
Farah mencuci tangannya dan membetulkan sedikit kerudung yang dipakainya di dalam toilet. Ia melihat penampilannya dipantulan cermin toilet kedai itu. Saat itu toilet sangat sepi, mungkin hanya ia yang berada di toilet itu.
Kemudian masuk seorang perempuan, membawa ember yang berisi peralatan kebersihan. Perempuan itu memakai masker. Jika dilihat baju yang dia kenakan seragam seperti karyawan – karyawati di kedai ini. Farah memperhatikan perempuan itu.
“Permisi Mbak, maaf saya akan membersihkan toilet ini,” ucapnya sopan.
Farah mengangguk. Farah merasa jika tubuh perempuan itu sedikit besar di bagian perut.
Apakah perempuan itu sedang hamil?
Benar saja, sesaat sebelum Farah keluar dari toilet, perempuan itu terpeleset jatuh tersungkur.
“Aaaaaaaaakhh ...!” perempuan itu menjerit kesakitan.
Farah tergopoh-gopoh membantunya. Ternyata tenaga Farah tidak kuat untuk mengangkat perempuan yang sedang hamil itu. Langsung saja Farah berteriak meminta bantuan orang lain yang berada di sekitar toilet lantai empat.
Akmal yang mendengar teriakan wanita di toilet langsung memeriksa bersama beberapa karyawan dan beberapa pengunjung yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Akmal bersama dua karyawan mengendong perempuan yang sedang hamil itu. Mereka mendudukannya di kursi setelah keluar dari toilet itu.
Kondisi perempuan itu pucat pasi, gemetar, dan sedikit ketakutan dilihat dari raut wajahnya.
Ilham yang mengetahui keribuatan itu menyuruh karyawati itu beristirahat di tempat tidur yang berada di lantai lima, agar para pelanggan yang ‘penasaran’ tidak berkerumun di dekat toilet. Dirasa kuat, perempuan yang hamil tadi menggunakan lift untuk naik ke lantai lima.
Perempuan hamil itu diistirahatkan disalah satu ruangan di dekat ruang operasional CCTV kedai itu. Ruangan ini mirip kamar kost, banyak kasur, mungkin ini termasuk mess untuk para karyawan yang bekerja di kedai ini.
Beruntung perempuan hamil itu tidak mengalami pendarahan dan perutnya tidak terbentur saat jatuh. Farah melihat perempuan yang sedang hamil itu dengan tatapan iba. Ia memikirkan janin yang berada di rahim perempuan itu. Sementara itu Ilham dan Akmal masuk ke ruangan Ilham.
“Mengapa, kamu menerima dia sebagai karyawati kedai ini Akmal!” Bentak Ilham marah pada Akmal.
“Maaf Pak, saya sungguh minta maaf,” jawab Akmal tidak melawan.
“Dia tengah hamil, sangat beresiko mengalami kecelakaan kerja!”
“Maaf Pak, saya merasa kasihan karena Rahma membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi dirinya,” jawab Akmal.
“Aku tak peduli tentang hal itu!” balas Ilham tak kalah berang.
__ADS_1
Farah mendengar bentakan Ilham. Farah tahu bahwa Ilham marah besar. Ditambah banyak masalah yang membelenggunya akhir-akhir ini, membuat emosi Ilham cepat keluar. Farah pergi menuju ruangan Ilham sebelum Ilham benar-benar lepas kendali.
“Permisi,” kata Farah saat memasuki ruangan Ilham.
“AKU TAK PEDULI, SEGERA PECAT DIA!” bentak Ilham pada Akmal.
Akmal mengangguk berat. “Baik Pak.”
Tak diduga perempuan hamil itu mendengarkan semua percakapan Ilham dan Akmal. Dia langsung masuk ke ruangan Ilham tanpa permisi lalu bersimpuh di kaki Ilham. Perempuan hamil itu memohon agar dirinya tidak dipecat dari pekerjaanya.
“Saya mohon Pak Ilham, jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya mohon pak,” perempuan itu terisak, bersimpuh di kaki Ilham.
“Saya berjanji agar tidak lagi membuat kesalahan. Saya mohon jangan pecat saya Pak,” lanjut perempuan itu.
Farah melihat semua itu hatinya teriris.
“Mas, aku mohon beri karyawati ini kesempatan.” Farah memohon.
“Tidak! Jangan buat aku tambah marah padamu!” bentak Ilham.
“Tapi Mas, tolong beri dia satu kesempatan saja.” Farah memohon dengan sungguh-sungguh.
Perempuan hamil itu menangis kencang dan dia diseret oleh Akmal untuk keluar ruangan ini. Farah tak tahan dengan sikap suaminya yang tidak punya empati sama sekali.
“Jangan pecat dia!” Farah mengeraskan suaranya membuat Akmal berhenti menyeret perempuan hamil itu.
“Aku yang akan menggantikan perempuan itu untuk bekerja di kedaimu. Aku akan bekerja sesuai dengan pekerjaanya,” tawar Farah.
Tawaran Farah membuat Ilham makin marah. Ilham semakin stres karena banyak masalah yang harus diselesaikannya. Ilham menarik nafas panjang menenangkan pikiranya yang kacau balau.
Mengapa gadis ini melakukan tindakan bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri!
“Oke jika itu pilihanmu. Kamu akan bekerja mulai besok! Sekarang kamu dan perempuan itu harus pergi dari ruangku! Aku muak dengan tangisan kalian!” bentak Ilham.
Farah mengambil tasnya dan memapah perempuan yang sedang hamil itu untuk keluar dari ruangan ini. Menyisakan Ilham dan Akmal yang masih terpaku di tempatnya.
Farah mengajak perempuan yang hamil itu untuk keluar dari kedai dan mencari tempat duduk untuk mengobrol di samping kedai itu.
__ADS_1
“Perkenalkan nama saya Farah.” Farah membuka perbincangan.
“Nama saya Rahma Mbak,” katanya. Dia terlihat sedikit cemas atas peristiwa tadi.
“Maaf, mengapa Mbak Rahma membutuhkan pekerjaan ini? Bukankah seharusnya Mbak Rahma di rumah? Kemana suami Mbak?” tanya Farah.
Perempuan hamil itu menggelengkan kepala saat Farah menanyakan perihal suaminya.
“Saya belum menikah Mbak Farah,” jawab perempuan hamil itu.
***
“Akmal, tolong buat list pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Farah. Dalam seminggu berikan waktu 6 hari bekerja dan satu hari libur, dan untuk hari libur pastikan dia tidak libur di hari minggu. Jika dia bekerja full seminggu tolong anggap saja dia mengambil jam lembur. Untuk jam bekerjanya yaitu mulai jam enam pagi sampai jam sembilan malam. Tak perlu sampai larut.”
“Baik Pak. Ada lagi?” tanya Akmal.
“Oh ya, beri dia seragam dengan model lengan panjang dan harus menggunakan rok panjang hitam. untuk kerudungnya pilihkan dengan ukuran yang lebih panjang dari biasanya. Untuk dia tak perlu memakai celana panjang seperti karyawati lainnya. Sudah itu saja,” jawab Ilham.
“Maaf Pak, apa tidak apa-apa kalau mbak Farah bekerja sebagai tukang bersih -bersih di kedai milik Bapak sendiri?” tanya Akmal hati-hati.
“Rahasiakan ini untuk semua karyawan dan karyawati di kedai. Sejujurnya dia bukan adik saya, melainkan dia istri sah saya.”
Akmal tersentak, ternyata bosnya sudah menikah tapi kapan? Wajah Akmal seakan-akan mengekspresikan sejak kapan pak Ilham menikah.
“Iya, saya sudah menikah satu bulan yang lalu. Memang saya menikah tidak dibesar-besarkan. Jadi saya mohon kamu paham dan tolong tutup mulut,” kata Ilham.
Akmal mengangguk. Ia memohon diri untuk kembali ke ruanganya yang berada di lantai empat, untuk mengerjakan tugas dari Ilham.
Ruangan Ilham kembali sunyi. Ilham memandang sebuah patung kecil sepasang angsa yang kepalanya menyatu membentuk hati.
“Mengapa Farah tidak seperti dirimu? Aku tahu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Perempuan yang berada di sampingku kini bukan dirimu, pantaskah Aku membuatnya agar sama seperti dirimu? Aku sudah mengubah penampilanya agar sama sepertimu, namun sayang, peragainya tidak sama sepertimu. Dia terlalu lembut untuk bertindak sesuatu. Terlalu lemah untuk perasaanya, tidak sama sepertimu Ann, gadis luar biasa hebat yang tak ada duanya di dunia ini,” guman Ilham.
“Kau tahu, aku belum bisa menerima Farah seutuhnya. Dia sangat berbeda denganmu Ann. Dia bodoh sudah mengorbankan waktunya untuk orang yang bahkan tidak dikenalnya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Dia terlalu lemah untuk berada di sampingku. Kau tahu Ann, posisimu tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kamu gadis pemberani yang hebat yang pernah aku kenal.”
***
Akmal memberikan list pekerjaan yang harus dikerjakan Farah esok hari. Ditambah ada dua setel seragam untuk Farah. Akmal berpesan agar Farah hanya boleh memakai bawahan rok hitam, tidak boleh memakai celana.
__ADS_1
Farah menerimanya. Sebenarnya Farah senang bisa menemani Ilham bekerja di kedainya. Farah sudah menyiapkan akan membawa bekal makan siang untuk suami tercinta setiap hari. Farah berpikir Ilham akan mulai mencintainya jika setiap hari bertemu.
Walaupun Farah tinggal di rumah Ilham, tak setiap waktu bisa bercengkrama apalagi bertemu selintas pandang di rumah. Moment yang sangat langka. Bagaimana tidak? Semenjak Farah diboyong ke rumah itu. Ilham menjadi orang yang sangat sibuk. Ilham berangkat bekerja jam tujuh pagi dan pulang larut. Terkadang tidak pulang sama sekali. Farah pernah menungguinya sampai pagi namun dia tidak pulang. Ditambah dengan kondisi pisah kamar yang membuat intensitas bertemu sangat sedikit.