
Ray dan sekertarisnya sudah berada di toko bunga yang terkenal di kota itu. Ray menyuruh sekertarinya untuk memilih bunga yang cocok untuk seorang perempuan yang sederhana. Sekertaris perempuan itu mecoba mencari bunga yang dimaksud oleh Ray.
Sekertaris itu melihat berbagai macam bunga. Namun Ia mengambil pot yang berisi tanah dan meminta bibit bunga.
“Ini kado terbaik Pak,” kata sekertaris itu.
Ray mengerutkan keningnya tidak paham, mengapa sekertarisnya memilih pot bunga dan tanah.
Mengapa harus memilih ini?
Sekertaris itu tersenyum, ia seperti memiliki kenangan indah tentang pot dan tanah itu.
“Jika dia gadis yang sederhana, dia akan menerima apapun pemberiannya termasuk ini.” sekertaris itu menunjuk pada pot. “Mengapa saya menyarankan ini, karena dalam pot ini ada bibit bunga. Dan bunga itu muncul pada saat waktu yang tepat. Jika dia ingin melihat bunga itu, maka dia harus merawat bibit ini agar tumbuh. Secara tidak sadar, kekasih Pak Ray akan penasaran tentang bunga apa yang tumbuh.”
Ray mencoba memahami apa yang dikatakan oleh sekertarisnya. Sesekali matanya melihat pot yang berisi tanah itu. Menimbang apakah hadiah ini cocok untuk Farah. Mengingat Farah lebih memilih menerima roti isi coklat dibanding kalung mewah nan mahal.
“Jika perempuan kebanyakan lebih menyukai seikat bunga yang sudah mekar tanpa perlu tahu bagaimana merawatnya, sama seperti cinta Pak, cinta yang tulus perlu di rawat sampai kebahagiaan itu mekar,” lanjut sekertaris itu.
Ray akhirnya memahami apa yang dimaksud sekertarisnya. Ia membeli pot, tanah beserta bibitnya.
***
Farah merasa hari ini sungguh sepi walaupun dia berada di keramaian. Tubuhnya bergerak namun hatinya diam, sesak dirasa. Ia masih memikirkan bagaimana Ilham.
“Mas bagaimana keadaanmu? Kamu pergi tapi tidak ada kabar darimu. Aku harap kamu baik-baik saja, semoga mas Ilham pulang malam ini. Ya Allah lindungi mas Ilham di manapun dia berada. Aamiin,” guman Farah saat melihat awan pekat dari balik jendela lantai empat.
Satu tetes air hujan jatuh ke tanah disusul ribuan tetes berikutnya. Basah langit abu-abu membungkus kota ini. Farah hanya terpaku melihat hujan turun. Perasaan rindunya terwakili oleh tangisan dari langit.
Aku rindu kamu.
***
Pukul 20.45, Ray sudah berada di halte dekat kedai milik Ilham. Ia membawa pot yang berisi tanah dan bibit bunga. Ia sedang menunggu Farah. Ray merapatkan jaketnya yang tebal. Hawa dingin merasuk sampai ke tulang-tulang. Musim hujan membuat jalanan basah dan membawa hawa dingin.
Ray masih sabar menunggu Farah pulang, sesekali menengok ke arah kedai untuk melihat apakah Farah sudah berjalan menuju halte ini.
__ADS_1
Gerimis masih menghiasi malam di kota ini. Ray telah membeli payung kecil yang ia simpan di dalam jaketnya. Ia berpikir payung ini akan berguna nanti.
Sopir Ray yang melihat tuan mudanya kedinginan sendirian di halte memutuskan untuk membeli tiga cup kopi untuk dirinya dan dua cup untuk Ray. Tidak jauh dari lokasi ini terdapat kedai kopi.
Setelah membeli kopi, sopir itu memberikan dua cup untuk Ray.
“Tuan, minum ini untuk menghangatkan badan,” ucap sopir itu.
“Dua cup?” tanya Ray.
“Yang satunya untuk kekasih Tuan,”
Akhirnya sopir Ray melajukan mobilnya sedikit lebih jauh dari lokasi halte. Ia berharap gadis yang di sukai Ray bisa lebih lama di halte.
***
Farah melihat jam di dinding, sudah pukul sembilan malam lebih. Ia ingin pulang berharap Ilham sudah ada di rumah. Ia bergegas menuju halte.
Farah tidak memakai payung, Ia berlari kecil untuk menghindari gerimis. Namun bajunya tetap terkena rintikan hujan.
“Hay, selamat malam,” sapa Ray.
Farah telah mengetahui kalau Ray berada di halte itu. Namun ia tidak menyapa Ray, yang ia ingin hanya segera naik bus dan pulang.
“Farah, duduk sini, jangan berdiri saja,” ajak Ray.
Farah tidak menjawab, ia duduk di tempat duduk halte itu. Jarak antara Farah dan Ray hanya terpisah satu tempat duduk saja.
Ray merasa gemas, ia ingin bergeser letak duduk agar lebih dekat dengan Farah. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia hanya menyodorkan satu cup kopi yang masih utuh.
“Minumlah, agar badanmu hangat.” Ray menyodorkan satu cup kopi.
“Terima kasih.” Farah mengambil kopi itu dan meminumnya.
Ray tersenyum melihat Farah menerima pemberiannya. Ia suka melihat Farah meminum kopi darinya. Ia akhirnya menyodorkan pot bunga yang sedari tadi ia sembunyikan.
__ADS_1
“Ini untukmu,” ucap Ray.
Farah memandangi pot bunga yang diberikan oleh Ray. Ia hanya melihat pot itu berisi tanah. Farah lalu memandangi Ray seperti meminta penjelasan.
Apa ini, sepertinya tanaman lalu mana tanamannya?
“Ini bukan pot biasa, di dalam tanahnya sudah ada bibit. Jika kamu mau tahu ini tanaman apa, rawatlah,” jelas Ray.
Farah membulatkan matanya, ia merasa senang mendapat bibit bunga baru. Tanpa sadar ia tersenyum memegang pot itu.
Ray memperhatikan Farah yang memegang pot bunga pemberiannya. Ray suka senyumnya.
Aku mohon senyuman itu jangan pudar lagi dari pemiliknya.
“Aku akan merawatnya Ray, terima kasih.” Farah tersenyum, ia yang menyukai pola yang tercetak pada pot itu.
Sekali lagi Ray merasa dirinya bahagia karena bisa membuat Farah tersenyum. Ia merasa Farah memang perempuan yang berbeda, dia tidak menginginkan hal yang mewah, hanya hal sederhana seperti ini.
Bus koridor 2A berhenti di halte tempat Farah dan Ray menunggu. Farah membawa pot bunga itu dan masuk ke dalam bus. Ray juga naik. Farah duduk di dekat pintu bus, Ray duduk berhadapan dengan Farah.
Ia sedikit merasa kesal mengapa bus ini datang, ia berharap agar bus ini datang terlambat agar ia lebih lama melihat Farah. Bus akhirnya melaju. Hanya ada Ray dan Farah yang menjadi penumpang bus itu.
Baru setengah perjalanan tiba-tiba bus berhenti paksa. Membuat hentak seisinya. Farah memeluk erat pot itu agar tidak jatuh. Setelah diperiksa oleh sopir dan pramugari bus, ternyata ban bus ini meletus dan bus ini tidak memiliki ban cadangan. Mereka tidak bisa melajukan bus dengan 3 roda, akan sangat beresiko jika memaksakan busnya berjalan. Bisa-bisa bus ini menjadi rusak. Sopir dan pramugari bus itu meminta maaf kepada semua penumpang bus. Mereka menyarankan agar menunggu bus lain di halte berikutnya yang jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi ini.
Farah membungkus pot bunga itu dengan kantong plastik yang sering ia bawa di tas. Ia akan memilih berjalan kaki, jaraknya tidak jauh sekitar 1,5 km untuk sampai di rumahnya. Farah turun dari bus. Ray juga mengikuti Farah.
Farah berjalan di trotoar dengan cahaya penerangan dari lampu jalan. Malam yang dingin ditambah gerimis membuat Farah mempercepat langkah kakinya. Ia merasa Ray masih mengikutinya. Farah ingin protes, ia mendadak menghentikan langkahnya.
Ray kaget saat Farah mendadak berhenti. “Kalau jalan jangan berhenti mendadak, bisa-bisa nanti aku menabrakmu.”
“Mengapa kamu mengikutiku? Bukankah kamu bisa menunggu di halte depan itu?” tanya Farah yang sedikit kesal karena Ray mengikutinya.
“Aku hanya menjalankan pekerjaanku, yaitu memastikan kamu aman sampai di rumah,” jawab Ray tersenyum.
Farah kembali berjalan. Ia sudah lelah harus mengusir Ray setiap waktu, namun Ray tetap mengikutinya, bahkan menunggu ketika Farah berangkat dan menunggu ketika Farah pulang. Dan itu sudah di lakukan beberapa hari ini.
__ADS_1
Awalnya Farah merasa takut jika bertemu dengan Ray, namun untuk kali ini Farah merasa sepertinya Ray sekarang bukan Ray yang dulu. Ray yang dulunya suka menukar apapun dengan uang, sekarang berubah menjadi Ray yang sedikit lebih sederhana.