
~Amarilis~
Ada mobil yang sudah menunggu di depan kami. Edrick membukakan pintu, lalu mendorong aku untuk masuk. Dia menyuruh Sonata untuk duduk di depan, sedangkan dia di sebelahku. Mobil pun bergerak, menjauhi kerumunan wartawan yang haus berita.
“Edrick, aku punya mobil sendiri,” protesku. Theo bisa marah kalau dia tahu aku diantar pulang oleh laki-laki lain. Aku malas berurusan dengan pria rumit itu.
“Sopirmu mengikuti kita. Santai saja. Aku akan menurunkan kamu di tempat yang aman.” Dia melirik ke arah belakang kami.
“Lalu bagaimana denganku? Mobilku juga ada di sana,” keluh Sonata.
“Mengapa kamu tadi tidak bilang? Kamu malah pasrah saja masuk ke mobilku.”
“Pasrah? Kamu mendorong aku untuk masuk ke mobilmu ini!?”
“Kalian bisakah berhenti bertengkar sebentar? Kalian sedang bersama perempuan hamil,” leraiku dengan kesal. Mereka pun sama-sama berhenti bicara. “Apa yang baru saja terjadi? Aku selingkuh dengan siapa? Foto apa yang mereka maksud?”
Edrick mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah peramban. Aku terkejut melihat fotoku dan Bastian yang ada di layarnya. Kejadian di kamar itu ada yang memotretnya. Siapa? Mengapa dia melakukan ini kepadaku? Aku belum berhasil menemukan cara meluluhkan hati mertuaku malah jadi berantakan begini.
Tunggu. Hari ini tepat dua minggu setelah kedatangan Tante Ruth ke rumah kami. Mungkinkah ini yang dia maksud dengan dia tidak akan tinggal diam? Bila ini adalah rencananya, apa dia juga sudah tahu aku adalah Katelia? Tidak. Dia tidak akan melakukan ini jika dia tahu rahasiaku itu.
“Sebaiknya kamu menginap di rumah temanmu. Suamimu pasti mendepak kamu keluar dari rumah setelah melihat foto-foto ini.” Edrick bergidik.
“Jangan sembarangan bicara.” Aku mengembalikan ponsel itu kepadanya. “Kamu sudah lihat sendiri, tidak terjadi apa-apa antara aku dengan Bastian.”
“Tidak terjadi apa-apa saja suamimu seram begitu, apalagi kalau dia melihat ini,” katanya, menakuti aku. Sial. Dia benar juga.
Aku hanya dekat dengan seorang pria, dia sudah cemburu berat. Bagaimana lagi kalau dia sampai melihat foto-foto panas itu? Aku bisa dibakar hidup-hidup hanya dengan tatapan matanya yang membara oleh amarah. Aduh, aku jadi takut pulang.
“Tidak usah dengarkan dia. Theo tidak akan melakukan itu. Dia terlalu mencintai kamu untuk melukai kamu dan anak kalian.” Sonata mencubit kaki Edrick.
“Aw! Mengapa kamu melakukan itu!?” protes pria itu.
“Karena kamu bodoh.”
__ADS_1
Kami berpisah di depan sebuah ruko yang cukup ramai. Aku pulang dengan mobilku, sedangkan Edrick membawa Sonata kembali ke restoran tadi. Ketika tinggal seorang diri, tanpa teman-teman, aku merasakan hatiku sangat berat. Tante Ruth tega berbuat itu.
Dia bekerja sama dengan Bastian sampai sejauh apa? Hanya untuk membuat foto skandal itu? Mungkinkah dia berharap lebih dari itu? Aku tidak habis pikir. Bagaimana mereka bisa saling kenal? Bastian atau Tante Ruth yang datang untuk merencanakan hal itu?
Pria gila itu pasti mau aku menjadi miliknya, sedangkan Tante Ruth mau aku pisah dari Theo. Jadi, mereka punya tujuan yang serupa, aku dan Theo tidak bersama lagi. Theo tidak akan meninggalkan aku hanya gara-gara foto, tetapi kalau terus begini, kami bisa saja bercerai.
Di luar dugaanku, Theo menyambut kepulanganku dengan berdiri di pekarangan. Dia bahkan tidak sabar menunggu sampai mobil berhenti dengan membuka pintu. Aku menatap uluran tangannya dengan bingung. Dia membantu aku keluar dari mobil, lalu memeluk aku dengan erat.
“Theo?” tanyaku heran. Sikapnya aneh sekali.
Dia tidak mengatakan apa pun, maka aku membalas pelukannya. Udara di luar semakin dingin, tetapi aku mengabaikannya. Pelukannya hangat, cukup untuk mengusir rasa dingin itu. Aku senang kami baik-baik saja walau ada skandal fotoku bersama laki-laki lain.
Aku membersihkan diri dan berganti pakaian begitu berada di kamar. Dia mengambil alih sisir saat aku akan merapikan rambutku. Melihat itu, aku mengenakan krim malam pada wajahku. Barulah aku siap untuk beristirahat. Aku menunggu karena dia masih sibuk menyisir rambutku.
“Gue tidak akan ada di sini kalau bukan karena lo,” katanya, setelah lama hanya diam.
“Apa maksud kamu?” tanyaku.
Dia meletakkan sisir di atas konter, lalu menaruh kedua tangannya di dinding wastafel, mengurung tubuhku. Dia menatap bayanganku di cermin besar di depan kami. “Gue enggak akan pernah lupa dengan jasa lo di rumah Willis. Kalau lo enggak bertindak cepat, gue dan keluarga mungkin sudah tidak ada di dunia ini dan gue tidak akan merayakan ulang tahun hari ini.”
“Setiap ulang tahun, hal itu akan selalu gue ingat itu.” Dia meletakkan tangan kanannya di perutku, lalu mênciúm rambutku. “Gue mencintai lo, Kat. Selamanya.”
Mataku memanas mendengar kalimat yang sangat aku suka, tetapi jarang dia ucapkan itu. Kami berdiri dengan dia menyandarkan wajahnya ke belakang kepalaku beberapa saat. Aku tidak mau menginterupsi apa pun yang sedang dia lakukan. Mungkin menahan tangis, karena aku juga begitu.
Berat sekali yang harus kami jalani hanya karena hubungan kami tidak mendapat restu. Aku tidak mau disebut licik, makanya aku tidak mau mengambil keuntungan apa pun dari kejadian di rumah Meghan. Yang aku pikirkan hanya menolong Theo dan keluarganya, bukan imbalan.
Jadi, setiap hal yang dilakukan orang tuanya untuk memisahkan kami akan aku jalani dengan tegar. Ini adalah ujian yang harus kami menangkan. Mereka butuh bukti cinta kami tidak main-main, maka kami akan membuktikannya. Aku tidak mengincar harta Husada, sedangkan Theo bukan hanya cinta sesaat. Kami menikah karena kami saling mencintai dan ingin menjalani sisa hidup bersama.
“Berbalik,” katanya. Dia mengangkat kepalanya dan mundur, memberi aku ruang.
Aku menurut dengan memutar tubuhku sehingga kami berdiri berhadapan. Dia membuka simpul di depan mantelku. “Kamu sedang apa?”
“Membuka kado utama gue.” Dia menurunkan bagian yang menutupi kedua bahuku sehingga kain itu meluncur dari tubuhku ke lantai. Matanya mengamati badanku dari balik baju tidur tipis yang aku kenakan membuat darahku bêrdèsir. “Sempurna.”
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, Theo mengambil begitu banyak waktu untuk memuja tubuhku. Seolah-olah ini adalah aktivitas întîm terakhir kami sebagai suami istri. Aku tidak suka dia yang biasanya tegar dan tidak peduli dengan apa pun jadi melankolis begini. Apa lagi yang dia sembunyikan dariku?
Setelah bêrcintà pun, dia membersihkan tubuhku begitu lama sampai aku tertidur. Dia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri dan aku tidak bisa menebaknya. Ingin bertanya, aku belum mendapat pertanyaan yang tepat. Barulah saat aku dibaringkan di tempat tidur, aku terbangun lagi.
Dia mematikan lampu kamar, tetapi aku bisa melihat dia berbaring di sisiku. “Apa yang terjadi pada masa lalu orang tuamu sehingga mereka begini, Theo?” tanyaku berhati-hati.
“Itu tidak ada hubungannya dengan sulitnya mereka memberi restu.” Dia menggeleng pelan.
Aku berbaring mendekat dan melingkarkan tanganku di atas tubuhnya. “Maksudmu, ada masalah lain?” Aku meletakkan kepalaku di dadanya.
“Pengawal gue sedang menyelidikinya. Gue mencurigai sesuatu. Mama tidak pernah begini dan Papa tidak akan bertindak gegabah hanya demi membela istrinya. Gue perlu tahu kenapa mereka benci banget dengan orang biasa. Masa Venny yang sejahat itu masih mereka terima?”
“Apa maksud kamu?” tanyaku bingung.
Dia menceritakan kepadaku segalanya yang terjadi pada perayaan ulang tahunnya. Ternyata itu yang dia lakukan sehingga pulang malam, bukan lembur. Dia tidak jujur agar aku tidak tersinggung. Tentu saja aku akan marah dan merajuk, tetapi aku bisa mengerti. Mamanya tidak mungkin aku mau hadir di sana. Apalagi mereka kembali mengumumkan pertunangan suamiku dengan perempuan lain.
“Kalau bukan karena rekaman di rumah Willis itu viral, amnesia yang gue derita tidak akan diketahui publik begitu juga dengan kecelakaan itu. Syukurlah, ketika orang-orang tahu, gue sudah pulih. Jadi, enggak ada yang bisa mengambil keuntungan dari kondisi gue itu.” Dia mengecup rambutku.
“Lo tahu apa yang buat gue bahagia hari ini?” tanyanya.
“Bêrcintà denganku?” jawabku sekenanya. Aku senang mendengar dia tertawa kecil.
“Iya, itu salah satunya, tetapi yang mau gue sampaikan, para pemegang saham memberi restu mereka kepada kita. Mereka tidak mempermasalahkan status lo selama pernikahan kita tidak penuh skàndal yang bisa merusak reputasi perusahaan.” Dia memeluk aku dengan erat. “Satu masalah besar sudah teratasi.”
Kami membicarakan banyak hal sampai tertidur, termasuk mengenai Bastian. Dia menyinggung agar aku tidak dekat dengan laki-laki lain, maka aku berjanji untuk menurutinya. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Pengalaman bersama Bastian sudah cukup memberi aku pelajaran.
Usai joging dan membersihkan diri, aku memeriksa media sosial sembari menunggu suamiku selesai mandi. Kejadian pada perayaan ulang tahunnya itu menjadi berita yang paling banyak dibagikan oleh teman-teman dunia mayaku. Media berita daring juga menjadikannya sebagai tajuk utama.
Venny yang malang. Sayangku sudah menyuruh dia menjauh, masih saja berharap bisa mendapatkan Theo. Terbongkar sudah jahatnya penolakan mereka di kamar rumah sakit itu. Seandainya mereka menurut saja dengan apa kata Theo, semua ini tidak akan terjadi. Theo itu mengerikan kalau marah.
“Pak, ada tamu mendesak ingin bertemu,” kata kepala pelayan saat kami menuruni tangga.
“Siapa?” tanya Theo, melihat ke arah pintu.
__ADS_1
“Polisi, Pak,” jawabnya dengan sopan.
Kami serentak saling bertukar pandang. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Sedari tadi aku tidak merasakan firasat buruk apa pun. Lalu kabar apa yang dibawa oleh polisi sehingga datang ke sini?