Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
99|Tabiat Buruk


__ADS_3

Persiapan pernikahanku pun dimulai. Usiaku belum genap dua puluh tiga tahun malah menikah. Pria muda lain pada umur ini sedang fokus menata karier atau meningkatkan keterampilan mereka, aku justru dipaksa untuk membina rumah tangga.


Karena Mama melanggar kesepakatan kami, maka aku tidak menahan diri lagi. Aku menyiapkan segala hal yang akan aku butuhkan untuk membuka mata semua orang. Aku tidak sudi menunggu hingga hari pernikahan. Untuk apa kami mengeluarkan uang banyak hanya untuk resepsi yang gagal?


“Jessica beruntung, ya. Karena dia tunangan Pak Altheo, dia diangkat jadi karyawan tanpa melalui proses seleksi.” Suara itu menghentikan langkahku menuju elevator.


“Hus, mengapa kamu hanya menyebut namanya? Panggil dia ibu. Kalau ada yang dengar, kamu bisa dapat masalah. Bu Jessica tidak suka jika kita hanya menyebut namanya,” kata wanita kedua.


“Lo, kami satu jurusan, untuk apa aku panggil dia ibu? Dia dan aku sama-sama hanya karyawan biasa di sini. Beda kalau dia dan Pak Altheo sudah menikah, baru aku memanggil dia ibu.”


“Kalian satu kampus?” Suasana hening sejenak. “Apa benar dia suka menyakiti orang lain?”


“Sstt. Jangan sampai ada yang dengar.” Perempuan pertama itu berbisik. “Dia akan menikah dengan Pak Altheo, jadi dia menutup semua masa lalunya yang buruk.”


“Tidak usah ditutupi juga sudah banyak yang tahu. Tabiatnya buruk sejak bekerja di sini.”


Aku baru tahu ada teman seangkatanku yang menjadi pegawai di sini. Sepertinya aku harus bicara dengan Divisi SDM mengenai kebiasaan buruk karyawan. Mereka bergosip terlalu keras. Aku tidak suka mereka menghabiskan waktu untuk berbicara pada jam kerja.


Tanpa susah payah, desas-desus mengenai sifat buruk Chika menyebar dengan cepat. Aku tidak perlu melibatkan wartawan, mereka mengendusnya sendiri. Perempuan itu tidak sadar ketika orang mulai bertanya mengenai masa sekolahnya di media sosialnya.


Mama mengundang kedua keluarga untuk bertemu sebagai wadah pemberitahuan pertama tentang rencana pernikahanku dan Chika. Hanya saudara kandung orang tuaku yang hadir dari pihakku. Aku tidak mau tahu siapa saja yang datang dari pihak perempuan.


“Apa aku bilang? Hari bahagia kita semakin dekat,” bisik Chika yang duduk di sisiku.


“Hari bahagiamu bukan hari bahagiaku,” balasku.


“Amarilis sudah pergi jauh, apa kamu pikir aku tidak tahu kalian sudah putus?” Dia tertawa kecil. “Kamu pasang foto profil itu selamanya juga tidak apa-apa. Kamu tetap akan menikah denganku.”


Jika dia begitu yakin kami akan menikah, maka dugaanku benar. Mereka mengancam orang tuaku mengenai masa lalu mereka. Namun mengapa gosip yang menyebar justru kabar yang lain? Apa mereka sengaja melakukannya sebagai ancaman awal?


Para pemegang saham belum mengatakan apa pun terkait masalah itu. Mereka mengadakan rapat dadakan hanya untuk protes dengan video viralku bersama Amarilis. Gosip tentang legalitasku sepertinya tidak mengganggu mereka.


“Lo gila, ya. Kenapa lo hanya diam saja dinikahkan dengan Chika?” protes Matt yang masuk begitu saja ke kamarku.

__ADS_1


“Sabar, Matt.” Aku sedang duduk di sofa sambil melihat-lihat berita di media sosial.


“Sabar, sabar. Tanggal sudah ditentukan, apa lo baru bertindak ketika kalian sudah mengucapkan sumpah setia di altar!?” ucapnya panik.


“Lo ikuti perkembangan di media sosial, tidak? Sebentar lagi lo tahu rencana gue.”


“Apa maksud lo?” Dia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa sesuatu. “Enggak ada yang spesial.”


“Sabar,” ujarku lagi.


Karena suasana belum memanas dan Chika mengabaikan setiap pertanyaan seputar masa lalunya, maka aku meminta tahap kedua dilaksanakan. Video viral dibalas dengan video viral. Enak saja dia menggunakan rekaman ciumanku dengan Amarilis untuk menjatuhkan aku.


Entah dia atau Mama yang melakukannya, aku tidak peduli. Bagiku, itu tindakan yang sangat rendah. Aku mencium gadis yang aku sayang, bukan pacar, tunangan, atau istri orang. Namun reaksi netizen justru sesuai harapan mereka. Aku melakukan ini untuk membersihkan nama Amarilis juga.


“Hei, kamu sudah lihat video ini?” tanya seorang karyawan di bagian resepsionis kepada rekannya.


“Sudah. Ngeri, ya. Cantik-cantik tetapi kejam.” Wanita itu bergidik.


“Aku tidak percaya Bu Jessica sanggup berbuat begitu.” Seorang petugas kebersihan berbincang dengan teman di sebelahnya.


Para karyawan begitu terkejut dengan video itu sampai tidak sadar aku berjalan melewati mereka. Bagus. Aku mau tahu apa perempuan itu masih berani menunjukkan mukanya di depanku setelah video itu tersebar. Jadwal terdekat adalah mengepas pakaian pengantin. Aku harap Mama sudah berubah pikiran sebelum hari itu tiba.


Pada jam istirahat makan siang, video kedua disebarkan. Aku menggunakan cara ini untuk mendesak orang tuaku mengambil tindakan secepatnya. Mereka tidak mau percaya dengan bukti yang aku berikan, maka aku menggunakan warganet untuk mengubah keputusan mereka.


“Gue suka banget gaya lo,” kata Matt yang tiba-tiba saja muncul di kantorku. Dia mendekati sebuah sofa dan duduk dengan santai. “Gue bisa bernapas dengan lega sekarang.”


“Apa yang lo lakukan di sini?” tanyaku tidak suka dengan sikap tidak sopannya itu.


“Memuji kakak gue yang hebat. Apa lagi?”


“Lo jangan ikut campur,” kataku, melihat dia sedang bermain dengan ponselnya. “Gue enggak mau membaca ada satu pun pesan dari lo di salah satu video itu. Jaga reputasi lo.”


“Iya, iya. Gue paham. Lo ini masih saja menganggap gue anak kecil.” Dia mendengus pelan. “Kak Amarilis membantu orang tuanya berjualan kue. Apa lo sudah tahu?”

__ADS_1


Aku tahu setiap hal yang dia lakukan sampai warna baju yang sedang dia pakai. Daisy mengirim laporan setiap malam ke surelku. Hanya pada saat ada keadaan darurat, dia akan menghubungi aku secepat mungkin. Namun hal itu sudah jarang dia lakukan. Mereka sudah tahu harus melakukan apa pada kondisi tertentu tanpa meminta izinku.


Matt tidak perlu tahu itu, jadi aku tidak menjawab pertanyaannya. Cukup aku saja yang tahu bahwa aku masih menjaga Amarilis dari jauh. Karena satu orang saja tahu mengenai rahasiaku, maka Mama juga akan tahu. Rencanaku bisa berantakan lagi kalau Mama ikut campur.


Foto profil bukanlah masalah. Mama tidak lagi protes mengenai hal itu, apalagi setelah aku diam saja dengan rencananya memajukan jadwal pernikahanku dengan Chika. Para perempuan jahat tersebut terlalu fokus dengan persiapannya sehingga tidak sadar aku sedang menyerang mereka.


“Theo,” kata Mama yang sudah menunggu kepulanganku. “Apa yang kamu lakukan?”


“Apa maksud Mama?” tanyaku pura-pura tidak tahu.


“Kamu menyebarkan video Amarilis memukul pengawal Chika,” jawabnya. “Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan? Perasaan Chika hancur dituduh yang tidak-tidak.”


“Dituduh yang tidak-tidak?” dengus Matt. “Mama baca, dong, komentar orang banyak. Ada teman sekolah Theo buka-bukaan tentang Chika. Dia dan gengnya perundung, Ma. Amarilis bukan satu-satunya orang yang pernah menjadi korbannya.”


“Itu hanya kenakalan remaja yang biasa dilakukan oleh orang seusia itu. Chika bukan perundung.” Mama masih saja membela dia.


“Apa yang Mama sudah lakukan untuk meredam gosip mengenai gue?” tanyaku.


“Apa?” Dia terlihat terkejut dengan pengalihan topik tersebut.


“Sejak Chika wisuda, gosip lama yang sudah basi mengenai gue viral lagi. Apa yang sudah Mama lakukan dengan itu? Apa Mama berusaha untuk meredamnya juga seperti Mama protes kepada gue sekarang?” tantangku.


“Theo,” tegur Papa.


“Gue anak Papa. Apa Papa tega menjadikan gue sebagai tumbal demi nama baik kalian?”


“Tidak ada yang menjadikan kamu tumbal.”


“Lalu mengapa kalian bersikeras agar gue menikah dengan Chika? Reputasi buruk perempuan itu bisa ikut menyeret nama baik kita juga. Berapa kali gue harus mengatakan ini? Kalian tidak juga percaya dengan bukti yang gue tunjukkan. Apalagi artinya ini kalau bukan mereka mengancam kalian dengan gosip lama?”


“Karena itu, kamu harus menikah dengan Chika agar semua ini berakhir,” kata Mama.


“Kesimpulan apa itu? Kita balas mereka supaya tidak berani lagi macam-macam dengan kita. Kalau kita kalah sekarang, mereka akan terus berusaha untuk mengendalikan kita, Ma.”

__ADS_1


“Kita tidak bisa melawan mereka, karena mereka punya buktinya!” ucap Mama frustrasi.


“Bukti? Bukti apa?” tanyaku bingung, lalu gosip yang sedang panas mengenai aku mengingatkan aku. “Bukti gue bukan anak kandung Papa?”


__ADS_2