
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Naresh melihat bahwa Kinanti masih meringis kesakitan. Walaupun dia sudah menguasai teknik bela diri, tetap saja ia akan merasakan kesakitan. “Mengapa kamu harus bersusah membawa minuman ke kamarku?”
Gadis itu tidak menjawab.
Naresh membiarkan Kinanti untuk tetap di kamar mandi. Ia harus segera berpakaian dengan baik memakai kaos putih dan celana. Sejujurnya ia menghindari berlama-lama di kamar mandi dengan tubuh yang serba tegang. Bagaimana tidak, Kinanti benar-benar membangunkan rasa yang harusnya belum tiba.
Naresh menghembuskan napasnya. “Jangan sekarang. Dia tidak boleh dirusak sebelum waktunya.”
Ia kembali ke kamar mandi untuk menggendong Kinanti kembali dan meletakannya ke ranjang. Naresh mengambil sapu tangan dan membasahinya dengan air untuk menutupi kaki Kinanti yang memerah itu.
“Apakah masih sakit?”
Kinanti menggeleng. Ia melihat raut wajah Naresh yang sedikit tenang, tidak seperti tadi yang tegang, khawatir setengah mati.
Kini pria itu tengah pergi dari kamar ini dan kembali beberapa saat kemudian untuk membersihkan pecahaan cangkir dan beberapa gula dadu yang berserakan. Akan jadi masalah jika tidak segera dibersihkan.
Kinanti merasa tak enak hati. Harusnya ia mengetuk pintu dulu sebelum memasuki kamar ini. Ia yang harusnya membuat Naresh beristirahat justru membebaninya lagi. Ia merasa bersalah memotong waktu senggang menuju tidurnya.
“Maaf, aku membuat beban lagi kepada Kak Naresh,” ucap Kinanti lirih. Ia menunduk makin dalam.
“Tidak apa-apa.” Naresh tersenyum, ia harus segera menyelesaikan pecahan-pecahan keramik cangkir dan gula dadu. “Sebentar ya, sabar.”
__ADS_1
Lantai sudah bersih, setidaknya tidak sekotor tadi. Naresh mengelus puncak kepala Kinanti dan merapikan rambut yang menyibak di wajahnya.
“Tersenyum!” Naresh mempraktikan cara tersenyum dengan dua jari telunjuk kanan dan kiri. “Aku tak suka jika perempuan mesumku memajang muka datar.”
Kinanti mencerna kembali ucapan pria yang berada di hadapannya. Ia mengangkat satu alisnya.
Apa yang Kakak maksud dengan perempuan mesum?
“Aku tahu ... pasti kamu sedang terpesona dengan tubuhku ‘kan? Makanya kamu ingin mengintipku! Bahkan kau tidak mengetuk pintu saat masuk ke kamar pria.” Naresh menggoda gemas.
“Tidak!” Kinanti berseru. Ia tak habis pikir, mengapa pria dihadapannya begitu menyebalkan saat ini!
“Tidak apa-apa, sih, kamu mengintipku. Toh nanti akan ada waktunya kau melihat semua ini.” Naresh tersenyum sangat tidak jelas.
“Dasar pria mesum!”
“Bukankah kita sama? Bisa dibilang kita pasang mesum?” Naresh tertawa, ia segera menggendong lagi Kinanti. “Saatnya kau tidur di kamarmu, Tuan Putri. Jika kau masih di sini akan sangat berbahaya jika ada harimau sepertiku yang menerkammu.”
“Kakak! Turunkan aku! Aku masih bisa berjalan sendiri.” Kinanti memaksa untuk turun. Ia sangat tidak nyaman dengan kedekatan yang seperti itu. Tapi dengan cara itu, ia bisa mendengar detakan jantung Naresh yang sangat terburu-buru meskipun wajahnya menampilkan ketenangan.
Kak Naresh sedang gugup sepertinya. Apakah ia hanya merasakan ini denganku saja?
“Jelaskan mengapa bajumu ada di koper itu?”
Kinanti tersenyum, ia belum menceritakan rencananya “Itu koper dari Nyonya Fernando. Beliau sudah mendapat izin dari tuan untuk berlibur bersamaku di Kota Milepolis. Dan besok, sepertinya kami akan berangkat.”
“Besok! Mengapa harus besok?” Naresh menjadi tidak sabaran. Ia perlu tahu mengapa setelah kepergian adiknya, Kinanti dan adik iparnya ingin bergegas pergi dari rumah ini.
Ada apa di Kota Milepolis?
“Mengapa dia harus ikut? Bukankah aku memberimu izin untuk pulang ke rumah ayahmu.” Nada bicara Naresh berubah. Ia sedikit merendam kegeraman.
“Nyonya ingin melihat event kuliner dan usaha kecil di kota Milepolis, Kak. Jadi ... besok aku juga akan pulang. Mungkin beberapa hari saja, aku janji akan kembali.” Kinanti membuat jaminan agar pria itu mau meloloskannya. Ia tahu izin seperti ini bisa menjadi masalah besar jika Naresh berubah pikiran.
“Aku tidak percaya! Aku tidak mengizinkan kamu untuk pergi ke Milepolis besok. Mungkin beberapa hari lagi, baru aku putuskan untuk mengizinkanmu lagi.”
Naresh berjalan keluar dari ruangan ini. Sebelum ia menutup pintu, ia memandang Kinanti dengan tatapan yang menujuk galak. “Aku harap kau tetap tinggal di rumah ini. Akan aku putuskan bagaimana baiknya. Satu hal lagi, jangan coba-coba memberontak atau menguji kesabaranku. Selamat malam.”
__ADS_1
Pintu tertutup.
Kinanti tahu, tingkat kemarahan pria itu tidak main-main. Ia tidak mau lagi jika hal buruk seperti dulu terulangi. Kadang ia heran dengan isi hatinya. Jika pria itu mencintai dengan tulus, mengapa mengekang seperti ini.
Kinanti merasa dirinya cukup menguasa teknik bela diri. Lagipula Nyonya Fernando sudah jauh lebih baik setelah peristiwa yang mengenaskan itu yang membuat dirinya tidak sadarkan diri selama dua hari.
Apakah dia memang mencemaskan hal lain? Atau memang dia tidak memperbolehkanku untuk keluar dari rumah ini?
Entahlah ....
Kinanti merebahkan tubuhnya memeluk selimut putih yang tebal. Pikirannya masih liar berkelana mengurai benang-benang yang terkait satu sama lain. Ia masih tidak bisa memahami pria yang sangat bisa berubah-ubah kepribadiannya. Seperti tadi, Naresh sangat khawatir hingga mau mengendong dirinya sampai di kamar ini. Seketika, hati malaikatnya lenyap terganti dengan tatapan marah yang sangat menyala.
“Maaf Ayah, Reno. Aku belum bisa pulang denga segera, padahal aku sudah sangat rindu.”
Air mata hangat menetes di melewati pipi dan jatuh ke bantal. Ia sedang menangis.
Aku hanya ingin pulang, tapi mengapa Kak Naresh selalu tidak mengizinkan. Ada apa?
Kinanti menangis sampai hatinya lelah dan jatuh tertidur.
***
Naresh merebahkan tubunya. Sepasang bola matanya menerawang jauh. Ia hampir saja marah karena hal kecil. Ia sangat tahu diri bahwa Kinanti belum terikat apapun dengannya. Sangat disayangkan memang. Naresh tahu, gadis itu masih milik keluarganya. Ia sudah memprediksi kegundahan ini akan terjadi. Meskipun setiap bulan ia mengirim sejumlah uang, belum juga cukup. Kinanti masih membutuhkan sosok mereka.
“Maaf Kinan, aku punya alasan tersendiri untuk melarangmu keluar dari rumah ini terutama bersama Anneline. Aku harap kamu bisa mengerti. Andai kaamu tahu, ada gejolak di hatiku yang sangat tidak ingin kau pergi.”
Naresh memang mengizinkan gadis itu untuk pergi ke Kota Milepolis, tapi ia sangat tidak menyangka jika adik iparnya ingin ikut. Ia merasa ada yang aneh.
Apa yang sedang ia rencanakan?
_________________
Hay, hay! Maaf ya baru ketemu lagi. Beberapa hari ini, author emang ada keperluan yang mengharuskan cerita ini updatenya lama bangeeetttt.🙏🙏🤗🤗
Etsss! Jangan bilang author males ya, wkwkkwkw. 🙄
Terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan kisah ini. Kapan-kapan, aku akan lebih rajin lagi buat up, hehehehe.😂😂
__ADS_1
Sekian,
Terima uang.