Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 59


__ADS_3

Farah sedang mendapat tugas untuk membersihkan di lantai empat. Ia sedang mengelap meja nomor 07, yang berada di dekat jendela. Farah mendekati jendela, ia melihat gula kapas putih yang menggantung di langit, berjalan digiring angin.


Segeralah pulang mas, aku di sini sendirian.


Farah melanjutkan tugasnya membersihkan meja di lantai empat.


***


Ilham masih penasaran dengan pesan yang dikirim oleh Akmal. Bahkan dia juga mengirim sebuah video. Ilham sangat penasaran dengan isi video itu, ditambah pesan yang bertuliskan ‘istrimu dalam bahaya’ membuat Ilham ingin segera membuka video itu.


Belum layar ponsel tersentuh, Ilham melihat manager cafenya yang berada di Kota Numa menelpon. Ilham menjawab panggilan itu.


“Ada apa?” Ilham membuka percakapan.


“Sebenarnya saya ingin menyampaikan hal ini, bahwa ada perempuan yang bernama Farah kemarin datang ke cafe kita dan sedang mencari Pak Ilham. Dia juga mengaku sebagai istri bapak," jawab manager Cafe Numa.


Mata Ilham membulat, napasnya berhenti sejenak. Ia mendengar bahwa Farah mencarinya sampai ke Kota Numa.


“Apakah dia datang sendirian?”


“Iya, namun ....”


Belum selesai manager Cafe Numa itu melengkapkan kalimatnya. Ilham melempar pandangan kepada sosok yang sangat familiar untuknya.


Brukkk ....

__ADS_1


Seorang pramusaji yang membawa nampan yang berisi minuman coklat bertelah nabrak perempuan memakai baju berwarna putih. Perempuan itu bergeming melihat bajunya kotor karena minuman itu.


“Maaf Kak, saya tidak sengaja. Saya minta maaf,” ucap pramusaji itu.


Perempuan itu menatap tajam. Ia sangat tidak menyukai hal ini. Perempuan itu datang dengan satu orang penjaganya yang memakai baju hitam.


“Anda telah bersalah kepada Nyonya Besar! Berlutut!” penjaga bersuara galak. Dapat di simpulkan jika penjaga itu adalah perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki.


“Cepat berlutut!” ucap penjaga itu lagi. Kali ini ia membuat seisi cafe memandang kepada mereka, tak terkecuali Ilham.


Ilham menajamkan matanya. Ia merasa sosok perempuan itu pernah ia temui.


“Cukup. Aku sudah tidak berselara makan di tempat ini,” ucap perempuan itu dengan ketenangannya. Ia sudah muak dengan pramusaji yang berlutut di hadapannya.


Tiba-tiba seorang manager cafe berlutut memohon agar perempuan yang di sebut nyonya ini mau memaafkan salah satu karyawatinya. Si Nyonya hanya menatapnya, kemudia ia pergi meninggalkan cafe itu diikuti penjaga setianya.


“Halo ... halo pak Ilham?” telepon masih tersambung. Ilham mengakhiri panggilan itu. Ia penasaran dengan sosok perempuan tadi.


“Ann ....” gumannya.


Ilham merasa bahwa perempuan itu mirip Anneline. Namun penampilannya sungguh berbeda tidak menggunakan hijab, rambutnya terurai indah. Ia mengenal Anneline yang lemah lembut tidak sedingin itu. Ilham yakin ia hanya salah lihat saja.


“Aku yakin cafe ini tidak lama lagi akan ditutup dan pemiliknya akan bangkrut," ucap salah satu pelanggan cafe ini.


“Benar, Nyonya Besar itu selalu bertindak seenaknya,” timpal pengunjung lain.

__ADS_1


Ilham mendengar desas-desus salah satu penggunjung cafe yang berada dekat dengan kejadian itu. Ia sudah memutuskan bahwa itu bukan Annelinenya. Bukan.


Ilham memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia harus segara pergi dari cafe ini untuk mencari keberadaan Anneline.


***


Untuk kali ini Ray tidak mengedarkan senyuman seperti hari-hari sebelumnya. Ia kembali seperti dulu. Aura menakutkan menguar di sekelilingnya. Hari ini Ray sedang diselimuti lara. Ia merasa seperti ditikam patah hati. Untuk kedua kalianya ia merasakan hal ini.


Kelembutan seorang perempuan dapat menggoreskan luka. Bagaimana bisa Ray begitu mudahnya merasakan perasaan cinta ini. Dulu ia berubah menjadi sebaik malaikat hanya untuk memikat hati Farah. Namun sekarang Ray kembali. Ia kembali menjadi Ray yang dulu, seperti iblis yang jahat.


Kau memiliki daya pikat yang kuat. Sayang kau tak mau diikat.


Ray menyesap minuman surgawinya. Ia masih tak habis pikir mengapa Sang Semesta selalu membuatnya menjadi posisi yang kedua di bawah Ilham. Mengapa Ilham selalu mendapatkan apa yang ingin Ray miliki.


Pertama Anneline, kedua Farah.


Ray mengembuskan nafas beratnya. Ia memejamkan mata. Ray teringat sesuatu.


Bukankah Ilham sedang di Kota Zen mencari Anneline. Apakah Farah tahu tentang hal ini? Apa dia tahu kalau suaminya sedang berkhianat?


Ray kembali menyesap minumannya. Mungkin minuman terkutuk ini untuk sebagian orang ini adalah minuman yang membawa dosa. Namun tidak bagi Ray, minuman ini pelampiasan patah hatinya hari ini.


Ray mencengkram kuat gelas yang ia bawa. Kemarahannya sudah memasuki pucak. Ia membanting gelas itu hingga pecah berserakan. Ia masih tidak terima atas perlakuan Sang Semesta terhadapnya. Ray mengamuk. Ia sudah tidak terkendali.


Sorot matanya menatap galak. Ia membuang benda-benda yang berada di sekitarnya. Ia berteriak lantang penuh amarah, hingga suaranya menjalar ke penjuru rumah. Para pelayannya tahu bahwa majikannya sedang marah besar. Mereka memilih diam tidak menghentikan Tuannya. Jika mereka menghentikan Ray, maka saat itu mereka keluar dari rumah ini hanya tinggal nama dan mayit yang terbujur kaku. Mereka tidak ingin mati konyol.

__ADS_1


__ADS_2