
~Altheo~
“Itu kabar yang baik, Nak. Aku senang mendengarnya,” puji Papa.
“Terima kasih, Pa.” Aku menyebut tanggal upacara pemberian ijazah dan menanyakan detail yang perlu aku bantu mengenai kedatangan mereka.
“Tidak perlu. Aku bisa meminta asistenku yang melakukannya. Kami akan menginap di hotel, jadi kamu ikut bersama kami saja. Apartemen kamu pasti tidak cukup untuk menampung kami semua.”
“Baik, Pa,” kataku, menurut.
Dia tersenyum. “Kamu sengaja menelepon aku pada jam kerja. Kamu pasti tidak mau mamamu ikut dalam percakapan ini.”
“Mama hanya akan memperkeruh suasana. Lebih baik gue bicara dengan Papa saja.”
“Baiklah. Aku harus mengikuti rapat. Sampai nanti.”
Panggilan video berakhir, aku meletakkan ponselku ke atas meja, lalu meregangkan badan. Suasana di kamar Amarilis sangat sepi. Dia pasti sedang belajar. Punya wanita yang satu hobi memang enak. Dia mendukung aku saat sibuk dengan tesis, bukan merengek minta jalan-jalan.
Ketika pada saat ini aku fokus dengan pekerjaan, dia konsentrasi dengan studinya. Aku belum bisa merencanakan perjalanan bersamanya pada saat liburan musim semi nanti. Aku perlu tahu rencana Papa dan Mama dahulu. Semoga saja mereka tidak memaksa aku pulang.
Aku memeriksa keadaan Amarilis di kamar. Mungkin ada yang bisa aku lakukan untuknya, seperti yang pernah dia perbuat untukku. Yang pasti, aku tidak akan membiarkan dia lembur. Hal itu tidak baik untuk kesehatannya. Aku saja menghindarinya supaya berumur panjang. Aku mau hidup selama yang aku bisa dengan wanitaku.
Namun yang aku temukan malah dia yang sedang tertidur di kursi dengan tangannya sebagai bantal kepalanya. Pantas saja sepi sekali, sampai bunyi ketikan jemarinya di atas kibor pun tidak terdengar. Ternyata orangnya sudah pulas. Aku membopong dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Baru mulai kuliah sudah begini. Bagaimana saat dia menyusun tesis nanti? Bisa-bisa dia lebih banyak tidur daripada meneliti. Melihat dia tidak terbangun, maka aku memadamkan lampu kamarnya dan membiarkan dia beristirahat.
“Pagi, Theo!” sapa Clara saat aku memasuki bagian kantor restoran.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tanpa menghentikan langkahku menuju ruanganku. Sudah tidak ada lagi tumpukan berkas di atas meja kerja, karena aku datang setiap hari. Akibatnya, perempuan tidak tahu diri itu berpikir ini adalah kesempatannya untuk mendekati aku.
Tidak mau ambil pusing dengan ulahnya, aku fokus pada pekerjaanku. Menjelang musim semi, ada banyak undangan seperti tahun lalu. Aku mulai memilah mana yang penting untuk dihadiri dan mana yang tidak. Sayang sekali, aku harus menghadirinya sendiri.
Aku tidak pernah pamit saat pulang dan selalu memilih waktu secara acak, jadi perempuan itu tidak bisa menebaknya. Aku tidak mau bertemu atau berbincang dengannya walau hanya sedetik. Kondisi ini hanya sementara. Aku yakin dia akan melakukan kesalahan yang bisa aku jadikan alasan untuk menyuruh dia mundur dari pekerjaannya.
Seseorang mendadak berdiri di depanku sehingga aku terpaksa mengerem sepedaku. Wajahnya tidak asing, jadi aku menahan diri untuk tidak memarahinya. Aku turun dari sepedaku, menunggu dia berjalan mendekat. Mukanya merah padam, entah karena marah atau kedinginan.
“Kamu tidak kenal saya, tetapi kamu pasti pernah melihat muka saya.” Perempuan itu mulai bicara. “Saya pelayan di restoran kamu dan tidak terima diperlakukan tidak adil.”
Iya, aku ingat. Dia adalah pelayan yang kadang-kadang membukakan pintu untukku. “Apa maksudmu? Siapa yang memperlakukan kamu tidak adil?”
“Ibu Willis memecat saya tanpa memberi peringatan dahulu. Saya bahkan tidak berbuat kesalahan pada hari ini.” Dia melihat ke sekeliling kami dengan takut. “Saya bukan satu-satunya yang dipecat begitu saja, Pak. Tolong saya dan teman-teman saya.”
“Mengapa kamu tidak bahas ini di kantor? Kalian selalu bisa menemui aku di ruanganku,” tanyaku bingung. Dia hanya merapatkan bibirnya. “Datang pada pukul delapan besok, ajak temanmu yang lain. Jika kalian tidak melakukan kesalahan, maka kalian tidak boleh dipecat.”
Dia berjalan mendekati sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari tempatku berada. Aku mengenali mobil itu karena sering parkir di areal restoran. Menyadari dia tidak sedang berbohong, aku kembali ke restoran. Aku menunggu aba-aba dari pengawalku sebelum masuk ke pekarangan restoran.
Wanita itu sering muncul dari mana saja, jadi aku harus memastikan dia sudah pulang. Karyawan yang bekerja sif malam menyapa aku dengan ramah. Aku mengangguk dan terus berjalan menuju bagian keamanan. Pria yang bertugas menyambut kedatanganku dengan berdiri.
“Aku butuh rekaman hari ini yang menunjukkan percakapan antara asisten manajer dengan pelayan yang baru saja dipecat.” Aku melihat ke arah banyak layar di depanku.
“Baik, Pak.” Dia kembali duduk dan gambar pada layar berubah.
Aku memperhatikan tanggal dan jam yang tercantum pada sebelah kanan atas layar. Pukul dua siang tadi. Sepertinya pria ini tahu apa yang aku minta. Layar menunjukkan Clara sedang berada sendiri di ruangannya, lalu dua orang wanita masuk.
Karena tidak ada suara, aku tidak bisa mengetahui apa yang dia katakan kepada mereka berdua. Dua wanita itu berada cukup lama di dalam dan kelihatannya berdebat sengit dengannya. Masih ada satu orang pria yang juga dia panggil dan terlibat pertengkaran dengannya.
__ADS_1
“Apa ada rekaman yang menunjukkan mereka melakukan kesalahan?” tanyaku.
“Semuanya bekerja seperti biasa, Pak. Kedua wanita tadi adalah pelayan. Kamu tahu tahu sendiri tidak ada keluhan atau keributan dari ruang makan pada hari ini. Pria tadi adalah asisten koki, juga tidak ada masalah di dapur atau komplain dari pelanggan.”
“Buat kopi rekamannya dan antar ke ruanganku. Aku juga butuh info orang-orang yang dipecat pada hari ini atau kapan saja sejak asisten manajer yang baru itu bekerja.”
Peraturan di negara ini sangat ketat dalam urusan ketenagakerjaan. Aku tidak mau restoran dapat masalah yang bisa mengganggu keberadaannya. Aku dan Papa menjalani proses panjang untuk bisa sampai di titik ini. Jangan sampai gara-gara masalah sepele restoran ini tutup.
Aku memeriksa data karyawan yang dikirim oleh bagian IT dan menerima rekaman CCTV tadi. Aku perlu memastikan mereka tidak melakukan kesalahan apa pun agar bisa menghadapi Clara. Data pribadi mereka aku kirim kepada pengawalku. Aku butuh latar belakang lengkap mereka.
Malam sudah larut ketika aku tiba di apartemen, tetapi aku puas karena semua bukti terkumpul. Perempuan itu tidak akan bisa berkelit sesukanya ketika aku menanyakan masalah ini besok. Aku melihat ke arah sofa menyadari ada seseorang di sana.
Aku mendesah pelan melihat wanitaku menunggu aku sampai tertidur. Aku membopong dia ke kamarnya, lalu membaringkannya di tempat tidurnya. Setelah menyelimuti tubuhnya, aku mengecup keningnya. Bukannya belajar di sini malah membaca buku di ruang depan.
Ketika memeriksa ponsel menjelang tidur, barulah aku menyadari kesalahanku. Karena terlalu fokus dengan masalah pekerjaan, aku tidak melihat ada pesan masuk darinya. Pantas saja dia menunggu sampai aku pulang. Lain kali aku harus mengabarinya jika aku pulang larut lagi.
Sesuai janji temu kami pada hari sebelumnya, aku sudah menunggu di ruangan ketika kedua wanita dan seorang pria yang dipecat itu datang menghadap. Mereka memberi tahu aku apa yang terjadi di ruang kerja asisten manajer. Ternyata Clara memanggil mereka hanya untuk memecat dan tidak memberikan alasan apa pun. Apa yang sedang dia lakukan?
“Kalian boleh kembali bekerja. Biar aku yang mengurus Nona Willis,” kataku, menutup percakapan kami. Mereka serentak mengangguk, lalu keluar dari ruang kerjaku.
Aku mengirim memo ke manajer dan kepala bagian SDM, barulah menyantap sarapanku. Masalah sepele seperti ini belum saatnya untuk dilaporkan kepada Papa. Aku masih bisa menanganinya. Lagi pula, aku bisa lebih cepat mengusir perempuan itu kalau dia membuat perkara.
“Masuk,” kataku, ketika pintu ruanganku diketuk.
Manajer itu masuk dan menyapa aku dengan sopan. “Maaf, Pak. Tidak ada kesalahan dalam hal pemecatan kemarin.” Kalimatnya itu langsung menarik perhatianku. “Nona Willis mengonfirmasi dahulu kepada saya, lalu keputusan itu saya setujui.”
“Bagaimana dengan aku?” tanyaku. Sepertinya dia lupa dengan prosedur pemecatan yang benar. “Apa kamu tidak membutuhkan persetujuan dariku dahulu?”
__ADS_1
Pintu ruanganku diketuk, maka aku mempersilakan masuk. “Mohon maaf. Pak Manajer tidak ada di tempat, jadi saya menemuinya di sini.” Petugas keamanan itu terlihat panik. Dia menoleh ke arah sang manajer. “Pak, ada keadaan darurat di dapur.”