Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
81|Berita Viral


__ADS_3

~Amarilis~


Aku tidak percaya dengan penglihatanku sendiri. Fotoku dan Theo yang sedang berciuman di depan lobi kantor menghiasi layar. Kalau bukan karena situasi yang sedang kami hadapi saat ini, aku akan bahagia berbagi hal baik itu dengan semua orang.


Kami terlihat sangat hanyut terhadap satu sama lain sampai aku sendiri tidak percaya itu adalah aku dengan pacar aroganku ini. Theo memeluk aku dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain ada di pipiku. Di sisi lain, aku memeluk pinggangnya sampai tidak ada jarak di antara tubuh kami.


Walau tangan kirinya menutupi pipiku, semua orang tahu itu adalah aku. Karena wajahku terlihat jelas di foto profil media sosialnya. Oh, Tuhan. Siapa saja yang sudah melihat foto ini? Apakah Papa dan Mama juga sudah tahu? Kalau belum, pasti Hercules menunjukkan ini kepada mereka.


“Matilah aku.” Aku mengusap wajah dengan tanganku.


“Gue dahulu, baru lo boleh mati,” celetuk cowok menjengkelkan itu.


Mas Norman adalah atasanku, titik. Iya, dia mengajak aku makan siang bersama orang tuanya. Itu karena Tante Wiryawan menyukai caraku bermain biola, tidak ada alasan atau maksud lain. Ibunya itu senang mengetahui dari suaminya bahwa aku sedang magang di perusahaan keluarga mereka.


Yang kami bicarakan juga hal umum seputar penampilanku yang beberapa kali mereka saksikan saat aku diundang untuk tampil di hotel atau balai kota. Tidak ada topik pribadi, karena mereka tidak usil mau tahu urusanku di luar pekerjaan. Bahkan masalah kampusku pun tidak mereka tanyakan.


Jadi, apa yang dilihat Theo pada saat kami makan siang bersama yang membuat dia harus mencium aku di depan Mas Norman? Oh, Tuhan. Aku sangat malu ketika dia keluar dari mobilnya yang berada tepat di belakang mobil Theo. Rasanya aku mau mati saja bosku sendiri melihat aku bermesraan.


“Jangan jemput atau antar aku besok ke kantor. Aku akan naik angkutan umum seperti biasanya. Kalau kamu nekat datang, aku akan memukul kamu sampai kamu tidak mengikuti aku lagi. Aku sudah cukup malu karena perbuatanmu hari ini,” ancamku.


“Gue harus pergi keluar kota besok, tetapi bukan berarti gue enggak akan memantau lo. Awas saja kalau gue dengar lo dekat-dekat lagi dengan Norman.” Dia melirik aku sebelum kembali melihat ke arah depan mobil.


“Kamu akan malu sendiri nanti karena sudah menuduh aku sembarangan.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku, kesal dengan sifat cemburunya yang berlebihan.


Namun ketika tiba di depan rumah, aku tidak menolak saat dia memberi aku ciuman selamat malam. Aku bahkan membalas ciumannya lebih leluasa karena tidak ada orang di sekitar kami. Mengapa aku selalu lemah begini bila berhadapan dengannya? Apa cinta membuat semua orang tidak berdaya saat di dekat orang yang disayanginya?


Tunggu, tunggu. Cinta? Apa yang sedang kamu pikirkan, Kat? Kamu sayang Theo, kamu belum sampai ke tahap cinta. Itu perasaan yang sangat besar dan tanggung jawabnya juga berat. Iya, aku hanya sayang Theo, bukan cinta. Sayang juga membuat seseorang lemah.

__ADS_1


“Jaga jarak dengan Norman dan pria mana pun, apa lo mengerti?” Dia membelai pipiku. “Kalau lo masih berani berdua saja dengan laki-laki lain, lo enggak akan gue izinkan keluar rumah menemui siapa pun sampai kita menikah.”


“Theo—” Aku berusaha untuk memberi pengertian.


Namun dia keluar dari mobil tanpa mendengarkan responsku. Tidak mau mengakhiri hari dengan bertengkar, aku tidak membantahnya lagi. Aku menerima uluran tangannya yang membantu aku keluar dari mobil, membalas ucapan sayangnya, lalu masuk ke rumah.


Mas Norman dinas keluar kota bersama sekretarisnya, maka aku yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pekerjaan yang ada di kantor. Tugasku sangat mudah, memeriksa surel dan mencetak semua berkas yang sudah ditandatangani atasan kami, lalu menyerahkannya kepada divisi yang membutuhkan. Mereka yang datang menjemput, jadi aku tidak perlu keluar dari ruanganku.


Sebisa mungkin, aku menghindari toilet atau elevator pada jam istirahat. Aku tidak mau mendengar orang membicarakan aku lagi. Aku magang di tempat ini untuk mendapatkan catatan yang baik demi kebutuhan akademikku. Gara-gara Theo, aku terancam dapat referensi buruk.


Pada sore itu, aku bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Aku sudah membayangkan aku akhirnya bisa mengolah data yang aku terima darinya. Tentu saja setelah mandi dan makan makanan yang enak. Ah, tidak. Masih ada roti yang dibelikan Theo, aku bisa menyantap itu saja.


“Aku tidak percaya kamu akan menikam aku dari belakang sesadis ini,” kata seorang wanita yang keluar dari mobilnya yang diparkir di depan tempat tinggalku.


Aku yang sedang mengeluarkan kunci dari tas mengangkat kepalaku dan bertemu pandang dengan Chika. Matanya memerah, begitu juga wajahnya. Hidungnya kembang-kempis dengan bibir yang merapat, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


“Kamu baik-baik saja, bagaimana bisa aku menikam kamu?” Aku bicara dengan nada lugu.


“Foto dan videomu sedang mencium tunanganku menyebar di berbagai media. Apa kamu tidak tahu malu?” tuduhnya dengan tajam. “Walau cincin itu ada di tanganmu, aku adalah tunangan resminya. Aku satu-satunya wanita yang akan dia nikahi, bukan kamu yang cuma jadi pemuas nàfsunya!”


“Ck ck ck, Chika, Chika.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kamu berusaha begitu keras dengan memposting foto mesramu bersamanya, tetapi dia tidak satu kali pun terlihat bahagia bersamamu. Lihat aku. Orang lain yang heboh memposting foto dan video kami.


“Apa kamu bisa melihat ekspresi wajah Theo dengan jelas? Dia yang mencium aku dahulu, bukan sebaliknya. Dia yang memeluk aku dengan erat, tidak mau pergi sebelum aku membalas ciumannya. Apa dia pernah melakukan itu kepadamu?” ejekku.


Dia merapatkan bibirnya, menahan amarah. Ketahuan sekali dia dan Theo tidak pernah bermesraan. Dari dahulu, dia memang tidak pintar bersandiwara. Jadi, aku cukup memanasinya saja, maka dia akan membuka sendiri rahasianya.


“Dia akan melakukan semua itu nanti ketika kami resmi menikah. Aku perempuan baik-baik, bukan gadis murahan seperti kamu. Wanita terhormat menjaga dirinya hanya untuk suaminya,” katanya dengan dagu terangkat.

__ADS_1


“Kamu tahu apa yang dia ucapkan setiap kali kami bersama? Dia sayang aku. Dia bahkan meminta izinku sebelum mencium aku. Apa kamu mau tahu bagaimana rasa bibirnya?”


“Diam! Jangan bicara lagi!”


Wajahnya semakin merah padam. Dia telah mengatai aku dengan rendah, maka aku tidak akan memberi dia ampun. Enak saja dia menyebut aku pemuas nàfsu Theo. Kami hanya terbawa perasaan pada hari itu, tetapi kami tidak melewati batas.


Theo memperlakukan aku dengan hormat, bahkan saat tidak ada siapa pun di sekitar kami. Walau dia sering usil mencuri ciuman dariku, dia melakukannya untuk menunjukkan rasa sayangnya. Tidak ada orang yang boleh menghina pacarku di belakangku, apalagi di depanku.


“Kamu memang tunangan yang resmi di mata semua orang, tetapi jangan lupa, kamu pilihan orang tuanya, bukan pilihannya sendiri, Chika,” kataku, menyinggung hal yang penting tersebut. “Aku yakin aku satu-satunya wanita yang dia janjikan pernikahan, sedangkan kamu … Pasti hanya orang tuanya yang meyakinkan kamu bahwa kalian akan menikah.”


“Aku bilang, diam!”


“Kamu sendiri yang datang ke sini untuk berdiskusi denganku mengenai tunangan kita. Aku tidak mengikat tangan atau kakimu, Chika. Kamu bisa pergi kalau kamu tidak suka dengan ceritaku.” Aku mundur dan menunjuk ke sekitar kami dengan kedua tanganku.


“Jauhi Theo,” ancamnya dengan nada serius. “Kamu belum pernah melihat seperti apa aku jika ada orang yang berani mengambil milikku, Amarilis. Jangan pancing emosiku lebih dari ini.”


“Daripada kamu terus mengancam aku, mengapa kamu tidak bicara dengan Theo? Minta dia untuk tidak datang menemui aku lagi. Karena bukan aku yang menginginkan hubungan ini, tetapi dia, Chic.” Aku sengaja memberi tekanan pada nama panggilan yang dia benci itu.


“Kalau kamu tidak terus merayu dan menggoda dia, tidak mungkin dia datang lagi menemui kamu.” Dia melihat tubuhku dengan sinis. “Laki-laki buta pun tidak akan tertarik melihat perempuan buruk rupa seperti kamu. Aku mengatakan ini sebagai mantan sahabatmu. Jauhi dia, karena kamu tidak akan pernah menikah dengannya. Orang tuanya berpihak kepadaku.”


Itu adalah fakta yang tidak bisa aku bantah. Aku memang wanita yang Theo pilih, tetapi aku bukan orang yang direstui oleh orang tuanya. Jantungku berdetak kian kencang dan tubuhku gemetar. Oh, Tuhan. Aku takut kehilangan dia. Waktu kami menuju perpisahan semakin dekat, mengapa aku malah jatuh pada pesonanya semakin dalam?


“Jangan lakukan ini lagi, Chic,” balasku saat dia membuka pintu mobilnya. “Kamu sudah melanggar janji dengan datang lagi menemui aku. Jangan pikir aku hanya memberi ancaman kosong mengenai membuka rahasiamu.” Aku melihat tangannya yang ada di kenop pintu gemetar.


“Jangan bicara omong kosong juga di depanku yang tahu segalanya tentang kamu. Wanita terhormat, katamu? Siapa yang sedang kamu bohongi? Kamu pernah tidur dengan kakak iparmu demi nàrkoba. Itu masih satu. Ada banyak barisan laki-laki lain yang pernah kamu tiduri semasa sekolah.”


“Coba saja kalau kamu berani,” tantangnya. Dia tersenyum dengan arogan. “Sebarkan semua itu kepada papa atau mamaku. Kita lihat, siapa yang akan mereka percaya. Kamu atau aku? Kamu juga bisa bongkar masa laluku kepada mama Theo. Silakan.”

__ADS_1


Dia tertawa kecil. “Amarilis, kamu bukan Katelia, sekeras apa pun kamu berusaha. Aku tidak bisa lagi kamu ancam. Duniamu dan aku kini jauh berbeda. Bila perkataanmu dan aku disandingkan, mereka akan lebih mendengar aku. Jika kamu tidak percaya, silakan saja kamu uji kebenarannya.”


__ADS_2