
Theo berhari-hari tidak datang lagi mengejutkan aku saat berangkat kerja. Aku mulai merasa kehilangan. Walau di bibir aku bilang tidak, aku sebenarnya suka bisa bertemu dengannya meski hanya sebentar. Kerjanya cuma membuat aku jengkel pun tidak apa-apa.
Komunikasi kami lewat ponsel juga tersendat-sendat. Aku mengirim pesan berharap kami bisa mengobrol sesaat, dia malah tidak memberi respons. Sebaliknya, ketika dia punya waktu luang untuk berbincang sejenak lewat panggilan video, aku sedang ada pekerjaan.
Di sisi lain, tidak ada wartawan yang mengikuti aku ke mana pun aku pergi. Sepertinya mereka tidak tertarik mencari berita dariku, tetapi Theo. Pasti karena aku hanya perempuan dari keluarga miskin yang buruk rupa. Jadi, wajah tampan Theo lebih cocok menghiasi berita utama mereka.
Mas Norman tidak seperti yang Theo tuduhkan. Atasanku itu sangat sopan dan tidak mengundang aku makan bersama orang tuanya lagi. Hanya satu kali. Yang malangnya justru menjadi pemicu rasa cemburu pacarku yang berlebihan itu.
Sekretarisnya meregangkan badan di tempat duduknya, mengalihkan perhatianku. Jam digital pada layar komputer menunjukkan pukul lima tepat. Sudah waktunya untuk pulang, tetapi khusus sore ini, kami semua tidak langsung kembali ke rumah masing-masing.
“Ayo, Amarilis, kita merapikan diri,” ajaknya sambil membawa tas mekapnya.
“Tidak, Mbak. Begini saja sudah cukup,” tolakku.
Dia menyapukan pandangannya pada rambut, wajah, dan pakaianku. “Kamu tidak salah? Ini acara besar, masa kamu berpenampilan begitu? Kalau kamu tidak bisa dandan sendiri akan aku bantu.”
“Terima kasih, Mbak. Maaf, aku harus menolaknya,” kataku lagi, berhati-hati.
“Baiklah. Tunggu aku, ya. Kita pergi bersama.” Dia menatap aku dengan serius. Aku tertawa kecil, lalu mengangguk.
Pak Wiryawan berulang tahun yang keenam puluh pada hari ini. Jadi, seluruh keluarganya ingin merayakannya bersama para karyawan juga. Mereka yang tidak diundang untuk hadir karena keterbatasan kursi bisa menikmati makanan yang disediakan di pekarangan kantor. Kami yang bertugas dekat dengan anak-anaknya diminta datang ke perayaannya di aula hotel.
Aku sebenarnya merasa tidak enak dengan ajakan Mas Norman. Apalagi aku hanya karyawan magang. Karena Pak Wiryawan juga ikut mengundang aku langsung, maka aku tidak mungkin lagi menolak untuk menghadirinya.
Suasana aula sudah ramai dengan para tamu undangan. Penerima tamu yang berasal dari keluarga mengantar kami ke tempat duduk. Rekan kerjaku duduk di barisan kursi belakang tanpa meja, tetapi aku diajak ke barisan meja bundar yang ada di dekat panggung.
Melihat aku sendiri karyawan yang mendapat tempat kehormatan itu, aku merasa tidak enak. Wanita itu tidak mengantar aku ke tempat yang salah, karena ada namaku pada kartu di depan kursi yang dia tunjuk. Meja itu masih kosong. Membaca nama yang ada di sebelah kananku, maka aku tahu meja ini diperuntukkan bagi Keluarga Wiryawan.
“Wajah gadis itu tidak asing,” ucap seorang wanita yang duduk di kursi di belakangku.
“Masa kamu lupa? Foto dan video dia berbuat mêsum dengan seorang laki-laki sempat beredar luas. Itu orangnya. Selingkuhan Altheo Husada,” kata wanita lain yang juga berasal dari belakangku.
__ADS_1
“Ya, ampun. Kamu benar.” Wanita pertama itu menarik napas terkejut. “Apa yang dia lakukan di sana? Apa setelah menggoda ahli waris Husada, dia juga mau menggaet ahli waris Wiryawan?”
“Lo? Memangnya kamu belum tahu?” Wanita kedua tadi menurunkan volume suaranya. “Norman gay. Karena itu, dia tidak juga menikah.”
Wanita pertama itu menarik napas terkejut. Dasar perempuan. Di mana pun berada, selalu saja ada dari mereka yang suka membicarakan kehidupan dan pilihan pribadi orang lain. Orang baik seperti Mas Norman pun mereka jelek-jelekkan.
Ketika suasana aula ribut, aku menoleh ke arah datangnya sumber suara. Ternyata Om Wiryawan yang berulang tahun sudah tiba bersama keluarganya. Tante Wiryawan melambai-lambaikan tangan kepadaku saat pandangan kami bertemu. Aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
“Hai, Amarilis. Duduk. Tidak perlu sungkan sampai berdiri begitu. Seperti dengan orang lain saja,” ucap Tante Wiryawan dengan ramah.
Kami duduk bersama saudara dari Om Wiryawan dan istri mereka. Aku satu-satunya orang asing yang berada di antara keluarga tersebut. Aku memahami Tante menyukai aku, tetapi memberikan aku satu kursi di meja ini terasa sangat berlebihan.
Perayaan singkat dimulai dahulu untuk merayakan ulang tahun Om Wiryawan. Aku kembali ditinggal sendiri ketika mereka berdiri di panggung. Perayaan tidak berhenti sampai di situ, Om Wiryawan juga mengumumkan pengunduran dirinya dan menunjuk Mas Norman sebagai penggantinya.
Aula itu riuh dengan tepuk tangan dari para undangan. Mereka terlihat senang dengan keputusan itu. Mas Norman sepertinya atasan yang baik juga kolega yang menyenangkan sehingga orang-orang suka kepadanya. Semoga saja Theo kelak akan mendapat sambutan yang sama.
Mas Norman menyampaikan pidato pertamanya, maka kami dipersilakan duduk. Aku mengelilingi meja bersama para istri, sedangkan para pria masih berdiri di panggung. Tidak tahu harus bersikap bagaimana, aku hanya mendengarkan Mas Norman bicara.
“Iya, Tante. Mas Norman baik kepada saya,” jawabku singkat.
“Syukurlah.” Dia menepuk pelan tanganku yang ada di atas pangkuanku.
Dia tidak melanjutkan percakapan itu membuat aku bingung sendiri. Namun aku kembali mengikuti acara dan mendengarkan Mas Norman. Setelah acara puncak selesai, makanan pun disajikan di atas meja. Orang tua dan anak itu sesekali mengajak aku mengobrol bersama mereka.
Mas Norman memaksa untuk mengantar aku pulang. Padahal belum malam betul dan masih ada angkutan umum yang mengantar sampai tempat tinggalku. Begitu orang tuanya ikut mendesak, maka aku tidak kuasa lagi menolak.
“Anak gadis tidak boleh pulang malam begini sendirian. Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak kejahatan yang terjadi pada wanita semuda kamu?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, Mas harusnya mengantar karyawan lajang lainnya, bukan hanya saya,” balasku.
“Mereka punya kendaraan pribadi. Hanya kamu yang tidak.” Dia tersenyum penuh arti.
__ADS_1
“Ah.” Aku mengangguk mengerti. Jadi, itu alasannya dia hanya mengantar aku.
“Jangan segan denganku. Kita sudah jauh saling mengenal sebelum kamu magang di hotelku. Jika ada yang berkata miring yang membuat kamu tidak nyaman, abaikan saja. Lagi pula, tinggal satu bulan dan kamu tidak akan mendengar ucapan iri mereka lagi.”
“Tidak ada yang berkata miring mengenai saya dan Mas,” akuku.
Dia tertawa. “Aku lupa. Mereka pasti lebih tertarik membicarakan kamu dengan Altheo.”
“Yang benar saja, Mas. Kita tidak membahas masalah di luar pekerjaan,” kataku, mengingatkan.
Dia hanya tertawa. Aku menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan topik yang menjadi favorit banyak orang itu. Om Azarya masih muda, tetapi siapa yang kelak menjadi istri Theo sudah menjadi perhatian. Padahal dia tidak akan menikah sampai enam atau tujuh tahun lagi.
“Bila aku boleh bicara sebagai teman,” ujar Mas Norman, mendadak serius. “Gadis baik sepertimu, aku pikir, tidak suka dengan skandal. Aku terkejut ketika membaca berita mengenai kamu yang ikut dengan Altheo ke mana saja dia pergi setelah dia bertunangan.
“Aku tidak mengenal Jessica, tetapi aku tahu reputasi keluarganya baik. Orang tua Altheo sudah menetapkan wanita yang akan menjadi istrinya, sebaiknya kamu jangan ganggu mereka. Jika kamu meneruskan hal ini, maka kamu yang akan kesulitan mencari pekerjaan saat menjadi alumni.
“Tidak ada orang yang tidak mengenal wajahmu atau namamu sejak foto dan video mesra kalian viral di media. Andai kalian putus, kamu juga akan susah mendapatkan suami. Kamu dan calonmu kelak akan jatuh bangun mendapatkan restu dari orang tuanya.
“Selagi masih bisa lepas, sebaiknya kamu tidak mendekati pria yang sudah punya tunangan. Dia tidak akan pernah memilih kamu di atas perempuan yang sudah terikat dengannya. Percayalah. Altheo hanya memanfaatkan perasaanmu. Jangan biarkan dia terus merusak reputasimu,” pungkasnya.
Aku ingin sekali memberi tahu dia bahwa aku adalah pacar pertamanya. Kami backstreet tanpa ada yang tahu kami menjalin hubungan, jauh sebelum Chika hadir di antara kami. Namun Mas Norman hanya seorang atasan. Urusan pribadiku bukan untuk konsumsinya, jadi aku memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut.
“Mengapa saya merasa Mas tidak bicara sebagai teman, tetapi kakak yang melindungi adiknya?” Aku mencoba untuk mencairkan suasana.
“Kakak, ya?” Dia tertawa kecil. “Apakah itu aku bagimu? Seorang kakak?”
“Tentu saja tidak. Mas adalah atasan saya,” jawabku, meralat.
“Aku ingin lebih dari itu.”
“Hah?” gumamku bingung.
__ADS_1
“Aku mau lebih dari teman, kakak, atau atasan bagimu.” Dia melirik aku sebelum kembali melihat ke jalan di depannya. “Aku mau kamu memandang aku sebagai seorang pria.”