Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
58|Tidak Mudah


__ADS_3

Menyadari apa yang hendak dia lakukan, aku menepis tangannya dari kerahku dan menjauh darinya. Aku tidak peduli gerakanku itu membuat dia terdorong ke tempat tidurnya sehingga dia mengaduh kesakitan. Yang aku yakin hanya sandiwara.


Karena aku yakin, bukan tubuhnya yang terluka, tetapi perasaannya. Sejak dia masuk kamarku tanpa segan, aku tahu perempuan ini bukan gadis lugu lagi. Dia pasti sudah terbiasa melakukan lebih dari memegang tangan dengan laki-laki. Apalagi dia tidak berpikir dua kali meminta diantar ke kamar.


“Ada apa denganmu? Aku hanya mau berterima kasih,” katanya dengan manja. Mungkin laki-laki lain agar terenyuh atau tergoda melihatnya, aku tidak.


“Kata itu sudah cukup, tidak perlu mencium aku segala,” ucapku, menahan amarah.


“Kita bertunangan selama enam bulan, tetapi kamu tidak mau menyentuh aku. Apa kamu tidak ingin sekali pun bermesraan denganku?” tanyanya dengan wajah memelas.


Sebelum dia bertindak bodoh, aku segera menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari kamarnya. Aku tidak punya dorongan apa pun saat bersamanya, juga ketika dia menyentuh aku. Jadi, untuk apa aku bermesraan dengannya? Berada di dekatnya saja aku tidak mau, apalagi menciumnya.


Aku bergidik pelan membayangkan apa yang hampir saja terjadi. Aku pikir dia benar-benar terkilir, ternyata hanya sandiwara, karena dia mengejar aku sampai ke pintu. Aku tidak sudi memberikan semua pengalaman pertamaku dengan perempuan bersamanya. Lebih baik aku mencium tembok.


Matt menatap aku dengan bingung, tetapi dia mengikuti aku keluar dari suite itu tanpa mengatakan apa pun. Dia bisa menemukan jawabannya melihat Chika mengikuti kami. Aku bersiap membanting pintu kamar kami di depan mukanya andai dia mengejar kami. Syukurlah, dia tetap di suite mereka.


“Wow, Theo. Apa yang membuat lo semarah ini?” goda Matt yang mengamati wajahku.


“Cepat, kemasi barang lo. Gue mau lo tetap di samping gue sampai kita berpisah dari mereka.” Aku bergegas menuju kamar mandi dan mengumpulkan semua barang pribadiku.


“Gue sudah bilang, bicarakan dengan Papa,” katanya, masih sempat-sempatnya menasihati aku, maka aku menatapnya tanpa kata. “Oke, oke. Gue enggak akan jauh-jauh dari lo. Minta tolong itu merendah sedikit, dong. Malah pakai mengancam.”


Mendengar itu, aku tersenyum. Amarilis selalu saja kesal setiap kali aku melakukan itu kepadanya. Wajah marahnya itu tiba-tiba sangat aku rindukan. Aku mau ribut lagi dengannya, memegang tangannya saat berjalan bersama, dan mengamati wajah bingungnya ketika aku menciumnya.


Aneh. Mengapa aku baru menyadari hal ini sekarang? Setiap hal yang Chika lakukan yang membuat aku tidak nyaman, justru aku nikmati bila dengan Amarilis. Apa mungkin Richo berkata jujur? Ah, tidak. Amarilis bukanlah tipeku. Lagi pula, kami tidak sederajat. Aku tidak punya jalan keluar agar orang tuaku bersedia merestui hubungan kami.


Kalau orang sampai tahu dia membiayai kuliahnya dengan mengamen, orang-orang akan menghina aku dan keluargaku. Papa dan Mama tidak akan membiarkan kami bersama. Apa yang sudah Mama tunjukkan belum ada apa-apanya jika dia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya.


Membongkar kuburan Nenek dan membangunkan dia dari dunia orang mati pun akan dia lakukan, bila itu bisa membuat aku menjauh dari Amarilis. Jadi, tidak. Aku sebaiknya melupakan ide itu. Aku hanya perlu mencari cara untuk memutuskan pertunanganku dengan Chika.

__ADS_1


Kami berkumpul di lobi untuk check-out dari hotel, lalu beriringan dengan taksi ke bandara. Matt menepati janjinya dengan tidak pernah jauh dari sisiku. Namun dia harus duduk seorang diri, ketika aku dan Chika lagi-lagi duduk bersebelahan.


“Liburan semester nanti, kita jalan-jalan lagi, yuk,” ucapnya, membuka pembicaraan.


“Boleh. Gue enggak ikut,” kataku, tanpa basa-basi.


“Lo? Mengapa begitu? Kamu yang pilih tempat, aku tidak keberatan,” bujuknya. Dia mendekatkan tubuhnya kepadaku, maka aku bergeser.


“Gue akan mengajukan proposal penelitian pada semester ini, lalu skripsi pada semester depan. Apa lo pikir gue punya waktu untuk berlibur?” ujarku sarkas.


“Secepat itu?” tanyanya tidak percaya. “Aku belum bisa mengajukan proposal pada semester genap ini. Ah, tidak apa-apa. Kamu akan lanjut studi, jadi aku tidak perlu buru-buru. Aku senang kamu lulus dahulu. Dengan begitu, pernikahan kita bisa dilangsungkan lebih cepat.”


Begitu pesawat lepas landas, aku memilih untuk mengenakan selimut dan tidur. Hanya dengan cara itu dia berhenti bicara. Syukurnya, dia tidak akan nekat saat ada orang tua kami di dekat kami. Kalau dipikir-pikir, aku juga begitu terhadap Amarilis. Aku melakukan semua hal yang tidak dia suka.


Bedanya, dia tidak menghindari aku seperti yang aku rasakan dengan Chika. Mulutnya berkata tidak, tetapi dia tetap bahagia bila aku membalas sikap menurutnya dengan hal yang dia sukai. Sial. Aku berniat untuk tidur, mengapa malah memikirkan gadis itu lagi?


Akhirnya, aku tidak bisa tidur sama sekali selama dalam penerbangan. Hanya saat tubuhku bertemu permukaan tempat tidurku barulah aku bisa pulas. Lega, tenang, dan bahagia bercampur menjadi satu membuat aku lelap selama nyaris dua belas jam.


“Kamu hebat sekali. Aku tidak bisa mendapatkan nilai sesempurna itu, tetapi kamu bisa meraihnya dengan mudah.” Chika berdecak kagum.


Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu aku akan datang ke kampus pada pagi ini. Kemungkinan besar dari Mama atau ada orang yang dia suruh untuk menguntit aku. Yang mana pun itu, aku tidak peduli. Biar saja dia melakukan apa yang dia mau, selama dia tidak menyentuh aku lagi.


“Sama seperti Amarilis. Dia beruntung punya otak encer yang membuat dia mudah saja dapat nilai A ini.” Dia melirik ke arah papan di mana terletak pengumuman hasil nilai mahasiswa junior kami.


Hanya karena dia tidak memperoleh nilai serupa, bukan berarti kami mudah mendapatkan nilai itu. Kami belajar lebih keras dari yang lain. Aku mengikuti perkuliahan, masih harus mendampingi Papa di luar jam belajar, dan mengulang mata kuliah sebelum tidur. Itu tidak mudah, tetapi kerja keras.


Namun orang seperti dia tidak akan mengerti. Hanya Amarilis yang bisa memahami aku. Kami tidak punya waktu untuk bermain-main selain belajar dan bekerja setiap hari. Ah, dia lagi. Mengapa aku tidak berhenti memikirkan dia?


Akhir pekan terakhir sebelum Matt masuk sekolah, orang tua mengajak kami berlibur ke beberapa tempat di Pulau Jawa. Mereka menyewa sebuah minibus agar dua keluarga bisa muat di dalamnya. Matt melakukan hal yang tidak aku duga. Dia yang duduk di sisi Chika.

__ADS_1


Perhentian pertama kami adalah Gunung Tangkuban Perahu yang ada di Lembang. Lalu kami makan siang di Bandung sambil membeli beberapa camilan khas kota itu. Belajar dari pengalaman pertama, Chika menunggu aku duduk, baru mengisi tempat di sebelahku.


“Hasil foto kita tadi bagus-bagus,” ucapnya sambil melihat layar ponselnya. “Kamu suka yang mana untuk aku masukkan ke medsosku?”


Aku tidak menjawab pertanyaan sepele itu, tetapi hal itu tidak membuat dia menyerah. Dia terus saja mengajak aku bicara mengenai tempat yang kami kunjungi tadi, makanan yang kami santap, bahkan tempat demi tempat yang bus lewati. Pada malam harinya, kami menginap di Semarang.


“Masih dua hari lagi sebelum kita bisa lepas dari keluarga itu,” keluh Matt. Aku hanya diam. “Do something, Theo. Aku tidak mau dia yang jadi kakak iparku.” Lakukan sesuatu, Theo.


“Lo bisa tenang sedikit, enggak? Nikmati saja liburannya. Sebentar lagi juga kita lepas dari mereka. Lo fokus dengan kuliah, gue berangkat ke luar negeri. Gue jamin, ini perjalanan bersama kita yang terakhir,” kataku dengan santai.


“Awas lo, kalau bohong,” ancamnya.


“Wedang tahunya enak. Ayo, habiskan selagi hangat.” Aku sengaja mengajak Matt keluar hotel ketika semua orang kembali ke kamar mereka. Untung saja, warungnya masih buka.


Kembali ke rumah, aku tidak bisa bersantai. Siang harinya, aku menemani Papa makan bersama koleganya. Pemilik sebuah perusahaan besar yang berulang kali menjalin kerja sama bisnis dengan Papa. Pertengahan tahun nanti, mereka berniat mengadakan acara ulang tahun dan menyewa jasa restoran kami untuk menyediakan konsumsi.


Papa pamit ke toilet, maka aku dan pria itu berbincang berdua. Atau lebih tepatnya, aku mendengar dia tidak berhenti bicara mengenai pengalamannya mengembangkan usaha keluarganya sejak jadi direktur utama. Hal yang membosankan, tetapi aku selalu belajar hal baru dari cerita yang sama.


“Ah, ngomong-ngomong kamu kuliah di jurusan manajemen universitas sini, benar?” tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan. Aku mengangguk pelan. “Apa kamu mengenal Amarilis Josepha?” Dia menyebut nama itu perlahan sambil menatap layar tabletnya.


“Kenal, Om. Junior saya,” jawabku. Yang benar saja. Bahkan bersama orang yang tidak mengenal dia pun aku mendengar namanya. Apa maksud semua ini?


“Kebetulan sekali! Kami memberikan beasiswa untuk lima mahasiswa berprestasi, tetapi dia satu-satunya yang tidak bisa kami hubungi. Nomor yang dia berikan salah. Apa kamu tahu bagaimana cara menghubungi dia?” katanya dengan nada penuh harap.


Apa aku tidak salah dengar? Gadis ceroboh itu memberikan nomor yang salah? Bodoh sekali. Dia melamar beasiswa dan hanya memberikan nomor ponsel, tanpa alamat. Nomornya pun salah tulis. Dia butuh beasiswa atau tidak?


Aku segera memberikan nomor yang benar dan pria itu sangat berterima kasih. Aneh. Mereka tidak pernah melakukan ini. Kalau calon penerimanya tidak bisa dihubungi, maka mereka akan mencari kandidat lain. Mengapa mereka masih bersikeras memberi kesempatan kepada gadis ceroboh itu?


Menyerah dengan keadaan dan pikiranku yang tidak lepas darinya, maka pada hari itu, aku melihat dia mengamen dari jauh. Aku tersenyum melihat ada banyak orang yang mengelilingi dia. Tiba-tiba saja Chika datang dan memukul biolanya sampai jatuh.

__ADS_1


Tidak tahan lagi melihat sikap arogannya, aku berniat untuk menolong. Namun ada yang memegang tanganku dari belakang, menghentikan langkahku.


__ADS_2