
Mama merapikan kotak makanan kami, lalu pelayan yang ada di ruangan mengambil dan membawa keluar. Kami pun hanya bertiga di ruangan. Aku yakin pengawalku memastikan tidak ada orang lain dalam radius aman. Mereka tahu kami punya rahasia yang tidak boleh diketahui publik.
“Aku mohon maaf,” kata Mama pelan. Dia meraih tangan kami berdua. “Aku memang punya hak atas tubuhku, tetapi aku juga perlu menyampaikan ini kepada kalian. Aku sudah menjadi ibu yang jahat dengan mêmbúnuh kakak kalian.” Dia menundukkan kepala dan terisak.
“Ma,” ucapku dan Matt serentak.
Mama menggeleng kepala dengan cepat. “Tidak. Kita tidak pernah membahasnya, maka ini saat yang tepat. Aku harus mengatakannya untuk melegakan hatiku juga. Karena aku tahu, dosaku itu membebani kalian. Sama seperti kesalahan yang mamaku lakukan terhadap aku dan papaku.”
Dia menarik napas panjang, menenangkan dirinya. “Ibuku, nenek kalian bukan dari kalangan kelas atas. Pada masa mereka, status adalah segalanya. Orang-orang pada masa itu sangat jahat kepada Mama tidak peduli sebaik apa pun dia membawa dirinya.
“Aku lahir, hinaan orang semakin menjadi. Mereka menyalahkan Mama yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki untuk papaku. Papa dan Kakek berusaha sebaik mungkin untuk meredam berita buruk itu, tetapi Mama menyerah. Dia sakit dan kesehatannya terus menurun.
“Belum cukup sudah menjadi penyebab mamaku meninggal, mereka menuduh dia búnuh dîri. Itu hal yang sangat tabu pada masa itu. Mereka semakin angkuh karena anggapan mereka mengenai orang miskin itu benar. Mereka mengejek keluarga Papa yang tidak mau mendengarkan nasihat mereka agar papaku tidak menikahi mamaku.
“Lalu mereka melakukan hal yang sama terhadapku ketika akan menikah dengan papa kalian. Aku bersyukur, Azarya tidak menyerah padahal dia belum lama mengenal aku. Lalu aku bertekad dalam hati. Anak-anakku akan menikah dengan perempuan dari kalangan kelas atas. Aku tidak mau kalian mengalami yang dahulu aku alami.
“Kesombonganku malah membuat putraku terluka beberapa kali. Katelia, Chika, kemudian Venny. Aku tidak menyangka bahwa status yang aku agungkan itu menjadi bumerang. Katelia dan Chika perundung, sedangkan Venny cuma mau hidup senang.
“Maafkan aku, Theo. Aku tidak akan protes kalau kamu marah dan kecewa kepadaku. Aku pantas mendapatkannya. Apa yang kamu sebutkan pada hari ulang tahunmu sangat menampar aku. Aku adalah ibu yang jahat. Aku terluka dengan perbuatan Venny, kamu pasti lebih lagi. Lalu aku dengan entengnya memaksa kamu bertunangan lagi dengannya. Aku sangat malu, Nak.”
Mama terisak. Kali ini, dia tidak berhasil menenangkan diri dan menangis tersedu-sedu. Aku benci air mata, jadi aku tidak tahu harus berbuat apa. Lebih mudah bagiku menghibur Amarilis daripada Mama. Matt memeluknya, maka aku hanya diam menunggu.
“Tolong,” kata Mama lagi. “Jangan bongkar rahasia ini kepada siapa pun, termasuk istrimu. Dia tidak akan mengerti, apalagi dia juga seorang perempuan. Abôrsi adalah dosa besar. Tetapi kalian perlu tahu satu hal. Aku terpaksa melakukan itu.
“Jika aku melahirkan dia, maka akan ada perang saudara yang akan terus berlangsung dari generasi ke generasi di keluarga kita. Dia dan Theo akan berebut warisan. Aku tidak mau hal itu terjadi. Walau paman kalian terlihat tidak peduli, sedikit disulut saja, aku yakin dia akan berbuat sekuat tenaganya untuk merebut milik papa kalian. Tolong, rahasiakan tentang dia. Bawa ini sampai mati.”
__ADS_1
Mama memegang tangan kami berdua dengan erat. Dia menatap aku dan Matt penuh harap. Aku tidak pernah berniat memberi tahu Amarilis mengenai ini, jadi Mama tidak perlu khawatir. Aku juga tidak mau dia menjaga jarak dengan mertuanya sendiri bila mengetahuinya.
“Gue janji, Ma,” kata Matt dengan serius. “Rahasia ini gue bawa mati.”
“Gue juga,” sumpahku.
Mata Mama berkaca-kaca, lalu dia mencium pipiku dan Matt. “Terima kasih.” Dia tersenyum seraya melepaskan tangan kami. “Hal penting berikutnya, aku mau aku yang memberi nama kepada cucu pertamaku. Jangan tanya bagaimana aku bisa tahu, karena aku tahu.” Aku hanya bisa bengong.
Amarilis dan keluarganya bingung saat memasuki rumah kami. Mama memutuskan kami berkumpul di rumah dan bukan di restoran lagi. Jadi, kami bisa lebih leluasa bicara. Mereka heran melihat wajah bahagia Mama saat menyambut kedatangan mereka.
Bunda dan Mama sampai bertukar pandang, tidak percaya dengan perubahan yang drastis itu. Lalu saat berdiri berhadapan dengan Amarilis, Mama hanya diam menatapnya. Amarilis melirik kepadaku, meminta petunjuk harus aku melakukan apa. Aku bergeming.
Mama mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Amarilis. “Maafkan aku,” kata Mama lirih. Dia memeluk istriku sambil menangis tersedu-sedu. “Oh, Tuhan. Maafkan aku.” Suara Mama semakin menyayat hati. “Aku sudah sangat jahat kepadamu, Nak. Maafkan aku.”
Mama tertawa. Dia melepaskan pelukannya, lalu mereka saling menyeka air mata di wajah. “Iya. Dia memang tidak mau mendengarkan omongan siapa pun.”
Aku melihat Bunda dan Ayah, juga Papa dan Mama saling berangkulan. Ikut terharu melihat putri mereka sudah berbaikan dengan ibu mertuanya. Pemandangan yang aku pikir masih lama lagi untuk bisa diwujudkan. Ternyata belum satu tahun menikah, aku sudah mendapatkan restu orang tuaku.
Suasana makan malam kami jauh berbeda dengan malam sebelumnya. Mama masih percaya tidak percaya mengenai Katelia, jadi kami tidak membahasnya. Dia mau belajar untuk mengabaikan status Amarilis dan keluarganya agar bisa menerima mereka, sudah cukup untuk saat ini. Selangkah demi selangkah. Aku juga dahulu butuh waktu untuk bisa mengerti keajaiban yang istriku alami.
“Lo? Tidak bisa begitu.” Bunda dan mama Amarilis saling bertukar pandang. “Kami sudah sepakat aku yang memberi nama depan, Safira nama tengah.”
“Tetapi aku ibu dari pihak laki-laki. Aku yang seharusnya dapat kehormatan memberi nama pada cucu pertamaku,” protes mamaku.
“Bukan salah kami kalau kamu tidak merestui hubungan mereka sejak awal,” kata Bunda tidak mau kalah. “Kami yang pertama kali tahu Amarilis hamil.”
__ADS_1
“Sudah, sudah. Kamu beri nama ketiga saja, sayang,” kata Papa kepada Mama. “Kalau mereka punya anak kedua, maka kamu bisa memberinya nama.”
“Kami hanya mau punya satu anak saja, Pa,” tuturku, mengumumkan.
Keenam orang tua itu menoleh kepadaku. Lalu tiba-tiba saja tawa mereka meledak. Aku melihat ke arah istriku dengan kening berkerut. Dia mengangkat kedua bahunya, sama-sama tidak mengerti apa yang lucu. Matt dan para saudara iparku juga hanya mengerutkan kening mereka.
“Kalian sudah tahu enaknya buat anak. Aku tidak percaya kalian akan merasa cukup punya satu anak saja,” goda Bunda di sela-sela tawanya. Yang benar saja.
Para pria kembali ke Medan pada Kamis subuh, sedangkan Mama dan Bunda masih ada di Jakarta. Mereka mau menemani Amarilis membawa Antonio, Buddy, dan Meghan mendatangi beberapa tempat wisata di Indonesia. Karena pria kaya raya tukang pamer itu bawa jet pribadi, aku tidak keberatan. Lagi pula, dokter mengatakan kandungan Amarilis sehat dan kuat.
Antonio sangat puas melihat kondisi rumah dan pekarangan hadiah darinya untuk pernikahan kami. Buddy juga setuju dengan berlari sepuasnya di halaman belakang. Aku harus bekerja, jadi tidak bisa menemani mereka lebih lama. Walau hubungan kami dengan orang tuaku sudah baik, aku harus tetap bekerja seperti biasanya.
Mereka berkeliling Pulau Bali, Labuan Bajo, dan Raja Ampat selama dua minggu. Aku menyusul di mana mereka berada pada akhir pekan dan kembali ke ibu kota pada hari Minggu malam. Jadi, aku tidak berpisah terlalu lama dengan istriku.
“Kamu masih menyimpan informasi itu dari istrimu?” tanya Antonio.
Kami duduk santai bersama di meja yang ada di halaman kafe hotel, jadi Buddy bisa ada di dekat kami. Para wanita sedang pergi berbelanja di pasar lokal dan melarang kami mengikuti mereka. Aku menurut karena ada pengawal yang bisa melindungi istriku.
“Aku tidak akan melanggar janji.” Aku meletakkan cangkir kopiku di atas meja. “Jangan terlalu lama. Aku tidak bisa terus menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Kami janji tidak ada lagi rahasia.”
“Hanya sampai akhir tahun ini.” Dia duduk bersandar, memejamkan mata, dan menghela napas panjang. “Lalu aku sendiri yang akan mengatakan segalanya kepadanya.”
[Semoga ulasan bab ini tidak lama. Selamat bobo, teman-teman. Terima kasih sudah membaca.]
__ADS_1