Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 7


__ADS_3

Sekembalinya mas Damar, kini rumah bunda sepi. Hari ini Farah sudah membuat agenda untuk mengajak bunda berkebun. Farah telah persiapkan alat untuk berkebun, pot, bibit bunga, bibit buah dan bibit sayuran.


Ternyata bunda tidak keberatan dengan ajakan Farah untuk berkebun menanam bunga, buah dan sayuran. Bunda senang sekali. Bunda bisa tertawa lepas. Farah sudah berjanji kepada mas Damar agar bunda bisa merasakan sedikit kebahagian memiliki anak perempuan. Sekarang halaman belakang rumah bunda dekat gazebo telah menjadi kebun kecil yang indah.


Senang rasanya bisa berkebun lagi. Saat berkebun bersama bunda, aku merasa seperti berkebun bersama mama.


Farah menghela nafas. Tersenyum.


Kenangan tentang mama dan papa bermunculan lagi di pikiran Farah sepeti potongan-potongan film. Kali ini Farah sudah tidak menangis lagi mengingatnya. Tapi rasanya hati masih tidak rela, seperti ada bagian yang hilang. Seperti secuil ruangan yang kosong.


Tak apa, sekarang aku tidak sendirian lagi, ada bunda walaupun beliau tidak bisa mengganti mama, tapi beliau bersedia mengurusku.


“Senang sekali ya bisa menyirami tanaman-tanaman ini,” ucap Bunda.


“Iya Bunda, kata mama kalau kita bisa berkebun dan menyirami apa yang kita tanam bisa membuat perasaan bahagia tersendiri,” balas Farah.


***


Sore itu Farah sedang berbincang-bincang dengan Yu Minem. Saat itu Yu Minem menunjukan buku album foto. Farah membuka satu persatu pada halamanya. Terdapat banyak foto keluarga ini.


Ada foto keluarga ini lengkap, bunda, suami bunda, mas Damar waktu masih remaja, dan dua anak kembar Ilham dan Kalista yang masih anak-anak. Lalu ada foto Bunda memotong pita peresmian. Farah sedikit lama memandangi foto itu.


“Ini peresmian apa?” Farah bertanya pada Yu Minem.


Yu Minem menjawab bahwa itu peresmian toko kue bunda. Dulu bunda mempunyai toko kue yang amat terkenal di daerah itu. Selalu ramai tak pernah sepi. Sampai akhirnya toko itu ditutup paksa oleh Bunda karena kejadian yang menyakitkan itu, dan sampai sekarang tak pernah dibuka lagi.


Sekarang Farah tahu apa yang harus ia lakukan. Membuat toko kue itu kembali di buka. Atau minimal bunda membuat kue seperti dulu lagi. Akhirnya Farah bersama Yu Minem sepakat untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Sore itu Farah dan Yu Minem berangkat untuk membeli bahan-bahan tersebut. Dan mereka pergi tanpa sepengetahuan Bunda.


***


Keesokan harinya, Farah mengajak Bunda untuk membuat kue brownis coklat dan kue pandan. Berbekal resep yang sudah dipelajari Farah tadi malam di internet agar tidak gugup saat membuat bersama Bunda.


Bunda tertawa, beliau bilang bahwa membuat kue tidak seperti itu. Membuat kue itu butuh perhatian dan ketelatenan. Harus tahu porsi bahan yang tepat, tidak boleh kelebihan ataupun kekurangan, harus pas. Dan harus telaten untuk mengadon, membuat kue atau roti dengan ukuran yang sama tidak boleh ada yang yang terlalu besar maupun terlalu kecil. Langsung saja bunda turun tangan membuat kue. Tangannya cekatan sekali. Terlihat senyum Bunda mengembang. Farah dan Yu Minem saling tatap tersenyum, rencana mereka berhasil, membuat bunda bahagia walau sedikit.


Setelah mencampurkan semua bahan yang diperlukan kemudian menjadi adonan. Adonan yang sudah jadi itupun dicetak ke dalam loyang lalu di masukan ke pemanggangan. Farah dan bunda menunggu kue yang telah mereka buat.

__ADS_1


“Akhirnya jadi juga, tinggal tunggu matangnya saja.” Bunda menghela nafas lega.


Farah hanya mengangguk mengiyakan, “Pasti enak nih kuenya. Jadi enggak sabar mau nyicipi,” sahut Farah.


“Dulu Bunda juga punya toko kue kecil di jalan raya menuju kota,” ujar Bunda.


“Oh ya?” kata Farah. Akhirnya bunda membuka cerita ini.


“Iya, tapi itu dulu sudah lama sekali,” balas Bunda mengingat-ingat peristiwa itu.


“Memang tokonya masih ada Bun?”


“Farah pengen lihat?” tanya Bunda.


Farah mengangguk antusias.


“Insya Allah besok ya, kalau tidak ada halangan Kita mampir sebentar ke toko kue.”


***


Sesuai janji bunda, Farah dan bunda mampir ke toko kue diantar oleh Pak Parmin. Lumayan jauh letak toko kue dengan rumah bunda, sekitar 15 menit perjalanan menggunakan mobil.


Terlihat Bunda berusaha mengenang. Mungkin mengenang masa-masa yang menyenangkan di tempat ini.


“Bunda, mengapa Bunda tidak membuka toko ini lagi?” tanya Farah yang merasa penasaran dari kemarin.


Bunda tak langsung menjawab pertanyaan Farah. Bunda hanya tersenyum kecut.


“Sebenarnya sudah sejak lama Bunda ingin membuka toko ini sepeti dulu. Hanya belum ada niat,” terlihat Bunda menghela nafas berat. “Sebetulnya sejak kemarin Bunda lihat kamu ingin membuat kue, timbul memori saat Bunda masih membuat kue di toko ini. Bunda rindu akan kenangan itu.”


“Bismillah, berarti sekarang Bunda bisa membuka toko ini lagi. Mengisi waktu luang Bunda. Insyaa Allah Bunda bisa membuka lapangan pekerjaan yang baru. Dan Farah juga akan bantu-bantu,” balas Farah.


***


Akhirnya toko kue bunda dibuka kembali. Bunda juga memperkerjakan banyak orang untuk mengisi pekerjaan sebagai koki, kasir bahkan pelayan yang mengantarkan pesanan.

__ADS_1


Sebulan kemudian toko kue bunda sudah banyak pelanggannya, terkadang sudah dipercaya membuat roti ataupun kue dalam jumlah yang besar. Bahkan sekarang bunda juga sudah menyiapkan kendaraan untuk konsumen yang memesan lewat delivery order.


Bunda kembali menemukan api hidupnya yang telah lama padam. Farah juga bisa ikut membantu di toko kue itu di waktu pagi sampai sore. Malamnya Farah bisa belajar untuk mempersiapkan diri mengikuti tes perguruan tinggi tahun depan.


***


“Farah ..." panggil Bunda.


Mendengar namanya dipanggil, langsung saja Farah menyahut dan keluar dari kamar.


“Ada apa Bunda?” jawab Farah.


“Farah sedang sibuk ya?”


“Tidak Bunda.”


Sebenarnya Farah sedang belajar dan mengerjakan beberapa soal tes. Tak apalah ditinggal sebentar. Farah berjalan menuju Bunda yang sudah berada di ruang keluarga.


“Ke sini sayang ada hal yang ingin Bunda sampaikan,” kata Bunda dengan wajah sumringah.


Farah menurut saja, duduk di dekat Bunda. Tampak Bunda sedang membawa buku yang berisi catatan-catatan penting.


“Kamu tahu sayang, selama tiga bulan ini bisnis kita berkembang pesat. Pelanggan sudah banyak. Dan ini untuk Farah,” ujar Bunda menyodorkan amplop yang dibuka ternyata isinya uang ratusan ribu yang sangat banyak.


“Ini untuk apa Bunda?” tanya Farah.


“Ini uang gaji Farah.Berkat Farah usaha toko kue Bunda hidup lagi, malah pelangganya lebih banyak daripada yang dulu.” Bunda tersenyum puas.


Farah mengembalikan amplop itu tanpa mengambil isinya sepeserpun, “Maaf Bunda, aku tidak bisa menerima ini. Bunda sudah mau menerimaku di rumah ini, mengajariku untuk membuat kue itu sudah lebih dari cukup.” Farah menolak dengan halus.


“Tidak bisa gitu, Farah juga ikut bantu -bantu di toko, jadi ini uang haknya Farah. Bunda mohon Farah mau menerimanya. Mungkin ini bisa untuk biaya tes masuk perguruan tinggi tahun depan, atau bisa untuk tabungannya Farah.” Bunda tetap memaksa Farah.


Dan Farah akhirnya menerima amplop itu.


Mas Damar menelpon untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang Farah lakukan. Dan memberi selamat kepada bunda. Namun sayang mas Damar belum sempat mampir ke rumah bunda sekedar untuk minum teh atau mencicipi roti buatan Bunda.

__ADS_1


Ilham? jangan ditanya, dia sudah beberapa kali mampir ke toko bunda, tapi seperti yang terlihat, dingin, diam tak banyak bicara.


Kabar Balqis dan Jihan yang lulus tes perguruan tinggi dan masuk universitas yang sama dengan jurusan yang sama pula membuat Farah terharu bahagia. Mereka bisa lulus dan sudah melakukan daftar ulang. Dan bulan depan sudah bisa masuk pertama perkuliahan.


__ADS_2