
Episode 214: Pertaruhan Harga Diri
Karin yang diliputi rasa sebal plus penasaran, akhirnya nekat mengikuti ketiga pria itu. Karin bahkan rela harus melepaskan sepatu high heels-nya agar lebih mudah bergerak ataupun berlari jika diperlukan. Diam-diam ia mengintip apa yang dilakukan ketiga pria itu di belakang gedung ICU.
Ray berhasil menggiring dua pria untuk mengikuti langkah kakinya. Hari ini sebuah keputusan terbesar dalam hidupnya. Ilham, Naresh dan Ray berada di belakang gedung ICU. Naresh tahu keinginan pria berumur sama dengannya. Ray kan menepati janjinya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Ray?” Ilham masih dengan nada yang sengit. Terlihat sekali ia masih meredam marahnya.
Tanpa banyak bicara Ray langsung berlutut di hadapan Ilham hingga membuatnya terhenyak dan mundur satu langkah.
“Apa yang ingin kamu lakukan Ray?”
“Aku yang bersalah di sini. Aku yang mengundang Anneline untuk datang ke Milepolis. Dan aku juga bekerja sama untuk memisahkan kamu dan Farah. Hari ini aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanmu. Aku juga meminta agar Anneline jangan dituntut. Kasihanilah Anne, dia tak sepenuhnya salah. Farah itu perempuan baik hati, aku yakin dia pasti memaafkan Anneline. Sebagai gantinya, aku akan bersujud di hadapanmu. Mulai detik ini, aku akan menjauhi kehidupan kalian. Aku tidak lagi mengusik hubungan kalian.”
Ray bersujud di hadapan Ilham. Ia tak peduli jika tempat itu kotor penuh debu. Yang jelas, pemintaannya tidak main-main. Ini pertaruhan harga diri seorang laki-laki.
Naresh menatap Ray iba. Ia salah menilai pria itu, pria yang selalu menghalalkan cara untuk dapat memenuhi keinginannya. Tapi, hari ini dia sedang mengakui kesalahannya.
__ADS_1
“Bangun Ray! Bangun! Jangan bersujud seperti ini!” Ilham memengan bahu Ray. Biar semarah apapun dia pada pria itu, tetap saja Ilham tidak tega melihat manusia bersujud di hadapannya. Ia bukan Tuhan, tapi hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan tak pantas diperlakukan seperti itu.
Ray bangun ketika Ilham memaksa untuk berhenti melakukan kegilaan ini. “Apakah kamu mau mengabulkan permintaanku, jangan jebloskan Anneline ke penjara. Biarkan hukum di Kota Zen yang berjalan.”
Ilham menarik napasnya. Satu anggukan yang mahal membuat Ray lansung memeluknya. Itu berarti perjanjian sudah dimulai. Ray harus mematuhi apa yang sudah ia katakan. Ilham juga harus memenuhi keinginan Ray.
Karin yang mengintip sedari tadi tercengang dengan apa yang dilakukan bosnya. Hari ini Rayhan Wijaya melepaskan harga dirinya untuk perempuan ular itu. Karin merasa kasihan dengan pria yang sudah memberikan kehidupan yang layak untuknya. “Dua wanita sudah membuatmu jadi seperti ini, Pak,” ucapnya lirih.
Menyadari ketiga pria itu akan kembali, Karin berlari. Ia tak peduli dengan kakinya yang beberapa kali menginjak bebatuan, yang penting dia harus segera sampai di tempat semula. Benar, beberapa menit kemudian ketiga pria itu kembali. Karin hanya menatap sebal, walaupun kakinya terasa panas dan sakit akibat aksinya yang mengintip. Ia harus memakai sepatunya.
“Baik, Pak.” Karin akhirnya bangkit. Ia harus menahan rasa sakit di kakinya. Ia yakin kakinya sudah lecet.
“Kau tak ingin menjenguk Anneline? Dia masih tak sadarkan diri,” ujar Naresh. Ia yakin di sudut hati kecil Ray ingin sekali melihatnya barang sebentar.
“Iya, aku ingin menjenguknya.” Ray mengalihkan pandangannya kepada Karin. “Kita kesana dulu, ya?”
Karin mengangguk. Ia yakin bosnya sedang terguncang. Tapi ia memilih diam. Nanti ada waktunya untuk menumpahkan semua itu.
__ADS_1
Naresh berjalan lebih dulu. Ray dan Karin mengikutinya di belakang. Ilham akhirnya harus pasrah. Kini hatiya sedang diliputi rasa bimbang. Ia memilih untuk kembali menunggui Farah yang masih tertidur.
“Farah, apakah yang kulakukan ini sudah benar? Aku tidak menuntuk Ann, akan tetapi sebagai gantinya Ray tidak akan mengusik kehidupan kita. Apakah tindakanku sudah benar?”
Sayangnya, Farah tidak menjawab. Ia masih tenang dalam tidurnya. Entah sampai kapan.
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1