Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
126|Dua Pria


__ADS_3

~Amarilis~


“Habiskan makanan lo atau gue enggak akan pernah masak lagi buat lo,” ancamnya membuat aku semakin kesal.


“Gara-gara kamu aku tidak bisa menyelesaikan tugasku.” Aku terpaksa menggigit roti di tanganku.


“Memangnya kapan tugas itu harus dikumpulkan?”


“Minggu depan.” Dia menatap aku dengan tajam. “Apa? Kamu tahu aku tidak pernah menunda pekerjaan. Kalau aku tidak selesaikan sekarang, bisa saja besok aku lupa, eh, deadline tiba.”


“Lo marah seolah hari ini deadline tugas itu.” Dia mendekat walau ada meja di antara kami dan mencubit kedua pipiku.


“Aw, sakit, Theo. Lepaskan!” Aku mencubit tangannya agar melepaskan pipiku.


“Gue sampai enggak nyenyak tidur karena ulah lo.”


“Kamu yang memaksa aku tidur bersamamu. Itu bukan salahku.”


“Lo tidur lasak banget, sudah begitu lo mendengkur keras sekali.”


“Aku tidak mendengkur!”


“Lo mendengkur.”


Pipiku benar-benar merah karena dicubit. Menjengkelkan sekali. Aku harus menutupinya dengan bedak supaya tidak kelihatan orang. Mengapa dia marah karena aku lembur demi tugas yang akan dikumpulkan pada minggu depan? Apa aku salah menyelesaikan tugas lebih cepat?


Suasana kampus juga tidak menyenangkan karena ulah Nora. Aku tidak tahu apa aku akan pernah sembuh dari rasa kecewaku kepadanya. Mengapa dia harus menyukai Theo? Seperti tidak ada pria lain saja yang hidup di benua ini. Mengapa dia tidak memilih Mike, misalnya. Katanya, perempuan mana pun pasti merasa beruntung menghabiskan satu malam dengannya.


“Duduk di tempat lain.” Robert mengusir wanita yang duduk di samping kananku. “Pagi, Amarilis. Kami kehilangan kamu dalam grup.”


“Karena tidak ada orang lagi yang bisa terus kamu salahkan?” ejekku.


“Foto lama kamu beda sekali dengan sekarang. Kamu pasti berusaha keras untuk menurunkan berat badanmu. Apa kamu tidak pernah takut semua usahamu akan sia-sia,” bisiknya, “Kat?”


“Kamu pikir aku akan takut, ya, dengan bualanmu ini? Namaku Amarilis, bukan Kat.”


“Amarilis adalah tubuhmu, tetapi jiwamu adalah Katelia Wulan. Ah, nama belakangmu tidak mudah untuk diucapkan. Artinya cantik. Bulan.” Dia tertawa kecil. “Kamu terkejut aku bisa tahu itu? Aku sudah bilang, Kat, aku tahu segalanya.”


“Kamu suka aku, Robert?” Aku mengalihkan pembicaraan, berusaha untuk menutupi kegugupanku. “Itukah sebabnya kamu repot-repot mencari tahu tentang aku?”

__ADS_1


Dia tertawa lagi. “Maaf, seleraku tinggi untuk urusan perempuan. Kamu bukan tipeku.”


“Apa Rob mengganggu kamu lagi?” tanya Mike yang mengusir orang yang duduk di sisi kiriku. Apa lagi mau pria satu ini? “Aku punya kabar baik untukmu.”


“Mike, jangan bilang kamu mengincar Amarilis,” ledek Robert. “Apa belum cukup jumlah wanita yang kamu tiduri sejak kamu berusia tiga belas tahun?”


“Urus urusanmu sendiri,” omel Mike.


Oh, Tuhan. Mengapa aku harus berhadapan dengan orang-orang ini? Aku hanya mau kuliah dengan tenang, lulus, lalu memulai pembalasanku terhadap tiga perempuan jahat itu. Tiga semester lagi saja. Padahal aku tidak pernah mencari masalah di sini, eh, masalah selalu menghampiri.


Untungnya, dosen datang, jadi mereka tidak bisa lanjut bertengkar. Aku mengabaikan Nora yang sesekali melirik ke arahku. Aku harus memilih duduk di barisan paling depan untuk pertemuan berikutnya. Dengan begitu, tidak akan ada yang mengganggu konsentrasiku lagi.


Mike melingkarkan tangannya di bahuku ketika kami berada di koridor. “Dengar, aku punya kabar baik untukmu.” Dia tidak mau menjauh saat aku mendorong tubuhnya.


“Kamu bisa mengatakannya tanpa dekat-dekat begini.”


“Aku sudah bicara dengan Profesor Bateman. Kamu masuk dalam grup kita dan nilaimu juga sudah dicantumkan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir mengenai beasiswamu.”


“Memangnya apa yang kamu lakukan?” tanyaku tidak percaya.


“Mengatakan yang sejujurnya. Aku, ‘kan, satu kelompokmu. Dan dia percaya.”


Iya, dia adalah teman satu grup diskusiku. Wajar saja dosen itu tidak percaya kepadaku karena namaku tidak tertera pada makalah. Namun sebagai teman satu grup, bila Mike mengonfirmasi pengakuanku saat menghadap, maka kesaksiannya bisa dipegang.


“Terima kasih saja tidak cukup. Kamu harus mau mentraktir aku makan siang.”


Aku terpaksa menyetujuinya. Dia mencoba untuk duduk di sisiku, aku menolak dengan menunjuk kursi di hadapanku. Dia tidak berhenti menyentuh aku, itu sangat menjengkelkan. Selama kami makan, dia tidak berhenti bicara mengenai harta orang tuanya. Jika perempuan lain tertarik, aku tidak. Pacarku tidak kalah kaya darinya.


Lagi pula, pria ini hanya memikirkan dan memuji diri sendiri. Dia sama sekali tidak membiarkan aku bicara atau tertarik mengenal aku lebih dalam. Aneh. Apa yang membuat perempuan ingin bersama pria dangkal seperti dia? Theo jauh lebih baik darinya.


Karena dia akan mengikuti diskusi dengan grupku dahulu, kami pun berpisah. Dia masih  berusaha untuk membujuk aku bergabung kembali. Aku menolak. Untuk apa mengambil risiko sebesar itu? Aku tidak mau kehilangan nilai atau beasiswaku gara-gara ada perempuan jahat itu.


Robert juga ada dalam grup itu. Aku tidak mau dia meracuni pikiranku dengan semua kalimatnya yang menakutkan. Apa yang dia inginkan dariku? Untuk apa dia mencari tahu tentang aku? Aku tidak tahu apakah baik dia mengetahui tentang Katelia?


“Amarilis?” panggil seseorang, mengejutkan aku. “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkan kamu.” Seorang wanita yang wajahnya tidak asing berdiri di sisiku.


“Ng, ya? Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku sambil membuka gembok sepedaku.


“Kamu tidak diskusi dengan grupmu. Apa kamu sudah tidak bersama mereka?” Dia melihat ke arah teras gedung kampus kami.

__ADS_1


“Ah, iya. Aku hanya merusak kekompakan, jadi, aku keluar supaya akademik mereka tidak terseret kemalasanku,” jawabku sekenanya.


“Kalau kamu butuh teman, aku masih sendiri.” Dia tertawa gugup. “Tidak ada yang mau satu grup denganku. Bagaimana kalau kita buat grup berdua?”


Waktu masuk ruang kuliah pertama kali, aku sudah dekat dengan Nora. Kami selalu duduk bersisian. Karena itu, kami juga membentuk kelompok lewat orang-orang yang duduk di dekat kami. Apa yang terjadi sampai ada orang yang tidak dapat grup?


“Kamu selalu sendiri sejak semester satu?” tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk pelan. “Ng, oke. Tentu saja. Ayo, kita satu grup.”


“Benarkah? Kamu tidak akan malu dengan keadaanku, ‘kan?” Dia melihat tubuhnya.


Aku memandang ke arah yang dia lihat dan baru menyadari dia sangat gemuk. Mungkin aku terbiasa dengan keadaan itu, jadi aku tidak segera menemukan ada yang janggal. Aku tersenyum kepadanya, karena aku sudah menemukan teman yang pas!


Kami berdiskusi di perpustakaan agar mudah menemukan buku yang kami butuhkan. Kami juga memeriksa beberapa jurnal yang bisa mendukung makalah kami. Bertukar pikiran dengannya sangat menyenangkan. Bukan Nora, tetapi Meghan yang mirip dengan Sonata.


Dia berwawasan sangat luas dan caranya melihat masalah juga berbeda denganku sehingga kami bisa saling melengkapi pendapat masing-masing. Berdebat dengannya juga menantang, karena dia membuka pola pikirku ke arah yang berbeda.


“Ada apa hari ini di kampus?” Theo sudah selesai memasak ketika aku selesai berganti pakaian.


“Tidak ada yang istimewa.” Aku duduk di kursi favoritku.


“Lalu kenapa lo tersenyum begitu sejak masuk tadi?” Dia duduk di depanku.


“Aku punya teman baru. Kami satu grup diskusi. Ternyata sejak semester satu tidak ada yang satu kelompok dengannya.” Aku mengambil kentang goreng dan menggigitnya.


“Heh, berdoa dahulu.” Dia menahan tanganku. Oh, iya. Kami hening sejenak.


Aku menceritakan tentang Meghan kepadanya. Theo mendengarkan dengan sabar. Lega rasanya, aku tidak perlu memikirkan tugas makalah seorang diri. Apalagi aku dapat teman diskusi yang membuat aku sedikit lebih pintar.


“Gue ikut senang mendengarnya. Semester ini sangat penting, karena mulai semester depan, lo akan menyusun tesis. Jadi, lo harus konsentrasi. Lo lulus atau tidak, kita harus menikah tahun depan.”


“Mengapa kamu kebelet menikah begitu? Aku sudah bilang, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi. Asal kamu dan aku saling percaya.”


“Saling percaya? Lo kelihatannya sangat menikmati perhatian dari dua teman pria lo. Itu yang disebut dengan menjaga kepercayaan?” Dia mengangkat kedua alisnya. Mati aku.


“Theo, lihat aku baik-baik. Wanita sekelas ini wajar dikejar banyak laki-laki. Bukan kamu saja yang diuber cewek kecentilan seperti senior kamu itu.” Aku menaikkan satu sudut bibirku, mendadak kesal mengingat wanita yang menjadi asisten manajer di restorannya.


“Jadi, itu alasannya lo makan siang berdua saja dengannya?” Dia menatap aku dengan tajam. Ups. Aku lupa. Dia mempekerjakan orang yang mengawasi semua gerak-gerikku. “Ada apa? Kenapa diam?”


__ADS_1


“Dasar cowok arogan tidak punya perasaan!”


(Amarilis dihukum mencuci pakaian kotor karena sudah selingkuh 😅)


__ADS_2