
“Kamu pasti sudah mendengar banyak hal tentang aku.” Dia tersenyum lebar. “Aku tahu segalanya, Kat. Dan aku juga bisa melakukan segalanya.”
Dia pasti bicara tentang gosip yang sering teman grup bahas. Sihir. Aku sudah sering mendengar kata itu. Terlalu sering sehingga aku muak. Orang-orang mengejek bahwa Theo menyukai aku karena aku pakai guna-guna. Apa yang laki-laki ini mau dariku?
“Lalu apa? Aku harus takut kepadamu?” Aku mendengus pelan.
“Sebaiknya begitu. Karena nasibmu ada di tanganku, KAT.” Dia sengaja memberi intonasi pada nama panggilanku. Mungkin dia pikir aku akan takut kepadanya jika dia menyebarkan rahasia itu.
Nora tidak ada di tempat di mana biasanya dia menunggu mata kuliah selanjutnya. Melihat itu, aku terpaksa berada di ruang belajar, karena jaraknya paling dekat ke kampus. Aku benar-benar kesal dengan dua hal yang baru saja terjadi. Aku tidak dapat nilai dan rahasiaku terkuak.
Aku hanya membeli roti, karena tidak selera untuk makan menu yang berat. Jam kuliah berikutnya tiba lama sekali sampai aku kehilangan kesabaran. Seolah tahu aku berniat bicara dengannya, Nora datang bersamaan dengan dosen kami. Maka aku tahu, dia sengaja tidak menaruh namaku.
Walau aku tahu tidak ada orang di dunia ini yang bisa dipercaya sepenuhnya, dadaku tetap nyeri menyadari aku salah memilih teman. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga dia melakukan hal ini kepadaku. Padahal sejak awal berteman, kami baik-baik saja.
“Nora.” Aku memegang lengannya, melihat dia berniat kabur begitu dosen keluar. “Kita perlu bicara.”
“Bisakah kita bicarakan besok? Kakakku datang dan dia sudah menunggu di depan.” Dia memasang wajah memelas. “Tenang. Aku akan sampaikan salammu untuknya.”
“Mengapa kamu melakukan itu?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Melakukan apa?” Dia memasang wajah lugu.
“Kamu tidak melampirkan namaku pada tugas kita.” Aku mengepalkan tanganku melihat dia masih sempat bersandiwara. Apa dia pikir kuliah ini hanya main-main?
“Nora? Kamu tidak membuat nama Amarilis di tugas kita?” tanya Mike yang sudah berdiri di sisiku. “Revisi hanya boleh dilakukan paling lambat tiga hari setelah penyerahan tugas.”
Nora tertawa, merasa tidak enak. “Kalian jangan bicara begitu. Mana mungkin aku tidak menaruh nama kita berenam. Nama Amarilis ada pada tugas itu.”
“Profesor memanggil aku untuk menanyakan tugasku. Aku juga sudah lihat sendiri. Hanya ada lima nama pada sampul makalah kita,” ucapku dengan suara bergetar.
__ADS_1
“Ya, ampun. Kamu bisa terancam gagal semester ini,” seru Mike terkejut.
Aku memejamkan mata sejenak seraya menghela napas panjang. “Mike, pergilah. Aku sedang serius dan setiap kali kamu buka mulut, aku semakin kesal.”
“Mulutku bisa melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan, Amarilis. Dan kamu tidak akan kesal lagi setelah merasakannya satu kali saja,” rayunya.
Laki-laki tidak waras. Apa dia tidak melihat aku sedang serius? Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bicara, jadi aku mengalah dengan menundanya. Walau aku tidak bisa menyelamatkan nilaiku, setidaknya aku mau tahu alasan dia melakukan ini.
Aku sedang mengayuh sepeda ketika sesuatu mengingatkan aku pada kejadian yang penting itu. Aku menepi dan berhenti sejenak. Itu dia! Aku tidak salah lihat. Nora menyukai Theo. Peristiwa di dapur saat mamanya dan Theo bersiap untuk memasak kalkun itu adalah awalnya.
Beberapa kali melihat hal itu pada hari berikutnya, aku tidak menggubrisnya. Pasti itu sebabnya dia melakukan ini kepadaku. Ucapan Robert menjadi masuk akal. Dia pasti mengetahui tentang Katelia dari Nora. Theo sering memanggil aku dengan nama itu saat berdua saja di kamar.
Tidak. Bukan Katelia. Pria sok tahu segalanya itu memanggil aku Kat. Dia tidak tahu nama lengkap dari nama panggilan itu. Huh. Apa mereka berdua bekerja sama untuk menjatuhkan aku? Belum lagi Mike kentara sekali berusaha menarik perhatianku dengan membela aku.
Kalau Nora menyukai Theo, mengapa dia melakukan ini kepadaku? Dia bisa menyatakan cinta walau Theo sudah pasti akan menolak. Lalu apa alasan Robert mau menyakiti aku juga? Masa hanya karena pendapatku dalam diskusi lebih didengar? Lihat saja. Mereka tidak mengenal siapa aku. Mana ada perundung bisa dirundung.
“Tidak ada.” Teringat dengan janji kami, aku segera meralat, “Maksudku, ada masalah di kampus, tetapi semua bisa aku atasi.”
“Bicara jangan setengah-setengah, Kat. Lo tahu gue bisa mengetahui semuanya dari Daisy.” Dia menatap aku dengan serius. “Tetapi gue mau dengar segalanya dari lo.”
“Aku dipanggil dosen untuk menghadap karena tidak mengerjakan tugas kelompok,” akuku.
“Bagaimana bisa? Lo diskusi dengan mereka, ‘kan? Setahu gue, lo punya grup diskusi untuk urusan kuliah,” ucapnya bingung.
Aku menghela napas panjang. “Nora sengaja tidak mencantumkan namaku pada makalah kami.”
“Nora? Dia teman lo yang mengundang kita ke rumahnya pada Hari Thanksgiving. Nora yang itu?”
Aku mengangguk pelan. “Aku juga awalnya tidak percaya sampai aku dengar sendiri. Dosen bilang, dia sudah meminta Nora memastikan semuanya lengkap sebelum dia menerima tugas kami.”
__ADS_1
“Lalu dosen bilang apa?”
“Aku tidak mendapat nilai untuk tugas itu.”
Seandainya aku dapat C atau D, itu masih jauh lebih baik daripada tidak dapat sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan donaturku nanti, tetapi jika nilaiku pada semester ini turun drastis, aku terancam tidak mendapat beasiswa untuk semester berikutnya. Lalu dari mana aku bisa dapat uang untuk sisa dua semester berikutnya? Belum lagi biaya hidup di sini tidak murah.
Aku bisa saja meminta bantuan Ayah dan Bunda. Masalahnya, aku sudah bertekad untuk mandiri dan tidak merepotkan mereka. Ditambah lagi, aku tidak bersalah. Aku benar-benar ikut diskusi dan mengerjakan tugas bersama mereka. Hanya karena aku terlalu percaya kepada seorang teman, aku terancam tidak bisa menyelesaikan studiku.
“Lo tenang saja.” Theo mengusap rambutku, lalu tersenyum lembut. “Biar gue yang urus. Tidak ada seorang pun yang boleh macam-macam dengan calon istri gue. Daisy pasti bisa menolong.”
“Bagaimana cara pengawalmu itu menolong?” Aku merasakan mataku memanas.
“Kalian diskusi di lingkungan kampus, ‘kan?” Aku mengangguk pelan. “Maka dia bisa menolong. Gue tahu lo khawatir nilai lo jatuh dan beasiswa terhenti. Itu tidak akan terjadi.”
“Mengapa kamu seyakin itu?” Aku menyeka air mata yang menetes di pipiku.
“Karena nilaimu akan baik-baik saja.”
Walau aku tidak bisa konsentrasi, aku memaksakan diri untuk belajar sebelum tidur. Setiap hal yang aku pelajari selama kuliah tadi aku baca ulang agar bisa lebih memahaminya. Lalu aku mencatat setiap poin pentingnya dalam buku khusus berisi ringkasan. Aku akan membutuhkannya ketika menghadapi ujian semester nanti.
Theo memasak sarapan lengkap pada pagi harinya. Ada telur orak-arik, roti bakar, ham, dan yang paling aku suka, bakon. Aku tahu dia sengaja bersusah payah demi menghibur aku. Dia berhasil. Aku makan dengan lahap dan berangkat ke kampus dengan perut penuh.
Aku mengayuh sepeda melewati jalur menuju kampus bersama mahasiswa lainnya yang tinggal di dekat lingkungan apartemen kami. Suasana pagi itu terasa lebih indah dari biasanya. Mungkin karena aku sudah menganggap masalah semalam sebagai angin lalu. Aku akan cari jalan agar nilai akademikku pada semester ini tidak jatuh dengan drastis.
Nora berdiri di dekat gerbang, entah menunggu apa. Aku hanya melewatinya. Namun saat kami sudah dekat, dia mengayuh sepedanya di sisiku. “Kita perlu bicara,” bujuknya.
“Aku mengajak bicara kemarin dan kamu lebih suka menghindar.” Aku menolak.
“Kondisinya tidak memungkinkan, Amarilis. Kita perlu bicara. Aku akan jelaskan semuanya,” katanya, memelas. Hatiku bergelut antara mengiyakan atau menidakkan permintaannya itu. Apa aku cukup kuat untuk percaya kepadanya lagi?
__ADS_1