
Acara ulang tahun pernikahan itu dimeriahkan dengan perayaan Natal juga, jadi suasana aula tidak pernah hening. Aku terpaksa tidak melanjutkan percakapan kami yang terhenti. Hillary juga sengaja hanya diam dan menghindari tatapanku.
Yang paling menjengkelkan, dia pulang dahulu. Matt sudah menegaskan agar aku memastikan pihak pengundang tahu perwakilan mereka datang sebelum meninggalkan acara. Aku sudah berjanji akan membantu dia dalam bisnis keluarganya di sini, maka aku harus menepatinya.
Kami mengucapkan selamat kepada pasangan yang berbahagia itu, lalu berpisah di lobi. Meghan masih menunggu mobilnya yang mengantri ketika jemputanku tiba. Aku dan Daisy masuk secara bersamaan. Aku menunggu sampai kami cukup jauh untuk berdiskusi.
“Hillary?” tanya Daisy.
“Iya. Aku mau kalian mencari tahu tentang dia. Apakah dia hadir pada acara pertunangan Theo dan sebagainya. Coba koordinasikan hal ini juga dengan pengawal Theo di Indonesia. Aku curiga dia ada hubungannya dengan penembakan yang Theo alami.”
Mereka berdua saling pandang. “Baik, Nona,” ucap Daisy.
Matt bilang tidak ada yang tahu. Hanya keluarganya dan mantan tunangan Theo yang tahu tentang kecelakaan itu. Lalu bagaimana Hillary bisa menyebut tentang kemalangan yang menimpanya? Maka bisa jadi dia ada hubungannya dengan peristiwa nahas tersebut.
Cepatlah pulih, sayang. Begitu kamu bisa mengingat segalanya, kita akan mencari pelakunya dan menghukum mereka seberat-beratnya. Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah membuat kamu celaka lepas begitu saja.
Itu bukan satu-satunya undangan yang aku hadiri, tetapi aku tidak bertemu dengan Hillary lagi. Entah dia tidak datang atau sengaja menghindar saat melihat aku. Pernyataannya itu tidak bisa aku lupakan. Tidak salah lagi. Dia pasti ada hubungannya dengan Theo.
Daisy belum memberikan perkembangan apa pun mengenai wanita itu. Namun dugaanku bahwa dia datang ke acara pertunangan Theo terbukti benar. Mereka memeriksa foto pada acara itu dan ada wajahnya beserta orang tuanya. Tante Ruth ternyata kenal dengan banyak orang di negeri ini.
Bagaimana keadaannya sekarang setelah melihat putranya jadi korban keegoisannya? Theo sudah berkata tidak untuk Venny, dia terus saja memaksa. Akhirnya, ucapan anaknya yang benar. Keluarga itu tidak peduli sama sekali dengan mereka saat kemalangan menimpa. Pertunangan dibatalkan begitu saja sehari setelah acara berlangsung.
Aku hanya duduk di dekat jendela menyaksikan salju pertama pada malam Natal. Seharusnya aku di sini bersama Theo, tetapi aku hanya bisa memeluk selimut tebal. Ponselku bergetar berkali-kali, maka aku memeriksa pesan yang masuk.
“Matt!!” pekikku kesal begitu dia menjawab panggilan masuk dariku. “Apa kamu sudah bosan hidup? Aku bisa menghabisi kamu dalam satu pukulan saja. Jadi, hentikan keisengan ini!”
“Bilang saja Kakak senang. Sudah, ah. Aku mau lanjut makan kue enak. Selamat Natal, Kak. Jangan lupa lap air liurmu!” Dia tertawa terbahak-bahak sebelum mengakhiri panggilan video itu.
Menjengkelkan sekali! Mengapa dia terus mengirimi aku foto tak sênönoh begini? Semuanya foto Theo tanpa pakaian. Dia yang sedang berenang, mandi, bahkan tidur. Pria bodoh itu juga tidak awas sama sekali. Apa dia tidak sadar adiknya menjepret dia di saat dia tidak berpakaian lengkap??
Walau jengkel, rasa penasaranku selalu menang. Aku melihat foto itu satu per satu tidak peduli dengan debaran jantungku yang cepat. Padahal aku menatap foto pria kesayanganku sendiri, tetapi aku merasa berdosa memandang dia dengan keadaan polos begitu.
__ADS_1
Air mata malah mengkhianati aku dengan jatuh membasahi wajahku. Sampai kapan keadaan kami terus begini? Aku punya ketakutan terbesar mengenai hubungan kami. Bagaimana kalau dia jatuh cinta dengan wanita lain? Dia melupakan segalanya, dia pasti tidak ingat dengan perasaannya.
Meski dia hanya bolak-balik dari rumah ke rumah sakit, bagaimana jika dia bertemu dengan seorang wanita dan jatuh cinta kepadanya? Aku jelas kalah menarik dengan wanita kaya raya di luar sana. Bila aku bersanding dengan wanita lain, dia pasti akan menyukai yang lebih cantik.
Tidak ada gunanya Matt mengirim semua foto ini kepadaku, membuat aku semakin rindu kepadanya saja. Namun aku hanya bisa menatap fotonya dan mungkin tidak akan pernah bisa bersamanya lagi. Ya, Tuhan. Mengapa hukuman untukku seberat ini?
“Selamat Hari Natal!” sambut Antonio dan Buddy.
“Selamat Hari Natal,” balasku.
Tidak seperti pada Hari Thanksgiving, aku mengingat janjiku untuk memenuhi undangan mereka. Para pelayan rumah itu tampak ikut makan bersama, menikmati sajian khusus Natal. Antonio mendekat sambil membawa sebuah kado untukku.
“Aku jadi tidak enak. Aku tidak membawa apa pun.” Aku menerimanya dengan segan.
“Kamu mau memberi apa kepada pria yang sudah memiliki segalanya ini?” godanya. “Bukalah. Buddy yang memilih hadiah itu.”
“Oh, ya?” Aku membuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun berwarna putih yang sangat indah. “Mengapa aku merasa ini adalah gaun pengantin?” Aku menatapnya dengan curiga.
“Kami memang membelinya di butik khusus gaun pengantin. Buddy tidak berhenti menggonggong, jadi aku membeli salah satu yang mendapat salakan keras darinya. Kamu bisa memakainya saat menghadiri undangan. Aku perhatikan kamu rajin datang ke acara besar.”
“Iya. Kamu tidak mungkin hanya pakai gaun.” Antonio mengelus-elus kepala anjingnya.
Aku membuka tas itu dan mengeluarkan isinya, sebuah kotak sepatu. “Wah. Ukurannya pas.” Aku memakainya dan desainnya cocok sekali untukku.
“Ini yang terakhir,” kata Antonio ketika Buddy datang dengan tas kedua.
“Oh, Tuhan. Mengapa kamu memberi aku banyak sekali hadiah, Antonio?” Hadiah ketiganya adalah sebuah tas tangan wanita berwarna putih. Indah sekali.
“Selamat Hari Natal, Nak. Semoga ini bisa sedikit menghibur kamu. Kami berpikir-pikir apa yang sebaiknya kami berikan kepadamu untuk membuat kamu tersenyum bahagia.”
“Terima kasih. Tanpa hadiah ini, aku bahagia bisa berada di sini dengan kalian.” Aku memeluk mereka berdua dengan haru.
__ADS_1
Walau aku sendirian, ketiga sahabatku selalu memastikan aku tidak kesepian pada liburan panjang itu. Antonio dan Buddy mengundang aku ke rumah dan restoran kapan saja aku mau, sedangkan Meghan mengajak aku menyaksikan kembang api pada malam pergantian tahun.
Matt yang bodoh itu justru tidak berhenti mengirimi aku foto vúlgàr Theo. Aku akhirnya berhenti marah, memahami dia hanya mencoba untuk menghibur aku. Dia pasti sedih karena kakaknya tidak mengingat dia. Jadi, dia juga tahu aku berduka dan memilih cara ini untuk membuat aku bahagia.
Keadaan restoran yang ramai membuat aku ikut kewalahan mencari bahan makanan yang cepat sekali habis. Kami akhirnya berkoordinasi dengan penyedia makanan impor yang bukan langganan kami. Syukurnya, mereka memberi diskon besar-besaran untuk menghabiskan stok akhir tahun.
Tidak mau tergoda dengan itu, aku meminta koki memeriksa kualitas setiap bahan makanan yang kami terima tersebut. Keadaannya ternyata bagus dan segar. Aku sempat berpikir mereka memberi sayuran, daging, dan bumbu masakan berkualitas rendah hingga memberi harga murah.
“Nona.” Daisy mendekati aku sambil membawa laptop yang sedari tadi dipelototinya.
“Ya?” tanyaku lemas. Pekerjaanku hari ini seolah tiada habisnya. Aku menegakkan tubuhku saat dia meletakkan laptop itu di atas meja.
“Pengawal Pak Theo mengingat wajah Hillary dan benar. Dia beberapa kali pernah datang ke sini. Dia berteman baik dengan Clara dan datang ke restoran atas undangannya. Ini adalah rekaman CCTV di pintu masuk. Mereka beberapa kali berpapasan di depan.”
Aku menonton rekaman yang sudah dikompilasi tersebut. Semuanya kejadian Theo yang keluar dari restoran dan wanita itu berjalan masuk. Rekaman pertama terlihat jelas sebuah ketidaksengajaan. Ah, aku ingat. Ini adalah hari di mana aku melihat ada lipstik di kerah baju Theo.
Mau apa perempuan ini mendekati priaku? Apa dia menaksir Theo pada tabrakan pertama? Dia dan temannya memang sama saja. Setelah tabrakan pertama, dia terus-menerus datang ke restoran pada saat yang bersamaan dengan Theo pulang. Tidak mungkin Clara mengundangnya setiap hari.
Kalau begitu, apa Theo menolak dia sehingga dia marah dan menganggap Theo pantas ditimpa kemalangan? Jika dia semarah itu, mengapa dia menghadiri acara pertunangannya? Perempuan yang aneh. Sepertinya dia memang ada hubungannya dengan kecelakaan itu.
Hal pertama yang aku lakukan begitu dosen pembimbingku pulang dari liburan adalah konsultasi. Aku tidak berhenti berusaha agar aku bisa tamat tepat waktu. Apalagi biaya sewa apartemen tidak akan aku perpanjang. Kalau wisudaku mundur, maka aku harus mencari tempat yang lebih murah.
“Ahh, kalian memang jodoh.” Profesor Bateman menggeser tesisku ke arahku. “Sama-sama rajin dan cepat tanggap mengerjakan penelitian. Aku akan sangat merindukan kamu, Amarilis.”
“Apa maksudmu, Prof? Apa aku sudah bisa maju sidang?” tanyaku waswas. Dia mengangguk senang. “Oh, syukurlah. Terima kasih banyak, Prof!” Aku meraih tangannya dan menjabatnya.
“Simpan dahulu ucapan itu. Perjuanganmu belum selesai. Jangan buat aku malu dalam sidang nanti.” Dia memicingkan matanya.
“Aku janji akan memberikan yang terbaik, Prof.” Aku memeluk tesisku itu.
“Dia pasti sangat sayang kepadamu sampai membantu biaya kuliahmu juga. Padahal uang sebanyak itu bisa dia gunakan untuk mengembangkan usaha rumah makannya.” Dia menggeleng pelan.
__ADS_1
“Biaya kuliah?” tanyaku bingung. Wanita itu membulatkan matanya, lalu menutup mulut dengan tangannya. “Maksudnya, dialah pemberi beasiswaku, Prof?”