
Aduh, padahal aku sudah lapar dan ingin segera makan. Kalau makanan sudah tersedia, aku tenang. Nah, jika harus memesan dan menunggu koki memasak, kapan lagi aku makan? Tiba-tiba saja lampu menyala, membuat keadaan di depan kami terang-benderang.
“Selamat ulang tahun!!” sorak orang-orang yang berkerumun di hadapanku.
Jantungku berdebar cepat sekali karena kaget. Melihat wajah-wajah yang sudah aku kenal, aku pun tenang. Ternyata keluargaku dari Medan datang. Aku tidak ingat sama sekali dengan ulang tahunku. Ooo. Jadi, ini alasan Theo memberi aku kejutan. Dia memberi aku kado ulang tahun.
Bunda mendekat, membawa kue dengan lilin kecil menyala di atasnya. Aku mengikuti instruksi sesuai lirik lagu yang mereka nyanyikan. Meniup lilin, memotong kue, dan membagikannya. Tentu saja potongan dan suapan pertama aku berikan kepada Theo.
Hanya acara singkat, lalu kami bisa makan. Aku tidak menunggu lagi dan melahap makanan yang sudah tersedia di hadapanku. Mereka semua tertawa melihat tingkah lakuku, tetapi aku tidak peduli. Semua orang juga menyantap makanan mereka sambil mengobrol dengan santai.
Ternyata keluargaku menginap di hotel selama satu malam. Namun mereka akan pulang bersama kami dan tinggal selama beberapa hari. Mereka seharusnya bisa bermalam di tempat kami, tetapi tidak mau merusak kejutan yang sudah mereka siapkan. Ada-ada saja.
Setelah perut kenyang, aku pun bisa merasakan bahagia berada di antara keluargaku. Kemalangan yang aku alami ada untungnya juga. Mereka jadi datang ke sini untuk merayakan ulang tahunku. Padahal aku baik-baik saja. Semuanya bisa aku atasi bersama Theo.
“Berita mengenai kamu yang bêrzinà dengan laki-laki tidak tahu malu itu akhirnya tenggelam juga. Wartawan sekarang sibuk membahas kasus pejabat mata keranjang itu.” Bunda tertawa puas. “Aku sempat resah karena ayahmu tidak juga menemukan cara meredam berita itu.”
“Theo punya lebih banyak koneksi, aku sampai terkejut.” Ayah menatap bangga kepada suamiku. “Dia yang dapat informasi rahasia mengenai pejabat itu dan mengeksekusinya. Kalau aku tahu ada cara ini, aku pasti sudah melakukannya.”
“Papa kenal baik dengan Om Winara. Justru lebih baik Theo yang bertindak daripada Papa,” ucap Kak Nolan. “Jadi, dia bertemu lawan yang dia takuti. Kita bisa susah kalau mereka balas dendam.”
“Mereka tidak akan membalas selama aku hidup. Aku akan jaga perusahaan Ayah, juga toko roti Papa. Tidak akan ada yang bisa mengganggu keluargaku. Kalau mereka masih nekat, aku akan beri mereka pelajaran.” Theo meneguk minumannya, lalu melanjutkan makannya.
Kami semua menatap dia karena nada bicaranya yang sangat dingin itu. Aku bisa melihat Rahma menelan ludah dengan berat. Bagus. Semoga setelah mendengar ini, dia akan berpikir dua kali untuk menyebarkan keadaanku kepada orang lain atau wartawan.
“Ng, Jericho.” Bunda melihat Kakak yang segera membalas tatapannya. “Mengapa dia ada di sini?”
“Ah, iya. Mama sudah kenal Rahma. Dia pacarku,” kata Kakak, acuh tak acuh.
__ADS_1
Semua orang mendadak diam. Suasana hening yang mendadak itu membuat telingaku berdenging. Padahal baru beberapa detik yang lalu semua orang bicara dengan orang di sebelahnya mengenai apa saja. Begitu Kakak menyebut kata pacar, mereka mengarahkan perhatian kepadanya.
“Pacar?” tanya Bunda, mengonfirmasi. “Kamu tidak bilang kamu sudah punya pacar.”
“Sekarang Mama sudah tahu.”
Rahma tersenyum melihat semua keluargaku memperhatikannya. Para sahabatku melirik aku, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku menunjuk ke arah piring mereka dengan mataku agar mereka lanjut makan saja. Aku dan Theo juga begitu.
“Dia sudah jahat kepada Katelia dan Amarilis.” Bunda melirik Mama, lalu kembali menatap Rahma. “Aku tidak mau kamu berhubungan dengannya atau Chika dan Nisa. Apa kamu lupa apa yang baru saja dilakukan kedua orang itu terhadap Amarilis? Mereka menuntutnya karena bêrzinà.”
“Maaf, Tante. Aku dan Kak Jericho serius dengan hubungan kami.” Rahma memegang tangan Kakak yang ada di atas meja. “Kami saling mencintai.”
Aku tersedak makananku. Semua keluargaku melihat, lalu bicara dengan panik agar Theo menolong aku. Padahal cukup batuk-batuk sebentar, maka tenggorokanku akan lega. Mereka berlebihan begini gara-gara aku sedang hamil. Kalau tidak, mereka akan bersikap biasa saja.
“Tenang, aku baik-baik saja,” kataku, tersenyum melihat tingkah mereka.
“Jericho, ikut denganku,” kata Bunda yang berdiri dan keluar dari kursinya.
Kakak mengikutinya dengan patuh. Rahma terlihat kecut ditinggal sendiri bersama kami. Namun kami hanya melanjutkan makan dan obrolan, mengabaikan kehadirannya sama sekali. Yang kenal pasti tahu apa yang terjadi antara mereka sekarang. Karena itu, Ayah dan Kak Nolan diam saja.
Edrick mencoba untuk mencairkan suasana dengan leluconnya yang konyol. Aku, Mama, dan Sonata tertawa mendengarnya, sedangkan para pria hanya mengangkat alis mereka. Selera humornya memang agak unik, tetapi mampu membuat perut tergelitik.
Bunda dan Kakak kembali beberapa menit kemudian. Melihat wajah Bunda yang merah padam, aku tahu segalanya berjalan dengan buruk. Kami semua menoleh kepada Rahma. Dia juga sadar sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi kepadanya.
“Nak Edrick, Sonata, aku minta waktu sebentar, ya. Ada yang perlu aku bicarakan dengan gadis ini. Kalian tidak akan suka dengan pilihan kata yang aku gunakan,” kata Bunda menahan amarah.
“Baik, Tante. Santai saja. Kami akan minum kopi dan camilan di dalam,” kata Edrick. Dia meraih tangan Sonata dan menggandengnya menuju bagian dalam restoran.
__ADS_1
Aku dan Theo saling bertukar pandang. Dia memegang tanganku, lalu menoleh ke arah Bunda. Aku melihat kepada Kak Jericho yang berdiri tidak jauh dari Bunda. Tidak biasanya dia berwajah datar begitu. Mereka pasti bertengkar dengan hebat di dalam. Aku memandang Ayah dan Kak Nolan. Mereka hanya mengangkat kedua bahu mereka.
“Ternyata kamu masih hobi berbohong, ya,” kata Bunda dengan tajam. “Berani sekali kamu bilang kalian saling mencintai. Apa kamu pikir aku tidak kenal dengan putraku? Dia tidak akan jatuh cinta kepada perempuan seperti kamu.”
Rahma merapatkan bibir dan mengepal tangannya. “Perempuan seperti aku? Jadi, begitu. Jericho mengatakan dia tidak mencintai aku? Bagaimana Tante bisa tahu aku yang berbohong? Bisa jadi putra Tante sendiri yang berbohong demi menghindari amarah ibunya.”
“Aku ibunya. Tentu saja aku tahu wanita seperti apa yang bisa menarik perhatiannya,” balas Bunda. “Perundung, suka memanipulasi orang seperti kamu tidak akan pernah mendapat restu dariku. Dan Jericho tidak akan mau menentang mamanya sendiri.”
Rahma tertawa kecil. “Tante, Katelia yang menjerumuskan aku dalam dunia ini. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan menjadi perundung,” katanya, membela diri.
“Jangan sebut nama putriku dengan mulut penuh tipu muslihatmu itu. Kamu belajar apa di sekolah kalau tidak bisa membedakan yang baik dengan yang jahat. Berani sekali kamu menyalahkan putri kesayanganku atas perbuatan jahatmu,” ujar Bunda berang.
“Hati-hati, Tante.” Rahma melirik Kak Jericho. “Aku bisa membongkar keadaan Katelia yang baru saja berulang tahun kepada semua orang. Apa Tante mau dia selamanya menjadi bahan percobaan karena keajaiban yang terjadi padanya?”
“Apa katamu?” tanya Bunda. “Apa kamu baru saja mengancam aku?”
Kalau aku jadi Rahma, aku tidak akan menantang Bunda. Sepertinya dia lupa seperti apa aslinya ibuku. Padahal dia sudah berulang kali melihat Bunda lepas kendali. Aku melirik ke arah Kak Nolan yang juga sedang menatap aku penuh arti.
“Terserah Tante mau menyebut ini apa.” Rahma berdiri dan mengangkat dagunya saat menatap Bunda. “Tante mau memberi restu atau tidak, Jericho akan menikah denganku. Tante coba-coba menghalangi niat kami, maka aku akan langsung menemui pers dan membongkar semuanya.”
Bunda berjalan dengan cepat ke depan Rahma. Wanita itu terkejut, tidak menduga Bunda akan melakukan hal itu. “Satu kata saja keluar dari mulutmu mengenai putri kami, aku bersumpah. Kamu, keluargamu, bahkan anak cucumu akan menderita selama kami masih hidup. Aku ingat semua yang kamu dan kedua temanmu ucapkan kepadaku saat menuduh Amarilis mémbúnuh Katelia.
“Hanya ada kalian berlima di atas kapal. Amarilis tercebur dan dia menarik Katelia jatuh ke danau bersamanya. Sekarang pertanyaannya, siapa yang sudah mendorong Amarilis? Apa kamu pikir polisi akan percaya pada omonganmu mengenai pertukaran tubuh? Silakan, kalau mau coba.
“Tetapi semua orang, termasuk polisi, lebih mudah percaya kamu, Chika, dan Nisa sudah berusaha untuk membunuh kedua putri kami. Aku beri tahu kamu. Kedaluwarsa percobaan pêmbúnuhan dan pembunuhan berencana yang kalian lakukan belum terlewati. Jika kami menuntut kalian sekarang, kalian pasti akan masuk penjara.”
Rahma tertawa gugup. “Jangan lupa, Tante. Kami saat itu masih remaja.”
__ADS_1
“Rahma, apa kamu sudah lupa siapa aku,” Bunda tersenyum licik, “dan yang sanggup aku lakukan kepada orang yang berani melawan aku?”