Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 159


__ADS_3

Episode 159: Bertaut


Selamat Berimajinasi


____________


Naresh telah bersiap dengan paginya. Ia tak mau terlalu larut mengurusi Kinanti yang masih tak percaya kepadanya. Ia merapikan diri di depan cermin. Hari ini, Naresh akan melantik CEO untuk mengelola perusahaannya. Ia cukup kewalahan jika berjalan sendiri tanpa saudarannya Fernando.


Setelah selesai bercermin, ia keluar dari kamar dan berangkat menuju perusahaannya. Ia yakin pasti Kinanti tidak akan keluar dari kamarnya. Hal itu membuatnya tak mampir ke ruang makan.


Kinanti telah menyiapkan sarapan. Ia melihat Naresh yang sudah rapi hendak keluar dari rumah. Ia pun berlari mencegahnya keluar. “Kak! Berhenti.” Kinanti menghalangi langkah Naresh.


Naresh hanya menatap datar. Ia masih kesal dengan gadis yang ada di hadapannya. Sebenarnya apa yang diinginkan gadis ini?


“Kakak tidak sarapan? Aku sudah membuatkanmu sup miso.” Kinanti terlihat memohon. Ia memang sudah berusaha untuk memasak sup miso, salah satu makanan kesukaan Naresh. Ia bahkan harus bangun pagi dan mencari koki untuk membantunya.


Apa? Dia masak sup miso, sepagi ini? Hampir saja aku melewatkan hal ini. Ternyata godaan untuk bersikap dingin kepadanya sudah mulai goyah, pikir Naresh. Ia memang berencana untuk tidak menyapa Kinanti atau lebih tepatnya mendiamkannya. Ia ingin membuat Kinanti merasa sungkan terhadapnya. Tapi sup miso, ia memang tak bisa menahan masakan itu.


“Iya,” kata Naresh datar. Ia harus menjaga sikap dinginnya, tak banyak bicara apalagi tersenyum. Ia mengekor Kinanti menuju ruang makan.


Setelah duduk, Kinanti menyodorkan semangkuk sup miso yang asapnya masih mengepul di udara. Tercium bau lezat yang membuat air liur menetes dan perut meronta ingin meminta makanan.

__ADS_1


“Silakan dimakan, Kak.” Kinanti tersenyum. Ia tahu jika Naresh tak mungkin tahan dengan masakan ini. Sup dengan isian sayur dan tahu yang diberi bumbu miso sebagai perasa.


Naresh mengangkat mangkuk untuk menyeruput kuahnya. Sedangkan untuk memakan isiannya ia menggunakan sumpit. Sesekali matanya melirik Kinanti yang memperhatikan gerak geriknya.


Oh, Tuhan bisakah kemarahan seperti kemarin itu tidak ada? Niscaya aku ingin menciumnya pagi ini.


“Kak, aku ingin meminta maaf jika selama ini aku egois dan suka menang sendiri,” ucap Kinanti di sela-sela Naresh menghabisakan sup miso-nya.


“Oh!” Naresh hanya ber-oh saja. Walaupun dalam hatinya sedang salto karena kegirangan ini. Namun ia harus menjaga sikapnya yang seolah dingin dan pelit senyuman.


“Aku juga telah memikirkan dengan baik. Aku menerima Sirena sebagai teman dan aku ingin agar dia tinggal di sini.” Kinanti hanya ingin keadaan membaik. Ia mengikuti saran dari Farah.


“Terima kasih untuk makanannya hari ini.” lagi-lagi dalam ekspresi yang kaku, dingin dan menahan senyum. Sebenarnya Naresh tidak suka berlagak seolah tak peduli, nyatanya ini sedikit menyiksa. Naresh bangkit dari duduknya. Ia harus segera berangkat dan lagi-lagi tak ada sikap manis dan manja yang biasa ia tunjukkan kepada Kinanti.


Ternyata Kak Naresh masih marah. Kinanti mengembuskan napas beratnya. Ia yakin untuk memperbaiki hubungan yang sedikit meretak akan sulit. Terlebih ada hal penting yang ingin Kinanti sampaikan.


“Kak Naresh! Tunggu!” pekik Kinanti.


Naresh yang hampir menyentuh gagang pintu akhirnya berbalik. Ia melihat Kinanti yang mendekat dengan celemek yang masih dipakainya. Ia hanya menatap gadis itu. “Apa?”


“Aku ....” Kinanti bingung untuk memulainya. Ia mendekati berjinjit karena postur tubuh Naresh yang tinggi.

__ADS_1


“Kau mau apa!” Naresh sedikit mendorong gadis itu.


Dengan cepat Kinanti menarik dasi yang dikenakan Naresh dan membuatnya sedikit membungkuk. Ia melekatkan bibirnya ke bibir Naresh dengan sangat lembut membuat pria itu tersentak. Hanya berselang lima detik, Kinanti melepaskan bibirnya. Ia tahu ini adalah kegiatan yang gila.


“Aku harap akhir pekan nanti Kakak bertemu dengan Ayah dan Reno. Aku ingin Kakak mengenal keluargaku,” ucap Kinanti. Ia bersemu malu, pipinya merona merah. Lalu ia berlari menuju kamarnya untuk menyembunyikan gilaan ini.


Naresh masih terpaku di tempat. Ia seakan melupakan waktu. “Dia menciumku?” Naresh menyentuh bibirnya. Masih terasa jejak basah yang Kinanti tinggalkan. Walaupun tidak memburu, tapi rasanya sangat berbeda. Naresh tersenyum.


“Hadiah pagiku indah sekali! Tunggu sebentar ... dia tadi memintaku untuk bertemu ayahnya? Ternyata dia memang penuh dengan kejutan!”


________________________________


Jika kalian berkenan, mampir ke ceritaku yang berjudul THE LAST ROMEO. Novel itu menceritakan perjalanan Devan yang ingin melindungi sang istri yang bernama Ruellia dengan perantara Faresta, pemuda miskin yang tak pernah merasakan gaya hidup mewah. Novel ini tak hanya menceritakan kisah romansa tapi juga misteri di balik kematian Devan.


Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa.

__ADS_1


__ADS_2