Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 65


__ADS_3

Mentari pagi menelisik kelambu kamar Ilham. Sinarnya hangatnya membuat silau Farah. Ia terbangun, Farah merasa sedikit asing dengan langit-langit kamar ini. Farah masih mencoba memahami keadaan sekitar.


Ini kamar Mas Ilham?


Farah masih memegang kepalanya yang berdenyut. Tubuhnya terasa remuk. Farah mengingat kejadian malam tadi. Ia baru sadar bahwa Ilham yang telah membawanya pulang. Farah merasa ada yang aneh dibagian kulit sekitar kakinya. Ia bisa merasakan lembut dan halusnya selimut yang ia kenakan ini. Perlahan ia membuka selimut yang membalutnya.


“Aaakkkh!” Farah menjerit melihat bahwa ia hanya memakai pakaian atas saja, sehingga kakinya terlihat.


Siapa yang mengganti bajuku?


Mata Farah membuat, ia sedikit terperanjat melihat kemeja yang ia kenakan. Farah melihat bahwa baju seragam karyawati yang ia gunakan, telah masuk ke dalam keranjang baju kotor yang berada di sudut kamar.


Jangan-jangan Mas Ilham yang telah mengganti bajuku?


Farah masih bergulat dengan pikirannya hingga tak menyadari bahwa Ilham sudah berada di ambang pintu.


“Ada apa? Mengapa kamu berteriak?” tanya Ilham yang terkejut mendengar suara teriakan istrinya dari dapur.


Farah memandang Ilham yang memakai celemek, ia langsung membalutkan lagi selimutnya hingga menutupi satu badan penuh.


Eh?! Mengapa Farah berbuat seperti itu. Apakah dia masih malu karena semalam aku mengganti pakaiannya?


Ilham memandang Farah tidak mengerti. Mengapa Farah seakan-akan menutupi tubuhnya. Bukankah Ilham sudah melihatnya kemarin malam, dalam remang-remang gelap.


Farah menggeleng, ia menunduk karena malu. Ia masih tabu soal hubungan intim. Farah mengeratkan selimutnya.


Ilham mendekati Farah. ia ingin memeriksa bagaimana kondisi istrinya. Jantung Farah berdegup melihat Ilham melangkahkan kaki ke arahnya. Irama jatung Farah makin tak karuan, ada rasa ketakutan sekaligus salah tingkah.


Ilham sudah berdiri di dekat Farah, memandanginya dengan jarak yang sangat dekat. Mata Farah membuat melihat wajah Ilham sedekat ini. Tiba-tiba tangan Ilham menyentuh kening Farah. ia membolak-balikan tangannya.

__ADS_1


“Tidak panas, tidak deman.” Ilham mengecek suhu tubuh Farah dengan tangannya.


Tindakan Ilham membuat desiran darahnya mengalir memenuhi rongga dadanya. Jantungnya berdetak tidak seperti biasanya. Wajah Farah memerah. Baru kali ini ia merasakan perasaan ini.


“Mas ke mana saja selama ini,” tanya Farah. Ia begitu penasaran dengan keberadaan Ilham selama ini.


“Aku ....”


“Kamu tidak berada di Numa. Lantas selama ini Mas di mana?” Farah meminta penjelasan pada Ilham.


Ilham seketika membeku mendengar pertanyaan dari Farah. Ia bingung harus menjawabnya. Ilham merasa Farah seharusnya tidak perlu tahu apa yang sedang ia kerjakan. Ia menarik napas panjang, memasak raut wajah tersenyum.


“Jawab pertanyaanku Mas!” Farah menegaskan pertanyaannya kembali. Ia harus tahu ke mana perginya Ilham selama ini. Tanpa ada kabar apapun.


Ilham tidak menjawab, ia memandang lama wajah istrinya. Tanpa pikir panjang, Ilham mendekap Farah. membuat gadis itu terperanjat untuk kedua kalinya.


Farah merasa dekapan Ilham terasa hangat dan membuat ia nyaman. Jantung Farah mendesir lagi. Farah baru kali ini di perlakukan senyaman ini.


“Aku tahu, kamu pasti sudah sangat rindu denganku. Benar bukan?” Ilham mengelus puncak kepala Farah, ia merasakan jalur rambut Farah yang panjang terurai.


Farah tidak menjawab. Ia telah larut dalam kehangatan dekapan suaminya. Farah mendengar detak jantung suainya, begitu tenang dan menghanyutkan.


Ilham perlahan melepaskan pelukkannya. Ia memegang kepala Farah, memberi pengertian.


“Maaf, aku terlalu sibuk hingga tidak meluangkan waktu untuk sekedar memberi kabar. Selama ini aku berada di Kota Zen untuk mengembangkan bisnisku.”


Lidah Farah menjadi kelu. Ia tidak bertanya lagi tentang ke mana perginya Ilham. Jawaban suaminya sudah lebih dari cukup untuk memandamkan api penasarannya.


Ilham tersenyum begitu tampan. Dalam hati kecilnya, ia berhasil membuat Farah untuk tidak bertanya tentang tujuannya ke Kota Zen. Mungkin untuk saat ini.

__ADS_1


“Apakah kau lapar sayang?” tanya Ilham dengan nada suara begitu lembut mengalun dalam udara.


Apa?! Apa aku tidak salah dengar? Mas Ilham memanggilku dengan sebutan sayang?


Farah hanya terdiam membisu. Ia hanya memandang Ilham dengan wajah kemerah-merahan. Ia merasa bahagia karena Ilham ternyata bisa menyanyanginya seperti sang kekasih.


“Pasti kau lapar, tunggu sebentar akan aku bawakan sarapan.”


Ilham berlalu pergi setelah mengatakan hal itu. Farah memandangi punggung suaminya yang menghilang menuju dapur. Hari ini Farah merasakan perasaan yang campur aduk. Ia merasa ini adalah hadiah atas kesabaran yang ia tunggu selama ini.


Ilham datang dengan membawa nampan yang berisi sup ayam yang masih mengepul asapnya dan segelas air. Ilham begitu cekatan menyiapkan sarapan di atas kasur. Ia meletakkan meja kecil di atas kasur, dan menata sarapan untuk Farah.


Farah tertegun dengan perhatian yang suaminya berikan, bahkan Ilham juga menyuapkan kuah lezat sup itu kepada Farah. Begitu manis tindakan Ilham, seperti suami idaman.


“Aku ingin bertanya padamu. Bagaimana bisa kamu berlari di tengah hujan malam itu?” tanya Ilham.


Farah menghentikan kegiatannya, menyeruput hangatnya sup. Ia sangat bingung bagaimana menjelaskan perihal kejadian yang ia alami tadi malam.


“Kamu sudah kenal dengan Ray?” tanya Ilham lagi.


Farah terdiam. Ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ilham.


“Sejak kapan kamu mengenal Ray?”


Farah terdiam lagi, ia takut menjawab pertanyaan dari suaminya. Terlebih lagi Farah takut jika suaminya murka.


“Aku tidak akan marah, jawab saja.” Ilham kembali menegaskan pertanyaannya.


“Sejak dia memesan kentang goreng dan dua gelas jus mangga. Dan aku yang mengantar pesanannya.” Farah masih mengingat betul bagaimana Ray memintanya untuk duduk bersama, berbagi cerita. Namun ia menolaknya.

__ADS_1


Ada perasaan sangat aneh yang Ilham rasakan. Ia sangat tidak suka saat Ray mendekati istrinya, terlebih menyentuh tubuh istrinya. Ilham harus menyelesaikan masalah ini. Ia tahu bagaimana tabiat Ray ketika dia menginginkan sesuatu. Ray akan terus mengejarnya hingga mendapatkan apa yang ingin ia miliki. Ilham sadar di masa lalunya, ia pernah membuat Ray kehilangan apa yang ia ingin miliki. Waktu itu Ray tidak bisa berbuat apa-apa, karena mutlak ia kalah dengan Ilham soal perasaannya. Gadis yang bernama Anneline, lebih memilih Ilham dibanding Ray.


Bisa saja Ray membalas dendam. Ia sekarang sudah memiliki segalanya, bahkan ia juga memiliki perusahaan besar seantero Kota Milepolis dan kota sekitarnya. Ilham perlu menyelesaikan masalah ini.


__ADS_2