Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
10|Permulaan Baru


__ADS_3

~Amarilis~


Papa tersenyum tipis ketika melepas aku pergi. Mama menangis tersedu-sedu membuat aku terkejut. Aku pikir dia akan bahagia mengantarkan kepergianku. Ternyata dia masih sayang kepada Amarilis, maksudku, aku. Dia bahkan menyisipkan sesuatu di tas ranselku saat memeluk aku.


Aku yang biasanya tegar, menangis di ruang tunggu melihat isi dalam amplop pemberian mama Amarilis. Tidak. Dia sudah bukan orang asing lagi bagiku. Dia adalah mamaku yang sebenarnya. Aku sudah berjanji untuk belajar menerima jalan hidupku yang baru.


Uang pemberiannya akan aku pergunakan sebaik mungkin. Setiap pesernya adalah keringat yang dia cucurkan dalam berjualan. Bangun dini hari untuk memasak, lalu berbelanja lagi untuk keperluan berdagang keesokan harinya. Aku tidak bisa lagi berfoya-foya seperti dahulu.


“Tujuannya ke mana, Bu?” tanya pria yang berada di belakang setir ketika aku sudah duduk dengan nyaman di jok belakang. Aku menjawab dan sopir itu pun mengemudikan taksinya.


Aku tahu ini tidak murah, tetapi akan lebih merepotkan jika aku naik turun bus dan angkutan kota menuju tempat tinggal baruku. Aku tidak pernah melakukan itu selama hidupku. Bahkan di Medan, aku pergi ke mana pun dengan sepeda, demi menghemat pengeluaran.


Kamar sewa di mana aku akan tinggal sampai tamat nanti cukup nyaman. Penghuni lainnya sangat tenang, aku tidak mendengar bunyi atau suara apa pun dari kamar terdekat. Tempat tidur, lemari, meja, dan kursinya dalam kondisi baik.


“Jika butuh sesuatu, saya tinggal di bawah. Jangan segan untuk melaporkan apa pun yang membuat kamu tidak nyaman,” kata wanita pemilik kamar itu dengan ramah.


“Baik, Bu. Terima kasih.” Aku tersenyum kepadanya. Dia mengangguk, lalu menutup pintu. Akhirnya, aku bisa sendirian juga. Perjalanan hari ini benar-benar melelahkan.


Aku hanya berniat untuk berbaring sejenak malah ketiduran. Aku terbangun karena kelaparan. Ingin memeriksa lokasi di sekitar tempat itu, aku keluar seorang diri. Ternyata ada banyak sekali warung yang buka dengan berbagai menu masakan.


Setelah menikmati sepiring nasi goreng yang dijual menggunakan gerobak, aku berjalan kaki sejenak. Oke. Aku sudah tahu di mana warung makanan, warung untuk membeli kebutuhan sehari-hari, juga halte untuk pergi ke kampus.


Orang-orang melihat ke arahku sudah bukan hal yang baru lagi. Namun cara mereka memandang tidak sama seperti pada diriku dahulu. Mereka mengagumi Katelia yang cantik dan ramping, tetapi mereka menghina aku yang kini jelek dan gendut sambil berbisik-bisik kepada orang di sebelahnya.


“Wah, lihat siapa ini!” seru seseorang dari arah belakangku. Aku memejamkan mata sejenak, tidak menduga dia akan ada di kampus ini. “Amarilis bodoh, lambat, dan gendut ini bisa masuk kampus kita. Apa aku tidak salah lihat??”


“Dia pasti pakai joki. Tidak mungkin dia bisa masuk ke sini dengan kemampuannya sendiri,” kata Rahma yang mengikuti Chika berdiri di depanku.


“Sebaiknya kamu datang pada saat ospek atau kamu akan menyesal seumur hidupmu,” ancam Chika yang sudah terlalu sering aku dengar.

__ADS_1


Tidak mau ribut dengan mereka dan aku yakin mereka juga sependapat, aku memilih jalan lain dan keluar dari tempat pemeriksaan kesehatan itu. Dugaanku benar, karena mereka tidak menghalangi aku pergi. Bagaimana mereka bisa ada di kampus ini juga? Padahal mereka tidak berencana untuk mengambil jurusan ini. Aku benar-benar sial.


Aku menghindari tanggal kedatangan ke kampus yang tidak dijadwalkan oleh pihak universitas. Lebih baik aku tidak dikenal oleh siapa pun atau dibenci semua orang daripada membiarkan masa orientasi itu sebagai ajang sah senior mengerjai juniornya. Aku bisa mati dirundung ketiga gadis bengis itu.


Hidup ini memang lucu. Mereka yang dahulu sahabat baikku, menjadi musuh bebuyutanku sekarang. Keluarga menjadi orang asing, sedangkan orang yang tidak dikenal menjadi keluarga. Namun aku tidak punya waktu untuk berteman, jadi aku harus fokus pada tujuanku semula. Kuliah dengan baik.


“Oh, kebetulan sekali!” ucap perempuan yang menjadi tetangga kamarku. Dia memasuki kamarnya, lalu memberikan selembar kertas kepadaku. “Ada satu murid yang terpaksa aku tolak, karena jadwal mengajarku sudah penuh. Ini nama mamanya dan nomor teleponnya.”


“Terima kasih banyak,” ucapku senang.


“Sama-sama. Aku jarang ada di kamar karena harus kuliah sambil bekerja. Jadi, jangan anggap aku sombong, ya. Kalau aku ada waktu seperti sekarang, kita bisa mengobrol sejenak,” katanya dengan ramah. “Berhubung aku masih ada tugas, aku tidak bisa bersantai.”


“Kalau begitu, jangan anggap aku sombong juga. Aku akan menggunakan seluruh waktu luangku untuk bekerja,” kataku tidak mau kalah. Kami tertawa bersama.


Aku menelepon nomor tersebut dan seorang wanita yang terdengar ramah menjawabnya. Dia senang sekali ketika aku menyebut nama perempuan yang memberikan nomornya kepadaku. Dia meminta aku untuk datang secepatnya ke rumahnya.


“Hei, selamat datang. Terima kasih mau memenuhi permintaanku. Ayo, masuk, masuk!” sapa wanita yang tidak aku duga masih sangat muda. Bagaimana bisa pada usia ini dia sudah punya anak laki-laki yang duduk di kelas dua SMU?


“Matt! Cepat turun! Gurumu sudah datang!” panggilnya dengan suara keras, mengejutkan aku. Dia menoleh ke arahku lagi dengan senyum malu-malu. “Maaf, punya dua anak laki-laki memang harus begini. Aku tidak boleh bersikap lemah.”


“Ah, iya, Tante,” ucapku mengerti. Mama punya dua anak laki-laki, jadi aku sudah biasa mendengar teriakan seperti itu. Apalagi kedua kakakku usilnya minta ampun saat masih kecil.


“Apa ini? Apa Mama tidak salah memilih? Cewek gendut dan jelek begini yang jadi guru privat gue?” kata seorang pemuda yang sangat tampan dengan wajah murung. “Aduh!” Mamanya memukul kepalanya dengan keras begitu mereka dekat.


“Bukan begitu cara menyapa gurumu,” kata wanita itu dengan gigi rapat, menahan amarah. “Nah, ini Mattheo, putraku yang akan menjadi muridmu. Jika dia memberi kamu kesulitan, katakan kepadaku, biar aku yang beri dia pelajaran. Dua guru yang sebelumnya kabur karena tidak tahan.”


“Ah, iya, Tante.” Dia tidak perlu khawatirkan itu. Aku tahu bagaimana memberi pelajaran kalau dia berani macam-macam nanti.


Menghadapi Hercules selama empat belas bulan, ternyata ada gunanya juga. Aku bisa membaca kalau pemuda ini mencoba macam-macam denganku. Jika aku beruntung, aku bisa saja mencegah dia mempermainkan aku. Dia tidak akan berhasil membuat aku kehilangan pekerjaan bagus ini.

__ADS_1


Dilihat dari besarnya rumah mereka, aku yakin wanita ini tidak akan memberi kurang dari seratus ribu setiap harinya. Itu jumlah yang besar untuk biaya les privat. Aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan informasi mengenai mereka dari teman satu indekosku.


“Mari, aku akan tunjukkan tempat di mana kalian akan belajar.” Dia menggandeng tanganku dan membawa aku mendekati sebuah pintu. Wanita ini benar-benar baik. Sikapnya kepadaku berbeda sekali dengan putranya itu.


Aku menatap kagum ke sekelilingku. Ruangan itu memiliki tiga sisi dinding yang dipenuhi dengan buku. Satu sisi dinding lainnya ada jendela besar dengan satu set sofa di dekatnya beserta meja. Tempat yang cocok untukku duduk menunggu Mattheo menyelesaikan tugas.


Ada meja kerja dari kayu yang kokoh dengan bingkai foto, kalender meja, lampu meja, dan tabung berisi berbagai alat menulis di seberangnya. Dia bisa belajar di tempat itu. Lantainya dialasi karpet sehingga langkah kami tidak berisik.


“Kalian bisa gunakan tempat ini untuk belajar. Mattheo akan mengikuti les musik sepulang sekolah, jadi dia hanya bisa belajar denganmu setiap hari Senin sampai Jumat. Sekitar pukul enam sore sampai delapan malam, kamu bisa?” tanyanya penuh harap.


“Tentu saja, Tante.” Aku mengangguk senang.


Kalau begitu, aku bisa menggunakan akhir pekanku untuk mengamen. Masalah pertama adalah menemukan tempat yang tidak dikuasai oleh preman. Jika beruntung, aku bisa saja diminta pemilik rumah makan untuk bermain di tempat usahanya.


Setelah mendiskusikan gajiku yang akan diberi secara harian, aku pun pamit. Jumlahnya cukup untuk membayar ongkos pulang pergi, dan masih ada sisanya. Aku harus membeli sepeda agar tidak perlu menggunakan angkutan kota. Jarak rumah ini dengan kampus tidak jauh.


“Nah, sampai bertemu besok.” Wanita itu menjabat tanganku. “Jangan khawatirkan tentang makan malam. Kamu akan makan di sini bersama putraku.”


“Tapi, Tante—” kataku segan.


Dia sudah memberi aku gaji yang besar, masa aku juga makan malam gratis di rumah mereka? Itu lebih dari yang aku perhitungkan. Aku tidak secerdas itu sehingga dia membayar jasaku begitu mahal. Aku hanya lulusan SMU dan nilaiku juga pas-pasan.


“Tidak ada tapi. Kamu mau menjadi guru privat anakku saja, aku sudah senang,” potongnya.


Apa putranya sesulit itu diajar sampai dia memanjakan aku begini? Dia tadi bilang ada dua guru yang kabur sebelum aku karena tidak tahan. Memangnya keusilan apa yang sanggup dilakukan pemuda itu kepada mereka? Aku jadi penasaran.


Seorang pria berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu depan. Dia pasti akan membukakan pintu untuk kami. Namun dia tidak menunggu sampai kami dekat dan membukanya. Ternyata ada seseorang yang datang dan berjalan melewati pintu itu. Aku bertemu pandang dengan orang yang aku kenal.


Dia melihat aku sesaat, lalu ke arah wanita yang berdiri di sisiku. Dia kembali menoleh kepadaku. “Amarilis? Apa yang lo lakukan di sini?”

__ADS_1


__ADS_2