Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
141|Minggu Kemerdekaan


__ADS_3

Dia benar. Keturunan adalah segalanya bagi keluarga kami. Karena itu, Mama yang menentukan siapa yang pantas menjadi istriku. Pilihannya selalu jatuh kepada perempuan yang cantik dan tentu saja, sehat. Dia mau kami menhasilkan keturunan yang sempurna secara fisik.


Amarilis bukan pilihan, karena dia tidak hanya miskin, tetapi juga tidak menarik secara fisik. Walau terkesan arogan, itu adalah kenyataan dalam dunia kami. Cantik saja tidak cukup, kalau tidak kaya raya. Biasanya wanita seperti ini hanya menjadi simpanan, tidak akan pernah dinikahi.


Wanita yang bisa memuaskan di tempat tidur, juga hanya akan menjadi selingkuhan. Janji pria di mulutnya bahwa mereka akan menikah hanya untuk memperlancar pelayanan dari perempuan yang memuaskannya itu. Karena dia tidak akan pernah menjadi istrinya.


Jadi, aku mengerti mengapa Papa tidak marah dan mengizinkan aku terus bersama Amarilis. Orang yang dia kenal dalam dunia bisnis melakukan hal yang sama. Walau Papa tidak. Berbeda dengan Mama yang akan memaksa aku pulang dan segera memajukan pernikahanku dengan Venny.


“Lo enggak mandul.” Aku mencium pipinya dengan gemas. “Apa lo lupa kita sudah memeriksakan kesehatan bersama?”


“Termasuk hal itu?” tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk. “Kamu diam-diam meminta mereka memeriksakan hal itu?”


“Hasilnya ada di tangan lo. Lo bisa memeriksanya sendiri. Itu bukan permintaan diam-diam.” Aku hanya tidak memberi tahu dia secara detail setiap pemeriksaan yang dia jalani.


“Entahlah, Theo. Aku tetap tidak yakin kita bisa melakukan ini tanpa restu mereka.” Dia kembali bersikap pesimis. “Aku miskin, jelek, kamu pasti malu membawa aku menghadiri sebuah pesta kelak.”


“Kapan gue pernah malu membawa lo menghadiri sebuah pesta?” tanyaku tersinggung.


“Kembang apinya sudah selesai. Kita pulang.” Dia melepaskan dirinya dari pelukanku.


“Apa lo mau melihat gue bersama Venny? Lo siap kalau gue menikah dengannya? Apa lo enggak merasakan apa-apa membayangkan gue memeluk dan mencium dia dengan mesra?” Setiap kali aku mengajukan pertanyaan, kepalan tangannya semakin erat.


“Cukup!” serunya dengan kesal.


“Mana Amarilis yang berkata dia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kami lagi? Gue enggak mau bicara dengan Amarilis pesimis ini. Dia tahu hubungan kami tidak akan mudah, tetapi dia yakin kami bisa melalui segalanya. Gue hanya mau bicara dengan Amarilis optimis.” Aku berdiri dan berjalan menuju mobil kami.


Hubungan kami jadi dingin, tetapi itu lebih baik daripada aku mendengar dia bicara dengan nada putus asa. Walau begitu, apartemen tetap menjadi tempat favoritku. Aku tidak mencoba untuk membujuk dia bicara. Lagi pula, dia selalu keluar kamar untuk makan meski tidak mengobrol.


“Aku doakan pernikahanmu dengan perempuan itu bagaikan di neraka,” umpat Clara untuk ke sekian kalinya. Dia memasuki ruang kerjaku tanpa mengetuk pintu dahulu. “Aku mengundurkan diri. Keterampilanku terlalu berharga untuk disia-siakan di usaha yang hanya jalan di tempat ini.”


Aku menahan senyum legaku melihat amplop yang dia letakkan di atas meja. “Kamu sadar artinya mengundurkan diri, ‘kan? Kamu tidak akan dapat pesangon.”


Dia tertawa terkejut. “Apa kamu pikir aku akan menuntut uangmu? Sisa gajiku boleh kamu ambil. Hanya masalah waktu restoran ini bangkrut tanpa ada aku di sini.”


“Aku tidak mau ada masalah di kemudian hari, jadi sisa gajimu akan ditransfer. Kalau tidak ada lagi, kamu boleh pergi. Pekerjaanku masih banyak.” Aku kembali memeriksa berkas yang tadi aku baca.

__ADS_1


“Aku pikir Amarilis adalah wanita yang beruntung. Ternyata dia lebih malang dariku. Kamu hanya memanfaatkan dia untuk memuaskan nàfsúmu. Begitu kamu menikah, kamu mencampakkan dia. Tetapi wanita miskin memang nasibnya begitu. Hanya jadi pelampiasan.” Dia tertawa puas.


“Kalau aku jadi dia, aku tidak sudi hanya jadi teman ranjangmu. Kamu akan menyesal sudah memilih perempuan lain daripada aku. Lihat saja. Kamu akan selamanya membutuhkan simpanan karena dia tidak akan pernah bisa memuaskan kamu seperti aku.” Dia membalikkan badan dan akhirnya keluar.


Luar biasa. Percaya diri sekali. Apa semua pria yang dia tiduri memuji keterampilannya di ranjang? Mengapa semua orang selalu berpikir Amarilis adalah pelampiasan nàfsúku? Pertama Papa, lalu Clara. Apa begitu sulit mempercayai aku jatuh cinta kepada wanita biasa itu?


Namun ini kabar baik. Aku tidak perlu susah payah, dia sudah mundur sendiri. Para karyawan pasti tenang bisa bekerja dengan damai tanpa kehadiran ratu drama itu lagi. Aku harus memilih sendiri penggantinya, agar manajer itu tidak macam-macam lagi.


Pada Hari Kemerdekaan, kami mengawali hari dengan urusan masing-masing. Aku menyiapkan sarapan, sedangkan dia melakukan panggilan video dengan keluarganya. Kedua ibunya tidak pernah melewatkan satu hari Sabtu pun untuk mengetahui keadaannya.


Setelah sarapan, kami bersiap untuk menyaksikan parade kemerdekaan di jalan utama. Aktivitas yang kami lewatkan pada tahun lalu, tetapi ingin aku saksikan bersamanya pada tahun ini. Dia bisa melihat para tentara dengan berbagai kostum sejak awal kemerdekaan bangsa ini.


Penthouse yang dimaksudkan itu lebih mewah dari dugaanku. Bunyi musik yang keras menyambut kami ketika pintu elevator khusus itu terbuka. Wajah yang aku kenal dari laporan Daisy berdiri di depan kami dengan ekspresi khawatir berubah bahagia.


“Syukurlah, kamu datang juga!” Meghan memeluk Amarilis, lalu membawanya masuk.


Aku mengikuti mereka menuju konter. Mereka duduk di kursi yang tersedia dan pelayan datang membawa makanan ringan dan minuman untuk kami. Untung juga kami bersama tuan rumah, jadi kami tidak perlu repot-repot mengambil sajian di atas meja. Semuanya diantar kepada kami.


Beberapa tamu yang hadir tidak asing bagiku. Aku pernah bertemu dengan mereka pada beberapa acara undangan yang aku hadiri. Anak-anak orang kaya di kota ini. Karenanya, aku tidak heran Mike ada di antara mereka. Aku harus mengawasi dia baik-baik.


“Mengapa kamu datang ke sini?” tanya Clara dengan sinis kepadaku. “Jangan bilang kamu akan membujuk aku untuk kembali bekerja di restoranmu.”


“Aku yang mengundang mereka.” Meghan menjawabnya untuk kami.


“Apa kamu sudah gila!?” amuknya.


“Kamu mengundang semua orang ini. Masa tidak ada satu pun undanganku?” balas Meghan.


Clara menatap aku dan Amarilis secara bergantian. “Baiklah. Kamu mau mereka ada di sini, silakan. Tetapi jangan harap aku akan menyajikan anggur terbaik untuk mereka.”


“Ck, ck, ck. Aku yang akan menyajikan minuman terbaik untuk mereka.” Meghan menggerakkan tangannya, mengusir saudaranya. “Sebaiknya kamu pergi dan jangan buat tamuku tidak nyaman.”


Clara melirik tajam kepadaku sebelum bergabung dengan tamunya yang terhormat. Beberapa orang mendekat dan mengobrol denganku. Mereka kemudian mengajak aku ke lantai dansa, tetapi aku menolak. Apalagi mereka terlihat mulai mabuk.


Aku tidak bisa jauh dari Amarilis walau temannya kelihatannya baik. Kami sudah pernah dikerjai oleh teman palsu. Walau Nora tidak ada di tempat ini, aku mengkhawatirkan sikap Mike yang mungkin saja akan balas dendam setelah kalah taruhan.

__ADS_1


“Amarilis, kamu tidak apa-apa?” tanya Meghan ketika aku kembali ke tempat dudukku.


Mendengar itu, aku mendekat. “Ada apa?”


“Aku tidak tahu. Dia mulai meracau, aku pikir karena kalian sedang bertengkar.” Dia mengambil gelas dari tangan sahabatnya itu.


“Tunggu. Aku masih mau minum.” Amarilis meraih gelas itu kembali.


“Dia mabuk.” Aku mengambil gelas itu dan menghirupnya. Tidak ada bau alkohol. “Berapa banyak dia meminum ini?”


“Dua gelas. Itu hanya jus jeruk, tidak akan membuat mabuk,” ucap Meghan heran. “Tetapi kamu benar. Dia mabuk. Apa ada pelayan yang kurang ajar kepadanya?”


Aku mengikuti arah pandangnya ke sebuah pintu. Para pelayannya keluar masuk dari tempat itu. Sepertinya itu jalan menuju dapur. Pelayan mereka tidak akan melakukan ini jika tidak ada yang menyuruh. Apa mungkin Clara yang menyuruh seseorang memberi sesuatu kepada Amarilis?


“Kami pulang.” Aku segera membopongnya.


“The-theo, jangan marah. Aku tidak—” Wajah wanita itu memucat.


“Tolong, bukakan elevatornya,” pintaku.


Dia berjalan dahulu dan menekan tombol di samping pintu kembar itu. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya minum jus jeruk. Sungguh.”


“Meghan. Tenang. Aku tidak menyalahkan kamu.”


“Tetapi caramu melihat aku berkata lain.” Matanya berkaca-kaca. “Amarilis adalah satu-satunya sahabatku. Aku tidak mau kamu melarang kami berteman lagi.”


“Mataku sudah sedari lahir begini.” Aku memejamkan mataku melihat dia salah paham. Tatapanku memang tajam dan dingin. Hal yang justru aku sukai dari diriku. Jadi, aku tidak perlu susah payah mengancam, orang sudah takut kepadaku.


Dia menawarkan sopirnya mengantar aku pulang, tetapi aku menolak. Pengawal kami selalu siap sedia di mobil mereka. Kendaraan itu sudah ada di depan lobi saat kami tiba. Daisy menolong membuka pintu dan aku memasukkan Amarilis.


Meghan masih meminta maaf sebelum aku menutup pintu. Dia tidak bersalah. Walau aku tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak akan melakukan ini kepada temannya. Pasti Clara yang menyuruh pelayan mereka untuk memasukkan sesuatu ke dalam minuman Amarilis.


“Panas.” Amarilis membuka satu per satu kancing depan bajunya.


“Sayang, jangan lakukan ini sekarang.” Aku segera menahan tangannya. “Turunkan suhu AC-nya.”

__ADS_1


“Tidak akan ada gunanya, Pak,” kata Daisy. “Nona Amarilis meminum obat pêràngsang.”


__ADS_2