
Tidak Kakak, tidak cowok menjengkelkan itu, mereka sama-sama membuat aku susah. Aku kesulitan konsentrasi mengikuti perkuliahan gara-gara ucapannya tadi di koridor. Melindungi aku dari diriku sendiri. Mengapa mereka berpikir aku akan mengakhiri hidupku hanya karena sedikit menderita?
Sejauh ini, semua rencanaku berjalan dengan lancar. Aku masih bisa kuliah, nilaiku sempurna, dan pekerjaanku lumayan menghasilkan. Jadi, mengapa mereka berpikir aku perlu dilindungi segala? Chika, Rahma, dan Nisa tidak akan mengganggu aku lagi setelah tahu rahasiaku, jadi aku aman.
“Misalnya saja, Amarilis,” kata dosen yang sedang mengajar. Ada apa mendadak namaku disebut? “Kalian pasti tidak menduga bahwa dia adalah mahasiswa yang cemerlang. Karena penampilannya menipu, bukan hanya kalian, tetapi saya juga. Nah, begitu juga dalam—”
Ooo. Dia sedang menjadikan aku sebagai contoh dalam topik yang sedang dia ajarkan. Mengagetkan saja. Oke. Aku harus konsentrasi. Singkirkan semua hal yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah hari ini, termasuk cowok menjengkelkan itu.
Sayangnya, aku tidak bisa menghindari dia menjelang makan siang. Dia sudah berdiri di dekat pintu ruang kuliahku saat aku keluar. Mau pergi, dia menggandeng tanganku, tidak peduli dengan tatapan penasaran semua mahasiswa yang ada di koridor itu sampai tempat parkir.
“Kamu bilang kita backstreet. Kalau begini, bukan rahasia lagi namanya,” kataku dengan ketus.
“Mereka hanya menebak-nebak,” tuturnya dengan santai. “Gue enggak akan mengumumkan kepada siapa pun mengenai hubungan kita. Lo tenang saja. Bukankah lo suka dengan semua perhatian itu?”
Gila. Bagaimana dia bisa tahu tentang apa yang aku suka? Apa dia selama ini mengamati aku di sekolah? Itukah tujuannya datang ke Medan dan tidak memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Katelia? Apa dia memata-matai aku untuk menilai aku pantas atau tidak menjadi istrinya?
“Benar,” jawabnya ketika aku bertanya.
Dia memilih tempat makan yang tidak ramai pada jam makan siang, jadi aku memanfaatkan suasana itu untuk membahas hal yang pribadi. Aku tidak suka menyimpan rasa penasaran terlalu lama. Jadi, aku memutuskan untuk membahas hal yang mengganjal di hatiku.
“Kamu pasti menyimpulkan Katelia tidak cocok menjadi istrimu,” tebakku. Intensitas pertengkaran kami selama sekolah adalah bukti kami punya prinsip yang berbeda. Namun bukan hanya dia, aku yakin pemuda dari keluarga baik-baik lainnya tidak akan suka dengan calon istri tukang rundung.
“Benar,” jawabnya singkat.
“Lalu untuk apa kamu dekati aku sekarang? Lebih baik kamu menggunakan waktumu untuk mencari orang yang tepat,” kataku heran. “Kamu tahu sendiri, kita tidak akan bisa bersama.”
“Gue penasaran.”
“Apa?”
Dia memandang wajahku. “Gue mau tahu bagaimana rasanya kalau kita benar-benar jalin hubungan sebelum pertunangan kita resmi diumumkan.”
__ADS_1
Sore itu, aku datang ke rumahnya untuk mengajar adiknya. Aku tidak melihat dia di mana pun, hanya Tante Ruth yang menyambut aku seperti biasanya. Matt masih datang terlambat, tetapi aku tidak mengeluhkan hal itu. Kami tetap bisa belajar pada sisa waktu yang ada.
Theo bergabung bersama kami saat makan malam. Aku sering heran, apa ayah mereka tidak pernah makan bersama keluarganya? Aku hanya bertemu dengannya pada saat mereka mengundang aku makan pada Hari Natal dan Tahun Baru. Ketika ulang tahun Matt, dia sudah pergi.
Papa selalu mengusahakan untuk pulang sebelum jam makan malam. Jadi, kami bisa makan bersama. Apa mereka tidak rindu dengan pria itu setiap hari hanya makan berempat denganku? Ah, iya. Bisa jadi dia bersama mereka sepanjang hari pada akhir pekan. Hari di mana aku tidak mengajar.
“Gue ada urusan pada hari Selasa sampai Kamis, jadi kita tidak bisa makan siang bersama. Awas, jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain, termasuk Richo,” ancamnya.
Dia mengantar aku pulang usai makan malam. Aku tidak mencari ribut lagi dan menuruti maunya dengan Tante Ruth. Lagi pula, aku benar-benar berhemat karena kebaikannya ini. Aku tidak perlu keluar uang untuk ongkos naik angkutan umum.
“Dia kakakku,” ucapku, tidak bosan-bosannya memberi jawaban yang sama.
“Lo lupa lo sudah bukan di tubuh Katelia lagi?” katanya dengan serius. “Dia masih laki-laki normal. Bagaimana kalau dia jatuh cinta sama lo? Kalian tidak punya ikatan darah sama sekali.”
Aku merasakan perutku bergolak. Kak Jericho, kakak yang bersamaku sejak aku masih kecil jatuh cinta kepadaku? Isi perutku serasa mendesak untuk keluar lewat mulutku. Melihat dia sebagai seorang laki-laki saja aku tidak bisa, jadi aku yakin begitu juga sebaliknya.
“Itu menjijikkan,” gumamku ngeri.
Kalau dipikir-pikir, apa yang dia katakan itu ada benarnya juga. Aku sudah bukan Katelia lagi, tetapi Amarilis. Kakak bisa saja menganggap aku adiknya sekarang. Lama-kelamaan bersama, bisa jadi dia akan berubah perasaan. Hii …. Menjijikkan. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi.
Tepat seperti perkataannya, Theo tidak menunggu aku untuk makan siang bersama. Aku melihat dia datang dan menuju ruang kuliah, tetapi hanya itu. Ketika aku mendatangi rumah mereka, dia tidak ikut makan malam bersama kami. Jadi, aku pun diantar pulang oleh sopir mereka.
Apa yang dia lakukan pada ketiga hari itu? Mungkinkah dia seperti Kak Nolan yang menemani Papa ke mana saja dia sempat untuk mengurus perusahaan kami? Ah, bisa jadi. Kantor pusat ayahnya ada di ibu kota. Berbeda dengan Papa yang kantor pusatnya ada di Medan.
Perbedaan Kak Nolan dan Theo hanya satu, Kakak tidak dijodohkan dengan siapa pun. Mungkin nanti kalau ada yang mau mempererat kerja sama, Papa akan memilihkan istri untuk Kakak. Karena aku tidak yakin Papa akan mengizinkan Kakak memilih istri sembarangan.
“Hei, Amarilis.” Chika dan kedua temannya menghadang aku di koridor. “Bisa kita bicara sebentar?”
Aku senang melihat dia tidak lagi memaksakan kehendaknya, tetapi menanyakan pendapatku. Aku mengangguk dan mengikuti mereka menuju ruang kuliah yang kosong. Sepertinya mereka sudah siap untuk menanyakan banyak hal kepadaku.
“Jadi, kamu benar Katelia,” kata Chika sambil mengamati aku dengan saksama. Kedua temannya ikut melakukan hal yang sama.
__ADS_1
“Iya. Amarilis tidak mungkin tahu semua rahasia kalian,” kataku, menjelaskan.
Mereka mengangguk mengerti. “Sekarang, semuanya jadi semakin terang,” kata Rahma.
“Sayang sekali, kamu sangat pandai menyembunyikan rahasiamu sendiri dari kami,” imbuh Nisa.
“Aku memang tidak punya hal buruk yang perlu aku sembunyikan, Nisa,” kataku dengan santai. “Aku tidak mengonsumsi obat terlarang, menggugurkan kandungan, atau mencuri perhiasan orang tuaku.” Aku menyebut rahasia terbesar mereka satu per satu.
Kenakalanku selama remaja hanya satu, merundung. Namun mereka tidak mungkin mengancam aku dengan hal itu, karena mereka adalah kaki tanganku. Menghancurkan reputasiku sama saja dengan merusak nama baik mereka juga. Lagi pula, Katelia sudah meninggal, tidak bisa diminta bertanggung jawab atas perbuatannya itu.
Sebagai Amarilis, aku tidak punya hal buruk apa pun yang bisa mereka gunakan untuk mengancam. Aku adalah korban mereka, justru aku yang akan dibela orang jika mereka berani mengusik privasiku. Mengenai status sosial, semua orang pasti bisa menebak dari barang di tubuhku, aku orang miskin.
“Aku tidak menggugurkan kandunganku,” kata Rahma, membela diri.
“Lalu mengapa kamu takut? Kamu akan santai saja mendengar tuduhan kami kalau benar janin itu gugur sendiri. Rahma, aku memahami ketakutanmu. Kamu masih terlalu muda untuk membesarkan seorang anak. Kalau boleh memberi saran, sebaiknya kamu mulai memaafkan dirimu sendiri.” Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.
“Baik, kita berkumpul bukan untuk membahas masa lalu,” lerai Chika. “Kami tidak punya pertanyaan apa pun, tetapi kami setuju denganmu. Kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Kami akan jalani hidup kami sendiri, dan tidak akan mengganggu kamu lagi.”
“Aku harap kamu tidak akan menyimpan dendam kepada kami,” tutur Nisa, menambahkan. “Apa yang terjadi di kapal itu murni kecelakaan.” Dia berdehem.
Aku tidak menanggapi bagian itu, sebab aku tidak setuju. Aku tidak mau melepaskan mereka karena sudah membiarkan aku mati, tetapi malah menuduh aku yang sudah membunuh Katelia. Mereka tidak perlu tahu apa yang sudah aku siapkan untuk membuat hidup mereka susah.
Pertama-tama, aku harus lulus kuliah dengan nilai yang sempurna dan dalam waktu yang singkat. Aku tidak akan gegabah dengan bertindak cepat, tetapi aku akan biarkan mereka lengah. Bila aku tidak melakukan apa pun dalam waktu dekat, mereka akan berpikir aku sudah lupa dengan mereka.
“Jangan tiru aku. Semoga dengan begitu, hidup kalian akan lebih baik dariku,” kataku, mengingatkan. “Maafkan aku, karena aku pasti melakukan banyak kesalahan kepada kalian. Selamat tinggal.”
Aku keluar terlebih dahulu dari ruangan itu ketika mereka tidak mengucapkan apa pun lagi. Dadaku serasa sesak berada satu ruangan dengan mereka terlalu lama. Bisa-bisanya mereka tidak meminta maaf atas kejadian di kapal dan terus berkelit. Lihat saja. Mereka akan membayarnya.
“Amarilis.” Aku menghentikan langkah mendengar suara itu. Sepertinya aku salah sangka. Ada satu dari mereka yang punya sifat berbeda.
Aku membalikkan badan dan melihat Rahma menatap aku dengan mata berbinar. Chika dan Nisa tidak berdiri bersamanya. “Ya?”
__ADS_1
“Ng, ada yang ingin aku sampaikan,” katanya dengan gugup. Apakah dia akan mengatakan hal yang aku harap-harapkan?