
Yuk bantu Author untuk :
- Like/love setelah baca cerita ini
-Tinggalkan jejak di kolom komentar
-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
Selamat berimajinasi
_________
“Apa yang kau cari di Milepolis?” tanya pria itu.
Anneline menatap sepasang mata Naresh. Ia memilihat ada sorot peasaran sekaligus kewaspadaan yang tinggi. Ia hanya bergeming, tak mungkin ia menjawab pertanyaan itu.
Mengapa Kakak Ipar menatapku seperti itu?
“Tidak ada jawaban! Sepertinya Kita harus terlibat obrolan yang intens.” Naresh menyeret paksa tangan Anneline. Ia harus menjauhkan dia dari Kinanti untuk sementara waktu.
Naresh terus saja menggiring adik iparnya hingga ke gazebo dengan pilar tinggi yang letaknya berdekatkan dengan kolam bunga seroja. Ia harus tahu alasan Anneline begitu mendesak Kinanti agar segera pulang, terlebih dia hanya bisa ke kota itu harus didampingi oleh kekasihnya.
“Apa rencanamu sebenarnya, Anneline?”
Wanita itu menunduk. Ia akan diintrogasi oleh Naresh. Mengapa Kakak Ipar bisa berbicara seperti ini? Apakah dia sudah tahu? Tidak mungkin! Dia tidak tahu rencanaku.
“Aku hanya ingin mengunjungi event itu,” ucap Anneline. Kali ini ia harus berhati-hati dengan pria yang pengamatannya sangat baik.
“Sejak kapan kau tertarik dengan event kuliner? Ini tidak biasa, ini bukan diri Anneline.” Naresh mencengkeram tangan Anneline kuat-kuat, membuat perempuan itu sedikit meringis dibuatnya.
“Katakan! Apa yang kau inginkan di kota itu?” Naresh bertanya penuh penekanan.
__ADS_1
Anneline menggeleng. Ia merasakan kesakitan di pergelangan tangannya. “Kakak Ipar, lepaskan tanganmu. Ini menyakitkan.”
“Jawab Ann!”
“Aku hanya ingin pergi berlibur bersama Kinanti, calon kakak iparku! Hanya itu.” Anneline beralasan. Ia harus menyakinkan Naresh apa agar rencananya berjalan lancar. Ia tentu tidak mau apa yang sudah dibangun hilang sia-sia.
Naresh menaikan alis kanannya. Ia sedikit terkejut jika alasan Anneline hanya untuk ini. Sejenak ia menalar semua gelagat adik iparnya itu.
Anneline hanya ingin itu saja? Rasanya tidak mungkin! Kedekatannya dengan Kinanti pun baru beberapa bulan ini. Sebenarnya apa yang dia cari? Dia tidak memiliki teman di kota kecil itu. Tidak! Dia punya teman di sana, Rayhan Wijaya. Tapi apa mungkin mereka bersekongkol? Untuk hal apa? Aku pantas curiga dengan hal ini!
“Seperti itukah?”
Anneline menganngguk. Sudut hatinya membujuk agar dirinya jangan lepas kendali, ia tahu ini adalah jebakan permainan kata. Terlihat sekali kalau Naresh memang mencurgai dirinya.
Aku tidak akan terjebak dengan tipuan katamu, wahai Kakak Ipar!
“Baiklah, aku akan mengawasimu penuh dua puluh empat jam,” ucap Naresh, “dan tolong jangan mendesak Kinanti apapun alasannya.” Naresh menghentikan interogasinya, setidaknya peringatan ini sudah lebih dari cukup. Ia pergi meninggalkan Anneline di gazebo pilar tinggi itu.
Punggung Naresh kian lama, kian jauh, Anneline seperti menelan kedongkolannya sendiri. “Arrrghh!” Ia memukul pilar itu. Memang pukulannya tidak terlalu keras tapi cukup untuk menggambarkan ekspresi kemarahan yang ia redam sendiri.
Bagaimana bisa dia menyadari hal ini?
Anneline mengurungkan niatnya untuk menemui Kinanti. Ia harus merencanakan sesuatu agar Kinanti bersikeras untuk segera pulang.
***
Event akan dilaksanakan tujuh hari lagi, berarti hari setelah ujian perguruan tinggi. Farah bersama komunitasnya sengaja membuat kerajinan kertas lebih banyak menarik minat warga kota yang berkunjung untuk membelinya.
Kinan!
“Aku harus memberitahu Kinan soal event. Sudah tiga bulan lebih dia tidak pulang. Apakah nanti dia bisa pulang? Ah ... coba telpon saja.” Farah mengambil ponselnya yang berada di kamar. Ia ingin menelpon sahabatnya yang bekerja di Kota Zen. Jari Farah lincah mencari daftar nama Kinanti.
***
Di sisi lain Kinati sedang merapikan tempat tidur Naresh. Memang setiap harinya ada tiga maid perempuan yang bertugas untuk membersihkan rumah. Namun, Kinanti bukan perempuan yang pemalas, ia turut serta untuk merapikan rumah ini. Awalnya, para maid merasa sungkan, karena Kinanti turun tangan dengan pekerjaan bersih-bersih, mereka telah menganggap dia sebagai nona dalam keluarga ini.
“Nona tidak perlu merapikan kamar tuan! Biar kami saja,” ucap salah satu maid itu.
“Aku hanya ingin membersihkan kamar Kak Naresh, tidak perlu takut. Aku tidak akan bilang kepada Kakak. Lagipula, hari ini acara berlatih bela diri ditiadakan, Nyonya Fernando juga tak ingin berlatih barangkali.”
Hampir setiap hari, ia berlatih bersama Nyonya Fernando. Tak jarang mereka bertarung untuk melatih ketahanan fisik mereka. Dalam waktu tiga bulan, Kinanti sudah mahir dalam bela diri dasar.
__ADS_1
Nyonya Fernando dan Kinanti kian akrab. Bahkan Tuan Fernando dan Naresh memuju pertemanan dua perempuan itu. Mereka sudah memperbolehkan Nyonya Fernando dan Kinanti untuk keluar rumah sekedar berbelanja, walaupun dalam pengawasan.
Kehidupan Kinanti juga tidak berubah sejak kejadian mengenaskan itu. Ia tetap tinggal di rumah Naresh. Banyak yang menyarankan agar mereka segera melangsungkan pernikahan. Namun Kinanti belum siap, ada sesuatu hal yaitu Naresh belum meminta izin pada Ayah Kinanti
Ponsel milik Kinati yang teronggok di meja mengeluarkan dering nyaring. Ia buru-buru mengambil benda kotak itu dan mengusap layarnya. Tampilan gagang telepon beserta nama ‘Farah’ dan ia menjawab panggilan itu.
“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Farah!” Kinanti sangat antusias dalam percakapan telepon itu.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bagaimana kabarmu, Kinan?” tanya Farah di seberang sana.
“Kabarku baik Farah! Lebih baik dari biasanya.”
“Benarkah? Alhamdulillah kalau begitu. Aku ingin bertanya padamu , Kinan.”
“Tanya apa?”
“Sudah tiga bulan ini kamu tidak pulang ke Milepolis, apakah akhir pekan nanti kamu masih tidak diizinkan untuk pulang walau sebentar, Kinan?”
“Sebenarnya aku akan mendatangi event sekalian melihat keadaan Ayah dan Reno pada akhir pekan nanti.”
“Benarkah?” Mata Farah membulat. Ia seperti mendapat hadiah yang tak terkira harganya.
“Iya Farah,” kata Kinanti menyakinkan, “Akhir pekan nanti aku membawa sesorang yang sangat baik padaku dan atasanku. Beliau ingin sekali mengunjungi event itu.”
“Benarkah, Kinan? Aku penasaran, ‘siapa seseorang yang sangat baik padamu itu’?”
“Hmm ... bukan siapa-siapa.” Wajah Kinnati memerah, ia hampir kelepasan memanggil nama Naresh.
“Siapa Kinan? Jangan buat aku penasaran!”
“Nanti kamu akan bertemu dengannya.”
***
Seorang maid perempuan tergopoh-gopoh masuk ke kamar Anneline. Ia mengatakan bahwa seseorang perempuan akan datang ke kamar ini.
“Bawa masuk,” ucap Anneline.
Maid perempuan itu mengangguk dan kembali untuk memanggil perempuan itu. Tak lama kemudian, perempuan berjas hitam dengan rok span dengan panjang selutut. Perempuan iu mengetuk pintu dan kedatanganya disambut oleh Anneline.
“Maaf, Nyonya. Apakah ada pekerjaan untukku?”
__ADS_1
Anneline menyeringai manis menatap perempuan berjas hitam itu.
“Pisahkan mereka, Sayang.”