
Naresh masih mengemudikan mobil. Ia baru menempuh tiga perempat dari perjalanannya menuju Kota Zen. Matanya sesekali mencuri pandang kepada gadis yang sedang sibuk memahami isi buku bersampul warna coklat tua. Baginya perjalanan ini menarik, walaupun dalam yang terdengar hanya deru mesin yang bersuara lirih. Ia sudah lama tidak merasakan menyetir mobil dengan seseorang yang berada di samping kursi kemudinya. Selalu ia yang berada di depan dan seseorang yang di belakang. Semua ini berlaku untuk keluarga paling terpandang seantero Kota Zen yaitu Keluarga Fernando. Karena peraturan yang mengikat itu, penyebab kehidupannya menjadi seperti ini.
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah salon kecantikan. Kinanti bingung, mengapa Naresh menghentikan mobilnya di pelataran tempat ini. Kinanti menatap Naresh minta penjelasan. Namun Naresh keluar dari mobil, ia berjalan ke arah Kinanti dan sedikit memaksa gadis itu untuk keluar dari mobil.
“Kak, mengapa kita ke tempat seperti ini?” Kinanti bertanya dengan kebingungan.
“Ikut aku.” Naresh hanya menarik tangan gadis itu sehingga buku bersampul warna coklta tia terjatuh di dalam mobil. Naresh sedikit menyertnya agar keluar dari mobil dan masuk ke dalam salon itu. Naresh tetap mencengkeram tangan Kinanti. Mereka masuk ke dalam salon kecantikan itu.
“Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?” Wanita cantik yang bersanggul minimalis menyapa ramah. Dia adalah resepsionis.
Untuk pertaman kalinya Kinanti memasuki tempat yang bernama salon kecantikan. Tempat di mana memanjakan tubuh, merawat kecantikan yang sudah indah dari lahir. Tempat favorit para kaum hawa, tak jarang kaum adam juga melakukan serangkaian perawatan untuk memanjakan kulitnya.
“Saya ingin bertemu Nona Stella, bisa? Bilang saja, si tampan Yori ingin bertemu.” Naresh menyunggingkan senyumnya.
“Baik, tunggu sebentar.” Resepsionis itu menelepon dan menyampaikan pesan dari pria yang berada di hadapannya.
Kinanti hanya berdiri memperhatikan sekelilingnya. Ia merasa sedikit risih memasukin tempat yang bukan seleranya. Selama ini dia tidak terlalu memperhatikan penampilan ataupun perawatan kecantikan. Ia suka tampil apa adanya, tanpa polesan lipstik ataupun pensil alis.
“Silakan menunggu di ruang sakura yang berada di lantai tiga,” ucap resepsionis.
“Terima kasih.”
Naresh langsung menarik tangan Kinanti. Hal itu membuatnya mengikuti kemana pria itu berjalan. Tiba pada lift, Naresh menarik Kinanti untuk masuk ke dalam. Suasana dalam lift cenderung sepi, hanya ada Naresh dan Kinanti. Seketika Kinanti melepas cengkeraman tangan Naresh, ia tidak tahu tujuan pria ini membawanya kesini. Ia menatap galak.
“Mengapa Kakak membawaku kemari?! Katamu, kita akan ke kediaman keluarga Fernando?” Kinanti meminta penjelasan.
“Kau pembohong!”
Naresh hanya menatap gadis itu kian lekat. Tujuan ia mengajak Kinanti untuk memperbaiki penampilan Kinanti agar lebih pantas untuk bertemu dengan sang ratu. Sedangan sigap Naresh mendorong tubuh Kinanti hingga terdesak di salah satu sisi lift. Ia mendekati tubuh gadis itu, dan sedikit menghimpitnya.
Kenapa aku lengah! Gerakan Kak Naresh terlalu cepat, bahkan tubuhnya sangat dekat sekali denganku. Aroma tubuhnya yang maskulin terasa menusuk hidungku.
Kinanti bungkam, tubuhnya seperti tidak mau digerakan. Naresh tersenyum licik, ia melancarkan aksinya. Sedikit demi sedikit, ia mendekatkan wajahnya kepada gadis yang saat ini diam dengan tatapan nanar.
“Bersikaplah manis, atau aku akan melakukan hal yang belum pernah kamu pikirkan sebelumnya.” Naresh mendesiskan kalimatnya tepat di telinga kanan Kinanti.
Aura pria yang berada di hadapannya berubah. Kalimat yang baru saja diucapkan di telinga Kinanti seakan memberi ancaman yang mengerikan. Wajahnya terlihat berbeda, lebih menangkutkan. Seketikan nyali Kinanti menciut, ia tidak sanggup menatap sepasang permata hitam lekat milik pria itu.
__ADS_1
Naresh sedikit kaget melihat gadis yang sekarang berdiri tepat di depanya kini menutup mata. Ada rasa ketakutan yang memancar di wajah manisnya. Ia sedikit mendekatkan wajahnya hingga tersisa jarak beberapa senti saja.
Apakah aku terlalu kasar? Kurasa tidak! Lihat betapa cantiknya dia jika seperti ini.
Suara khas ketika lift sampai di lantai yang dituju berbunyi, pintu lift juga terbuka. Seketika Naresh menjauhkan diri dari Kinanti. Gadis itu kemudian membuka mata, debaran jantungnya berirama tak menentu. Ia sedikit lega karena aksi Naresh berhenti saat itu juga. Sekarang ia berusaha untuk tidak melawan pria yang bersamanya. Naresh mencengkeram tangan Kinanti lagi, tapi kali ini Kinanti tidak memberontak. Ia berjalan menuju Ruang Sakura. Ada sedikit penyesal yang Naresh rasakan. Jika waktu di lift tadi bisa diulang tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Padahal tinggal sedikit lagi aku memberikan tanda di pipinya. Tinggal sedikit lagi. Ah ... ya sudahlah, hari ini adalah hari ketidak -beruntunganku. Mungkin suatu saat aku bisa menandainya.
Naresh dan Kinanti sudah sampai di Ruang Sakura. Mereka disambut hangat oleh seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut warna blonde yang bergelombang menjuntai hingga pundak. Wanita itu bernama Stella, ia tersenyum dan memeluk Naresh. Kinanti dapat menyimpulkan jika Naresh dan wanita yang bernama Stella itu sudah saling kenal.
“Ada perlu apa Tuan Yori datang kemari?” ucap Stella diselingi tawa kecilnya yang unik.
“Percantik gadis ini dari ujung rambut hingga ujung kaki.” Naresh sedikit mendorong Kinanti agar lebih mendekat ke wanita yang bernama Stella.
Wanita berambut blonde itu menyentuh kedua bahu Kinanti, ia mengamati bentuk wajah Kinanti. “Cantik! Apakah dia calon istrimu, Tuan Yori?”
“Bukan!” Kinanti berseru, ia memang bukan calon istri tapi calon sopir.
Naresh hanya tertawa renyah, ia tidak menjawab pertanyaan dari Stella. Ia tahu wanita itu hanya menggodanya, karena dia tahu bawah di umur Naresh ini belum pernah membawa seorang perempuan kecuali sang ratu untuk masuk ke salon ini.
“Oh begitu, kau gadis yang cantik alami hanya butuh sedikit polesan agar aura kecantikanmu keluar. Aku punya solusinya, Sayang.” Stella mengajak Kinanti untuk melakukan serangkaian perawatan kecantikan yang ada.
Kinanti sebenarnya merasa risih dengan yang namanya polesan kosmetik. Bahkan rambutnya diubah total oleh wanita yang bernama Stella ini dibantu rekannya juga. Baginya ini penyiksaan terhadap jiwa maskulin yang bersemayam dalam diri Kinanti. Walau Kinanti harus mengakui bahwa ia memang sangat jarang merawat penampilan. Ia lebih suka tampil apa adanya.
“Kau perempuan yang sangat beruntung bisa dekat dengan tuan Yori,” ucap Stella dikeheningan yang tercipta.
“Maksudnya?” Kinanti tidak mengerti pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh wanita berambut blonde itu.
“Tuan Yori sangat jarang membawa wanita ke sini kecuali nyonya Fernando.”
Nyonya Fernando? Jadi istri atasan kak Naresh sering ke salon ini? Astaga berarti ini adalah salon yang diperuntukan untuk kalangan kelas atas! Pantas saja aku tidak melihat banyak pelanggan seperti salon yang berada di Kawasan Pasar Grosir.
“Begitu?” Kinanti mulai membayangkan kediaman Keluarga Fernando yang pastinya keluarga terpandang.
“Lalu apa hubunganmu dengan tuan Yori?” sekarang wanita berambut blonde itu sedang menata rambut hitam milik Kinanti.
“Tidak ada. Kak Naresh memintaku untuk menjadi pendamping sekaligus sopir untuk sang ratu di Keluarga Fernando.” Kinanti sedikit melirihkan suaranya. Ia takut diledek oleh wanita yang sedang menata rambutnya karena dia hanya diperuntukkan sebagai sopir.
__ADS_1
Tak disangka wanita yang bernama Stella itu sejenak berhenti dari kegiatannya. Ia sedikit kaget mendengar alasan kliennya. “Apakah kamu yakin?” Stella memutar kursi yang diduduki oleh Kinanti. Ia masih tak percaya dengan jawaban gadis itu.
“Iya, saya yakin. Memangnya ada apa dengan keluarga itu?” Pertanyaan dari wanita itu sedikit menyiratkan sesuatu yang belum usai dijelaskan. Kinanti yakin wanita ini mengetahui banyak tentang keluarga terpandang itu.
Stella memutar kembali kursi yang diduduki Kinanti ke posisi semula menghadap cermin. Ia kembali menata rambut gadis itu. “Nyoya Fernando sering bergonta-ganti sopir. Setiap kali datang kemari, pasti dengan pendamping atau sopir yang berbeda. Beliau agaknya suka pilih-pilih mana orang yang tepat untuk berada di dekatnya.”
Kinanti sedikit terguncang mengetahui hal ini dari Stella. “Alasannya apa?”
Stella hanya menggeleng kepalanya tanda tidak tahu. Itu batas pengertahuannya terhadap keluarga kaya dan terpandang yang menjadi klien langganan di salon ini.
Perasaan Kinanti berkecamuk, ada perasaan takut dan ingin kabur saja. Namun ia teringat tentang perjanjiannya dengan pria yang bernama Naresh. Ia tidak mungkin bisa lari. Adapun jawaban yang bisa ia pilih hanya pasrah dan menerima apapun yang akan dilakukan Keluarga Fernando terhadap dirinya.
Wanita berambut blonde itu sekarang memoleskan lagi make up agar gadis yang ia dandani semakin tambah cantik dan memikat. Ia juga memasangkan baju ke tubuh Kinanti sesuai permintaan Naresh. Untuk saat ini Kinanti merasa seperti boneka barbie yang sedang dirias untuk acara persta, dan sejujurnya ia sedikit risih dengan penampilan barunya kali ini.
Sentuhan akhir Stella yaitu sedikit merapatkan kemeja yang dikenakan oleh Kinanti. “Selesai!” wanita berambut blonde itu berseru senang. “Wah, kamu kelihatan makin cantik!”
Stella sedikit menarik tangan Kinanti agar ia melihat pantulan dirinya di cermin yang menampilkan keseluruhan tubuhnya. Ia sedikit tercengang melihat aksesoris yang menempel pada badannya. Belum lagi model bun hair dengan menyisakan beberapa helai anak rambut yang menghias bingkai wajah. Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Ini aku? Apa boleh aku menyebut diriku cantik?
Kinanti masih terkesima dengan semua ini. Wajah yang dulu berminyak dan sering terkena sengatan matahari. Sekarang wajahnya dipoles dengan kosmetik yang beragam warna hingga menjadikan kesan yang cantik.
“Aku yakin, tuan Yori pasti pangling dengan penampilan barumu, Sayang.” Stella tertawa. Ia mengajak Kinanti untuk menemui Naresh.
Di sisi lain, Naresh sudah menamatkan satu novel digital yang ia baca melalui ponselnya. Terbukti benda yang berbentuk kotak itu mampu mengisi waktu yang terbuang jenuh. Sekarang Naresh mengistirahatkan kedua matanya. Ia sedikit memejamkan matanya untuk memberikan efek relaksasi, kemudia dia bernapas dengan perlahan.
Stella yang mengetahui bahwa Naresh duduk menunggu hingga tertidur. Ia yakin sekali pria itu akan kaget sekaligus kagum dengan gadis yang sudah ia sulap. Boom abracadabra. Stella mendekati Naresh, ia berniat untuk membangunkan pria itu dan berbicara lembut didekat telinganya.
“Tuan Yori, pengantin wanitamu sudah siap!”
____________
Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😁
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗
Terima kasih
__ADS_1
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀