
Episode 158: Siapa dalang di balik ini semua?
Selamat Berimajinasi
____________
Kinanti memutuskan untuk membasuh tubuhnya. Semua yang terjadi belakangan ini sungguh di luar akal. Sirena, Naresh bahkan dirinya terjebak dalam satu hal yang memang ada maksud tertentu. Siapa dalang di balik ini semua?
Kinanti merasa semua seperti dikendalikan. Ia yakin pihak itu lebih menyukai jika ada perpecahan di antara dirinya. “Aku butuh satu hal yang bisa membuat aku tenang. Aku juga tak ingin hubungan yang sudah aku bangun hancur sia-sia,” ucapnya lirih.
Setelah selesai membasuh tubuh, Kinanti memutuskan untuk menelepon sahabatnya. Ia yakin Farah bisa membantu keadaan ini. Ia mengambil pnselanya di tas selempang kecil. Mula-mula ia mengirim pesan singkat yang berisi ajakan untuk mengobrol via telepon.
Pesan itu sudah terkirim. Tak butuh waktu lama, ponsel Kinanti berdering. Layar ponsel menampilkan nama ‘Farah’ yang memanggil. Kinanti menjawab panggilan telepon itu.
“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, ada apa Kinan?” Farah yang berbicara di seberang sana.
“Wa’alaikumussalam. Tidak, aku hanya ingin mengobrol dengamu. Apa kabar?” tanya Kinanti.
“Alhamdulillah baik, bagaimana denganmu? Oh ya, kemarin Pak Budi sempat datang ke rumah bersama Reno. Mereka menanyakan kabarmu. Hmmm ... apakah kamu menghubungi Pak Budi akhir-akhir ini?” tanya Farah.
Kinanti sedikit tersentak. Memang benar hampir seminggu ini ia tidak menghubungi ayahnya. Ia rindu pulang, ia rindu Ayah dan juga Reno. “Maaf, aku sedikit sibuk. Tapi akhir pekan nanti aku akan pulang. Nanti aku akan menelepon Ayah,” ujar Kinanti.
“Baiklah jika seperti itu. Sudah hampir empat bulan ini kamu tidak pulang. Aku jadi tak punya teman, Kinan.”
“Sabar, nanti aku juga pulang. Oh ya, apakah aku mengganggumu dan Pak Ilham? Soalnya malam-malam seperti ini aku ingin mengobrol dengamu.” Kinanti sedikit tak enak hati jika ingin menelpon Farah.Terlebih lagi dia sudah menikah, tak etis rasanya.
“Mas Ilham sedang ada di Kota Numa untuk mengurus cafe. Aku tinggal di rumah bersama Bu Tin. Kamu ingin mengobrol tentang apa, Kinan?”
“ Eh? Hemm, aku sedang bertengkar dengan seseorang, Far.”
“Lalu?”
__ADS_1
“Masalahnya cukup rumit. Aku tidak tau harus mulai dari mana. Aku merasa jahat jika selalu berburuk sangka. Tapi jika aku tidak seperti ini aku takut rasa sakit yang luar biasa bisa membuat hidupku berantakan! Kamu tahu maksudku, kan?”
“Oh ... kekasihmu? Pria istimewa yang sering kamu ceritakan? Memangnya kalian sedang bertengkar?” tanya Farah.
Kinanti memang masih merahasiakan Naresh. Ia hanya menceritakan kepada Farah jika dirinya memiliki kekasih dan itu adalah pria yang istimewa. “Iya, aku merasa tidak percaya padanya. Masalahnya terlalu ruwet jika aku ceritakan.”
“Begitu ya?”
“Farah! Kasih saran dong!” Kinanti sedikit sebal, terkadang sahabatnya suka sekali menjawab singkat tanpa saran ataupun solusi.
“Bagaimana caraku memberi saran? Aku saja bingung harus menjawab apa.” Terdengar suara Farah yang tertawa. Jujur Kinanti rindu keriangan sahabatnya itu.
“Aku sederhanakan pertanyaanku. Bagaimana caramu untuk percaya kepada pasangamu?” Kinanti menunggu jawaban dari Farah.
“Hemm, ya saling percaya. Misalnya, aku percaya dengan Mas Ilham bahwa beliau ada di Kota Numa. Selain itu aku juga menjaga komunikasi walaupun hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum? Atau pulangnya kapan? Bagiku seperti itu juga bagian dari komunikasi jarak jauh.”
“Haruskah, Farah?”
Kinanti dan Farah larut dalam percakapan malam. Setidaknya bagi Kinanti dapat berbagi beban rasa bersama sahabatnya sudah lebih dari cukup. Ia senang jika masih ada yang menunggu kedatangannya.
***
Suara ketukan pintu membuat buyar konsentrasi Anneline yang sedang membaca buku di kamarnya. Ia paling tak suka diganggu, apalagi disaat ritualnya dengan berbagai buku fiksi yang bisa membuatnya melayang ke tempat liar tak terbatas. Imajinasi. Seorang maid perempuan datang mendekat lalu memberikan salam untuk Annline.
“Ada apa?”
“Nyonya, ada yang ingin bertemu dengan Anda. Katanya membawa berita tentang Nona Kinanti dan perempuan bernama Sirena,” ucap maid itu.
Seketika Anneline terperanjat. “Suruh masuk!” pintanya tak sabaran.
Seorang supir bernama Dom masuk ke kamar Anneline dan memberi salam. “Selamat malam Nyonya Fernando.”
__ADS_1
“Langsung pada intinya saja! Tidak perlu berbelit-belit.” Anneline memang tidak suka basa-basi. Ia tak suka membuang waktu.
“Nona Kinanti telah bertemu dengan perempuan ja-lang itu, Nyonya. Keduanya dipertemukan oleh Tuan Yori. Tak hanya itu, selama tiga hari ini waktu Sirena telah dibeli. Jadi perempuan ja-lang itu tidak akan menerima jasa lendirnya untuk pria lain. Bahkan Tuan Yori menjanjikan sesuatu padanya. Jika Nona Kinanti menerimanya menjadi maid, otomatis perempuan ja-lang itu akan dibeli ....”
“Apakah dia membocorkan rahasia ini?” Anneline motong ucapan Dom. Ini adalah hal yang menakutkan baginya . Ia tak ingin siapapun termasuk Naresh dan Kinanti tahu bahwa dirinya adalah otak di balik pertengkaran mereka.
“Tidak Nyonya. Mereka hanya berbincang santai walaupun sesekali Nona Kinanti bertanya siapa yang membayarnya untuk berfoto seperti itu. Beruntung perempuan ja-lang itu tidak menjawab yang sebenarnya,” jawab Dom.
“Adakah lagi informasi yang ingin kau berikan?” Darah Anneline serasa mendidih. Ia ingin segera menghabisi Sirena.
“Tidak, Nyonya. Hanya itu yang bisa saya sampaikan.”
Anneline mengambil sebuah amplop coklat dari laci mejanya. Ia melemparnya ke arah Dom dan Dom menangkapnya. “Ini bayaranmu. Jika ada informasi lagi segera beritahu aku.”
“Baik, Nyonya. Saya permisi dulu.” Dom memberikan salam dan langsung keluar dari kamar Anneline. Ia senang menjual berbagai informasi kepada Nyonya Besar itu, karena selalu ada imbalan yang setimpal.
Anneline merasa geram. Ia melempar vas bunga mawar ke tembok membuatnya hancur berkeping-keping. Tak hanya itu ia juga melempar benda-benda yang ada disekitarnya. Ia marah kenapa bisa kecolongan.
“Aku harus membunuh Sirena sebelum Kinanti menjadikanya maid!”
________________________________
Jika kalian berkenan, mampir ke ceritaku yang berjudul THE LAST ROMEO. Novel itu menceritakan perjalanan Devan yang ingin melindungi sang istri yang bernama Ruellia dengan perantara Faresta, pemuda miskin yang tak pernah merasakan gaya hidup mewah. Novel ini tak hanya menceritakan kisah romansa tapi juga misteri di balik kematian Devan.
Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa.
__ADS_1