Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
69|Tak Diundang


__ADS_3

Seminar itu berjalan sangat lambat. Waktu seakan berhenti sehingga berada di ruangan itu adalah waktu terlama yang pernah aku jalani dalam hidupku. Mereka seolah sudah mengajukan ratusan pertanyaan yang tak kunjung usai. Semuanya aku jawab sebaik dan sesingkat mungkin.


Begitu segalanya selesai, barulah aku bisa bernapas sangat lega. Sesuatu yang semula membuat dadaku sesak seketika itu juga lenyap. Seminar proposal saja begini rasanya, bagaimana nanti saat aku menjalani sidang skripsi?


Yang paling membanggakan adalah mereka memberi aku nilai A untuk hasil seminar tersebut. Para dosen memberikan selamat, begitu juga dengan teman-teman seangkatanku yang maju seminar bersama denganku. Chika adalah salah satunya.


Aku menjabat tangan mereka dengan cepat, karena tidak sabar ingin berada di dekat Amarilis lagi. Dia masih menunggu di tempat semula. Aku segera mendekat dan memeluknya dengan erat. Dia mengucapkan selamat sambil mengusap punggungku.


Karena orang-orang bertepuk tangan dan bersuit menggoda kami, aku membawanya pergi dari tempat itu. Sayangnya, aku tidak bisa mengajak dia menghabiskan waktu seharian bersamaku. Mama mengadakan syukuran kecil di rumah, tetapi Amarilis tidak diundang.


“Ironis, ya. Pada hari bahagiamu, justru gadis pilihanmu yang tidak bisa hadir di sini.” Chika duduk di sisiku begitu Matt pergi mengambil tambahan camilannya.


Aku hanya diam, tidak menanggapi ejekannya itu. Setelah beberapa bulan terakhir dia hanya tutup mulut, sepertinya dia sudah tidak tahan lagi berpura-pura menjadi tunangan yang tersiksa. Biasanya dia tidak mau bicara denganku, tetapi di dekat mamanya dan memasang wajah sedih.


Matt rajin menunjukkan postingan orang di media sosial mengenai aku dan Amarilis. Jadi, aku tahu mereka menghina dan mendoakan hal buruk terhadap kami karena aku selingkuh. Konyol. Di sisi lain, mereka mendukung sikap Chika yang mengalah dan tidak mencari ribut. Andai mereka tahu.


“Kamu suka atau tidak, aku yang akan menjadi istrimu, Theo. Kamu menerima fakta itu lebih cepat, lebih baik. Karena usahamu untuk menikahi Amarilis tidak akan pernah terjadi,” lanjutnya.


“Gue dan Amarilis pasti akan menikah. Lo lihat saja.” Aku berdiri, berniat berpindah tempat duduk. Namun dia memegang tanganku.


“Apa kamu tidak pernah berpikir, apa dampak dari keajaiban yang dia alami itu? Katelia meninggal dunia pada usia yang sangat muda, apa kamu pikir Amarilis akan berumur panjang?” cetusnya. Dia melepaskan tanganku, lalu berdiri dan pergi dahulu.


Apa maksud dari ucapannya itu? Apa dia berniat untuk mengakhiri hidup Amarilis? Ah, tidak. Dia hanya bicara tentang usia Amarilis tidak panjang karena pertukaran jiwa tersebut. Omong kosong. Amarilis sehat dan dia akan bertahan hidup sampai kami menjadi kakek dan nenek.


Walau aku tidak mau terpengaruh dengan ucapan Chika, aku tetap mengkhawatirkan keadaan Amarilis. Apa yang dia katakan ada benarnya. Aku yakin Amarilis belum pernah memeriksakan diri setelah kejadian itu. Aku akan lebih tenang setelah tahu dia baik-baik saja.


Rencanaku mengajak dia kencan atas keberhasilanku dalam seminar proposal pun harus aku tunda. Aku memutuskan untuk mencegah daripada mengobati. Meskipun bingung, dia menuruti aku untuk berpuasa pada malam itu.


“Ada apa, Theo? Mengapa kamu meminta aku untuk melakukan pemeriksaan kesehatan segala?” tanyanya yang masih saja ingin tahu.


“Lo akan jadi istri gue, wajar, dong, kalau gue mau tahu lo sehat atau sakit,” jawabku sekenanya. Kami menunggu panggilan setelah aku mendaftarkan kami berdua.


“Yang benar saja. Aku sehat. Apalagi aku rajin berolahraga. Kalau aku sakit, itu karena kamu terus menjejalkan aku dengan makanan tidak sehat.”

__ADS_1


“Lo bisa diam, enggak? Lo enggak sendirian, gue juga ikut periksa kesehatan.”


Dia cemberut, tetapi dia menuruti setiap instruksi dari perawat yang bertanggung jawab atas kami. Ada banyak pemeriksaan yang harus kami jalani, tetapi kami bisa makan setelah mereka mengambil darah. Melihat dia makan dengan lahap, aku merasa sedikit tenang.


Kelihatannya dia sehat. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Chika hanya menakut-nakuti aku saja. Namun tidak ada salahnya berjaga-jaga. Hubungan kami sudah dekat, aku tidak bisa membayangkan jika aku hidup tanpa Amarilis lagi.


Ya, ampun. Pengaruh dia atasku sudah sedalam ini?


Aku tidak bisa tidur pada malam harinya. Hasil pemeriksaan baru bisa kami ketahui pada keesokan harinya, karena ada satu bagian yang baru selesai setelah satu hari. Aku tidak mau menemui dokter dua kali, jadi aku memutuskan untuk sekalian saja mendengar keseluruhan hasilnya.


“Kalian berdua sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya juga tidak punya catatan khusus apa pun untuk disampaikan kepada kalian berdua,” kata dokter itu, melegakan aku.


“Dia suka memberi saya makan banyak. Tolong, beri tahu dia agar menghentikan itu, Dokter,” kata Amarilis, mengadu.


Pria itu tertawa kecil. “Kamu takut karena kamu gampang gemuk, ya?” Amarilis mengangguk cepat. “Gemuk bukan masalah, tetapi obesitas itu berbahaya. Untuk menghindari obesitas yang dilakukan Amarilis sudah baik. Dia menjaga asupan makanannya. Sebaiknya Theo tidak merusak diet sehatnya.”


“Baik, Dokter,” kataku, menurut, tidak mau mencari masalah.


Aku mengantar dia pulang ke tempat tinggalnya setelah makan malam bersama. Karena ujian akhir semester hampir dekat, kami belajar bersama di perpustakaan. Beasiswa itu datang tepat waktu. Dia sudah tidak perlu bekerja karena biaya hidupnya juga ditanggung penuh.


Pada hari itu, kami sama-sama menunggu kabar dari Matt mengenai kelulusannya. Pesan darinya masuk menjelang makan siang, jadi kami bisa melakukan panggilan video untuk mengucapkan selamat. Sama seperti saat keberhasilanku, Mama mengadakan syukuran kecil-kecilan pada malam harinya. Amarilis tidak diundang.


“Kakak tidak diundang, ya, kita buat acara sendiri,” ucap Matt jahil.


Pada hari Minggu itu kami pergi bertiga ke taman bermain. Mereka berdua begitu senang menaiki semua wahana yang tersedia. Aku dan Matt sudah pernah mencoba semuanya, termasuk yang ekstrem. Jadi, kami tidak terkejut lagi.


Ternyata Amarilis juga suka dengan semua wahana itu. Dia benar-benar Katelia yang tidak kenal takut. Aku sampai tidak percaya pernah melihat dia ketakutan pada saat aku akan mengenalkan dia kepada keluargaku sebagai calon istri pilihanku.


Walau aku tidak bisa menggandeng tangannya saat kami berjalan bersama, tidak duduk di sisinya ketika kami makan dan beristirahat, atau tidak banyak bicara dengannya, aku tidak marah. Hari ini adalah hari untuk guru dan murid tersebut. Aku hanya menemani.


“Seleksi masuk perguruan tinggi tidak sulit, ‘kan?” tanya Matt khawatir.


“Tidak, kalau kamu sudah persiapan dengan baik dan konsentrasi,” jawab Amarilis dengan santai.

__ADS_1


“Passing grade jurusan kalian tidak kecil, jadi gue harus kerja keras supaya bisa lulus,” keluhnya.


“Bicara yang jelas, Matt. Bilang terus terang kalau lo mau minta Amarilis jadi guru lo lagi,” ucapku tidak sabar. Heran, tidak biasanya dia basa-basi begitu.


“Enggak sabar banget. Gue yang mau bujuk, kenapa lo yang sinis, sih?” omel Matt.


Aku tertawa kecil mendengarnya. Melihat dia yang selalu percaya diri mendadak pesimis adalah pemandangan yang langka. Padahal dia tidak bodoh, hanya perlu konsentrasi saat belajar. Seperti ketika dia fokus bermain gim daring. Masa dia bisa menghasilkan uang yang banyak dan punya beberapa komunitas lewat gim, tetapi tidak bisa berprestasi lewat studi?


Setelah belajar dengan Amarilis, ternyata dia bisa juga mendapat ranking di kelasnya. Dia bahkan lulus SMU dengan nilai yang sangat memuaskan. Ketinggalannya selama kelas satu bisa dikejarnya dengan baik dalam dua tahun terakhir. Bukti itu sepertinya belum cukup untuk membangkitkan rasa percaya dirinya dalam hal akademik. Dia sangat gentar menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.


“Boleh. Kebetulan aku akan sering berada di perpustakaan pada liburan semester ini. Aku mau cari masalah yang cocok untuk penelitianku tahun depan,” papar Amarilis.


“Lo? Kenapa cepat banget, Kak?” tanya Matt terkejut. “Jangan lulus terlalu cepat. Biar ada teman yang gue kenal di kampus.”


“Memangnya lo mau bayar uang kuliah dia?” sindirku.


“Ah, iya juga. Lulus lebih lama berarti bayar uang kuliah lagi.” Dia menggaruk-garuk kepalanya, lalu menatap Amarilis dengan penasaran. “Apa rencana Kakak setelah lulus kuliah nanti?”


“Lanjut ke jenjang master,” jawab Amarilis tanpa ragu.


Mereka membicarakan tentang masa depan, aku hanya mendengarkan. Aku sudah tahu semua yang ingin Amarilis dan Matt lakukan kelak. Jadi, aku tidak ikut campur, juga tidak berbagi mengenai rencana masa depanku. Karena semua orang sudah tahu.


Pada hari Rabu itu, aku menemani Amarilis yang ingin memberi dukungan kepada Richo. Temannya itu akan mengikuti sidang skripsi. Aku salut dia bisa lulus tepat waktu meski pernah mengambil cuti satu semester. Dia adalah model yang populer, entah untuk apa dia kuliah.


Dari pekerjaannya itu saja, dia bisa hidup mewah sampai tua. Itu pun kalau dia bijaksana memakai pendapatannya dan memilih pekerjaan yang cocok di masa tidak muda lagi. Aku perhatikan, tetap ada merek yang mau memakai model berumur dewasa untuk produk tertentu.


“Kamu pasti akan sibuk seperti Kakak pada semester depan,” kata Amarilis.


“Aku akan selalu menyediakan waktu bersamamu,” janjiku.


“Kakak juga bilang begitu, tetapi lihatlah. Dia sibuk sendiri dengan penelitiannya.”


“Aku bukan Richo,” ujarku. Hal yang kemudian aku sesali. Aku terlalu mudah berjanji tanpa mencari tahu apa yang Richo alami sehingga dia jarang bertemu Amarilis selama mengerjakan skripsi.

__ADS_1


__ADS_2