Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
195|Merusak Reputasi


__ADS_3

Theo yang bicara dengan kedua polisi itu di teras. Dia mengajak masuk, tetapi mereka menolak. Mereka hanya mau membawa aku ke kantor untuk dimintai keterangan. Kami saling bertukar pandang. Suamiku meminta surat panggilannya, maka mereka memberikan.


“Perzinaan?” Theo membaca tuduhan yang tertera pada surat tersebut. “Aku sebagai suaminya tidak menuntut istriku atas tuduhan ini. Siapa yang menyewa pengacara ini? Aku tidak mengenalnya.”


“Kalau begitu, orang lain yang sudah memasukkan gugatan, Pak. Tolong, kami hanya melakukan tugas. Ikut kami ke kantor sekarang. Kalau istri Anda tidak bersalah, dia tidak akan ditahan,” kata pria yang berdiri di depan Theo.


“Sejak kapan surat panggilan langsung berlaku secepat ini? Biasanya diberi waktu beberapa hari untuk datang menghadap. Apa Bapak pikir aku tidak tahu-menahu proses hukum?” Theo mencegah rekan pria itu mendekati aku. “Kami akan datang sendiri. Jadi, tunggu di mobil kalian.”


Mereka serius. Jantungku mulai berdebar lebih cepat dan aku merasakan tanganku gemetar. Aku dituduh berzina. Siapa yang sudah membuat laporan? Ini pasti ada hubungannya dengan Bastian, tetapi tidak terjadi apa pun antara aku dengan dia.


Kami hanya berdiri berdekatan. Bêrciúman saja tidak, apalagi tidur bersama. Foto yang beredar itu adalah rekayasa menggunakan aplikasi edit gambar. Masa dengan foto itu saja polisi menerima aduan sampai memanggil aku untuk menghadap?


Theo terlihat tenang, tetapi aku tahu hatinya bergejolak. Dia pasti sangat marah saat ini. Setelah memakai blazer yang diambilkan pelayan, aku mengikuti dia ke mobil. Dua mobil polisi itu mengawal kami layaknya menangkap penjahat kelas kakap. Padahal kami tidak mungkin kabur.


Aku hanya diam sepanjang perjalanan, sedangkan Theo bicara dengan seseorang lewat ponselnya. Didengar dari kalimat yang dia ucapkan, sepertinya dia sedang menelepon kuasa hukumnya. Aku pasrah dengan apa pun yang akan terjadi, karena ini pertama kalinya aku berurusan dengan polisi.


Para petugas itu menuju pintu masuk utama di mana lautan wartawan sudah menunggu, tetapi sopir menuruti Theo dengan bergerak terus ke pintu belakang. Gila. Apa yang para polisi itu pikirkan? Apa mereka mau membuat kami jadi sasaran empuk pihak media?


Walau ada beberapa reporter di pintu masuk alternatif, kami bisa berjalan dengan leluasa. Jumlah mereka tidak cukup banyak untuk menghalangi kami masuk. Apalagi pengawal kami membantu kami dengan menghalau mereka menjauh. Aku dan Theo sengaja tidak menutup wajah kami dengan apa pun, karena kami tidak melakukan kesalahan.


“Kalian akan membayar mahal untuk perbuatan kalian hari ini,” kata Theo tanpa gentar kepada polisi yang menerima kami di ruang pemeriksaan.


“Selamat pagi, Altheo. Maaf, kami hanya menjalani prosedur.” Pria itu mengulurkan tangan, tetapi Theo tidak menerimanya. “Ah, silakan duduk, Pak.”


“Jika tidak ada bukti kuat yang membuat istriku layak diperlakukan serendah ini, aku akan menuntut balik.” Theo memegang tanganku yang ada di pangkuanku. Dia tertegun sejenak. Pasti karena dia merasakan tanganku gemetar. “Dia tidak akan bicara sampai pengacaranya tiba.”


Kuasa hukum yang Theo maksudkan tiba beberapa menit kemudian. Pria yang malang. Dia pasti terburu-buru datang dari rumahnya, sama seperti kami. Aku bahkan belum sempat makan. Walau pelayan sudah menyiapkan bekal, aku tidak bisa memakan sesuap nasi pun. Padahal menunya adalah nasi goreng kesukaanku.

__ADS_1


Polisi bertanya mengenai kejadian di rumah kerabat Nisa, maka aku menjawab jika dipersilakan oleh pengacara itu. Semuanya hanya pertanyaan dasar, sedangkan yang sifatnya tuduhan tanpa bukti tidak perlu aku jawab. Pria itu sangat membantu. Karena kalau aku salah memberi keterangan, para polisi ini bisa menyalahgunakannya nanti. Aku yang tak bersalah pun berubah bersalah.


Selesai memberi keterangan, aku dipersilakan untuk pulang, tetapi tidak boleh keluar kota. Aku diminta untuk siap datang kapan saja mereka membutuhkan keterangan lebih lanjut. Theo dan pria yang mendampingi aku hanya mendengarkan, tidak memberi respons.


Berhasil melewati wartawan dan berada di dalam mobil, aku belum bisa bernapas lega. Aku masih dianggap penjahat yang perlu mengikuti proses hukum selanjutnya. Aneh. Bukti apa yang mereka punya yang menunjukkan aku dan Bastian melakukan hubungan întim? Karena tanpa itu, mereka tidak bisa menuduh aku berzina.


Aku ingin sekali pulang, tetapi Theo membawa aku ikut bersamanya menemui pengacaranya tadi. Kami bicara di ruang kerja pria itu yang terlihat berkelas. Makanan sudah disediakan di atas bufet, lengkap dengan berbagai pilihan minuman. Theo memaksa aku untuk makan, maka aku menurut.


“Jessica Winara.” Pria itu meletakkan ponselnya ke atas meja setelah selesai bicara entah dengan siapa. “Apa kalian mengenalnya?”


“Dia yang mengajukan tuntutan?” tanya Theo, mengonfirmasi. Pria itu mengangguk. “Kalau begitu, tolong siapkan tuntutan balik atas pencemaran nama baik. Aku punya bukti yang bisa menunjukkan tidak terjadi apa pun di kamar itu pada malam kejadian.” Aku menatap Theo tidak percaya.


“Baik, Pak.” Pria itu segera mencatat sesuatu pada agendanya.


“Dia tidak menuntut Bastian?” Theo memeriksa sesuatu pada ponselnya yang bergetar.


“Pria itu juga dipanggil untuk memberi keterangan, tetapi pada hari Rabu depan, Pak. Perzinaan tidak akan diproses jika hanya melaporkan satu orang tanpa pasangan zinanya.”


Semakin dia bicara, aku semakin lahap makan. Ternyata begini rasanya punya suami yang bisa diandalkan. Aku sudah sempat takut duniaku akan runtuh dan kesempatanku untuk membersihkan nama baikku berakhir. Namun Theo tahu benar harus melakukan apa.


Dia mengantar aku pulang sebelum pergi ke kantornya. Lega rasanya aku bisa berada di rumah lagi. Namun aku masih tidak percaya panggilan pagi tadi benar-benar terjadi. Aku menuju kamar karena sengaja tidak membawa ponselku sebelum Theo berangkat kerja.


Ada begitu banyak panggilan tidak terjawab dan pesan belum dibaca pada ponsel pribadiku. Aku tidak punya waktu untuk semua itu sekarang. Aku sudah terlambat kerja dan pesan di ponsel Kakak pasti tidak kalah banyaknya.


Benar saja. Ada beberapa undangan dan tawaran kerja yang memenuhi pesan pada ponsel Kakak. Benda itu bergetar begitu ada panggilan masuk. Pekerjaanku pun dimulai. Aku sengaja tidak istirahat pada jam makan siang agar semua pesan baru itu bisa aku balas.


Tepat pada pukul enam sore, barulah aku menonaktifkan ponsel kerjaku. Setelah meregangkan tubuh dan makan malam, orang pertama yang aku hubungi adalah kedua mamaku. Mereka berebut bicara sampai aku tidak punya kesempatan untuk menjawab.

__ADS_1


Aku kelelahan sendiri memberi konfirmasi kepada semua keluarga dan sahabatku, bahkan berita itu sampai ke Meghan. Entah kapan aku tertidur, tetapi saat membuka mata, aku berbaring di ranjang. Jam digital menunjukkan sudah pukul lima subuh.


“Lo yakin mau olahraga?” tanya Theo melihat aku berganti pakaian.


“Aku mau melahirkan secara normal, jadi tidak boleh malas.” Aku berjalan menuju pintu.


“Bukannya gue melarang. Olahraga saat tubuh lelah juga tidak baik untuk kesehatan lo,” katanya.


“Sudah tidur semalaman, jadi tubuhku sudah tidak lelah. Jangan khawatir.” Aku menerima uluran tangannya, lalu berjalan bersama menuruni tangga. “Apa ada perkembangan mengenai kasus itu atau masa lalu orang tuamu?” Dia menggeleng.


Aku merasa kecut melihat pintu depan, tetapi aku memberanikan diri untuk tetap berjalan. Para polisi itu tidak akan datang lagi. Tidak ada yang terjadi antara aku dan Bastian pada malam itu, jadi aku tidak perlu khawatir. Lagi pula, ada Theo yang akan melindungi aku.


Teringat dengan itu, aku melakukan pembalasan yang aku tahu akan terasa menyakitkan dia. Aku meminta Daisy diam-diam memotret kami saat aku mengantar Theo di teras. Suamiku pasti tahu, tetapi nanti saat semuanya sudah terjadi. Aku mau fotonya senatural mungkin.


Menunggu jam kerja dimulai, aku memeriksa foto-foto itu dan menemukan satu yang mesra, tetapi tidak berlebihan. Theo mencium keningku dan aku sedang tersenyum bahagia. Ahh, kalau dilihat seperti ini, kami memang pasangan yang serasi. Hanya orang sirik yang menyebut aku tidak pantas untuknya. Bila difoto dari sudut ini, aku cantik juga, tidak kalah dengan Katelia.


Masalah memperkuat cinta kita. Aku memang pintar sekali memilih kata-kata. Muncul notifikasi ada yang menyukai fotoku tersebut. Tidak lama kemudian, pemberitahuan terus datang tanpa henti. Teman-teman akunku itu pun mulai berkomentar. Namun bukan mereka yang aku tunggu.


Ayo, Chika. Keluarkan sênjàta pamungkasmu. Aku mau tahu seberapa jauh kamu akan merusak reputasiku. Apalagi yang sudah kamu siapkan untukku?


___


~Author's Note~


Hai, teman-teman. Kejutannya sudah bisa diintip, ya. Semoga suka. Maaf, jadi mengganggu kelancaran up novel ini. Soalnya, sistem baru jadi perlu adaptasi lagi. Dengan ini, tragedi April Möp 2023 pun teratasi.


Selamat malam. Selamat beristirahat.

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2