Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
199|Kado Spesial


__ADS_3

~Altheo~


“Ingat, Amarilis tidak boleh sampai tahu,” kata Bunda untuk kesekian kalinya. Dia dan Mama ingin memberi kejutan pada hari ulang tahun putri mereka.


“Kamu bocorkan sedikit saja, maka kamu yang akan tanggung akibatnya,” ancam Mama sambil memicingkan mata. Aku mengangguk patuh sebelum panggilan video diakhiri.


Padahal tidak ada yang istimewa dari usia dua puluh enam tahun, tetapi aku tidak melarang mereka untuk datang ke Jakarta. Amarilis adalah putri mereka, jadi aku mendukung semua hal yang mereka lakukan untuk kebahagiaannya. Apalagi ada rencana besar lain yang mereka siapkan juga.


Tidak mau kalah dengan kado spesial yang disiapkan orang tuanya, aku juga memberi kejutan. Aku telah mendapatkan jalan yang sempurna untuk membalas perbuatan Chika. Ternyata dia menuntut istriku bekerja sama dengan Nisa. Aku yang lengah. Seharusnya aku tahu Nisa tidak akan diam saja ketika segala yang dia bangun runtuh karena perbuatan kami.


Pantas saja Amarilis diperlakukan begitu rendah saat dipanggil untuk memberi keterangan. Padahal cukup mengirim surat, maka kami akan datang pada waktu yang ditentukan. Bukan malah dijemput dari rumah layaknya penjahat berbahaya. Apalagi sampai memanggil wartawan segala untuk meliput.


Siapa pun polisi dengan jabatan tinggi yang sudah terlibat harus membayar mahal perbuatannya itu. Namun yang pertama adalah memberi pelajaran kepada Keluarga Winara. Aku heran dengan sikap mereka. Mengapa mereka tidak juga jera mengusik aku dan orang terdekatku?


“Lo benar-benar gila!” puji Matt setelah aku selesai melakukan panggilan video dengan Amarilis, Sonata, dan Edrick. “Gue enggak menyangka lo akan sesadis ini.”


“Mereka yang memancing. Wiryawan akan mendapat gilirannya nanti. Aku masih mengumpulkan bukti untuk menghancurkan reputasi mereka juga.” Aku mengambil berkas berikutnya yang perlu aku periksa dari atas tumpukan map di mejaku.


“Semoga mereka tidak akan berani macam-macam lagi. Berita mengenai hotel mereka berhasil menenggelamkan kabar tentang Kak Amarilis. Sudah sulit menemukan media yang berintegritas di zaman sekarang. Beritanya bisa dimanipulasi. Mana kabar tentang Bastian? Mengapa yang mereka incar hanya kakak iparku? Keterlaluan sekali,” sungutnya.


“Lo hati-hati. Kalau sampai berita tentang lo dengan perempuan itu terbongkar, lo juga bisa dapat masalah,” kataku, mengingatkan.


“Kami sudah putus,” jawabnya pelan. “Lo benar. Gue harus memikirkan masa depan gue. Hubungan kami hanya buang-buang waktu, karena dia tidak akan jujur kepada keluarganya.”


Kejutan ulang tahun untuk istriku berjalan lancar. Bunda bahkan memberi kado yang terbaik untuk putrinya dengan melabrak Rahma di depan kami semua. Wanita bodoh. Seharusnya dia belajar dari Amarilis dengan mengalah kepada mertuanya. Wanita ini malah menantang Bunda yang terkenal tidak bisa dibantah ucapannya.


Amarilis sangat bahagia pada malam itu. Dia tidak berhenti tersenyum dan tertawa di tengah-tengah keluarganya. Walau ketiga perempuan itu sudah mendapat sedikit pelajaran, aku harus berhati-hati. Mereka tidak mungkin mundur semudah ini. Nisa yang ada dalam tahanan bisa sekongkol dengan Chika, apalagi setelah ketiganya sakit hati. Mereka bisa saja berencana membalas Amarilis.


Lingkaran setan ini alasan aku tidak suka membalas dendam. Namun Katelia menginginkan ini demi membayar lunas kematian korbannya, maka aku harus mendukungnya. Aku mau dia hidup tenang bersamaku dan anak kami kelak, tanpa ada dosa masa lalu yang masih membayanginya.

__ADS_1


“Selamat pagi, Bunda, Mama,” sapaku melihat mereka sudah bangun dan meregangkan badan di kebun samping rumah.


“Selamat pagi, Theo!” balas mereka serentak.


“Kita akan makan malam bersama keluargamu. Pastikan kamu tidak lembur seperti biasanya,” kata Bunda, mengingatkan. “Dan Kat tidak boleh sampai tahu.” Dia meletakkan telunjuk di depan bibirnya.


“Iya, Bunda. Sayang sekali, aku belum berhasil menemukan alasannya,” gumamku.


“Alasan apa?” tanya Mama ingin tahu.


“Kenapa mamaku sangat menentang hubunganku dengan Kat.” Aku memutuskan untuk jujur. “Aku meminta orang untuk menyelidikinya, tetapi mereka belum menemukan apa pun.”


“Memangnya, dia bilang apa saja yang jadi alasan dia tidak suka Kat?” tanya Bunda dengan serius.


Aku menjawab dengan jujur mengenai semua alasan yang pernah mamaku sebutkan. Walau intinya hanya satu, aku tetap menyampaikan segalanya. Siapa tahu ada hal yang Bunda tahu yang tidak aku ketahui. Karena mereka sudah terlebih dahulu mengenal sebelum aku lahir.


“Hm. Status, ya? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan itu?” Bunda berpikir dengan serius.


Bunda tersenyum penuh arti, lalu menceritakan kecurigaannya. Aku sangat terpukul karena sudah lama hidup bersama, aku malah tidak mengetahui hal itu. Bagaimana bisa Papa dan Mama tidak memberi tahu aku dan Matt mengenai hal sepenting itu?


Namun aku juga yang salah. Aku percaya sepenuhnya kepada mereka dan tidak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Papa memang hebat dalam urusan menutupi aib atau memanipulasi berita. Jadi, apa yang tersebar di masyarakat tidak sama dengan faktanya.


Dengan satu informasi itu, maka pengawalku bisa dengan mudah menemukan potongan beritanya. Bahkan klipingnya masih ada di perpustakaan. Aku benar-benar terkejut. Akhirnya, aku memahami perasaan Mama setelah sekian tahun menjadi anaknya. Pantas saja dia membenci Nenek.


Makan malam kami menjadi momen yang paling aku tunggu-tunggu. Amarilis adalah satu-satunya orang yang terkejut dengan pertemuan kami. Semuanya berjalan dengan baik. Aku sudah berjanji akan menyerahkan segalanya kepada para orang tuanya, tetapi Mama bicara cerai membuat aku marah. Kalau bukan karena Amarilis, aku tidak akan menahan emosiku.


“Tutup mulutmu, Delilah!” seru Mama dengan lantang.


Bunda tersenyum semakin lebar. “Benar kata orang, korban perundungan berpotensi besar jadi perundung. Kamu pasti tidak sadar kamu sudah mengulang kejadian pahit dalam hidupmu kepada Amarilis. Padahal yang kamu alami bisa saja tidak terjadi terhadapnya.”

__ADS_1


“Aku bilang, tutup mulutmu.” Mama menggeram, menahan amarah.


“Dia tidak bisa memilih keluarga di mana dia dilahirkan, tetapi dia memilih hidup dengan baik dan berusaha untuk layak bersanding dengan Theo. Dia berprestasi di kampusnya, bahkan lulus dengan predikat terbaik di sini juga di luar negeri. Itu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang dan status.


“Kalau kalian fokus membayar media untuk menaikkan berita positif mengenai dia, aku yakin orang banyak akan cemburu dengan Theo. Sayangnya, kalian lebih suka melihat status keluarganya yang miskin dan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk mengolok-olok dia di depan publik.


“Orang-orang yang dahulu menghina dan merendahkan dia saja meninggikan dia begitu dia kembali dari Amerika dengan penampilan yang lebih baik. Mengapa kalian malah tidak merasakan hal yang sama? Status.” Bunda mendengus. “Apa kalian tidak tahu usaha roti orang tuanya sukses besar?”


Bunda melirik Papa. “Kalau kalian membantu usaha mereka, bukannya membuat mereka bangkrut, aku yakin usaha mereka sudah terkenal luas dan buka cabang di kota besar lainnya. Status mereka pun naik dan Amarilis sederajat secara sosial dengan Theo. Gampang, ‘kan?”


“Kamu bicara gampang karena kamu tidak pernah menjadi orang yang susah payah memperbaiki diri. Kamu lahir dan tumbuh besar di tengah keluarga kaya raya dari generasi ke generasi. Kamu tahu apa tentang sederajat? Itu kata mahal yang seumur hidup tidak berubah hanya karena kamu punya uang banyak sekarang,” balas Mama.


“Jika segalanya semudah ucapanmu, mamaku tidak akan mengakhiri hidupnya karena hinaan orang.” Mama melihat Amarilis. “Dia akan selalu jadi bahan pergunjingan seumur hidupnya. Apa dia akan tahan? Yang dia alami sekarang hanya sekelumit dari penderitaan yang sudah menanti di depan.”


Dia kembali menatap Bunda. “Dalam keluarga kami, status itu dari lahir. Bukan karena kamu sukses hari ini, lalu kamu otomatis jadi orang terpandang. Amarilis tidak akan pernah bisa masuk dalam kalangan kita. Apalagi dia juga tidak dibesarkan dengan didikan para putri kelas atas.”


“Iya, dia sekarang bisa duduk manis, menggunakan alat makan dengan sempurna, dan segalanya yang bisa dilatih secara instan. Namun etika lainnya, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengendap di benaknya dan menjadi gaya hidupnya. Tidak, Delilah. Amarilis tidak sederajat dengan Theo.


“Kalau tidak sekarang, suatu hari nanti dia akan melakukan kesalahan yang bisa merusak reputasi Theo. Anak orang miskin seperti dia pasti punya kebiasaan yang tidak bisa diubah sampai matinya. Daripada bertahun kemudian putraku terluka parah, lebih baik pernikahan mereka diakhiri sekarang,” kata Mama dengan tegas.


“Amarilis dibesarkan dengan didikan putri kelas atas, langsung diawasi aku sendiri,” kata Bunda, bersiap menjatuhkan bom.


Mama tertawa terkejut. “Kamu bilang apa tadi? Anak orang miskin ini mendapat didikan putri kelas atas? Badannya gendut; muka, rambut, dan kulitnya tidak terawat; giginya berantakan; yang paling parah, akademiknya selama sekolah selalu paling bawah. Itu hasil didikan kamu?


“Kalau kamu baru mendidik dia setelah masuk kampus, sudah terlambat, Delilah. Tingkah lakunya sudah lama terbentuk sebelum itu. Makanya, dia bercumbu layaknya suami istri di depan umum. Apa kamu tidak tahu mereka kumpul kebo selama berada di Amerika? Itu hasil didikanmu juga?


“Kamu bertanya mengapa aku tidak membantu menyebarkan hal yang baik tentangnya.” Mama tertawa kecil. “Apa kamu tidak bisa menjawabnya sendiri?”


__ADS_1


[Amarilis: Lumayan, ada tontonan seru. 🤭🥳🍉🍓🍌🥗]


__ADS_2