
EPISODE 152: Taktik yang Menagagumkan
Selamat Berimajinasi
_____________
“Menunduk Nona!” seru Jun.
Sebuah tembakan mengenai kaca mobil yang berada di samping Jun membuat kaca itu pecah. Beruntung peluru itu tidak menebus tubuh Jun. Sebuah mobil melaju sangat kencang dan berhenti tepat beberapa meter di depan mobil yang ditumpangi Kinanti.
Apa yang sebenarnya terjadi?
“Nona, sepertinya ada penyamun yang mengganggu perjalanan Kita, Nona.” Jun melepaskan sabuk pengamannya. Ia telah membawa sebuah pistol yang terselip di pinggangnya.
“Pak Jun mau ke mana?” Kinanti mencegah pria berusia empat puluh tahun itu.
“Nona Kinanti tunggu di sini saja. Saya akan menyelesaikan para begundal itu.”
Jun keluar dari mobil. Ia berjalan menuju dua orang yang berdiri di mobilnya. Dua orang itu memakai topeng sehingga wajahnya tak bisa terdeteksi. Kinanti melepaskan sabuk pengamannya. Ia membawa pistol bius yang ia curi dari lemari Naresh. Ia akan membantu Jun untuk melumpuhkan dua orang itu.
“Maaf Tuan-tuan, apakah kami bisa lewat? Perjalanan kami sangat terhambat oleh kalian,” ucap Jun santai.
Tanpa kata permisi, dua orang itu langsung menyerang Jun. Mereka adu pukul hingga salah satunya terhempas ke tanah. Orang yang terjatuh itu bangkit dan ingin menyerang jun dari belakang. Jun masih dalam pertarungan melawan satu orang yang sepertinya kekuatan mereka setara.
Kinanti yang melihat hal itu langsung keluar dari mobil dan melayangkan pukulan agar orang yang terhempas itu jatuh tidak menyerang Jun.
“Sepertinya aku berhutang pada Anda, Nona.” Jun tersenyum. Ia sudah melumpuhkan satu orang lagi.
Serangan mendadak terjadi, orang yang telah dilumpuhkan oleh Kinanti bangkit kembali dan ingin menikam gadis itu dengan sebuah belati.
“Nona!” Jun langsung bergerak cepat menjadi tameng untuk Kinanti. Sebuah pisau berhasil menembus perut Jun dan cairan merah keluar dari bekas tusukan itu.
“Pak Jun!” Kinanti berteriak. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil pistol milik Jun dan menembaki dua orang yang sekarang berlari terbirit-birit menuju mobilnya. Tak tanggung-tanggung, Kinanti melepaskan lima tembakan. Dua orang itu berhasil melarikan dengan membawa mobil.
“Pak Jun!” Kinanti menangis. Ia menyadari kesalahannya, seharusnya ia tidak seegois ini.
“Nona ....” Jun berbicara lirih. “Tak perlu menangis. Saya hanya ingin melindungi Nona.”
__ADS_1
Kinanti makin menangis, ia membantu Jun untuk berdiri. Ia harus membawa pria ini ke rumah sakit terdekat, jika tidak nyawanya akan terancam. Kinanti membantu Jun untuk duduk di kursi belakang. Ia yang akan mengambil kemudi.
“Nona ....”
“Pak Jun tak usah banyak bergerak, saya akan mengemudikan mobil ini menuju rumah sakit.”
“Tidak perlu, Nona. Bawa saya ke kediaman Keluarga Fernando. Saya tidak ingin ke rumah sakit.”
“Tidak! Anda butuh pertolongan! Jika tidak ....”
“Nona, saya maid di keluarga itu. Saya terikat pada peraturan agar maid hanya mendapat pelayanan di tempat ia mengabdi. Saya tidak ingin kemunculan saya di rumah sakit bisa menyeret nama besar keluarga itu.” Jun memotong ucapan Kinanti. Ia bersikeras minta ke rumah besar itu.
“Mengapa? Nyawa Pak Jun terancam karena saya! Saya yang akan bertanggung jawab atas semua ini.” Kinanti tak mau kalah. Ia mulai menyalakan mesin mobil dan memutar kendaraan ini untuk kembali ke Kota Zen.
“Nona, saya mohon. Saya tidak ingin membuat nama keluarga itu ternodai. Dokter keluarga Fernando tidak kalah profesional, saya yakin akan tertolong dengan hal itu.”
Kinanti menghiraukan permintaan Jun. Ia tetap kukuh untuk ingin membawa pria yang menyelamatkan hidupnya ke rumah sakit terdekat.
Jun tahu gadis yang sedang mengemudikan mobilnya ini sangat keras kepala. Ia harus mencari cara agar Kinanti tidak membawanya ke rumah sakit, semua akan jadi kacau.
“Nona Kinanti ... saya tidak pernah meminta selama ini. Untuk saat ini saya hanya ingin dirawat di rumah saja. Anggap ini sebagai permintaan agar Nona tidak merasa berhutang budi,” ucap Jun.
Mengapa dalam keadaan seperti ini, janji Kak Naresh seolah menguap di kepalaku! Mengapa dirimu tak muncul saat aku mendapat musibah? Bagaimana dengan janji yang ia ikrarkan?
Kinanti telah sampai di pelataran rumah yang ia tinggalan beberapa jam yang lalu. Dua penjaga membukakan pintu gerbang saat mobil ini berada di kejahuan. Tepat saat mobil itu berhenti, ia langsung berteriak untuk meminta tolong kepada para penjaga. Beberapa maid yang mendengar suara teriakan itu, langsung membantu untuk mengeluarkan Jun dari dalam mobil. Wajah Kinanti menjadi kebas melihat pemandangan itu. Jun terluka sangat parah hingga banyak darah yang tercecer di bajunya, dan tak sadarkan diri.
Naresh yang mendengar kabar ini langsung berlari menuju pelataran. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Jun bersimbah darah dan keadaanya mungkin tidak baik. Kinanti tak luput dari pandangannya. Ia melihat gadis itu dengan raut wajah terpuruk, terkejut, dan hendak menangis.
“Bawa Nona Kinanti ke rumahku.” Naresh memerintah salah satu maid perempuan untuk mengantarkan Kinanti kembali ke rumah. Karena ia tahu, gadis ini butuh istirahat.
“Baik, Tuan.”
Naresh berjalan untuk melihat keadaan Jun. Ia tak ingin maid senior di rumah ini terluka karena menjalankan taktiknya.
Kinanti yang berjalan lunglai melintasi taman menuju rumah Naresh terlihat dari jendela kamar Anneline. Pemandanga yang tersaji saat ini sungguh membuatnya tak percaya.
“Bagaimana bisa Kinanti kembali ke rumah ini lagi?” Anneline memasang matanya dan mengingat-ingat busana yang dikenakan Kinanti. Tidak berubah.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Anneline beranjak dari kamarnya dan melihat Naresh yang sedang berjalan menuju ruang perawatan.
Untuk merahasiakan apapun tentang keluarga ini, banyak para maid yang mendapat fasilitas tersendiri bilamana sakit. Termasuk ruang perawatan ini beserta dokter yang siap mengobati.
Anneline berjalan dengan perlahan dan sedikit mengendap-endap untuk menjaga jaraknya dengan Naresh. Kakak iparnya itu masuk ke dalam ruang perawatan, beruntung pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Ada sedkit celah yang bisa ia gunakan untuk mengintip kehebohan yang baru saja terjadi.
“Apakah kau benar-benr terkena tembakan, Jun?” Naresh melihat banyak sekali darah yang masih memancar dari bekas tusukan itu.
“Tuan, apakah Anda khawatir dengan cairan ini? Tuan Yori, izinkan saya memamerkan seni yang saya terapkan.” Jun duduk seakan dia seperti orang yang sedang baik. Ia membuka jas yang ia kenakan. Ada rompi yang membalut tubuhnya. Permukaan rompi itu terdapat plastik khusus yang berisi cairan merah yang sedikit kental. “Darah ini adalah darah tiruan yang saya gunakan untuk menjalankan taktik Tuan.”
Naresh tercengang, ia tak menyangka jika Jun memoles taktik ini begitu apik.
“Saya menggunakan seni ini semasa sekolah saat teater. Dan kini saya menggunakannya lagi.”
“Kau memang sangat cerdas, Jun. Lalu ... bagaimana dengan dua orang yang menjadi penajahat itu?” Naresh tak habis pikir, karena dalam taktiknya ia tak meminta Jun untuk melakukan seperti ini. Naresh hanya meminta memberikan ketakutan kepada Kinanti agar kembali ke rumahnya dengan cara dua orang itu menyamar menjadi penjahat.
“Mungkin mereka yang tampak ketakutan. Karena saat mereka meloloskan diri, Nona mengambil pistolku dan menembak ke arah mereka sebanyak lima kali. Tapi sepertinya mereka selamat, ternyata cara memembak Nona Kinanti sangat buruk, sepertinya Dia lebih suka memakai tangan kosong untuk bertarung.”
Naresh tersenyum, ternyata perempuan pilihannya sudah sangat berani untuk bertarung. “Ternyata nyalinya sudah mulai menguat. Selamat beristirahat Jun, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu karena telah membawa kembali Kinan-ku.”
Jun membungkukkan badannya tanda menerima ucapan terima kasih itu.
Anneline menjadi sangat kesal dengan taktik yang digunakan oleh Kakak Iparnya. Darahnya mendidih karena Naresh tak jadi berpisah dengan Kinanti. Itu berarti rencananya telah gagal seluruhnya.
Mengapa? Mengapa hal semacam ini bisa terjadi?
Anneline langsung bersembunyi ketika menyadari bahwa Naresh akan keluar dari ruangan itu. Setelah menunggu beberapa saat, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Anneline masih tidak percaya dengan hal ini, ia telah kalah telak! Itu berarti, akhir pekan ini Naresh akan ikut ke Kota Milepolis.
“Tidak! Hal itu tidak boleh terjadi! Aku harus mencari cara agar Kak Naresh dan Kinanti tidak bisa bersama. Aku harus datang ke Kota Milepolis tanpa kehadiran Kak Naresh. Jika tidak, rencanaku untuk merebut Ilham akan sia-sia!”
________________________________
Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....
Terima kasih telah membaca kisah ini.
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa.