Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
163|Menanggapi Mertua


__ADS_3

~Altheo~


Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi istriku punya empat orang tua. Aku meminta pengawalku memeriksa latar belakang mereka semua. Hanya dua orang yang ada hubungan dengannya. Orang tua dan adik laki-lakinya. Lalu apa hubungan dia dengan Keluarga Wibowo yang terpandang itu?


Dia mirip dengan orang tua kandungnya dan tidak punya kemiripan sedikit pun dengan Wibowo atau istrinya. Tidak mungkin dia anak hasil selingkuhan. Lalu apa yang membuat mereka begitu akrab? Aku tidak mengerti. Keempat orang itu menikah dari awal dengan orang yang sama, jadi tidak ada yang bercerai lalu menikah dengan yang lain.


Kepalaku sudah bisa menoleransi setiap informasi baru dengan baik. Aku sudah jarang merasakan sakit, walau tidak lagi mengonsumsi obat. Amarilis tidak mengerti. Aku punya alasan sendiri tidak meminum obat yang diresepkan oleh dokter.


Berada di rumah Wibowo, aku melihat ruang depan mereka dengan saksama. Tidak ada foto istriku di satu pun foto keluarga mereka. Pasangan itu punya tiga orang anak, dua orang laki-laki dan satu perempuan. Lalu apa hubungan Amarilis dengan mereka?


Menyadari istriku sudah terlalu lama ditinggal bersama orang tuanya, aku menyusul. Mereka pasti akan memarahi dia perihal pernikahan kami. Ini semua ideku, jadi aku tidak boleh lari dari tanggung jawab. Namun mereka tidak memarahi kami separah yang aku duga.


Aku terlalu cepat menyimpulkan. Usai makan siang, kami berpisah. Para ayah mengajak aku ikut mereka ke sebuah ruangan, sedangkan Amarilis menyusul mamanya dengan riang ke teras samping. Apa dia tidak melihat aku sedang dalam bahaya?


“Silakan duduk, Nak,” ucap Om Wibowo.


Aku menelan ludah dengan berat, tetapi menurutinya. “Iya, Om.”


“Mengapa kamu masih panggil om. Panggil aku ayah seperti putriku menyapa aku.”


Putri. Ayah. Ada hubungan apa sebenarnya di antara mereka berdua? Aku tidak bertanya ketika Amarilis memberi tahu dia punya empat orang tua, karena aku pikir masalahnya sensitif. Namun kalau begini, aku sendiri yang pusing menebak-nebak hubungan mereka.


“Jadi, apa rencanamu dengan menikahi putriku?” tanya pria itu mendadak serius. Pria yang duduk di sebelahnya juga menatap aku sama seriusnya.


“Aku butuh keturunan yang akan meneruskan garis keluargaku,” jawabku jujur.


Mereka mengangguk-angguk mengerti. “Kamu tidak punya perasaan apa pun kepadanya, tetapi kamu tetap nekat menikahinya. Masuk akal jika tujuannya hanya untuk menghasilkan keturunan.” Pak Wibowo, ah, maksudku, Ayah mengusap-usap dagu dengan telunjuknya.


“Kamu, ah, memperlakukan dia dengan baik, ‘kan? Kamu tidak menyakiti dia?” tanya Om Andriyana, ah, maksudku, Papa. Aku harus membiasakan diri memanggil mereka dengan sapaan baru.


“Tidak, Pa. Jika aku menyakiti dia, dia tidak akan nyaman berada di dekatku.”


“Masuk akal.” Ayah mengangguk pelan. “Tetapi kami sudah hidup lama dengan perempuan. Jadi, kami tahu mereka pandai menyembunyikan perasaan mereka.”

__ADS_1


“Ah.” Hanya itu yang bisa aku katakan.


Mereka benar juga. Aku selalu bicara dan bersikap apa adanya, Amarilis tidak begitu. Dia sulit dibaca. Mulut dan perbuatannya sering sekali tidak selaras sehingga membuat aku bingung. Apalagi selama beberapa hari terakhir. Ternyata itu sifat perempuan pada umumnya.


“Aku dengar kalian tidak tinggal bersama keluargamu. Bagaimana kamu memenuhi kebutuhan hidup kalian? Bukankah kamu sedang tidak bekerja? Kamu tidak berencana menjadikan putriku sebagai tulang punggung keluarga, ‘kan?” tanya Ayah lagi.


“Aku masih punya tabungan, Ayah. Untuk sementara, Amarilis yang akan bekerja. Bila dia hamil nanti, maka aku siap atau tidak, aku akan kembali bekerja. Ayah jangan khawatir. Aku yang akan mencari nafkah dalam keluarga kami,” janjiku.


“Bagus. Kalau sampai putriku kelaparan, maka kami tidak akan segan-segan mengambil dia darimu. Lagi pula, aku dengar akta kawin dari negara bagian itu hanya berlaku untuk satu tahun. Jadi, kamu belum sepenuhnya bisa memiliki dia.” Pria itu benar-benar serius menjaga putrinya.


“Mengenai itu, apakah aku boleh meminjam Kartu Keluarga Anda?” tanyaku kepada mereka berdua. “Aku berencana untuk melegalkan akta kawin kami sebelum masa berlakunya habis.”


“Baik. Bila ada dokumen lain yang kamu butuhkan, kamu bisa meminta pertolongan Andriyana.” Ayah menoleh ke arah Papa. Pria itu tersenyum setuju.


Kopi dan camilan diantar ke ruangan itu, aku pun bisa bernapas dengan lega. Percakapan serius kami akhirnya selesai juga. Mereka berbicara dengan santai mengenai usaha kue dan hotel mereka, maka aku mendengarkan. Belajar dari pengalaman orang lain dalam mengurus bisnis mereka adalah salah satu caraku belajar mempersiapkan diri untuk bekerja lagi.


Menjelang malam, rumah itu kedatangan tiga pria muda yang tidak bisa berhenti bicara. Mereka marah besar kepadaku karena telah menikahi adik dan kakak mereka tanpa izin. Jika para ayah bisa menahan diri, maka mereka tidak. Amarilis yang menghadapi mereka, aku cukup diam saja.


Karena itu, aku tidak heran suasana lobinya ramai dengan tamu, baik yang menginap maupun menghadiri acara. Apalagi hari ini menjelang akhir pekan. Biasanya tamu yang mengikuti seminar akan pulang diganti tamu yang akan menikmati hari Sabtu dan Minggu.


“Bagaimana? Kamu suka makanannya?” tanya Ayah saat kami makan siang di restoran hotel.


“Suka, Ayah,” jawabku dengan jujur.


“Masakan koki kami akan lebih baik, andai saja rencana semula untuk bekerja sama dengan kalian terwujud.” Ayah tersenyum. “Sayangnya, putriku meninggal dunia dan pertunangan kalian berakhir. Aku tidak punya tawaran apa pun kepada ayahmu untuk melanjutkan rencana itu.”


Putrinya yang dia sebut sudah meninggal itu pasti yang aku lihat di foto. Ah, iya. Mengapa aku tidak mencari tahu namanya? Aku akan bertanya kepada pengawalku nanti. Aku terburu-buru mencari informasi mengenai keluarga istriku, jadi aku tidak bertanya lebih detail.


“Aku adalah menantu Ayah. Aku akan pelajari proposal kerjanya begitu aku kembali bekerja. Aku bisa meyakinkan papaku jika kerja sama itu menguntungkan kita semua,” kataku, memberi solusi. “Hotel Ayah tidak sepi, ini adalah promosi yang baik juga untuk bisnis kami.”


Dia dan Nolan menatap aku tanpa ekspresi. Lalu mereka mengedip-ngedipkan mata seolah tidak percaya dengan kalimatku tadi. Aku tidak pernah berbohong atau memberi harapan palsu. Bisnis adalah bisnis. Jika kerja sama yang dia maksudkan menguntungkan, mengapa harus ditolak?


Selain melihat ruang kerja mereka, ikut dalam diskusi, juga makan siang, mereka juga membawa aku saat minum kopi dengan kolega mereka. Aku tidak mengenal beberapa pria itu, tetapi aku tahu mereka punya usaha yang sukses di Sumatera Utara.

__ADS_1


Prinsipnya sedikit banyak mirip dengan Papa. Dia mengelilingi dirinya dengan orang-orang sukses. Memang itu cara terbaik yang terbaik. Kita pun memecut diri sendiri agar tertular dengan rahasia keberhasilan mereka yang sering kita dengar.


Istriku langsung tertidur begitu tubuhnya menyentuh permukaan kasur. Entah apa saja yang dia lakukan sepanjang hari bersama kedua ibunya sampai kelelahan begitu. Namun aku tidak mengeluh, karena kami tidak mungkin bercinta di rumah orang tuanya.


Aku tidak bisa berkata-kata pada siang itu ketika melihat penampilan Amarilis. Dia cantik sekali dengan baju terusan putihnya. Begitu kami berdiri berdampingan, barulah aku mengerti mengapa Bunda memberikan setelan baru kepadaku. Mereka ingin berfoto bersama seolah hadir dalam pernikahan kami. Amarilis bahkan memegang bunga tangan.


“Kamu pasti menganggap tingkah mereka aneh,” kata Amarilis saat kami berada di dalam mobil.


“Orang tua ingin hadir di acara pernikahan putri mereka bukan hal yang aneh.” Aku memeriksa keadaan dasiku. “Jangan khawatir, kita pasti akan menikah di gereja. Gue juga akan mengadakan resepsi yang besar untuk lo. Lo adalah istri Altheo Husada. Mantan tunangan bisa menikmati acara yang megah, masa istriku kalah?”


“Aku tidak peduli dengan itu, Theo. Kita butuh setiap peser yang kita miliki. Jadi, aku tidak mau kita berfoya-foya,” katanya dengan serius.


“Lo bilang begini sekarang. Suatu hari nanti lo singgung dan sebut gue pelit,” sindirku.


Dia memeluk pinggangku, lalu mencium pipiku. “Aku tidak sabar melihat wajah Chika melihat kita bersama dengan penampilan seperti ini. Semoga saja dia tidak menganggap aku berusaha untuk merusak acara spesialnya ini.”


Yang diucapkan Amarilis menjadi kenyataan. Orang-orang mengarahkan perhatian mereka kepada kami. Bunda dan Mama sampai mengalahkan penampilan ibu kedua mempelai. Mereka saling menyapa, aku mengajak Amarilis untuk duduk di tempat kami.


Terlalu banyak wajah yang tidak aku kenal membuat kepalaku pusing. Namun dari cara mereka menyapa, seperti mereka mengenal aku. Mungkin temanku semasa sekolah di Medan. Ingatanku belum sampai sejauh itu. Hanya potongan peristiwa penting semasa kuliah.


Betapa leganya aku bisa pulang ke rumah dan kami sama-sama langsung pulas di tempat tidur. Aku terusik mendengar bunyi ketukan tidak sabar pada pintu kamar. Aku membuka satu mata dan jam digital di atas nakas menunjukkan pukul tujuh pagi.


“Bunda, aku mohon. Aku masih ingin tidur!” seru Amarilis di sisiku. Apa karena hari ini hari Minggu, maka kami harus bangun cepat untuk beribadah?


“Ayo, bangun! Ada hal penting yang perlu kita lakukan. Mamamu juga sudah datang.” Ucapan Bunda membuat kami berdua sama-sama waspada. Sepertinya ada hal yang mendesak.


“Aneh. Ada apa Bunda dan Mama sudah mengganggu aku sepagi ini?” keluh Amarilis yang segera duduk dan merapikan rambutnya. Pintu diketuk lagi dengan tidak sabar. Dia menoleh ke arahku.


“Apa lo melakukan kesalahan di resepsi semalam?” tanyaku memberi petunjuk. Dia menggeleng pelan sebelum wajahnya memucat. “Amarilis," tukasku penuh curiga, "lo melakukan kesalahan di resepsi semalam?”



[Ada banyak komentar yang belum aku balas. Waktunya untuk mencicil ….]

__ADS_1


__ADS_2