sayang sekali dengan Baby Gian. Pernah di minggu waktu pagi Farah mengendong Argian untuk mendapat sinar matahari, ia ditemani oleh Ilham. Banyak tetangga yang mengira bahwa anak itu adalah anak dari Ilham dan juga Farah.
Usaha yang Farah geluti sekarang sudah mulai berkembang. Paper craft yang berbentuk bunga dengan ukuran yang beragam sukses menembus target pasar dalam dekorasi ruangan. Banyak yang memesan langsung kerajinan yang dibuat Farah untuk mendekorasi acara pernikahan, dekorasi untuk acara pesta ulang tahun dan masih banyak lagi.
Ilham senang bahwa istrinya bisa membuat bisnis seperti itu, bekerja walau hanya di rumah. Ia mulai membatasi Farah dalam hal keluar dari rumah. Ilham masih was-was jika Ray seperti maniak yang masih berhasrat mengejar istrinya.
Saat malam yang belum begitu larut, setelah Farah puas bermain dengan si kecil Argian, ia akan belajar demi mengejar impinya berkuliah. Suaminya sangat mendukung penuh atas keinginannya. Ilham akan beralih profesi sebagai guru les untuk istrinya.
Sama seperti malam ini. Setelah makan malam, Farah akan belajar di dalam kamar. Ilham akan mengawasinya, ia bahkan mengajari cara menjawab jika menemukan soal yang menurut Farah memusingkan kepala. Ilham tertawa melihat raut wajah Farah yang sedikit cemberut karena pening menjawab soal hitungan yang menurut Farah jelimet. Tak jarang Ilham akan mengadakan kuis untuk Farah dengan metode hukuman.
Benar saja, Ilham akan memberikan soal secara acak dan menjawabnya dengan waktu yang singkat. Jika Farah salah menjawab ia akan mendapat hukuman, yaitu wajanya akan cemong memutih karena polesan bedak yang sembarang Ilham berikan. Dari 20 pertanyaan Farah hanya benar menjawab benar 15 soal. Ilham sangat puas mengerjai istrinya hingga Farah merasa sangat sebal dan terkadang menangis.
“Udah ah! Wajahku sudah penuh dengan bedak, Mas.” Farah meraut wajah sebal. Ia merasa Ilham mengoleskan bedak putih ini banyak sekal sampai-sampai Farah tidak mau melihat cermin.
“Kamu sangat lucu, Sayang. Sudah jangan dihapus.” Ilham tertawa terbahak-bahak. Sesekali ia mengacak-acak rambut Farah, itu membuat Farah makin merasa sebal.
Farah bangkit dari tempatnya, ia segera mungkin menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang penuh dengan bedak berwarna putih. Setelah wajahnya bersih, Farah ingin segera tidur. Besok ia harus segera menyelesaikan pesanan-pesanan kerajinan kertasnya. Bulan ini ia cukup kewalahan untuk memenuhi pesanan para pelanggan.
Seperti malam-malam yang sudah-sudah, Farah dengan sikap duduknya akan memulai ritualnya dengan Ilham. Sebelum tidur, Ilham akan menyisiri rambut istrinya yang setiap hari semakin pajang. Ilham memang ingin istrinya memiliki rambut yang sangat panjang, ia tidak keberatan untuk membantu Farah menyisir rambutnya agat tidak kusut. Namun kali ini Ilham menemukan keanehan pada rambut milik Farah.
“Mengapa akhir-akhir ini rambutmu mudah rontok. Apakah kamu ganti sampo, Sayang?” Ilham heran, ia sudah beberapa kali mengambil rambut rontok yang tersisa di sisir. Ini lebih banyak dari biasanya.
“Tidak Mas.”
__ADS_1
“Sepertinya kamu sedang banyak pikiran.” Ilham menebak penyebab rontoknya rambut Farah.
“Pesanan semakin banyak, aku tidak punya teman untuk membantu menyelesaikan pesanan-pesanan itu. Mbak Rahma tidak boleh kelelahan karena ia masih menyusui Baby Gian. Biasanya bu Tin ada, tapi sudah hampir empat minggu ini beliau belum pulang.” Farah mengadukan keluh kepada Ilham.
Ilham tahu jika Bu Tin, asisten rumah tangganya itu sudah melebihi batas libur yang seharusnya sudah berakhir lima hari yang lalu. Ilham juga tahu bahwa tiga minggu Bu Tin libur itu karena perintah Bunda, agar ia dan Farah bisa satu rumah berdua tanpa ada yang mengganggu. Dulu Bu Tin juga sudah menghubungi Ilham, bahwa beliau akan kembali bekerja seperti biasanya. Namun Ilham malah memberikan jatah libur lagi. Alasannya klise, ia ingin lebih dekat dengan Farah.
Sepertinya aku harus mengembalikan asisten rumah tanggaku. Farah juga terlihat sangat kelelahan. Bahkan dia saja sudah tidak fokus terhadap belajarnya.
“Ya udah, sekarang tidur ya, mungkin besok bu Tin pulang.” Ilham menenangkan hati Farah.
Sekarang Ilham menuntun Farah agar segera tidur. Ia sudah menyelimuti tubuh Jelita-nya. Ilham. Ia mengelus lembut puncak kepala Farah memberikan ketenangan yang menuntun Farah perlahan masuk ke alam mimpinya.
***
Malam semakin larut, pikiran seakan liar berlarian di kepala. Pikiran akan hari ini, lalu digiring lagi pemikiran akan masa depan. Ada pemikiran yang tanpa aba-aba pun siap muncul. Pemikiran masa lampau.
Ia melihat ada dua anak manusia sedang duduk di bawah rindangnya pohon. Dua anak manusia itu berbeda satu sama lain. Perbedaan yang terlihat sangat mencolok. Salah satu anak manusia itu tersenyum dengan seragam putih abu-abunya dengan rok panjang hingga menutup mata kaki. Terlihat ada kain kerudung berwarna putih yang membungkus kepalanya. Anak manusia lainnya juga memakai seragam putih abu-abu dengan celana panjang. Angin usil memainkan anak rambutnya yang bercukur pendek.
“Bagaimana memiliki sebuah keluarga?” Anak manusia yang memakai rok itu berbicara memecah suara angin yang masih saja berembus menyejukkan setiap jengkal raga ini.
Anak manusia yang bercelana panjang, dengan raut wajah tegas memandang ke arah depan.
“Entahlah, pasti menyenangkan. Ada ayah yang akan selalu berjuang membahagiakan keluarganya. Ada ibu yang pandai memasak dan mengajari tentang semua kepada anak-anaknya.”
__ADS_1
Anak manusia yang memakai rok itu tertawa renyah. “Aku sudah lama rindu akan masa itu.”
“Suatu saat kamu akan mempunyai keluarga. Keluarga yang sangat indah,” balas anak bercelana panjang.
Anak manusia yang bercelana panjang itu memandangnya dengan seulas senyuman tipis. Ia mengerti bawah anak yang memakai rok itu rindu dengan hangatnya kebersamaan dalam keluarga. Nasib naas yang menimpanya begitu menyakitkan. Anak yang memakai rok itu tertimpa musibah kebakaran yang mematikan seluruh keluarganya.
Sejak saat itu anak manusia yang menggunakan rok tinggal di panti asuhan. Tumbuh bersama dengan dirinya yang juga seorang yatim piatu, namun berbeda cerita. Anak manusia bercelana panjang itu tinggal di panti asuhan karena sewaktu bayi, orang tuanya meninggalkannya di dalam kardus di depan gerbang panti asuhan. Bayi itu di temukan saat ibu panti membuka gerbang dalam kondisi kedinginan serta kelelahan karena ia menangis kehausan.
Itu yang ia dengar langsung dari ibu panti. Namun manusia bercelana panjang itu tidak marah seandainya bertemu dengan orang tua kandungnya sendiri. Selama ini ia hanya berpikir bahwa orang tuanya menitipkan anak manusia bercelana panjang itu ke panti karena mereka miskin. Hanya itu yang ia yakini sampai saat ini.
***
Pemilik masa lalu itu membuka matanya. Ia sudah bercucuran keringat karena mengenang lagi percakapan di bawah pohon rindang dekat panti asuhan. Percakapan sebelum ia meninggalkan anak manusia yang memakai rok panjang.
“Apa mungkin harus sekarang?” guman pemilik masa lalu itu.
________________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀