Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 179


__ADS_3

Episode 179: Menemukan Rumah Baru


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Kinanti memandang kendaraan yang berlalu-lalang di depannya. Ia sedang duduk di halte menunggu Ayahnya. Ia sudah menelpon ayahnya jika dirinya sudah berada di Kota Milepolis dan sedang menunggu bus untuk pulang. Tapi ayahnya bersikeras untuk menjemputnya, alhasil Kinanti sedikit mati kebosanan di tempat itu.


Kinanti juga mengalah dan mewujudkan keinginan Anneline agar bermalam sendiri di rumah penginapan. Perempuan itu menangis dan bersimpuh di kakinya untuk hal ini, sungguh tak dapat dipercaya.


“Nyonya tidak akan kabur, kan?” Kinanti masih kepikiran sedari ia keluar komplek rumah penginapan itu.


“Kalau dia kabur, mau kabur kemana? Dia tidak mahir menyetir walaupun sudah diajarakan berulang kali.” Kinanti mendesah. Ia berbicara sendirian di halte itu. Pikirannya terputar kembali tentang Anneline yang memintanya belajar menyetir mobil. Semula dia bisa mengendalikan kendaraan itu. Tapi, karena panik, Anneline menabrak pagar pembatas dan membuat dahi Kinanti terbentur. Sontak Naresh tidak menyetujui jika Kinanti mengajari mengemudi nyonya besar itu lagi dan dia tak pernah belajar lagi.


“Apakah dia punya kenalan di kota ini?” Kinanti memegang dagunya. Ia berpikir keras jika Anneline bisa saja pergi dengan teman lain. Ia takut jika hal ini menjadi menjadi masalah besar. Akhirnya, Kinanti menghubungi Naresh untuk memastikan hal itu.


Sebuah motor keluaran terbaru berhenti di halte, tempat Kinanti duduk dengan kebosanan yang luar biasa. Kinanti menatap pengendara motor itu. “Seperti tidak asing.” Ia menatapnya dengan ekspresi datar. Walaupun memakai helm, masker untuk menutup sebagian wajahnya, dan kaca mata hitam, ia bisa tahu siapa orang itu.


“Ayah ingin menakutiku ya?” tanya Kinanti.


Pengendara motor itu melepas helm, masker dan kacamantanya. Terlihat pria berumur hampir setengah abad sedang tersenyum pada Kinanti. Perempuan itu menjawab seratus persen benar, yang datang adalah Pak Budi, ayahnya.

__ADS_1


“Ternyata putri Ayah menebak dengan benar!” Pak Budi turun dari motornya dan memeluk anak perempuanya yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. “Ayah rindu kamu, Nak.”


Kinanti menyambut pelukan itu, ia merasakan dekapan hangat dari pria yang telah menjadi pahlawannya sejak ia dalam kandungan ibunya. “Aku juga rindu Ayah.”


Pak Budi melepaskan pelukannya. Wajahnya terlihat bahagia sekali. “Putriku sekarang sudah berbeda. Aku sampai pangling melihatmu saat pertama kali.”


Kinanti hampir menangis karena momen sakral ini. Selama di Kota Zen, ia tak pernah pulang sekedar menengok ayahnya maupun Reno. “Ayah suka sekali memuji.”


“Sepertinya putriku sedikit berubah. Rambutmu lebih panjang dari dulu dan sekarang kamu juga memakai rok.” Pak Budi melihat penampilan anaknya yang sangat berbeda. Ia tahu, Kinanti paling malas memakai rok kecuali rok seragam sekolah. Dia juga tidak menyukai memelihara rambut panjang.


“Ayah ... apakah aku jelek?” Kinanti patut bertanya soal ini. Selama berada di keluarga Fernando, ia harus bersolek dan berpenampilan serapi mungkin. Tak hanya itu, Naresh melarangnya untuk memotong rambut dengan alasan kalau Kinanti cantik jika memiliki rambut panjang dan dia juga bisa membelainya.


“Tidak, anak Ayah sangat cantik.” Pak Budi tersenyum. “Sekarang mari kita pulang. Reno sedang menunggu sendirian di rumah.”


Kinanti mengangguk. Ia menaiki motor itu di bagian belakang dan memegang pinggang ayahnya agar tidak jatuh. Malam ini angin berhembus membuat Kinanti dingin. Ayahnya memacu motor ini tidak terlalu kencang. Namun ada yang membuat Kinanti terheran. Ia sadar jalan yang mereka lewati bukan menuju rumahnya di kawasan Pasar Grosir.


“Ayah! Kita mau kemana?” Kinanti sedikit mengecangkan suaranya agar terdengar lebih jelas karena angin sering membuatnya tak terdengar.


“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Pak Budi.


“Ayah! Jawab pertanyaanku, ini di mana dan mengapa kita turun di depan halaman rumah ini?” pertanyaan Kinanti kia menuntut. Ia patut curiga dalam keadaan ini.


“Ini rumah kita.” Pak Budi tersenyum.


Kinanti cukup lama mencerna ucapan ayahnya. Rumah Kita?


“Ayo masuk.” Pak Budi mendorong pagar kecil rumah itu dan memasukkan motor yang baru saja ia kendarai.


“Ayah jelaskan, mengapa kita ada di sini?” Kinanti masih bersikeras tak mau masuk ke rumah itu. Ada rasa ketakutan sekaligus kewaspadaan yang menggelayut di hatinya.


“Ayah akan jelaskan. Kita masuk rumah dulu, Kinanti.”

__ADS_1


Pak Budi telah memasukkan motornya. Kinanti melepas sepatu yang ia gunakan dan menaruknya di rak kecil di dekat itu.


Kalau dipikir-pikir rumah ini tak seperti rumah pada biasanya. Kinanti sempat mengecek semua ruangan itu. Ada satu kamar dekat dengan ruang televisi yang satu tempat dengan ruang makan, dapur dan juga kamar mandi. Lalu ada sekat tipis untuk ruang tamu, terlihat dari kursi-kursi panjang yang tertata rapi.


Kinanti mencoba berdiri di tempat ia pertama kali masuk rumah ini. Ada tangga kecil menuju lantai dua. Rumah seminimalis ini ada dua lantai? Pikirnya.


Kinanti menyusuri anak tangga itu dengan hati-hati memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setelah ayahnya memasukkan motor, lalu menghilang begitu saja. Kinanti tak terlalu menghiraukan, ia yakin ayahnya sedang berada di luar. Kaki Kinanti sedikit gemetar setelah apa yang ia lihat di lantai dua.


Ada sebuah kamar yang lampunya tidak dinyalakan. Kinanti akhirnya menekan saklar untuk menghidupkam lampu. Terlihat ruang kamar yang kosong dengan kasur lipat yang berada di pojok. Ruangan ini terlihat rapi ada meja kecil dan lemari yang ukurannya sangat pas, tidak terlalu besar ataupun terlalu keci.


Ada yang memancing perhatian Kinanti dibanding lemari itu. Sebuah jendela yang belum memiliki tirai, ia bergegas untuk membukanya. Ia melihat jalanan yang lengang dengan rumah-rumah yang bentuknya sama persis. Angin malam menerbangkan anak rambutnya.


“Wah , ternyata kamu sudah menemukan kamarmu sendiri.” Pak Budi masuk ke kamar yang berada di lantai dua. Ia membawa nampan berisi air mineral dingin dalam botol dan dua bungkus roti. Ia meletakkannya di meja kecil.


“Jelaskan ayah, mengapa kita ada di sini? Reno kemana?” Kinanti masih pada intonasinya yang menuntut,


“Di kamar bawah. Ini sudah menjadi rumah kita, Kinan.”


Kinanti mengerutkan alisnya. “Bagaimana rumah kita yang berada di kawasan Pasar Grosir?”


“Rumah itu sudah diratakan sebulan yang lalu. Maafkan Ayah enggak kasih tahu kamu. Karena Ayah yakin kamu enggak akan menerima keadaan ini.”


Seketika ketakutan Kinanti menjadi kenyataan. Kawasan kumuh tempat tinggalnya telah di gusur. Selalu seperti ini setiap tahunnya karena dianggap mengganggu ketertiban.


“Tapi Ayah, itu rumah kita! Mereka tidak berhak mengambilnya!” Kinanti berteriak.


“Tenang, Nak. Semuanya sudah terjadi. Mereka yang berkuasa, toh kita dapat tempat tinggal baru dan lebih layak.”


Kinanti menggeleng. Ia belum bisa menerima hal ini. Kenanngan rumah lamanya sangat erat dengan kenangan ibunya. Ia tak mungkin langsung menerima keadaan ini.


***

__ADS_1


Anneline sudah bersiap. Ia mengambil ponselnya yang berada di meja. Jarinya sangat lincah mengetuk layar. Setelah bergulat cukup singkat, ia menempelkan ponselnya ke telinga.


“Hai, Ray! Segera kirimkan sopirmu untuk menjemputku.”


__ADS_2