
Episode 202: Patung Keramik yang Pecah
“Kamu sekarang ada di mana?”
“Eh! Kau tau jika aku sedang menuju ke Kota Milepolis? Padahal aku sudah merahasiakan hal ini padamu. Ternyata kau benar-benar rindu padaku, Kinan.”
Seketika Kinanti menyadari jika panggilan telepon ini bukan dari Anneline. Melainkan suara pria yang ia kenali, Naresh.
“Kak Naresh! Kakak ke Milepolis?”
“Iya, aku rindu padamu. Malam ini kau cukup duduk manis. Aku akan datang menemuimu dan ayahmu. Agar hubungan kita semakin serius.”
Kinanti menepuk jidatnya. Ia lupa jika Naresh tidak tahu soal Anneline yang menghilang entah kemana. “Kak, seperti ini ini bukan saat yang bagus untuk hal itu. Nyonya Anneline tidak ada di penginapan. Dia sudah pergi sejak tadi sore!”
“Anneline tidak ada di penginapan? Biarlah, dia bukan anak kecil lagi. Lagipula dia juga tidak akan jauh-jauh dari tempat penginapannya. ”
Kinanti merasa gemas dengan nada bicara Naresh yang tidak khawatir sama sekali! Apakah dia sedang amnesia jika yang berkeliaran itu bukan perempuan biasa, tapi istri pemilik perusahaan dan tak lain adik iparnya sendiri.
“Tapi aku khawatir, Kak!”
__ADS_1
“Sudahlah, dia tidak akan menyakiti siapapun. Lagipula, kota ini bukan seperti Kota Zen yang terlalu bebas memakai senjata. Anneline tidak bisa berkutik tanpa senjatanya, jadi tak perlu khawatir, Kinan.”
Kinanti mengembuskan napas kasarnya. Ia berpikir jika Naresh terlalu santai dalam hal ini. Berbeda dengan kecemasannya. Ia takut jika Anneline bisa saja melukai orang lain.
“Tapi ....”
“Sudahlah Kinan, jangan risaukan Anne. Setahuku dia tak memiliki musuh, jadi dia pergi untuk menjelajah, kurasa begitu. Sekarang kau bersiap menyambut calon suamimu, oke!”
Kinanti tak dapat mempercayai ini. Ia memutuskan panggilan telepon itu. Kinanti merasa tidak bisa tinggal diam, ada beberapa kecemasan di hatinya. Sejenak ia memejamkan mata, mencari ingatan yang mungkin bisa menunjukkan jalan. Ia mengingat nama orang terkenal seperti Naresh. Bedanya orang itu ada di kota ini dan lumayan mengenal Anneline.
“Apakah aku harus ke rumah Tuan Ray? Mereka saling mengenal, kan? Tak ada salahnya untuk memastikan.”
****
Sedari siang sampai malam, Ilham sangat sibuk. Ia sedang membaca pertumbuhan kedai keduanya yang berada di Kota Numa. “Sepertinya aku harus lembur malam ini.” Ia mendesah pelan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Tanpa Ilham sadari, tangan kanannya mengambil patung keramik angsa yang menjadi simbol kisah cintanya dulu dengan Anneline. “Aku harus mengubur semua ini.” Suka atau tidak suka, Ilham harus menerima kenyataan yang menunggu di depan matanya. Pagi tadi, Farah melakukan tes urin dengan testpack strip. Hasilnya? Jangan diragukan lagi, Farah hamil. Dia mengandung darah dagingnya. Tentu saja Ilham bahagia, bukankah dalam suatu pernikahan kehadiran malaikat kecil sangat diharapkan?
Ilham membayangkan bagaimana ia akan dipanggil ayah oleh buah hatinya. Mengajaknya bermain, menyuapinya, melihat tumbuh kembangnya. Hal yang dimimpikan oleh semua manusia. Hal itu memantik semangat Ilham untuk bekerja lebih giat lagi serta menyelesaikan laporan ini agar segera melihat wajah istrinya.
__ADS_1
Tepat saat Ilham meletakkan patung keramik berbentuk angsa itu di pinggir meja, tangannya tak sengaja menyennggol benda itu saat mengambil map yang sedikit jauh dari jangkauan. Patung keramik angsa itu pecah, nyaris tak berbentuk lagi. Ilham terkesiap, ia bangkit dan mengambil tempat sampah kecil yang berada di sudut ruangan ini. Ia memunguti satu per satu pecahan keramik yang sudah tak berbentuk, hingga salah satu sudut tajam itu mengenai jarik Ilham. Darah mengalir dari jari telunjuknya.
“Aku kurang hati-hati!” Ia merasa sebal karena di saat seperti ini, ia harus mengalami luka yang amat kecil. Tapi, cukup mengganggu aktivitasnya beberapa hari ke depan.
Setelah semua pecahan keramik itu hilang, ia membasuh tangannya dengan air. Kemudian melilitkan satu plester ke jarinya yang terluka. Plester itu diambil dari kotak pertolongan pertama yang ada di ruangannya.
“Saatnya menyelesaikan semua laporan ini dan segera pulang.”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1