
Theo tidak menjawab tuduhan mamanya, tetapi dari ekspresi wajah Tante Ruth, aku menebak dia yakin putranya itu serius dengan ucapannya. Padahal aku yakin Theo tidak akan melakukannya. Dia terlalu sayang dengan reputasinya daripada sekadar mempermalukan Chika.
“Aku tidak percaya kamu menusuk aku dari belakang seperti ini, Amarilis. Aku pikir kamu adalah gadis baik-baik. Kalau aku tahu kamu berniat menggoda putraku, aku tidak akan mengizinkan kamu datang ke rumahku setiap hari dan merayu dia saat mengantar kamu pulang,” tuduh Tante Ruth.
Matt tertawa kecil sehingga kami menoleh ke arahnya. “Mama tidak salah bicara? Kak Amarilis yang dahulu gendut dan berpenampilan biasa saja mana bisa menarik perhatian Theo. Gue yang lebih cocok dia rayu karena kami lebih sering bersama,” candanya.
“Tante Winara pasti meracuni pikiran Mama. Jangan didengar, Ma. Coba Mama tanya diri sendiri. Apa yang Mama lihat dari Kak Amarilis selama satu tahun enam bulan ini sama seperti yang dinilai oleh calon besan Mama itu?” Matt menggelengkan kepalanya.
“Aku pikir kamu belajar hal-hal baik dari gurumu, ternyata dia membuat kamu melawan mamamu sendiri. Kamu tidak perlu belajar privat lagi dengannya. Aku akan mencari guru lain yang lebih baik.” Tante Ruth akhirnya melepaskan aku juga.
Kepalaku mendadak sakit. Inilah yang aku khawatirkan dari pengakuan Theo pada malam ini. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Setidaknya, sampai Matt lulus SMU. Jika aku beruntung, bisa jadi dia akan meminta aku menjadi gurunya pada semester awal di kampus.
Pengumuman beasiswa itu belum pasti. Iya, mereka menghubungi aku walau waktu tenggat sudah lama berlalu, tetapi hasil wawancara penentunya. Aku belum tahu mereka akan memberikan aku beasiswa penuh sampai wisuda nanti atau tidak.
Ya, sudahlah. Tidak apa-apa. Aku bisa mencari info dari teman satu indekosku. Mungkin dia punya kenalan yang membutuhkan guru privat untuk anaknya. Lebih baik lagi jika murid baruku masih kelas satu atau dua SMU. Aku punya pendapatan pasti sampai lulus kuliah nanti.
“Lo enggak apa-apa?” tanya Theo dengan lembut.
Kami sudah berada di depan tempat tinggalku. Pertemuan tadi tidak berakhir mulus, tetapi sesuai dengan dugaanku. Walau Om hanya diam dan Tante yang mendominasi pembicaraan, mereka tidak merestui hubungan kami. Alasannya klise, aku miskin.
Papa dan Mama Katelia juga akan melakukan hal yang sama, jadi aku sudah tidak terkejut lagi. Aku justru akan kaget bila Om dan Tante memberi restu dengan mudah. Itu hal yang mencurigakan dan aku tidak akan terlena dengan itu.
Sikap Tante Winara juga wajar. Ibu mana yang tidak kecewa melihat putrinya dikhianati? Mama Katelia tidak akan sekadar marah, dia sudah pasti akan melempar Theo menjadi makanan piranha. Mama paling benci dengan laki-laki suka mendua.
Aku dan Theo menjalin hubungan dahulu dibandingkan pertunangan mereka. Jadi, Chika adalah perempuan keduanya, bukan aku. Namun kami backstreet, jadi tidak ada yang tahu. Setelah malam ini, maka semua orang akan tahu aku dan Theo adalah sepasang kekasih.
“Aku yang seharusnya bertanya begitu. Apa kamu tidak apa-apa?” tukasku. “Kamu baru dimarahi mamamu dan diabaikan papamu.”
“Gue sudah tahu risiko dari pengakuan gue hari ini. Yang ortu gue lakukan belum ada apa-apanya. Lo siap-siap saja. Mama pasti akan mendatangi lo untuk menjauhi gue.”
“Aku harus masuk sekarang. Aku kehilangan seorang murid, maka aku perlu mencari murid baru.” Aku memegang kenop pintu mobilnya. “Selamat malam, Theo.”
__ADS_1
“Selamat malam.”
Aku duduk di tepi tempat tidur dan melihat ke sekitar kamarku. Untung saja, aku masih mendapat kamar murah ini, jadi aku tidak mengeluarkan banyak biaya untuk sebuah kamar. Aku tidak perlu khawatirkan ongkos, karena sudah ada sepeda.
Yang perlu aku pikirkan adalah uang makan. Selama mengajar Matt, aku tidak pernah pusing dengan makan malam. Theo pasti akan mengajak aku makan siang lagi. Kak Jericho sudah mulai menyusun skripsi, maka dia bukan pilihan yang aman.
Penat memikirkan semua itu, aku mandi dan berganti pakaian. Melihat ada sedikit celah pada tirai, aku mendekat dan merapatkannya. Namun aku penasaran untuk melihat keadaan di luar gerbang rumah. Sesuatu di depan pagar mengejutkan aku.
Setelah mengunci pintu kamar kembali, aku bergegas turun ke lantai bawah, lalu keluar dari rumah. Dia sudah berdiri di sisi mobilnya saat aku membuka pagar. Ekspresi datarnya itu membuat aku tidak bisa membaca apa yang sedang dia pikirkan atau rasakan.
“Ada apa? Mengapa kamu belum pulang?” tanyaku bingung. Keadaan di sekitar kami sudah sepi, jadi tidak baik baginya berada di luar seorang diri. Meski lingkungan ini aman, dia tetap harus waspada andai ada yang berniat jahat.
“Ada yang terlupa,” katanya sambil berjalan mendekat.
“Apa?” tanyaku. Dia tiba-tiba saja mengecup bibirku, lalu melesat kembali ke mobilnya. “Theo!!”
Cowok ini benar-benar keterlaluan! Dia masih saja mencium tanpa izinku! Mobilnya menjauh ketika aku masih mempertimbangkan untuk membuat perhitungan atau membiarkan dia pergi. Dia tetap ada di sini selama beberapa menit hanya untuk melakukan itu?
Gara-gara dia, aku tidak bisa tidur. Saat kembali ke kamar, jantungku berdebar tidak karuan dan pipiku memanas. Padahal dia sudah lama mencuri kesempatan itu. Aku sampai bingung sendiri. Yang aku rasakan ini marah atau bahagia? Karena keduanya membuat jantung berdebar lebih cepat.
Ponselku di atas meja belajar bergetar, maka aku segera mengambilnya. Aku tersenyum membaca nama Matt pada layar.
“Gue enggak peduli Kakak sedang apa, temui gue di perpustakaan sekarang,” tuturnya. Hubungan telepon terputus sebelum aku sempat mengatakan apa pun. Kakak dan adik memang sama saja.
Namun aku senang bisa melakukan hal yang aku suka. Dia menyebut perpustakaan, maka dia masih menginginkan aku menjadi guru privatnya. Aku segera mengambil tasku dan keluar dari kamar. Saat membuka pagar, aku terkejut melihat siapa yang berada di depannya.
“Ayo, naik.” Dia memberikan helmnya kepadaku.
Tanpa bertanya, aku menurut dengan mengembalikan sepeda ke tempatnya. Dia mengantar aku ke perpustakaan kampus kami. Namun dari tempat parkir, dia berjalan menuju perpustakaan, maka aku mendekati Matt. Pemuda itu sudah duduk menunggu di tempat duduk favorit kami.
“Kita tetap belajar seperti biasanya dan jasa Kakak akan gue bayar. Gue enggak mau diajari oleh orang baru yang belum tentu sehebat Kakak.” Dia membuka bukunya dan bersiap untuk belajar.
__ADS_1
“Aku tidak mau dianggap sebagai orang yang mengajari kamu melawan orang tua,” kataku pelan, teringat dengan tuduhan Tante Ruth. Hal yang tidak terlalu menyakitkan dibandingkan kehilangan pekerjaan. Ini akan menjadi catatan buruk andai dia menyebarkan hal ini kepada orang lain.
“Remaja mana yang tidak pernah melawan orang tua?” katanya retorik.
“Aku masih tidak percaya kamu mengatakan itu kepada mamamu.” Aku menggeleng pelan sambil duduk di sisinya. “Kita sering bersama karena belajar. Aku tidak berniat merayu muridku sendiri.”
Dia tertawa keras. “Tuduhan Mama sangat lucu, makanya gue jawab begitu. Kakak jelek, gendut, apa yang bisa menarik di mata Theo? Mau merayu sehebat apa pun—” Dia mengaduh kesakitan karena aku memukul kepalanya. “Ya, sudah. Ayo, mulai belajarnya,” bujuknya.
Melihat keseriusannya, maka aku memenuhi permintaannya. Aku tenang melihat dia membawa makanan untuk kami nikmati bersama. Jadi, aku tidak perlu khawatir mengenai makan malam. Dua pemuda menjengkelkan ini ternyata baik hati juga.
Aku tahu uang bukanlah masalah bagi orang sekaya mereka, tetapi aku sangat menghargai usahanya untuk menyisihkan uangnya demi membayar jasaku. Dia benar-benar serius mau kuliah di kampus yang sama dengan kakak dan ayahnya. Padahal dia sudah bisa mandiri. Entah mengapa dia masih saja tidak percaya dengan kemampuan akademiknya.
Selesai belajar, Matt pulang dengan sepeda motornya sendiri. Theo yang mengantar aku ke kamar sewaku. Dia sepertinya meminjam beberapa buku di perpustkaan kami. Sampai di tempat tinggalku, dia berhenti dan menunggu sampai aku turun.
“Jangan pergi sendiri besok. Gue akan jemput dan antar lo ke perpustakaan.” Dia menerima helm yang aku kembalikan.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu bersama papamu?” tanyaku heran.
“Gue akan menyusun proposal, jadi selama dua semester terakhir ini gue fokus pada studi.”
“Begitu. Baiklah.” Aku melambaikan tanganku. “Hati-hati.”
Aku baru saja membalikkan badan, dia meraih tanganku dan menarik aku mendekat. Melihat kilat licik di matanya, aku segera melindungi diri dengan tanganku yang bebas. Dia mencium punggung tanganku, bukan bibirku. Enak saja mencuri ciuman gratis terus. Untunglah, gerakan tanganku cepat.
“Pelit,” keluhnya.
“Pertama cium. Nanti apa lagi?” kataku dengan serius. “Kamu sepakat kita tidak melewati batas sampai resmi menikah. Dengan respons orang tuamu, aku tidak yakin kita akan pernah menikah.”
Dia hanya tertawa, lalu mengenakan helmnya kembali. “Sampai besok.”
Semester genap dimulai. Theo yang sudah tidak takut terhadap apa pun, memamerkan aku kepada semua mahasiswa. Dia berjalan menyusuri kampus sambil merangkul bahuku, tidak peduli dengan tatapan terkejut yang berubah sinis dari semua orang kepada kami.
__ADS_1
Mereka pasti berpikir hubungan kami benar-benar berakhir, karena kami tidak saling tegur selama satu semester. Mereka tahu pada hari ini bahwa anggapan mereka itu salah. Keputusan orang tuanya memilih gadis lain menjadi calon istrinya, tidak mampu memisahkan kami.
Tidak jauh dari ruang kuliah pertamaku, Theo berhenti melangkah, maka aku melakukan hal yang sama. Dia menarik aku ke koridor yang sepi. Yang benar saja. Apa dia mau melakukan hal itu di sini? Mengapa hanya itu saja yang ada dalam kepalanya?