
Farah bangkit dari duduknya, ia berniat kembali ke kedai untuk meminta bantuan Akmal.
“Farah!" Seseorang memanggil namanya.
Farah semakin takut.
Jantung Farah bertedak lebih kencang dari biasanya.
Farah terkejut dan berteriak. “Aaaakkk!"
“Jangan! jangan ganggu aku!” teriak Farah. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Farah sangat takut.
Seseorang itu mendekati Farah. Ia bingung mengapa Farah takut akan keberadaanya. Kemudian seseorang itu menyentuh pundak Farah.
“Farah! Kenapa kamu teriak-teriak sih?” kata orang itu.
Farah seperti tidak asing dengan suara orang yang memanggil namanya. Ia membuka kedua telapak tangan.
“Astagfirullah Kinan! Kamu mengangetkan aku,” ujar Farah yang sedikit ketakutan ia mengira yang memanggil namanya adalah Ray.
“Kok kamu ketakutan sih? Emang mukaku horor ya?” tanya Kinan bingung.
“Mungkin, malah lebih seram daripada hantu,” jawab Farah. Ia ingin bergurau untuk sedikit meredakan ketegangannya.
“Padahal aku ke sini nyusul kamu, eh giliran dipanggil malah teriak-teriak nggak jelas,” ujar Kinan yang sebal.
“Maaf. Memang ada apa sih Kinan? Ini sudah malam sekali.”
“Sebenarnya, aku ingin mengantar kamu pulang. Tadi aku sempat ke cafe itu untuk menyusulmu,tapi ayah bilang kalau kamu sudah pulang. Lalu ayah menyuruhku mencarimu di halte. Ternyata kamu masih ada di halte ini. aku yakin kalau sedari tadi kamu bosan menunggu bus tapi tak kunjung datangkan? Makanya aku mau nganterin kamu naik itu,” jelas Kinan sambil menunjuk mobil yang terparkir di dekat halte.
Farah memandang mobil yang di tunjuk Kinan.
“Itu mobil siapa Kinan?” tanya Farah.
“Nanti aku ceritakan saat di mobil. Ayo sekarang aku antar pulang.”
“Tidak Kinan, kamu belum punya SIM. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?” tanya Farah meragukan.
Kinan mengambil dompet di slim bag yang ia pakai. Kinan menunjukan sebuah kartu kepada Farah.
“Ini SIM-ku, aku sudah lulus tes mengemudi. Dan sekarang aku bisa mengendarai mobil itu,” ucap Kinan lalu menarik tangan Farah untuk naik ke mobil.
Akhirnya Farah pulang dengan aman bersama Kinan.
“Farah tadi kamu menanyakan ini mobil milik siapa kan? Sebenarnya ini mobil milik pak Ardan, pemilik khursus mengemudi dekat pasar grosir itu. Setelah aku lulus dari tes mengemudi itu dan memiliki SIM, pak Ardan menawariku untuk menjadi driver taxi online. Jadi setelah pulang dari jualan dekat kampus, dari sore hingga malam aku jadi driver taxi online. Lumayanlah buat tambah-tambah penghasilan,” jelas Kinan yang sedang mengemudikan mobil ini.
“Wah Kinan, kamu hebat banget,” ujar Farah yang terkesima dengan apa yang diceritakan oleh Kinan.
“Semua ini berkat kamu Farah. Justru aku ingin berterima kasih padamu Farah, kamu sudah membuat hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya.”
__ADS_1
“Iya Kinan, sama – sama,” Farah senang mendengarnya.
Tak terasa percakapan tadi telah mengiringi mereka berhenti. Kinan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Farah.
“Kamu masih narik penumpang Kinan?” tanya Farah sesaat setelah turun dari mobil.
“Penumpang terakhir itu kamu Farah.” Kinan tertawa.
“Berarti aku harus bayar dong? Berapa?” tanya Farah.
“Tak perlu, anggap saja itu uang penganti saat aku menguntit barang dulu. Sekarang kita impas 'kan?”
Mereka tertawa bersama. Akhirnya Kinan pamit untuk pulang. Farah juga langsung masuk kedalam rumah.
Farah merasa sedikit tenang. Ia mengembuskan nafas lega.
Terima kasih Ya Allah, Engkau telah melindungiku dari orang jahat itu melalui Kinan.
***
Kinan kembali melajukan mobil itu pulang ke rumahnya, ia sudah selesai dengan tugasnya. Ia masih bingung dengan kelakuan Farah tadi.
“Mengapa Farah begitu ketakutan saat di halte. Wajahnya juga pucat sekali seperti melihat hantu. Tak biasanya Farah seperti ini? Tadi juga dia bilang ‘Jangan! Jangan ganggu Aku’!” Kinan beradu dengan pikiranya tentang kejadian di halte tadi.
Ayahnya pulang, namun Kinan tidak menyadarinya. Sang ayah merasa janggal, mengapa Kinan yang biasanya menyambut kepulangannya malah melamun seperti memikirkan sesuatu.
“Wa’alaikumussalam, Ayah! Ayah sudah pulang?” tanya Kinan bingung, ia tak sadar syahnya sudah masuk ke dalam rumah bahkan sudah melepas baju satpam kebesarannya.
“Ayah perhatikan, kok Kinan melamun, sedang memikirkan apa? jangan pikir hutangnya ayah itu urusannya Ayah,” ujar sang Ayah.
“Tidak Yah, tadi Kinan mengantar Farah pulang. Tadi wajahnya pucat sekali.”
“Mungkin mbak Farah lagi sakit.”
“Tidak Yah, sorot matanya mengatakan kalau dia ketakutan setengah mati.”
***
Insiden Ray yang menawarkan minuman kepada Farah kemarin malam di lantai dua ramai, jadi perbincangan oleh semua karyawan dan karyawati kedai. Berita itu sampai ke telinga Akmal.
Akmal tidak percaya dengan hal itu lalu meminta penjelasan kepada salah satu barista dan mengecek CCTV yang berada di lantai dua.
Memang benar, desas-desus tentang Ray dan Farah benar adanya. Diantara semua karyawan dan karyawati kedai hanya Akmal dan pak Budi yang mengetahui kalau Farah adalah istri dari bosnya.
Ketika Farah datang ke kedai banyak pelayan wanita yang tidak suka kepadanya, setelah mengetahui kalau Ray pemilik perusahaan konstruksi lebih mengejar Farah di banding diri mereka sendiri.
“Gayanya sok alim tapi kelakuannya minus! Gak malu tuh sama jilbabmu yang panjang itu!” ujar salah satu karyawan kedai saat Farah bekerja membersihkan meja di lantai empat.
“Iya benar, munafik dia. Di sini pakaiannya serba tertutup tapi hatinya busuk!” timpal karyawan lainnya.
__ADS_1
Farah mendengar hinaan itu. Ia tetap tak menggubrisnya. Toh Farah tidak minta makan kepada mereka, jadi buat apa harus di risaukan.
Farah tetap bekerja seperti biasanya. Kian lama mereka kian menjadi-jadi, tak cukup yang menghina bahkan menjelekan Farah. Mereka yang iri karena Ray lebih memilih Farah, tega melakukan tindakan yang lebih mengerikan ketimbang hinaan yang keluar dari lisan mereka.
Mereka berani untuk mengacaukan apa yang yang sudah di bersihkan Farah. Lebih mengerikan lagi ada yang berani menguncinya di toilet lantai empat saat Farah membersihkan lantai itu. Beruntung Akmal yang tahu, jadi semua karyawan tidak ada yang mengakui siapa yang mengunci Farah di toilet itu.
Farah ingin berbicara kepada Akmal. Ia meminta Akmal untuk berbicara di tempat yang tidak ada CCTV-nya. Di seluruh kedai hanya toilet, ruangan operasional CCTV dan ruangan milik Ilham yang berada di lantai lima.
Akmal mengajak Farah untuk berbicara di ruangan operasional CCTV di lantai lima. Akmal menutup pintu ruangan itu dan menguncinya agar tidak ada yang mendengarkan percakapan mereka.
“Mbak Farah, apa benar gosip yang tersebar di cafe ini? Anda ada hubungan spesial dengan pak Ray?” tanya Akmal.
Farah menggeleng, di wajahnya masih tersisa tangisan. Farah sedari tadi menangis di toilet karena pintu toilet di kunci oleh salah satu karyawan kedai.
“Pak Ilham harus tahu soal ini,” ucap Akmal.
Farah menangis memohon agar Ilham tak perlu mengetahui insden ini.
“Aku mohon Kak, jangan beritahu mas Ilham.Rumah tanggaku sudah banyak menciptakan jarak. Aku mohon jangan beritahu Ilham tentang masalah ini,” tangis Farah.
“Biar bagaimanapun pak Ilham adalah suami Anda.”
“Aku mohon Kak Akmal, aku memohon sebagai istri bosmu, jangan lakukan ini. Aku takut mas Ilham akan semakin membenciku. Aku mohon dengan sangat,” kata Farah sambil bersimpuh di kaki Akmal sambil memohon.
Mengapa pak Ray sampai melakukan hal ini, apa mungkin dia terobsesi dengan mbak Farah?
“Aku mohon, agar semua karyawan di kedai ini untuk menghilangkan desas-desus ini. Aku mohon, aku tak tahan jika harus diperlakukan sedemikian rupa,” pinta Farah lagi.
“Untuk kali ini saja, saya membantu Mbak Farah, saya bisa membungkam semua mulut mereka. Dan untuk insiden pak Ray, biar saya yang mengurusnya.”
Mendengar hal itu Farah sangat berterima kasih kepada Akmal. Ia tak ingin suaminya tahu kalau ada laki-laki lain yang berusaha mendekatinya. Itu akan membuatnya semakin benci atau bahkan Farah bisa di marahi habis-habisan.
Farah tidak ingin menganggu pekerjaan Ilham. Dia tak perlu tahu soal insiden ini. Akhirnya Farah bisa bernafas lega.
“Kak Akmal, besok hari minggu, saya ingin meminta jatah libur saya?”
“Maaf peraturannya hanya Mbak Farah yang tidak boleh mengajukan libur di hari minggu.” Akmal menjawab tegas.
“Aku mohon, hanya itu saja permintaan terakhirku. Aku janji tidak akan meminta hari libur lagi. Aku hanya ingin di rumah. Aku lelah dengan hari ini.”
“Bagaimana jika saya yang dimarahi oleh pak Ilham? saya tidak mau dipecat hanya gara-gara jatah hari libur.”
“Akan aku pastikan Kak Akmal tetap di sini.”
Farah tahu besok Ilham tidak di rumah, dan bu Tin sudah izin dari jauh-jauh hari karena anak bu Tin akan menikah. Tak tanggung-tanggung bu Tin minta 21 hari untuk cuti. Dan Ilham mengizinkannya.
Farah sudah ketakutan karena kehadiran Ray, ditambah perundungan yang dilakukan oleh karyawan di kedai ini. Membuat dia ingin mengistirahatkan hatinya sebentar saja.
Hari itu Akmal mengizinkan Farah untuk pulang lebih awal. Ia pulang menjelang sore. Akmal juga sudah mengirimkan pesan broadcast kepada semua karyawan di kedai agar tidak menyebarkan insiden Ray kemarin malam. Tak cukup sampai di situ, Akmal mengancam jika tak mau tutup mulut atas kejadian kemarin, maka gaji bulan ini akan di potong.
__ADS_1