Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
183|Suka Dia


__ADS_3

“Mengapa aku melakukan ini?” tukasnya. “Sederhana saja. Aku tahu rasanya dirundung, tetapi tidak bisa melawan. Sampai hari ini, aku tidak bisa membalas dia. Keluarga Nisa lebih berkuasa dari orang tuaku. Apalagi sekarang, sejak dia menjadi tunangan pria berpengaruh di kota ini.”


Dia menelengkan kepalanya. “Aku melihat postinganmu dan menyimpulkan kamu sedang membalas Chika. Aku ingat video viralmu dahulu dengan suamimu saat Chika masih tunangannya. Aku suka caramu. Jadi, aku pikir, kamu pasti mau membalas Nisa juga. Apa aku salah?”


Dia melirik pintu ruang rias yang ditempeli nama Kakak. “Aku juga tahu kamu datang ke sini karena Rahma. Kamu sedang mengamati dia untuk tahu di mana pembalasan yang menyakitkan. Apa aku benar? Tenang. Aku tidak menjebak kamu. Jangan lupa, aku punya reputasi yang harus dijaga.


“Aku pernah terlilit utang besar dan tidak dapat satu proyek pun karena kecanduan àlköhol. Saat aku bangkrut dan nyaris hidup di jalan, hanya Richo yang datang menolong. Jadi, anggap saja ini caraku membalas kebaikannya. Dia sudah membantu aku kembali bekerja lagi di jalur ini.” Dia tersenyum.


“Masih ada waktu. Pikirkan baik-baik. Kamu bisa bertanya kepada Richo kalau kamu meragukan niat baikku. Jika kamu sudah dapat jawabannya, beri tahu aku. Kita akan mendatangi tempat yang pasti menarik untukmu pada hari Kamis nanti.”


“Kamu tidak berkata jujur. Ada yang kamu sembunyikan.” Aku menggeleng pelan.


Ekspresinya memang meyakinkan, tetapi nada bicaranya seperti menahan sesuatu. Ada alasan lain yang membuat dia ingin membalas Nisa. Apalagi dia sampai mengamati aku membalas perbuatan Chika dan Rahma. Dia sudah lama memperhatikan gerak-gerikku, maka ini sangat serius.


“Pengamatanmu tajam juga, ya. Kalau kamu belum menikah, aku pasti sudah memohon kamu jadi istriku.” Dia mengusap-usap dagunya. Aku hanya mengangkat kedua alisku. “Baik, kamu benar. Ada alasan utama aku melakukan ini. Aku yakin alasan itu juga yang membuat kamu melakukan ini.


“Aku menyukai Katelia.” Aku nyaris terpukul mundur mendengar pengakuannya itu. “Setelah sekian lama hanya melihat dia dari jauh, aku memberanikan diri untuk memperkenalkan diri kepadanya pada hari kalian pergi berdarmawisata.


“Aku kebetulan diminta mengantar Nisa ke sekolah oleh mamanya. Bayangkan betapa hancurnya aku saat tahu dia meninggal sebelum aku sempat dekat dengannya.” Wajahnya berubah sedih. Padahal kejadian itu sudah lama sekali.


“Aku tidak mengerti.” Semua orang menyalahkan aku atas kematiannya, mengapa dia beda sendiri?


“Dia yang sudah mendorong kamu jatuh sehingga Katelia ikut tenggelam bersamamu.” Aku melihat api pada kedua matanya. Pria ini benar-benar serius menyukai Katelia.


Delapan tahun berlalu, pertanyaan itu akhirnya terjawab. Chika bukan pelakunya, karena aku ingat, dia yang berjalan di depanku. Rahma dan Nisa yang menyusul kami. Aku tidak menduga pelakunya adalah Nisa. Dia bisa mendorong gadis itu agar tidak menghalangi jalannya seperti yang dilakukan Chika, tetapi bukan ke arah danau.

__ADS_1


Seandainya saja dia berterus terang, aku tidak akan semarah ini kepada mereka. Bukannya menyesal dan mengakui perbuatannya, dia malah bekerja sama dengan Chika dan Rahma untuk melimpahkan seluruh kesalahan kepada Amarilis. Padahal dia juga adalah korban, bukan pembunuh Katelia.


Aku tidak menghalangi Bastian dan membiarkan dia pergi. Tidak mau memikirkan hal ini seorang diri, aku mendekati Gino. Kakak hanya akan makan malam bersama staf, tetapi aku perlu memastikan hal itu. Dia membenarkan dugaanku dan mengajak aku ikut serta.


“Kalau begitu, aku minta izin Kakak dahulu.” Aku melirik pintu ruang riasnya.


“Masuk saja. Dia pasti sudah selesai berganti pakaian. Aku tunggu di sini.” Dia menunjuk kursi di dekatnya. Aku mengangguk dan melakukan sarannya.


Aku baru saja memegang kenop ketika menyadari pintu itu sedikit terbuka. Apa Gino tidak menutup dengan sempurna saat dia keluar tadi? Kakak berganti baju di dalam. Kalau pintu sampai terbuka lebar dengan sendiri, dia bisa malu jadi tontonan.


“Berapa kali aku harus katakan tidak!?” kata Kakak dengan suara kesal. “Aku tidak mencintai kamu, memberi harapan juga tidak. Mengapa kamu tidak mengerti juga?”


“Kakak tidak punya pacar, lalu mengapa tidak denganku saja?” balas Rahma dengan sengit. “Kita sudah lama saling mengenal dan berasal dari keluarga yang sederajat. Apa lagi yang kurang dariku sehingga Kakak menolak?”


“Aku tidak mau membahas ini lagi.” Suara Kakak terdengar semakin dekat. Dia pasti berjalan ke arah pintu. Aku mundur bersiap untuk memberi jarak agar kami tidak bertabrakan.


Jantungku berdebar dengan cepat. Seluruh tubuhku gemetar hingga aku harus mengepalkan tangan, menahan emosi yang memuncak. Apa yang baru saja dia katakan? Dia mengancam kakakku dengan kemalangan yang aku alami? Kêsîalan yang menimpa aku karena ulah dia juga, dia gunakan untuk memaksa Kakak menjadi pacarnya. Apa dia sudah bosan hidup?


Kakak tertawa kecil. “Apa kamu màbúk? Padahal tidak ada minuman beràlkôhol yang disajikan oleh staf. Sudahlah. Hentikan semua desakan dan ancamanmu. Aku tidak mencintai kamu dan tidak akan pernah. Semakin kamu membuka mulutmu, semakin aku membenci kamu.”


“Baik. Aku yakin akan ada ilmuwan atau psikiater yang tertarik untuk mempelajari fenomena yang Katelia alami. Hidupnya tidak akan pernah tenang lagi begitu dia masuk dalam sebuah lab.” Rahma tertawa geli. “Katelia yang malang, kakak kesayangannya tidak peduli dengan rahasianya.”


“Tutup mulutmu!” kata Kakak dengan suara tertahan. “Sentuh dia, maka kamu akan menyesal sudah berani mengancam aku. Kamu dengar itu? Jangan datang lagi ke tempat di mana aku berada, karena kamu hanya membuat aku semakin muak melihat wajahmu!”


Pintu dibuka, maka aku dan Kakak berdiri berhadapan. Aku tidak pernah melihat wajahnya merah padam. Dia jarang sekali marah, berbeda dengan Kak Nolan. Jadi, ini adalah pemandangan yang sangat langka bagiku. Pelakunya pasti akan merasakan akibat sudah membuat kakakku begini.

__ADS_1


Dia menggandeng tanganku, lalu kami terus berjalan menuju pintu keluar. Gino mengikuti kami. Mobil Kakak sudah menunggu di depan pintu ketika kami di luar. Dia melihat ke arah belakang di mana mobilku berada. Namun dia tidak melepaskan tanganku, malah memberi sinyal agar aku masuk ke jok belakang mobilnya.


“Jangan dengarkan dia,” kataku saat keadaannya sudah lebih tenang. “Aku akan baik-baik saja. Ada Theo yang bisa membantu jika dia nekat.”


“Orang hanya akan menganggap dia gila, aku tahu itu. Tetapi aku tetap memiliki sedikit ketakutan jika ada yang percaya lalu menculik kamu.” Dia memegang tanganku.


Aku tertawa kecil. “Kakak sama saja seperti Theo. Aku bisa menjaga diriku. Jangan khawatir.” Aku melihat mobil menepi, memasuki tempat parkir sebuah hotel. “Ada yang lebih penting yang perlu kita diskusikan.” Sepertinya aku tidak perlu minta izin. Kakak mengajak aku makan bersamanya.


Kami menuju sebuah ruangan. Mereka memesan satu tempat yang cukup untuk menampung semua staf saat pemotretan tadi. Aku melihat Bastian juga datang. Semoga saja Rahma tidak akan hadir merusak suasana hati semua orang. Heran. Dia punya kuasa apa bisa ada di mana Kakak ada?


Setelah mengisi piring kami masing-masing, kami mengambil meja paling sudut dan makan berdua. Gino menjaga jarak, seolah mengerti kami butuh privasi. Hal yang sangat aku hargai darinya. Dia begitu peka dengan kebutuhan atasannya.


“Iya, dia berkata jujur. Aku pernah menolong dia mendapatkan pekerjaan. Dia pekerja keras, hanya sedang sîàl, jadi aku membantunya. Ada apa?” Kakak menatap aku dengan serius.


“Dia mau aku membalas kematian Katelia,” bisikku.


“Iya, dia pernah mengaku menaksir adikku itu.” Kakak tersenyum menggoda. Aku melotot, memberi peringatan. “Aku hanya membenarkan pengakuannya, bukan menyuruh kamu terima cintanya.”


“Berarti dia berkata jujur. Baiklah.” Aku berdiri.


“Lo? Kamu mau ke mana?” Kakak menahan tanganku. “Selesaikan makanmu baru bicara dengannya.”


“Tidak lama.” Aku menatap tanganku agar dia melepasnya, lalu aku mendekati Bastian yang sedang mengobrol dengan dua orang pria.


“Aku permisi sebentar,” katanya kepada dua orang itu, lalu berdiri dan menghampiri aku. “Aku tahu kamu pasti akan mencari tahu aku berkata jujur atau bohong.” Dia melirik Kak Jericho.

__ADS_1


“Lebih baik berhati-hati daripada sîàl nanti,” balasku dengan santai. “Baik. Aku ikut.”


Dia tersenyum senang. “Aku akan kirim alamat dan lokasi tepatnya. Kamu boleh ajak suamimu kalau butuh teman,” dia menatap aku dengan serius, “tetapi jangan bawa Richo.”


__ADS_2