
“Heh, jelek. Minggir kamu!” Seseorang menarik tanganku ke tepi.
Theo lewat begitu saja di depanku bersama Chika yang melingkarkan tangannya di lengannya. Aku memperhatikan kesepuluh jemarinya, mencari petunjuk hubungan mereka. Nihil. Tidak ada cincin pertunangan pada jari Chika.
Mengapa orang seheboh ini hanya karena mereka jalan bersama? Kelihatan sekali Theo tidak suka berada di dekat perempuan itu. Bukan tangannya yang memegang gadis itu, tetapi Chika yang genit melingkarkan tangannya di lengan Theo. Pemuda itu malah terlihat kaku dipegang begitu.
Berbeda ketika dia berjalan bersamaku. Dia yang menggandeng tanganku hingga setengah menyeret aku untuk mengikutinya. Namun orang yang melihat kami tidak pernah menganggap kami punya hubungan khusus. Percaya Theo suka kepadaku juga tidak.
Begitu Chika yang jalan dengannya, mereka langsung memandang mereka penuh kekaguman. Theo jelas tidak menyentuh dia sama sekali atau terlihat bangga berjalan di sisinya.
“Kalau dilihat baik-baik, mereka berdua cocok, ya,” kata seorang perempuan di sebelah kananku.
“Benar. Theo yang tampan, cerdas, dan kaya raya adalah pasangan yang serasi untuk Chika. Dia cantik, tinggi semampai, dan pintar. Aku dengar, dia juga orang kaya dari Medan,” balas temannya.
“Kapan orang biasa seperti kita bisa mengubah nasib kalau orang kaya hanya memilih orang kaya untuk jadi pasangannya?” keluh perempuan pertama.
“Yang bisa mengubah nasibmu hanya dirimu sendiri,” kataku, tidak tahan mendengar keluhannya itu. “Keluarga mereka juga awalnya begitu. Berjuang dari nol sampai jadi orang sukses.”
Aku meninggalkan mereka tanpa menunggu respons mereka. Entah untuk apa mereka menarik aku ke tepi demi membiarkan kedua orang tadi lewat. Ini koridor untuk umum, bukan catwalk atau gang menuju altar di gereja.
Sonata dan aku duduk bersebelahan selama mengikuti perkuliahan pagi hingga sore. Dia tertawa melihat aku pergi terburu-buru usai mata kuliah terakhir. Aku belum menceritakan semua kegiatan harianku kepadanya, karena aku belum sepenuhnya percaya kepadanya.
Matt tidak mengikuti latihan musik lagi, jadi dia kelihatan jauh lebih segar. Keputusan yang sangat baik, karena penampilan mereka akan buruk jika seluruh pemain musiknya kelelahan seperti kondisi Matt pada malam sebelumnya.
Dalam perjalanan menuju tempat tinggalku, ponselku bergetar. Aku melihat nomor yang tidak aku kenal, tetapi aku menjawab panggilan masuk tersebut. Aku senang ketika dia menyebut nama Wiryawan. Nama yang tidak akan pernah aku lupakan.
“Baik, saya bisa,” jawabku dengan antusias.
“Kamu yakin? Acaranya dua hari lagi,” kata wanita itu dengan khawatir.
“Yakin, Mbak. Beri saya daftar lagunya supaya saya bisa mempersiapkan diri.”
“Wah! Pak Norman tidak bicara sembarangan. Kamu memang langsung menyanggupi tawaran kami,” katanya dengan lega. “Baik, segala detailnya akan aku kirim lewat surel. Tolong, beri alamat surelmu.”
Orang bodoh mana yang akan menolak pekerjaan dengan bayaran bagus? Aku yakin mereka tidak akan pelit menghargai jasaku. Membaca deretan lagu yang harus aku mainkan, aku mendesah lega. Aku tahu semua lagu itu, jadi aku hanya perlu pemanasan sejenak sebelum memainkannya.
Pada hari Jumat menjelang makan siang, Theo sudah menunggu di dekat pintu ruang kuliahku. Sonata tersenyum penuh arti, lalu mendorong tubuhku agar segera mendekati laki-laki itu. Aku cemberut karena sikapnya tersebut. Dia malah tertawa cekikikan.
__ADS_1
Theo mengerutkan keningnya melihat tingkah kami, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Hanya meraih tanganku, lalu menggandeng aku menyusuri koridor tersebut. Perhatian semua orang pun tertuju kepada kami. Aku mengangkat kepalaku dengan bangga biar mereka tahu, bukan aku yang genit memegang tangan pemuda ini, melainkan sebaliknya. Jauh berbeda dengan Chika.
“Aku sebenarnya siapa bagimu?” tanyaku saat dia memberikan helmnya kepadaku.
“Pacar,” jawabnya singkat. Dia memakai helmnya, lalu menaiki sepeda motornya.
“Lalu siapa Chika bagimu?” tanyaku lagi. Apa dia tidak sadar dia sudah melakukan hal yang aneh? Dia berjalan dengan Chika pada hari sebelumnya, lalu hari ini dengan aku.
“Teman satu angkatan,” jawabnya acuh tak acuh.
“Tidak ada teman satu angkatan jalan sambil gandengan tangan begitu,” ucapku kesal.
Mengapa aku merasa marah begini? Entahlah. Mungkin karena dia menjawab seenaknya mengenai hubungan kami, tetapi sikapnya tidak menunjukkan ada hubungan khusus di antara kami berdua. Atau aku hanya resah karena perempuan yang menjadi rivalku adalah Chika?
“Gue lapar, Amarilis. Cepat naik atau gue seret lo sampai tujuan,” ancamnya.
“Kamu memang tidak punya perasaan,” umpatku, sebelum menaiki sepeda motornya itu.
Dia memilih tempat makan yang jaraknya cukup jauh dari kampus. Aku melihat tempat itu dengan bingung. Apa ada perayaan khusus dengan keluarganya sehingga dia membawa aku ke restoran yang kelihatannya mahal ini? Ah, iya. Mungkin hari ini ada anggota keluarganya yang berulang tahun.
Dia membawa aku ke bagian dalam. Ruangan itu sepi, tidak ada orang yang menempati meja yang tersedia. Mengapa dia memilih tempat ini? Apa ada sebuah rahasia yang akan kami bahas? Tiba-tiba saja dia berbalik, memeluk aku, dan berdiri diam selama beberapa saat.
Jantungku berdebar dengan kencang, terkejut dengan tindakannya yang mendadak itu. Aku sampai takut dia bisa merasakannya. Menyadari dia tidak melakukan apa pun, aku bergerak ingin lepas. Dia melonggarkan pelukannya dan mengecup keningku.
“Apa lo sekarang percaya lo adalah pacar gue?” tanyanya.
Wajahku memanas mendengar pertanyaan itu. Dia melakukan ini untuk meyakinkan aku mengenai hubungan kami? Apa gunanya? Sampai kapan kami bisa bersembunyi begini tanpa ketahuan orang lain? Lagi pula, tidak akan ada yang merestui hubungan kami.
“Kamu sadar kalau orang tuamu tidak akan pernah merestui hubungan kita, ‘kan?” tanyaku.
“Gue belum berpikir sampai ke sana. Begini sudah cukup.” Dia menjauhkan tubuhnya, menggandeng tanganku, lalu membukakan kursi terdekat untukku.
Aku menurut dengan duduk dan meletakkan tasku di kursi kosong di sebelahku. “Kita harus putus saat kamu resmi bertunangan dengan Chika atau siapa pun gadis yang dipilih oleh orang tuamu,” kataku dengan tegas.
“Tidak,” jawabnya.
“Aku tidak mau jadi selingkuhanmu, Theo,” protesku.
__ADS_1
“Berapa kali gue harus katakan, lo adalah pacar gue,” katanya dengan tegas. “Lo yang pertama, bukan perempuan lain, siapa pun dia nanti.”
“Tante sangat baik kepadaku, begitu juga Om. Aku tidak mau hubungan kami rusak karena aku jadi pacar gelap putra sulung mereka. Kamu adalah ahli waris yang aku yakin mereka persiapkan untuk memimpin usaha keluargamu. Jadi, tidak, Theo. Lebih baik kita putus!”
“Cukup!” hardiknya, mengejutkan aku. “Gue sudah bilang, gue yang memutuskan segalanya, bukan lo. Jangan bahas putus lagi atau lo akan menyesal sudah membuat gue marah.”
Aku mencibir mendengar ancamannya. Aku tahu orang tenang belum tentu akan setenang itu ketika amarahnya terpancing. Jadi, aku memilih untuk diam dan menahan kalimat yang sudah ada di ujung lidahku. Tempat ini bukan lokasi yang cocok untuk bertengkar.
Kami makan dalam diam dan dia terus saja fokus dengan bukunya. Sebaliknya, aku tidak bisa belajar dengan hati yang masih kesal. Aku bukan dia yang dengan gampang menutup hati dan otaknya dari sebuah masalah dan bisa melanjutkan aktivitasnya seolah tidak ada hal yang salah.
Dia mengantar aku kembali ke kampus setelah kami selesai makan. Kami sama-sama masih punya jam kuliah sampai sore nanti. Aku tidak menolak ketika dia menggandeng tanganku. Perhatian semua orang pun tertuju kepada kami. Apa dia sengaja melakukan ini?
Tidak sampai di situ, dia berhenti di depan pintu ruang kuliahku, lalu mencium pelipisku. Aku bisa merasakan semua mata terarah kepada kami. Dia sudah gila. Apa dia lupa dengan kesepakatan kami untuk tetap backstreet?
“Gue yang putuskan segalanya tentang hubungan kita,” bisiknya sebelum melepas tanganku dan pergi menuju ruang kuliahnya.
Jantungku berdetak dengan cepat. Aku menarik napas panjang, baru menyadari aku menahan napas sedari tadi. Apa dia sadar apa yang baru saja dia lakukan? Aku melihat ke sekitarku. Orang-orang masih membulatkan mata mereka, tidak percaya dengan hal yang baru mereka saksikan.
“Ciiee …. Teman dekat atau teman ‘dekat’?” goda Sonata begitu aku duduk di sisinya.
“Diam, Sonata.” Aku melihat ke sekitar kami dengan resah. “Kami hanya teman.”
“Mana ada teman pakai cium kening segala. Itu hanya dilakukan oleh suami kepada istri atau pacar.” Dia mengedipkan sebelah matanya. Aku meletakkan telunjuk di depan bibirku.
Sonata beberapa kali melirik aku dan tersenyum penuh arti, tetapi bukan itu yang membuat aku tidak konsentrasi mendengarkan penjelasan dosen. Mengapa Theo mencium aku segalanya? Apa dia sengaja mengumumkan hubungan kami kepada semua orang?
Berjalan bersama Sonata melewati koridor tidak membuat aku lepas dari perhatian para mahasiswa. Mereka menatap aku yang berjalan di depan mereka sambil berbisik dengan teman di sebelahnya. Sonata tertawa kecil, bahagia dengan semua perhatian itu.
“Sampai Senin depan, Amarilis. Salam untuk pacarmu, ya.” Dia mengedipkan sebelah matanya saat kami berpisah. Dia berbelok ke kanan, sedangkan aku ke kiri. Ada-ada saja.
“Amarilis, Amarilis,” kata Chika yang menghalangi jalanku sehingga aku terpaksa berhenti. Dua orang bertubuh besar berdiri di sisi kanan dan kirinya. “Apa kamu sudah bosan hidup dengan tenang?”
“Kita tidak punya urusan apa pun lagi, Chika,” kataku, mengingatkan.
“Lalu mengapa kamu mendekati calon suamiku? Jangan salahkan aku melakukan ini, Amarilis. Ini pelajaran untukmu yang sudah berani mencium tunanganku.” Dia bergerak mundur dan kedua orang itu maju mendekati aku.
Aku menelan ludah dengan berat. “Apa kamu buta? Aku tidak menciumnya? Dialah yang mencium aku,” protesku, mencoba untuk menjelaskan. Melihat dia hanya diam dan kedua orang itu bersiap untuk menyerang, nyaliku ciut. Bagaimana aku bisa melawan dua orang ini sendiri?
__ADS_1