Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
67|Karena Nyaman


__ADS_3

~Altheo~


“Aku tidak pernah merasakan malu seperti itu seumur hidupku,” kata Mama dengan sedih. “Kamu mengajak kami makan malam hanya untuk memperkenalkan gadis itu kepada kami?”


Tentu saja Mama akan menggunakan waktu makan pagi bersama kami untuk membahas hal itu. Aku sudah siap untuk menyampaikan segalanya yang ada di kepalaku. Walau aku sempat berharap kami akan membahasnya malam ini, karena aku mau fokus bekerja di kantor Papa.


“Kalau Mama tidak mengundang Keluarga Winara, hal itu tidak akan terjadi,” kataku, membela diri.


Kami kehilangan privasi sejak keluarga itu selalu hadir pada acara keluarga kami. Papa yang biasanya ada urusan dengan koleganya pun hampir setiap malam pulang demi makan bersama keluarga itu di rumah kami. Atau di mana saja yang Mama pilih.


Masa acara makan yang aku rencanakan pun harus dihadiri oleh mereka? Aku hanya mengundang Papa, Mama, dan Matt secara pribadi, tidak membahasnya bersama seperti saat ini, Mama malah mengajak orang lain. Dia tahu benar aku tidak menyukai keluarga itu.


“Kita sudah biasa makan bersama mereka. Apa salahnya aku mengajak mereka serta? Chika akan menjadi istrimu, Theo,” kelit Mama, tidak mau kalah.


“Dia calon istri pilihan Papa dan Mama, gue tidak akan menikah dengannya. Gue serius. Gue hanya akan menikah dengan Amarilis. Dia adalah gadis yang baik dan gue tidak peduli dengan statusnya,” paparku dengan serius.


“Nak,” kata Papa, melerai. Dia mengangguk pelan kepada Mama yang masih ingin menasihati aku. “Apa kamu melakukan ini supaya kami memutuskan hubunganmu dengan Chika?”


“Tidak, Pa,” jawabku tanpa ragu. “Gue sayang Amarilis. Papa sudah tahu gue tidak pernah tertarik dengan perempuan sebelumnya. Tetapi Amarilis berbeda. Gue nyaman bersamanya, Pa.”


“Nyaman saja tidak cukup untuk menjalani pernikahan, Nak. Mengapa kami sangat peduli dengan status, karena gaya hidup kalian berbeda. Amarilis akan kesulitan untuk memasuki duniamu. Satu hal itu saja akan membuat kalian bertengkar setiap hari,” ujar Papa, berusaha untuk menjelaskan.


Tanpa itu juga kami bertengkar setiap hari. Mereka tidak akan mengerti, jadi aku diam. Biar saja mereka mau bilang apa. Aku sudah menentukan pilihan, maka aku tidak akan berubah pikiran. Apa yang aku katakan itu adalah yang sejujurnya. Hanya dia perempuan yang membuat aku nyaman.


Membawa dia pada perayaan ulang tahun pernikahan Papa dan Mama adalah deklarasi yang sudah aku siapkan. Berbeda dengan kejutan yang mereka berikan, aku tidak memerlukan wartawan untuk mempublikasikan hubungan kami. Semua tamu yang mengambil foto kami pasti mengunggahnya ke media sosial dan mengumumkannya untukku secara gratis.


Kejutan dariku untuk mereka berjalan lancar, tetapi aku tidak suka melihat Nolan bicara berdua saja dengan Amarilis saat aku bersama keluargaku. Dari gerak-gerik gadis itu, aku tahu dia sedang bicara jujur mengenai siapa dirinya. Karena Nolan lebih banyak tertegun sendiri.


Aku tidak pernah menyukai laki-laki itu sejak mengetahui rencana jahatnya bersama papanya. Dia bukan orang yang bisa aku percaya. Apalagi aku tidak tahu apa tujuan mereka masih bekerja sama dengan baik ketika kami tidak akan punya hubungan apa pun ke depan.


“Lo cemburu?” goda Matt. Dia melihat ke arah Amarilis dan Nolan.


“Memangnya lo enggak cemburu kalau ada laki-laki lain di dekat pacar lo?” tantangku.

__ADS_1


“Dia tidak akan bisa didekati laki-laki lain, jadi gue enggak akan cemburu,” ejeknya. “Aneh. Ada apa Nolan mendekati Kak Amarilis? Apa mereka saling mengenal?”


Aku tidak menjawab pertanyaannya itu. Tidak perlu juga aku lakukan, karena Mama mengalihkan perhatiannya dengan memberinya sesuap kue. Puncak acara selesai, kami pun bisa kembali duduk. Nolan sudah kembali ke kursinya sehingga aku tidak perlu menyapanya.


Setelah mengantar Amarilis, aku menemukan Mama menunggu aku di ruang depan. Dia melirik kursi yang ada di dekatnya, memberi sinyal agar aku duduk di sana, tetapi aku memilih untuk berdiri. Dia menghela napas panjang. Pasti topik yang akan dia sampaikan sangat berat.


“Apa yang kamu inginkan?” Dia menatap aku dengan serius.


“Restui hubungan gue dengan Amarilis,” jawabku, memahami arah pertanyaannya.


Dia menghela napas panjang, menenangkan dirinya. “Aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dengannya,” kata Mama dengan tegas.


“Lalu mengapa Mama bertanya jika Mama tidak mau mendengar?” tanyaku heran.


Sikap penolakan Mama semakin jelas ketika dia mengabaikan kehadiran Amarilis pada acara makan malam untuk merayakan ulang tahunnya. Setidaknya, Tante Winara tidak menghina pacarku lagi, jadi aku tidak peduli bagaimana sikap mereka terhadap calon istriku.


Keluarga itu datang makan malam ke rumah hampir setiap malam membuat aku tidak betah. Jadi, aku lebih suka berada di perpustakaan berdalih untuk menyiapkan bahan proposalku. Aku punya lebih banyak waktu bersama Amarilis dengan mengantarnya pulang usai mengajar Matt.


Adikku memutuskan untuk merogoh koceknya sendiri demi membayar jasa Amarilis. Bagus. Itu lebih berguna daripada dia habiskan uangnya untuk membeli entah apa demi gim daringnya. Dia juga yang bertanggung jawab atas makan malam mereka. Jadi, Amarilis tetap merasa bekerja seperti biasa.


Saat ketakutan itu terulang, aku tidak lagi kesulitan menemukan dia. Aku cukup mengirim pesan kepada Daisy, maka dia akan memberi tahu aku di mana gadis itu berada. Aku semula berpikir dia akan ada di sebuah taman, ternyata ke mal.


Orang yang dia temui di luar dugaanku. Untuk apa Mama mengajak dia bertemu sepagi itu? Aku sengaja mengganggu Amarilis dengan menelepon dan mengirim pesan, tetapi dia mengabaikan aku. Pertemuan itu tidak berlangsung lama, dia pun keluar.


Namun sebelum aku sempat menemuinya, dia bergegas memasuki halte dan menaiki bus yang baru tiba. Mau ke mana dia dengan wajah bahagia dan terburu-buru begitu? Melihat tempat tujuannya, aku mengerutkan kening. Setelah memarkirkan mobil, aku menyusul ke kafe tersebut.


Nolan. Aku benar-benar tidak menyukai dia, jadi aku tidak percaya dia punya niat tulus terhadap Amarilis. Mengapa perempuan bodoh itu selalu salah memercayai orang? Sudah cukup ketiga teman palsunya dan Richo yang mengetahui identitas aslinya. Jangan ditambah dengan Nolan.


“Dia adalah kakakku.”


Selalu saja alasan yang sama. Padahal dilihat dari sisi mana pun, mereka bukanlah kakak dan adik lagi. Setahuku, Katelia bukan gadis yang naif. Apa dia terpengaruh sifat asli Amarilis karena sudah lama berada di dalam tubuhnya? Mungkin saja itu yang terjadi.


Karena aku tahu akhir-akhir ini dia mencari tahu siapa orang yang telah menolongnya, maka sudah saatnya baginya untuk mengetahui hal itu. Aku memutuskan untuk mengaku, bahkan membiarkan dia menonton rekaman setiap hal jahat yang Chika lakukan.

__ADS_1


Semua bukti itu akan aku gunakan ketika waktunya sudah tiba.


“Kak Amarilis sudah sampai di indekosnya?” tanya Matt. Dia mendatangi kamarku ketika aku sudah membersihkan diri dan berganti pakaian.


“Iya.” Aku menutup pintu ruang pakaianku.


“Terima kasih untuk hari ini.” Dia duduk di salah satu sofa.


“Sama-sama.” Aku memilih untuk duduk di tepi tempat tidur. Merasakan tatapannya kepadaku, maka aku menoleh. “Ada apa?”


“Lo yakin mau menikah dengan dia?” tanyanya, mendadak serius.


“Iya.”


“Meskipun Papa dan Mama tidak akan merestui hubungan kalian?” Matanya membulat. Aku menganggukkan kepalaku. “Apa yang buat lo seyakin itu?”


Aku sebenarnya tidak punya alasan yang cukup kuat selain aku tidak suka berada jauh darinya. Aku juga tidak suka setiap kali membayangkan dia tidak bersamaku atau dekat dengan laki-laki lain. Aku tahu ini namanya posesif, padahal dia belum menjadi milikku.


Namun aku juga nyaman bersamanya, tidak peduli sesering apa pun kami bertengkar. Mungkin karena dia tidak banyak menuntut dan membiarkan aku yang aktif mendekatinya. Dia juga tidak terobsesi denganku atau mengejar aku seperti gadis lain yang menyukai aku.


Semuanya terasa biasa saja, sekaligus istimewa. Sikapnya yang suka membantah, tetapi juga mau menuruti aku itu sangat menggemaskan. Entahlah, aku bisa merasakan dia sayang kepadaku, walau bibirnya belum mau mengucapkannya. Bibir yang membuat aku ketagihan untuk merasakannya.


“Gue sayang dia. Selama kami jauh, gue tidak bisa hidup tenang. Kami sudah bersama lagi, barulah gue bisa tidur pulas,” akuku.


Dia mengangakan mulutnya. “Ma-maksud lo, kalian sudah lama jalan bareng??”


“Iya. Sejak Februari tahun lalu. Gue yang minta backstreet.” Dia sudah tahu hubungan kami, maka tidak ada gunanya lagi merahasiakan kapan dimulainya kedekatan kami.


“Gila lo. Jadi, selama ini tebakan gue benar. Lo suka sama guru gue.” Dia menjentikkan jemarinya. “Gue setuju lo sama dia, tetapi pernikahan itu bukan sekadar sayang-sayangan, Theo.”


Apa dia pikir yang aku lakukan dengan Amarilis hanya bercumbu setiap kali kami bertemu? Kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan makan dan belajar bersama. Untuk ménciúm dia saja, aku harus mencuri kesempatan. Dia masih malu-malu dengan kedekatan fisik kami. Padahal aku sudah siap untuk maju ke tahap yang lebih jauh.


Tentu saja aku tahu batasannya. Papa dan Mama mendidik kami dengan keras untuk menghargai wanita dan tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun. Karena itu, aku menjaga diri agar tidak berada di tempat yang sepi berdua saja dengannya. Aku mau menikah secara baik-baik.

__ADS_1


“Gue tahu. Tenang saja. Semua nasihat Papa tidak akan gue lupakan.”


“Enggak akan lo lupakan?” Dia tertawa kecil. “Syarat utama pernikahan yang berhasil saja lo enggak bisa penuhi. Yakin lo dan Kak Amarilis bisa bertahan nanti?”


__ADS_2