
Sampai di apartemen, kami masuk ke kamar masing-masing. Aku bersiap untuk menghadapi ujian akhir semester mulai Senin depan. Hal yang tidak menakutkan bagiku karena sudah belajar sejak jauh hari. Apalagi aku cukup percaya diri karena hasil akademik semester pertamaku sangat baik.
Waktunya makan malam, Amarilis tidak bangun, jadi aku membiarkan dia beristirahat. Aku sudah terbiasa memasak makanan yang gampang sejak tinggal seorang diri. Cukup lihat caranya lewat video daring dan masakan pun jadi. Rasanya juga enak.
Aku menyimpan bagian Amarilis di kulkas dan menempelkan catatan di pintu lemari pendingin itu agar dia membacanya. Bila dia bangun saat aku tidur, dia tidak perlu repot-repot memasak untuk mengisi perutnya atau membangunkan aku yang sedang lelap.
“Selamat pagi,” sapanya yang baru keluar dari kamar pada pagi hari.
“Selamat pa—” balasku, tetapi lidahku tersekat melihat pakaiannya. “Apa itu yang lo pakai?”
Dia melihat ke tubuhnya. Dia mengenakan kaus longgar, tetapi bukan itu masalahnya. Dia memakai celana pendek, terlalu pendek untuk menjaga aku tetap waras. “Pakaianku. Ada apa?”
“Pakai baju yang sopan. Celana itu terlalu pendek,” omelku.
“Terlalu pendek apanya? Panjang celananya sampai setengah pahaku, tidak seperti yang dipakai artis. Bagian bawah bokong sampai menyembul begitu, mereka tidak malu.”
“Lo ganti sekarang atau gue yang ganti,” ancamku.
“Ganti saja kalau kamu berani,” tantangnya. Dia lagi-lagi menyilangkan tangan di depan dadanya, benar-benar menggoda aku sepagi ini.
“Oke.” Aku mematikan kompor, melepaskan celemek, lalu mendekatinya.
“Kamu mau apa?” Dia mundur selangkah, tetapi aku lebih cepat. “Theo! Apa-apaan kamu!?” Dia memberontak saat aku menggendong dia di pundakku. Wow. Dia ringan sekali.
“Jangan banyak gerak atau lo jatuh nanti,” kataku sambil memukul bokongnya. Hal yang segera aku sesali, karena pikiranku kembali berkelana. “Lo pikir gue enggak serius, jadi lo sudah tahu gue serius dengan semua ucapan gue.”
“Oke, oke. Turunkan aku.” Dia berhenti berusaha turun dari bahuku. “Theo, kamu enggak serius akan mengganti celanaku, ‘kan?”
“Bukannya lo tadi yang suruh ganti kalau gue berani? Gue berani,” tantangku sambil membuka pintu kamarnya. “Di mana celana gantinya? Koper atau lemari?”
“Aku bisa ganti sendiri! Turunkan aku!” teriaknya panik.
Maka aku menurunkannya. “Kenapa lo enggak bilang begitu dari tadi?” Aku melihat ke arah celana pendek itu. “Jangan pernah pakai itu lagi atau gue buang semua celana pendek lo.”
“Kamu memang sangat menjengkelkan!” protesnya, tetapi aku sudah keluar dari kamar.
__ADS_1
Aku meletakkan telur mata sapi, sosis goreng, irisan tomat, dan beberapa lembar selada di atas meja. Roti panggang terakhir sudah matang, maka aku memindahkan ke piring dan menaruhnya di meja juga. Aku sudah lapar, jadi aku tidak menunggu dia bergabung bersamaku.
Dia keluar kamar, maka aku menoleh dan melihat dia mengenakan celana katun panjang. Bagus. Dia punya celana panjang, mengapa menggoda aku dengan celana pendek? Mencari gara-gara saja. Apa dia tidak tahu laki-laki punya pergumulan besar setiap pagi hari?
“Lebih baik aku tinggal sendiri daripada tinggal bersama kamu dan banyak aturannya.” Dia duduk di depanku dan mengambil selembar roti. “Apa salahnya memakai celana pendek di sini? Aku tidak akan begitu di luar sana.”
“Tunggu kita menikah, maka gue enggak akan melarang lo memakai apa pun yang lo mau di rumah. Lebih baik lagi lo tidak memakai apa pun.”
Dia terbatuk-batuk saat meneguk air minumnya. “Menikah? Aku belum mulai kuliah kamu sudah membahas tentang menikah?” tanyanya tidak percaya.
“Lo sendiri yang setuju kalau status lo calon istri gue. Cincin itu juga masih lo pakai, ‘kan? Lalu kenapa lo terkejut begitu?” ujarku acuh tak acuh.
“Aku masih mau kuliah, bukan berumah tangga.”
“Kita enggak akan menikah sampai lo wisuda. Tenang saja.”
Dia pun tidak protes lagi dan menyantap roti isinya. Aku memakan bagianku dengan cepat agar bisa kembali ke kamar dan melanjutkan belajarku. Setelah satu minggu ini berlalu, barulah aku punya waktu luang untuk kembali bekerja mengurus restoran.
“Aku mau tetap bekerja,” katanya pelan. Aku mengangkat kepala dan menatapnya dengan bingung. “Jika kita menikah nanti, aku tidak mau hanya di rumah.”
“Lo boleh melakukan apa pun yang lo mau, kecuali berteman dengan laki-laki lain.”
Aku tidak mau seperti Papa yang tidak dekat lagi dengan saudara kandungnya sendiri, karena itu aku belajar keras untuk percaya kepada Matt. Aku juga percaya kepada Hercules, tetapi aku tidak bisa membohongi nuraniku, Richo dan Nolan adalah orang yang aku curigai punya motif lain.
Iya, mereka adalah kakak kandungnya, tetapi sebagai Katelia, bukan Amarilis. Mereka tidak punya DNA yang sama, jadi kalau mereka jatuh cinta kepadanya, itu sebuah kewajaran. Karena itu, menjaga jarak adalah solusinya.
“Bagaimana aku bisa menghindari laki-laki kalau mereka adalah rekan kerjaku? Atau di kampus nanti, mereka adalah teman seangkatanku?” tanyanya.
“Lo bisa bertemu mereka dengan membawa seorang teman perempuan. Gue enggak suka melihat lo berdua saja dengan laki-laki, atau bertiga dengan laki-laki. Pastikan ada teman sejenis lo yang ikut dalam pertemuan atau diskusi kalian.”
“Mengapa kamu tidak bilang begitu dari dahulu?” protesnya.
“Lulus dengan summa cum laude—” ejekku.
“Tidak ada hubungannya dengan summa cum laude!” selanya. “Aku tidak bisa membaca pikiranmu, jadi kamu harus bicara dengan jelas. Oke, aku tidak akan berdiskusi HANYA dengan laki-laki.”
__ADS_1
“Bagus. Ada lagi?” tanyaku tidak sabar. Katanya belum mau menikah, tetapi dia sudah mengajak aku membicarakan hal yang boleh dan tidak boleh dalam pernikahan kami.
“Hah?” tanyanya bingung.
Aku menarik napas panjang, menenangkan diri. “Selain tetap bekerja, ada lagi yang mau lo bahas tentang tugas lo sebagai istri?”
“Oh.” Dia berpikir sejenak. “Aku tidak bisa memasak, jadi jangan minta aku mempelajarinya. Aku juga tidak mau membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan sebagainya seorang diri. Kamu harus membantu aku juga.”
“Gue bukan orang miskin. Kita akan mempekerjakan beberapa pelayan di rumah. Lo cukup layani gue di ranjang saja di luar jam kerja lo,” kataku dengan santai.
“Theo!” tegurnya dengan wajah memerah. “Apa hanya itu yang ada di dalam kepalamu!”
“Ini pagi hari, Kat.” Aku menunjuk ke bawah. “Si kecil baru saja tidur lagi setelah bangun sesukanya. Apa kamu pikir aku main-main meminta kamu mengganti celana pendek itu?”
“Oh!” Dia tertegun sejenak. Lalu wajahnya yang sudah merah itu semakin merah. “Ka-kamu serius, kamu menginginkan aku? Bukannya semua laki-laki akan menerima perempuan mana saja kalau dia sedang begitu?”
Aku mendengus keras. “Lo pikir gue apa? Hipêrséksuäl? Hanya lo yang gue inginkan. Biar ada wanita lain yang têlänjang di depan gue, enggak akan ada reaksi apa pun dari tubuh gue.”
“Wow ….” Wajahnya semakin memerah.
“Yah, wow. Karena itu, gue yakin memilih lo jadi istri gue,” akuku. “Ada lagi?”
“Tentang anak,” katanya.
“Gue mau kita punya dua anak. No debat,” ucapku cepat.
Dia merapatkan bibirnya. Dia pasti mau bilang cukup satu anak saja. “Kalau begitu, kita tunggu sampai usia kita cukup matang untuk memulai programnya.”
“Gue enggak mau menunggu. Lo langsung hamil lebih baik. Jarak mereka boleh tiga tahun, karena gue mau anak gue ASI eksklusif selama dua tahun. Selama lo masih mênyúsui, lo enggak boleh diet. Gue enggak peduli lo segendut apa, karena gue lebih suka lo begitu daripada kerempeng begini.”
“Kerempeng? Ini berat badan idealku,” protesnya.
Aku menyapukan pandanganku ke tubuhnya yang menggoda itu. “Timbangan lo hanya besar di dada dan bokong. Itu namanya bukan berat idel,” ejekku. “Ada lagi?” tanyaku dengan cepat, melihat dia masih ingin berdebat tentang ‘berat ideal’ badan kerempengnya itu.
“Mengenai keuangan—” katanya, tetapi terpotong bunyi bel.
__ADS_1
“Sebentar.” Tidak ada yang mengatakan akan datang berkunjung. Siapa yang menekan bel? Aku berdiri dan berjalan menuju layar kecil di dinding dekat pintu. Sial. Apa yang dia lakukan di sini?